
Seperti yang sudah di duga Mei dan semua rekannya. Saat majalah selesai dicetak dan dikirim ke perusahaan, semua orang langsung datang menyerbu ingin mengambil jatah milik mereka. Mereka datang bergantian tanpa diminta. Padahal biasanya, Baim yang berkeliling mengantar di setiap divisi. Itupun mendapat sambutan tidak antusias.
"Oh, majalah bulan ini ya? Taruh saja di meja. Keluarlah kalau urusan mu sudah selesai." Biasanya Baim akan tersenyum palsu lalu berlalu pergi. Tapi ini, bahkan mereka datang sendiri. Karena tugas Baim diambil alih, dia mulai mendistribusikan majalah ke eksternal perusahaan.
Mona dan Kendra yang bertugas di dalam ruangan, membagikan majalah kepada wakil divisi yang datang.
Sementara Mei yang mendapat jatah mengantarkan majalah ke ruangan Presdir, hanya sebentar dia di ruangan presdir. Karena saat itu Presdir sedang menerima tamu, seorang kakek tua yang dikenalkan Presdir sebagai mantan pimpinan hotel XX. Hotel tempatnya menginap kala itu. Setelah keluar dari ruangan Presdir Mei turun menggunakan lift, Serge menyambutnya di depan lift saat pintu lift terbuka.
"Kak Ge, kenapa di sini?"
"Masuklah Mei, Rion sudah menunggu mu dari tadi." Serge bicara sudah dengan senyum penuh arti. "Aku menunggumu, karena dia sudah tidak sabar."
"Hehe, maaf Kak. Kak Ge mau pergi ya?" Mei melihat tas tangan yang dijinjing Serge. Terlihat cukup berat.
"Ia, aku ada janji bertemu seseorang. Sudah sana masuk, Rion sudah cerewet dari tadi." Serge mengibaskan tangan, menyuruh Mei segera bergegas.
"Hehe, ia Kak. Aku masuk ya, selamat bekerja Kak."
Serge tersenyum sambil menganggukkan kepala, dia bergumam bicara pada dirinya sendiri, semoga pertemuannya dengan orang yang ini, akan semakin membawa titik terang, menuju pelaku, yang sudah membawa kehancuran pada perusahaan ayah Mei. Serge segera menghilang masuk ke dalam lift, setelah memastikan Mei masuk ke dalam ruangan Rion.
Dan entahlah apa yang mereka lakukan berdua, majalah perusahaan yang ada dalam dekapan Mei, hanyalah alasan belaka. Staf yang ada di depan ruangan Rion sudah tidak kaget lagi, tidak mau penasaran juga, kenapa pimred Merilin selalu lama di ruangan CEO, dan setiap keluar, wajahnya selalu merona malu. Karena sedikit banyak dia mulai pintar menerka.
Dan begitulah, hari ini pendistribusian majalah baik untuk rekan bisnis maupun karyawan Andez Corporation dimulai. Mei dan rekan kerjanya berbagi tugas.
...🍓🍓🍓...
Kekacauan di depan ruang kerja Mei, setelah makan siang.
Terjadi keributan kecil di depan ruang kerja, karena ada yang bersikukuh meminta jatah majalah lebih di luar jumlah anggota divisi.
"Kalian ini! sudah dibilang, kami tidak bisa memberi lebih dari jatah yang sudah ditentukan!"
Mona yang menghadapi serangan para fans CEO, dia kan akrab dalam satu grup dengan mereka semua sebenarnya. Menyalak galak. Merengutkan wajah. Bertampang lebih sadis ketimbang mereka yang sedari tadi tidak menyerah.
"Kau ini pelit sekali! Sesama fans CEO, seharusnya kau tahu perasaan kami donk, memang mau kau bawa pulang tumpukan majalah itu sendirian!" Karyawan wanita itu tidak mau kalah, sambil menuding tumpukan kardus besar. "Kau mau menikmati kebahagiaan ini sendirian?" Tak kalah sengit, gadis di depan Mona bicara. Yang lain ikut menimpali dan menjadi kompor pemanas situasi.
Rambut Mona rasanya langsung membara saking kesalnya dituding seenaknya. Hei! Kau pikir kami mencetak majalah dengan jumlah seenak kami. Semua juga harus masuk laporan ke meja CEO. Kalau bisa, aku juga ingin tambah 100 eksemplar, untuk koleksi pribadi. Haha, bercanda. Kalau Baim tahu, nanti bisa ngambek dia. Mona mencubit pipinya sendiri supaya fokus.
Tarik nafas, pelan hembuskan. Sabar Mona, kau juga pernah ada diposisi mereka kan. Jadi, bicaralah dengan tenang. Mona yang sedang berusaha menghipnotis kesabaran, supaya meningkat. Baru lega sedikit, dia sudah diserang lagi.
"Apa Pimred Merilin yang melarang mu?"
Api benar-benar berkobar di mata Mona. Dasar gila! Kenapa kalian masih saja iri pada Mei! Tidak bisakah kalian sadar. Sambil mengelus dadanya yang menjadi kesal, Mona bicara lagi. Dengan nada tegas.
"Semua itu sudah ada jatahnya masing-masing. Setiap Divisi perusahaan mendapat sesuai jumlah anggota. Ini untuk relasi bisnis lama Andez Corporation dan kardus-kardus itu untuk klien baru Andez Corporation, jadi, kalau kalian masih mau majalah perusahaan lagi." Mona menyeringai dengan sinis. "Silahkan jadi klien Andez Corporation, hubungi CS dan buat janji temu, kalau tidak, sekarang pergi semua dari sini!" Mona mendorong para fans bar-bar CEO menjauh dari pintu ruang kerjanya.
"Dasar Mona menyebalkan!" Gerutu mereka sambil meninggalkan Mona.
"Hus! Hus! Pergi sana!"
Mona membanting pintu ruangannya, dia menguncinya. Saking kesalnya didatangi banyak orang sejak siang tadi. Dia disambut tepuk tangan orang yang ada di dalam ruangan.
"Hebat, akhirnya pergi juga mereka. Memang mau mereka apakan si, sampai satu saja tidak cukup." Kendra berdecak di belakang kursi kerjanya. Mengomentari para fans.
Mona hanya berdehem, karena jujur, kalau dulu, dia juga tidak akan puas dengan satu majalah saja. Entah apa alasannya, kalau bisa membawa sepuluh, dia juga akan membawa sepuluh majalah yang isinya CEO Rionald. Ehm, tapi dia tidak mau mengakui sekarang.
Dasar gila! Kalau kalian tahu, secinta apa CEO pada Mei, kalian pasti akan malu merasa iri pada Mei. Kalian itu sudah tidak ada harapan. Jadi berhenti mengumbar kebencian pada Mei.
"Kamu sudah melakukannya dengan baik, terimakasih ya." Mei menepuk bahu Mona sambil tersenyum dengan tulus.
Lagi-lagi Mona angkat bahu bangga bisa mengusir orang-orang.
"Tenang saja, kalau ada yang tidak tahu malu datang lagi. Aku akan langsung mengusir mereka."
Mei dan Kendra bertepuk tangan memberikan apresiasi mereka. Saking serunya mengobrol bertiga, sampai tidak sadar dengan kemunculan Baim.
Ketukan di pintu ruang kerja mengagetkan mereka. Si bungsu menempelkan wajah di depan pintu kaca. Dengan mimik wajah sedih. Karena pintu dikunci. Baim baru kembali setelah mendistribusikan majalah ke rekan bisnis Andez Corporation.
Mona buru-buru berlari, dan membuka pintu. Dia minta maaf, dan menjelaskan kenapa sampai mengunci pintu. Baim mengacungkan dua jempolnya dan bilang Kak Mona keren, sudah mengusir orang bar-bar pengagum CEO.
Baim, pacarmu ini juga mantan fans bar-bar. Mona nyengir sambil berjalan ke mejanya. Sementara Baim mengalihkan pandangan pada Mei.
"Kak Mei, direktur memanggil. Kata beliau, hadiah dari Presdir sudah keluar." Mona menyodorkan kotak tisyu ke depan Baim, karena melihat kening laki-laki itu basah oleh peluh. Baim menerima sambil tersenyum dengan imutnya. Membuat Mona membenturkan kotak tisyu ke keningnya. "Aku penasaran sekali, apa yang akan Presdir berikan. Menurut Kak Mei, kita akan dikasih apa? Kak Mei tahu nggak?"
Mei menggeleng, Kak Rion yang dia tanyai juga tidak mau mengatakan, entah karena dia juga tidak tahu atau memang tidak mau bicara. Tapi seperti yang lainnya, Mei juga sangat penasaran. Apa yang akan diberikan Presdir.
"Saya sudah menyampaikan pada senior, jadi kita langsung bertemu di ruangan Presdir saja." Dua senior yang kemarin membantu divisi mereka. "Kak Mona, menurut Kak Mona Presdir mau memberi kita apa?"
Baim berbisik ditelinga Mona, menyebut hadiah yang mereka terima dari CEO kala itu, apa akan lebih wah dari apa yang pernah mereka terima. Apapun itu, saat menerimanya, pasti sensasinya akan berbeda. Dengan hati yang berdebar kencang, Mei dan ketiga rekannya berjalan menuju ruangan direktur.
Dan sesampainya di ruangan direktur.
"Sungguh! Kita dapat liburan dua malam di kota XX." Pulau eksotis yang kepopulerannya bahkan mengalahkan ibu kota. "Dan kami boleh mengajak keluarga?"
Direktur menghela nafas karena ruangannya dipenuhi teriakan bahagia oleh semua orang.
"Ya, ya, aku iri dengan kalian semua. Kalian mendapatkan liburan di resort mewah selama tiga hari dua malam, boleh membawa keluarga lagi. Selamat ya, kalian memang sudah bekerja keras." Direktur bicara dengan bijak, padahal dia benar-benar iri. Sambil bicara, direktur mengeluarkan kertas dari dalam laci. "Sekarang, tulis nama kalian dan keluarga yang akan kalian ajak. Hei, Mona, Baim berhenti berteriak kegirangan begitu!"
Mona dan Baim langsung menutup mulut, dan terkikik. Suara mereka sepertinya mendominasi.
"Cepat tulis, supaya segera aku serahkan pada sekretaris Presdir."
"Baik direktur, terimakasih banyak." Mei yang meraih pena dan kertas itu pertama kali. Tanpa pikir panjang, yang dia tulis sebagai keluarga adalah Harven dan nama ibunya. Tentu saja, dia akan mengajak keluarganya. Kak Brama kan bekerja, jadi pasti maklum kalau aku tidak mengajaknya kan.
Gadis itu menggoyangkan badan senang, saat nama Harven dan ibunya sudah tertulis dengan rapi. Mei menyodorkan pena pada Kendra, untuk menulis lanjutannya. Gadis itu mengeluarkan hp di sakunya, mengirim pesan bahagia itu pada Harven.
Sesaat, gadis itu terdiam. Karena merasa ada yang mengganjal di hatinya. Tapi apa ya? Hah! Sudahkah, kenapa aku malah berfikir yang aneh-aneh. Ini liburan Mei, kau tidak pernah liburan kan selama ini. Gadis itu masih bersemu merekah senang, sambil menunggu yang lain menuliskan nama.
Hemmm, apa ya? Kok aku malah kepikiran sesuatu, apa sih, kok ada yang mengganjal.
Mei kembali terlihat berfikir keras, tapi saat Mona dan senior sudah selesai menulis, dan mengajaknya bicara, dia sudah lupa dengan apa yang dia khawatirkan.
Liburan mengajak keluarga, hihi, senangnya.
Ya, kalian tahu, apa yang dilupakan Mei? 😁
Bersambung