Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
94 Pagi Yang Penuh Keseruan


Empat hari berlalu dengan damai bagi Merilin. Baik tentang Rion maupun pekerjaan di kantor. Tidak ada gelagat kemunculan Amerla di depannya juga, hingga dia berfikir positif bahwa gadis itu tidak akan menemuinya. Sepertinya kata-kata Kak Rion pada hari itu efektif membuatnya mundur dengan sendirinya. Dia harap seperti itulah seterusnya.


Hari-hari damai ini semoga akan berlangsung lama, begitu doa yang diucapkan Mei sepenuh hati.


Besok di akhir pekan, dia juga akan menjemput ibu dari RS. Harven sudah mempersiapkan kamar yang akan ditempati ibu. Kak Brama akan menyempatkan waktu untuk datang ke RS saat ibu keluar, dia juga akan mengantar ke rumah baru. Rasanya seperti hujan kebahagiaan. Silih berganti mendatangi Mei dalam beberapa hari ini.


Mei merasakan kebahagiaan ketika hubungannya dengan Kak Brama semakin membaik.


Dan Sekarang, di pagi yang masih terlalu pagi. Di apartemen milik Rion. Bibi selalu datang lebih pagi untuk memulai pekerjaan, karena dia menyiapkan sarapan untuk Mei yang akan berangkat bekerja lebih pagi dari Rion.


Mei menundukkan kepala saat bertemu dengan bibi saat dia keluar dari kamar mandi, bibi baru saja keluar dari ruang kerja Kak Rion. Laki-laki itu juga sedang sangat sibuk beberap hari ini. Penjualan tanah kavling di daerah XX sudah menyentuh angka 50%, sehingga pembangunan rumah akan dimulai. Pemilihan tukang bangunan, memastikan pasokan material berkualitas akan datang tepat waktu, laporan desain akhir rumah pasti sedang menumpuk di atas meja kerja CEO Rionald. Apalagi ada beberapa pembeli yang melakukan request khusus untuk desain rumah. Mei dan rekan-rekannya akan hadir saat peletakan batu pertama, untuk mengabadikan momen. Pokoknya selama empat hari ini Rion sangat sibuk. Kemarin saja Rion pulang ke rumah sudah sangat larut, Mei ketiduran di sofa saat menunggunya.


Gadis itu kaget saat terbangun di malam hari, dia sudah ada di tempat tidur, dengan posisi Rion sedang menciumi pipinya. Tanpa bersalah sudah membangunkan orang, dia malah tersenyum dengan menyeringai sambil bilang, karena kau sudah bangun, ayo kita lanjutkan. Dan kalian tahulah, apa yang terjadi selanjutnya. Rion tidak akan tidur sebelum menjahili istrinya.


Pekerjaan Mei di kantor, juga berjalan dengan lancar, hari ini penyerahan draf pertanyaan wawancara pada Presdir dan CEO. Mereka sudah menyelesaikan draf wawancara kemarin.


Itulah yang terjadi selama empat hari ini, sibuk dengan pekerjaan di kantor siang hari. Sampai tidak memikirkan satu sama lain. Dan malamnya bergelung di bawah selimut berbagi kehangatan.


Mei sudah selesai ganti baju dan merias diri, keluar dari ruang ganti, meletakkan tas kerja di meja makan. Bibi sudah menyiapkan sarapan. Gadis itu berjalan kamar. Dia mau berpamitan untuk berangkat kerja. Hari pertama bekerja setelah akhir pekan, karena buru-buru dia tidak sempat berpamitan, alhasil Rion marah dan menghukumnya sepulang dia dari kantor. Wajah Mei memerah saat mengingat hukuman yang dia terima.


Jangan tersenyum Merilin! Itu hukuman, bodoh!


Entahlah, apa hukuman yang diberikan Rion, Mei saja malu untuk mengingatnya.


Saat pintu terbuka, Kak Rion masih tertidur, tengkurap memeluk bantal, Mei agak manyun, karena laki-laki itu dalam situasi apa pun wajahnya tetap bersinar dan tampan. Malah seperti sedang melakukan pemotretan untuk iklan bantal.


Ini kan bangun tidur, kenapa kau tetap terlihat tampan si. Seharusnya kau ileran kek, supaya aku punya foto aibmu.


Menyebalkannya, orang tampan selalu terlihat tampan dalam segala keadaan.


Semakin berjalan mendekat tempat tidur, mata Mei langsung membelalak. Dia memalingkan wajah setelah beberapa detik membeku dengan mata melotot. Selimut Kak Rion melorot dibawah pinggang. Mei menjerit dalam hati sambil masih membuang muka, dia yang melihat orang tidak pakai baju, tapi dia juga yang malu. Mei menarik selimut sampai ke pinggang. Menutupi pantat Kak Rion.


Walaupun sudah sering melihat, tapi kalau sengaja melihat matanya masih terasa panas, jantungnya juga masih belum terlalu kuat. Nafasnya rasanya sesak tidak karuan.


Dag, Dig dug.


Hah! Apa si Mei, ini kan bukan pertama kalinya kau liat dia tidak pakai baju. Tapi, ini kan pertama kalinya aku liat saat dia tidur. Mei jadi merasa seperti mengintip dan melihat sesuatu yang tidak boleh dia lihat. Sudahlah, anggap rejekimu. Rejeki kepalamu, malah bertengkar dengan hatinya yang menyebalkan.


Mei masih berdiri di dekat tempat tidur, sedikit menunduk.


"Kak Rion."


Diam, tidak menyahut. Tidak ada reaksi apa pun, bahkan sekedar gumaman pun tidak ada. Kak Rion benar-benar masih terlelap. Enak sekali si bos muda satu ini gumam Mei.


"Kak Rion, aku berangkat ya." Bicara dengan nada normal.


Masih tidak ada reaksi apa pun. Mei mau kabur saja sekarang, kalau nanti Rion marah lagi, dia akan bilang kalau dia sudah berpamitan, tapi Kak Rion yang tidak bangun. Tapi, baru dua langkah berjalan menuju pintu, dia berbalik lagi.


Aku pasti gemetaran kalau dia mencerca ku dengan pertanyaan, jadi kebohongan ku pasti terbongkar gumam Mei. Malah bisa fatal kalau sampai ketahuan berbohong di depannya. Akhirnya dia naik ke atas tempat tidur.


Ciuman selamat pagi, yang sekarang menjadi menu wajib, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya walaupun manusia bunglon itu masih ada di tempat tidur sekalipun. Ini pertama kalinya Mei melakukan saat Rion tidur.


"Selamat pagi Kak, apa Kak Rion tidur dengan nyenyak?" Walaupun tahu tidak akan dijawab, tetap bertanya juga. Sesuai dengan situasi biasanya.


Mei mencium pipi Rion dua kali. Sambil mengusap kepala dengan perlahan. Tidak ada reaksi, hanya gumaman lembut dari mulut, dan bahu yang bergeser.


Eh, dia tidak bangun juga!


Walaupun tidak terbangun, Mei tetap melakukan ritual selamat pagi yang harus dia lakukan. Sebagai alasan kalau dia sudah melakukannya nanti kalau Rion bertanya.


"Aku berangkat ke kantor duluan ya Kak, sampai jumpa nanti sore di rumah." Kecup dua kali lagi.


Ketika tetap tidak ada reaksi, Mei jadi gemas sendiri. Dia melirik pantat Rion yang tertutup selimut. Plak! Plak! Dia memukul pantat itu dua kali, sambil menahan tertawa. Antara geli dan senang karena bisa memukul Kak Rion.


Hehe, aku pasti sudah gila. Sudah ah, kabur! Nanti dia bangun.


Mei bergegas mencari sandalnya, berjalan cepat tapi tetap tanpa menimbulkan suara, saat tangannya sudah meraih handle pintu, suara Rion memanggil namanya membuatnya menjerit dan reflek duduk berlutut. Tangannya yang tadi dia pakai memukul pantat Rion rasanya gemetaran.


"Merilin, apa yang kau lakukan?"


Rion masih tiduran sambil memeluk bantal, bedanya matanya terbuka lebar. Menunjukkan, kalau dia sebenarnya tidak tidur sama sekali.


Aaaaa! Tidak! Dia bangun dari tadi, atau baru saja bangun! Dia menguap, sepertinya dia baru bangun.


Saat melihat Rion menguap, Mei merasa lega, karena sepertinya laki-laki di depannya tidak tahu apa yang dia lakukan.


Kenapa aku iseng memukul pantatnya si!


"Sampai bertemu di kantor Mei, hari ini kau harus menyerahkan draf pertanyaan wawancara kan?"


Apanya yang normal Mei! Salah sendiri kau memukul pantatnya. Seperti ada yang menampar pipi Mei. Menyadarkan kelakuan isengnya.


"Haha." Rion menjentikkan jarinya menyuruh Mei mendekat. "Beraninya kau memukulku saat aku tidur."


Kau tidak tidur kan! Dari tadi kau sudah bangun kan, kau sengaja kan!


Walaupun hatinya protes, tapi mulut Mei rapat terkunci.


"Maaf Kak, tadi ada nyamuk sepertinya di pantat kakak."


Alasan tidak masuk akal keluar, membuat Rion tertawa. Laki-laki itu terlihat senang sekali saat melihat Mei ketakutan.


"Aku pamit berangkat bekerja ya Kak?" Kabur adalah jalan ninja terbaik yang bisa dilakukan Mei.


Tapi...


"Ulangi, ciuman selamat pagi."


Apa! Kenapa dia minta lagi si, kan tadi sudah. Rasanya ada yang merinding, tengkuk Mei dia usap dengan tangan. Saat menurunkan tangan, Rion segera menyambar tangan itu, membuat Mei jatuh terjerembab.


"Ulangi, semua yang kau lakukan tadi." Tertawa lalu mencium pipi Mei.


Tidak! Itu artinya adegan pukul pantat juga!


...🍓🍓🍓...


Mei keluar dari kamar, lari dengan cepat ke ruang ganti baju lagi. Bibi cuma melihat sekelebat bayangan Mei. Tidak melihat rambut yang acak-acakan, atau bajunya yang sudah kusut bahkan sebelum berangkat bekerja.


Saat Mei keluar lagi dan melihat Mei yang ganti baju dan tersenyum simpul, sambil rasanya ingin berteriak, jangan berfikir yang aneh-aneh Bi. Hiks, gara-gara si manusia bunglon itu. Aaaaaa! Tidak! Jangan di pikirkan Mei, sudah cukup memalukan kau harus mereka ulang tadi.


Hup...hup... menyuap yang banyak, karena dia sudah kehabisan energi meladeni keisengan Rion.


"Nona Mei, makan yang banyak." Bibi menyodorkan mangkuk lauk ke dekat piring Mei, supaya gadis itu lebih mudah mengambil. "Biar Anda semakin sehat."


Mei tersenyum, sambil menyuap lagi. Bibi memang tidak banyak bicara, tapi Mei bisa merasakan ketulusan dari setiap tindakan yang bibi lakukan untuk keluarga Kak Rion.


"Terimakasih ya Bi, maaf aku merepotkan Bibi, karena harus datang lebih pagi. Hehe, aku kan hanya karyawan biasa di Andez Corporation, masak mau berangkat bareng dengan Kak Rion."


Bibi tersenyum.


"Ini kan sudah kewajiban saya Nona. Supaya Nona bisa sarapan makanan seimbang, Nona kan butuh tenaga ekstra." Lagi-lagi bibi mengulum senyum sambil meletakkan gelas di meja.


Aaaaaaa! Apa sih, bibi ini membuat orang malu saja. Pikiran Mei langsung terbang melayang, pada semua kejadian yang terjadi di rumah ini. Bibi sudah sangat sering melihat atau kadang Kak Rion yang memang sengaja pamer kemesraan di depan bibi. Supaya informasi sampai pada ayah dan ibu.


"Apalagi Nona akan melahirkan penerus Tuan besar dan nyonya, saya senang bisa sedikit membantu."


Deg.


Mei langsung bangun dari duduk, berlari dengan cepat ke ruang ganti dengan wajah pias. Tidak lama dia kembali ke meja makan, melihat bibi.


"Kenapa Nona? Apa ada yang tertinggal?"


Semua aman, jumlah pil tidak berkurang, posisinya juga masih sama, tertumpuk di bagian paling bawah. Sudah aku sembunyikan dengan aman. Tenanglah Mei, bibi tidak mungkin sampai membongkar lemari mu.


Mei tersenyum sambil meneguk air minumnya.


"Ia Bi, hampir saja aku lupa membawa dompet. Hehe. Makasih ya Bi, untuk sarapannya. Aku berangkat dulu."


Benar, kalau bibi tahu, pasti Kak Rion juga akan tahu, tapi dia tidak bicara apa pun. Artinya tidak ada yang perlu dia cemaskan. Bibi melambaikan tangan dan menundukkan kepala saat Mei keluar rumah.


Sementara Mei, masih berdiri di depan lift. Memikirkan cara paling aman untuk menyerahkan draf wawancara tanpa perlu menemui Kak Rion.


Gadis itu tersentak, saat di sampingnya sudah ada tetangga rumah. Wajah kebingungannya muncul, bagaimana dia harus bereaksi sekarang.


"Selamat pagi." Laki-laki itu menyapa dengan sopan.


Jangan menyapaku! Kalau manusia bunglon itu tahu bisa panjang urusannya.


Mei hanya menundukkan kepala sambil bergumam pagi pada akhirnya, karena akan aneh kalau dia mengacuhkannya.


"Anda tidak masuk?"


Aaaaaa! Bodo amatlah, dia tidak lihat ini.


Mei masuk ke dalam lift, turun ke bawah, berdua dengan tetangga laki-laki yang tidak di kenal Rion.


Bersambung