Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
53. Babak Kedua


Situasi ini sungguh sangat memalukan bagi Merilin. Saat Merilin merangkak dari duduknya dilantai, menuju sofa. Dia menyentuh paha Rion lalu berpegangan dan berdiri, sementara laki-laki itu sudah bersandar seperti orang malas. Dengan wajah sok cuek tidak perduli.


Gadis itu sudah duduk di pangkuan Rion sekatang, menekuk kedua lututnya. Dengan baju yang terangkat.


Benar-benar deh, dia mau aku berterimakasih dengan menggunakan tubuhku ya. Apa yang harus kulakukan sekarang. Menciumnya, tapi bagian mana duluan? Kenapa dia sekarang sok acuh dan tidak mau melihatku.


Mei sedang kebingungan mau mulai dari mana. Mau asal cium. Dia mengingat kejadian waktu itu saat duduk di pangkuan Rion saat di vila. Bagian mana dulu ya, yang waktu itu dia minta cium duluan.


Rion masih bertingkah acuh, dan belum memandang Merilin.


Padahal siapa yang menyuruh orang untuk duduk di pangkuannya. Antara geram dan malu masih menyisipi hati Merilin. Saat melihat wajah Rion yang masih kaku tidak bereaksi. Merilin menyentuh pipi Rion dengan tangan yang agak gemetar.


Sekarang, berterimaksih saja dulu.


"Terimakasih Kak."


Dua kata, ini kan yang ingin kau dengar. Bukan penolakan gumam Merilin, mengembalikan mobil sepertinya sudah tidak ada kemungkinan lagi. Walaupun dia bingung sendiri kalau sampai ada yang bertanya mobil siapa yang dia bawa.


"Terimakasih Kak Rion."


Gadis itu mencium pipi Rion. Berterimakasih untuk semuanya. Kunci mobil, kartu dan uang tunai. Semua yang ada di dalam tas. Tidak tahu berapa jumlahnya, tapi uang tunai itu pasti banyak sekali.


Karena Rion belum bereaksi Merilin masih memberikan kecupan di sana sini. Bahkan sampai menciumi leher dan memasukkan tangannya mengusap tubuh di bawah kaos yang dipakai Rion. Laki-laki itu mulai memandang Merilin saat gadis itu mulai kehabisan ide untuk melakukan apa. Rion memainkan tangannya di telinga Merilin. Dia pilin-pilin perlahan telinga yang memerah itu.


Hah! Sentuhan memang bisa meredakan amarahnya!


"Kau suka semua hadiahku?"


Kalau aku jawab tidak, apa kau masih bisa tersenyum begitu. Hah! Aku suka Kak, memang siapa si yang tidak suka uang.


"Ia Kak aku suka, terimakasih banyak. Aku akan memakai hadiah Kak Rion dengan senang hati."


Sentuhan jari Rion menyapu bibir merah Merilin. Dia usap perlahan seperti menghapus lipstik. Senyum yang selalu tampak jahat dan penuh makna muncul. Membuat bulu dibelakang tengkuk Merilin merinding. Kau mau aku melakukan apa lagi si! Mei sudah menebak keisengan apa lagi yang akan dilakukan Rion sekarang.


"Buka!"


Buka lagi, selain boneka kau terobsesi dengan kata buka sekarang! Buka bajuku atau bajumu sekarang!


Merilin menafsirkan sesukanya, sebelum perintah kedua keluar dari mulut Rion, dia menarik kaos yang dipakai Rion. Terserahlah, lebih malu kalau harus membuka bajunya, jadi dia memilih membuka baju Rion. Menarik kaos ke atas melalui kepala. Rion juga pasrah mengangkat tangannya. Dan kaos itu terlepas, dijatuhkan begitu saja di sofa oleh Mei.


Senyum menyebalkan itu muncul lagi.


"Padahal aku menyuruhmu membuka tas, karena ada satu hadiah yang sepertinya kau lewatkan."


Apa! Merilin menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Kenapa denganmu Merilin! Semesum itu kah otakmu. Tidak! bukan aku yang mesum, dia saja yang aneh dan ambigu. Dengan posisi seperti ini memang siapa yang bisa berfikir jernih. Buka! makanya yang jelas kalau memberi perintah.


Merilin dengan wajah malu, mau beranjak dari pangkuan Rion. Tapi kedua pahanya di tekan tangan Rion membuatnya tidak bisa bergerak.


"Kak, aku mau melihat tas lagi." Merilin berusaha menggoyangkan pahanya supaya bisa bergerak. Tapi percuma, dia kalah tenaga. "Katanya masih ada satu lagi, maaf, aku tidak melihatnya tadi."


Bukannya membiarkan Mei turun, malah cuma meraba-raba paha Merilin.


"Terlambat..." Rion mengusap dadanya yang telanjang. "Karena kau sudah membuka bajuku."


"Aku pakaikan lagi ya Kak." kaos Rion yang sudah ada ditangan Merilin direbut, lalu dilemparkan sembarangan ke belakang sofa. Sudah menjadi jawaban, apa yang diinginkan Rion sekarang.


"Lanjutkan yang sudah kau mulai Mei..." Rion tergelak, memainkan ujung telinga Merilin yang memerah. "Dari sini, ke sini dan ke sini. Tidak boleh ada yang terlewat. Semakin merah semakin bagus." Mengusap hampir seluruh tubuhnya dengan tangan kiri. Mei yang masih membeku tersentak dengan satu kecupan mendarat di bibirnya, saat memundurkan kepala, Rion tertawa karena ekspresi kaget yang Merilin tunjukkan. "Lucunya."


Aaaaaa, kenapa sih! Kau suka hal beginian.


Mei yang cuma bisa patuh, dengan pasrah mulai menciumi leher Rion. Bahkan sampai meninggalkan bekas kecupan merah di sana. Tidak berhenti hanya dengan satu kecupan saja. Berlanjut kecupan kedua, ketiga dan seterusnya.


Angin malam berhembus lumayan kencang, di luar jendela apartemen.


...🍓🍓🍓...


Setelah bermain di atas sofa. Entah jam berapa mereka selesai dengan urusannya. Rion menggendong Merilin dalam dekapannya menuju tempat tidur.


Setelah lampu kamar padam dan tersisa temaran di sudut ruangan. Babak berikutnya berlanjut.


Merilin mencengkeram seprei, kedua tangannya terentang ke samping. Matanya yang terpejam. Namun keluar juga suara Ahhhhh dari mulutnya, walaupun dia menggigit bibirnya sekalipun. Bibirnya mengkhianatinya, otaknya tidak singkong dengan hatinya.


Malam itu sekali lagi mereka melakukannya. Rion kembali menjadikannya boneka mainannya, yang bisa dia sentuh dan dia sayang-sayang sesuka hatinya. Kecupan demi kecupan menyapu seluruh tubuh Merilin. Gadis itu merasakan gairah, kehangatan dan kelembutan dari bibir dan tangan Rion yang suka-suka menari di seluruh tubuhnya.


Laki-laki bisa berhubungan badan bahkan dengan wanita yang tidak dia ketahui namanya Mei, kata-kata Jesi terngiang di kepala Merilin. Apalagi aku yang memang bonekanya Kak Rion. Tak terasa ada airmata yang menetes di ujung mata Merilin. Aku istri bonekanya, yang sudah seharusnya melayaninya kan. Rasa sedih itu mengalir lagi. Cepat-cepat dia usap, jangan sampai Rion melihatnya.


Kalau sampai dia tersinggung karena aku menangis, amarahnya yang sudah susah payah aku padamkan bisa saja berkobar lagi.


"Aaaahhh, Kak." Tangan Merilin mencengkeram punggung Rion yang basah. Banyaknya hal yang tiba-tiba terpikirkan, tidak bisa mengalihkan tubuhnya yang memang menikmati sentuhan Rion.


"Katakan." Rion berbisik di telinga Merilin, bahkan menggigit telinga itu.


Katakan apa! Kau mau aku bilang apa? Lagi-lagi Merilin dibuat kebingungan dengan perintah Rion.


"Aaaahhh."


"Katakan kau menyukainya, sentuhan ku, kecupanku. Katakan kau menyukainya."


Apalagi ini! Aku tidak menyukainya, aku tidak mau mengakuinya, kalau aku menyukainya. Tidak Mei, tidak. Hei mulut, jaga bicaramu jangan mengkhianatiku.


"Mei..." Karena Mei tidak menjawab, Rion mulai tidak sabar. "Sudah kubilang..."


Merilin langsung menyambar.


"Aku menyukainya Kak, setiap sentuhan tangan Kak Rion, setiap kecupan bibir Kak Rion. Aku sangat menyukainya. Aku mencintai Kak Rion."


Merilin mendelik sendiri ketika tersadar kata apa yang baru saja terlontar dari mulutnya. Kelepasan tanpa dia sadari.


Sejak kapan aku mencintai Kak Rion!


Rion tertawa, lalu mencium pipi Merilin. Dia menyukainya, walaupun tahu, kata-kata yang terucap dari bibir Mei sekarang hanya kebohongan. Namun, dia menyukai bibir basah yang mendesah itu mengatakan kalau dia mencintainya.


"Lagi..."


Aaaaaa! Apa sih. Selesaikan saja urusanmu. Aaaaa!


"Aku mencintaimu Kak Rion, aku mencintaimu."


Merilin bisa melihat Rion memejamkan mata, dan menikmati titik puncak hasratnya. Tekanan kakinya pun mengendur. Setelah beberapa saat terdiam, Rion menjatuhkan tubuh di samping Merilin memeluk gadis itu dalam dekapannya. Dia menarik selimut di sudut tempat tidur, menutupi tubuh polos keduanya yang masih menempel satu sama lain.


Aku pasti sudah gila! Kenapa aku menikmati semua ini. Mei, plak! plak! Gadis itu menampar hatinya sendiri.


"Mei..." Terdengar nafas Rion yang mulai teratur. "Kenapa tubuhmu bisa kecil mungil begini." Tangan dibawah selimut mulai meraba-raba sesuka hati. "Bukannya kakak dan adikmu lumayan tinggi, apa kau anak angkat?"


Ah, pengen aku cubit bibirnya orang ini, bicara seenaknya padahal tangannya tidak bisa diam.


"Aku mirip dengan ibu Kak, Kalau Kak Brama dan Harven seperti ayah yang tinggi besar. Ibuku juga tubuhnya mungil dan kecil sepertiku." Faktanya memang seperti ini. Jadi Merilin tidak mengarang.


"Benarkah."


Rion bangun, selimut turun sampai kelututnya. Dia meraih botol air yang ada di atas meja, meneguknya beberapa kali.


"Aku jadi ingin bertemu dengan ibumu."


Merilin langsung sumringah, pancaran kebahagiaan muncul begitu saja. Padahal dia tidak terlalu berharap Kak Rion mau menemui ibunya.


"Terimakasih Kak, kalau Kak Rion mau bertemu dengan ibu. Bagaimana kalau akhir pekan ini?"


Rion menyeringai karena Merilin terlihat senang. Lalu dia meraih tubuh Merilin dalam pelukannya dan menjatuhkan tubuh. Mencium leher gadis itu beberapa kali.


"Kau senang sekali, padahal aku mau bertemu ibumu cuma untuk membuktikan, kau bohong atau tidak saat kau bilang kau mirip dengannya."


Apa!


"Kalau kau sampai menipuku." Merilin meringis saat bibir Rion mencium dengan keras lehernya. "Awas kau."


Dasar orang gila! Padahal aku sudah tersentuh tadi.


Sia-sia memang, ya, sadarlah Mei. Berapa kali kau harus ditampar supaya sadar, Rion hanya berfikir kau bonekanya. Jangan tersentuh apalagi sampai menyimpan perasaan padanya. Lagi-lagi Merilin lupa, kalau sebenarnya sudah ada nama Kak Serge di hatinya. Dia sering kali tidak teringat nama itu, malah yang dia pikirkan adalah, fokus supaya hatinya tidak terbuka dan berharap apa pun pada Rion. Sekedar belas kasih yang tulus sekalipun.


Karena aku hanya sebatas menjadi istri boneka baginya.


Mereka masih berpelukan, Rion menyuruh Mei mengatakan lagi, berulang kali, kalau Mei mencintai Rion, sampai mereka jatuh tertidur. Dan malam semakin larut menyelimuti bumi dalam kegelapan. Namun di langit yang menghitam, terlihat kelip bintang yang indah untuk dipandang.


Bersambung