Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
181. Menjemput Erla


Sebuah mobil melaju di jalanan.


Kenapa aku! Kenapa aku yang harus menjemput Nona Erla! Sambil menginjak gas terdengar pengemudi mobil itu mengomel. Ternyata dia adalah sekretaris Ibram. Bosnya memberinya perintah untuk membawa Erla ke apartemen.


Dan dia tentu saja tidak bisa menolak. Aaaaaa! Kenapa Anda tidak pergi sendiri si! Dia semakin serba salah karena tahu hubungan keduanya belum baik-baik saja. Dia seperti ditumbalkan oleh Ibram. Awalnya dia hanya ingin mencoba menghibur Ibram yang terlihat depresi. Malah jadinya begini.


Karena Ibram menceritakan semuanya, alasan tamparan di pipinya, kenapa ayahnya bisa murka, dan tentang dia membawa kabur ibunya. Alasannya ingin menjauhkan ibunya dari ayahnya. Setelah dia menyadari semua kesalahannya pada Erla. Ibram yang selama ini tidak pernah menangis dan mengakui kesalahannya, hari itu tampak tidak berdaya. Dan sekretaris Ibram yang sedikit banyak tahu bagaimana kehidupan Ibram merasa iba dan menunjukkan dukungan.


Tapi, malah, akhirnya seperti inilah yang terjadi. Dengan mata sembabnya, Ibram menyuruhnya menjemput Erla.


Kejadian sebelum dia pergi tadi kira-kira begini.


"Jemput Erla ke mari, bawa dia ke mari, apa pun yang terjadi, kau harus membawanya keluar dari rumahnya. Tapi..." Ibram memegang lengan sekretarisnya, mencengkeramnya kuat. "Jangan memaksanya, aku tidak mau dia ketakutan untuk datang ke sini. Tapi, kalau aku tidak bertemu dengan Erla hari ini, aku bisa gila." Sambil memegangi kepalanya, Ibram bicara mencercau. "Jadi bawa dia ke mari, aku mau bertemu dengannya. Kau bisa kan?"


"Tapi, kalau Nona Erla tidak mau bagaimana?" Sang sekretaris yang merasa serba salah dan tersudutkan. Dia juga pasti yang akan ikut disalahkan nanti, apalagi kalau sampai dia memakai jalan terakhir, memaksa Erla.


"Lakukan apa pun supaya dia datang."


Apa sih, katanya saya tidak boleh memaksanya. Tapi Anda menyuruh saya melakukan apa pun. Kenapa bukan Anda saja yang pergi! Mungkin kalau punya sembilan nyawa, kata-kata itu yang akan sekretaris Ibram ucapkan. Tapi karena dia tidak mau kehilangan pekerjaannya juga, akhirnya dia menundukkan kepala pasrah.


"Baik Tuan, saya akan pergi. Tolong, Anda tenangkan diri dulu. Kalau Nona Erla melihat Anda seperti ini, dia pasti sangat terkejut nanti."


Hah! Sang sekretaris lagi-lagi cuma bisa mengeluh dalam hati.


"Aku harus bertemu Erla hari ini." Kata-kata Ibram terdengar getir. "Kalau aku yang mendatanginya, hah! sudahlah, pokoknya bawa Erla kemari." Ibram tidak meneruskan kata-katanya, malah mendorong sekretarisnya keluar dari rumah. "Setelah kau mengantar Erla, pergi ke tempat ibuku."


Kalau aku yang mendatanginya, dia pasti hanya akan ketakutan lagi. Gumam Ibram dalam hati. Terasa pedih.


Begitulah yang terjadi, sepanjang perjalanan ini, sang sekretaris sedang memutar otak. Apa yang akan dia katakan pada Nona Erla, supaya mau pergi bersamanya. Apa aku katakan saja kalau CEO habis bertengkar dengan Presdir, dia ditampar dan dipukuli, supaya Nona Erla merasa iba. Ah, sialan! Mereka kan tidak sedang dalam hubungan saling mencintai. Kenapa Nona Erla harus merasa iba.


"Memang apa urusan ku, kalau dia babak belur. Pergi sana! aku tidak mau berurusan dengannya lagi." Dengan suara tegas khas Nona Erla. Begitu yang muncul dipikiran sekretaris Ibram.


Ayo berfikirkah bodoh! apa yang akan kau katakan, kalau Nona Erla menolak. Sambil tancap gas itu saja yang dipikirkan sang sekretaris.


Dan saat mobil memasuki sebuah halaman rumah, ketika dia menyebutkan siapa dia, pelayan yang menyambutnya langsung menundukkan kepala dan berlari masuk ke dalam rumah. Tak lama, pemilik rumah keluar. Sang sekretaris tentu sudah sangat dikenali oleh ayah Erla. Karena mereka sudah sering bertemu untuk urusan pekerjaan.


"Saya datang atas perintah CEO Ibram, untuk membawa Nona Erla." Langsung mengatakan maksud dan tujuannya datang


Ayah dan ibu saling pandang, mereka terlihat khawatir. Ibram tidak datang selama beberapa hari, dan sekarang yang muncul malah sekretarisnya. Tentu saja yang ditakutkan mereka hanyalah, Ibram yang mau membuang Erla. Apakah perceraian benar sudah ada di depan mata.


"Maaf Tuan, kalau saya boleh tahu, di mana Nak Ibram?" Ibu yang bertanya, karena siku suaminya menyenggol lengannya.


"Bisa tolong panggilkan Nona Erla, biar saya yang bicara langsung menjelaskan."


Akan panjang urusan, kalau dia pun harus menjelaskan pada kedua orang di depannya ini. Jadi dia langsung mencari orang yang harus dia bawa.


"Baik, baik, silahkan masuk dan tunggu sebentar. Kami akan membawa Erla." Ayah Erla menarik lengan istrinya, untuk ikut naik ke kamar Erla. Terlihat sekretaris Ibram sedikit merasa khawatir, karena situasinya benar-benar tidak bisa ditebak. Ya, laki-laki seperti apa ayah Erla dia juga tahu, orangtua yang rela menjual putrinya demi uang dan perusahaan.


Dan benar saja, setelah ayah dan ibu Erla masuk ke dalam kamar anaknya, suara lantang Erla mulai terdengar mengisi udara di dalam ruangan.


"Tidak mau! Aku tidak mau pergi ayah!"


"Dasar kau ini! Kau mau membuat Ibram marah!" Ayah menarik tangan Erla untuk keluar kamar, gadis itu menepis tangan ayahnya sekuat tenaga lalu menjauhi ayahnya. "Erla! Bisa jadi ini kesempatan terakhir mu! Cepat keluar, sekretaris Ibram sudah menunggu mu di luar!"


Mata Erla menyala, menatap ayahnya dengan sorot mata marah, jijik dan kesal. Sampai sejauh apa lagi dia harus dikorbankan. Kalau dia pergi sekarang, dia pasti sudah gila. Di sini saja dia takut, apalagi sekarang dia harus menemui Ibram sendirian.


"Kenapa tidak kau bunuh saja aku Yah, kalian tahu apa yang bisa dilakukan Kak Ibram kan?" Sinis Erla berteriak menyuarakan ketakutannya. Mungkin, saking kerasnya sekretaris Ibram bisa mendengar suara Erla.


"Pelankan suara mu! Memang apalagi yang bisa Ibram lakukan, kau tinggal diam dan terima saja. Asalkan amarahnya bisa mereda." Ayah masih dengan culasnya bicara. Ibu tidak bisa membela sedikit pun.


Saat ayah dengan sekuat tenaga menarik tangan Erla keluar kamar, ibu hanya berusaha menenangkan dan membuat Erla tidak berontak. Di depan kamar, kaki Erla menjejak lantai membuat mereka terhenti. Dia menatap benci ayah dan ibunya.


"Ini terakhir kalinya, aku akan menerimanya ayah! dengar itu, ini terakhir kalinya." Rasa sakit sudah menjalar seperti trauma di kepala Erla. Perlakuan Ibram padanya, cara laki-laki itu melampiaskan hasrat dan amarah, langsung seperti Dejavu menerjang ingatannya. "Setelah ini, aku yang akan membuang kalian! Kalau aku kembali dengan terluka dan mendapatkan penyiksaan Kak Ibram, aku bersumpah akan membuang kalian! Aku bukan anak kalian lagi setelah hari ini!" Dengan bibir bergetar Erla menjerit sebisanya. Dia melihat pelayan muda yang selalu menemaninya. "Tolong, bereskan barang-barang ku."


Ayah memang marah, tapi dia cuma bisa mengeram, karena ibu menahan tangannya. Menyuruhnya bersabar. Sambil melihat Erla yang berjalan lebih dulu, menuruni tangga.


"Anak kurang ajar! Tidak tahu berterimakasih."


Saat menyusul Erla, ayah dan ibu segera mendorong Erla untuk mendekati Sekretaris Ibram.


"Pergilah bersamanya Erla. Nak Ibram sudah menunggumu. Bicaralah baik-baik dengannya.


Erla masih berdiri kaku, diam membisu tapi juga tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Di atas tadi dia sudah sombongnya mengeram ayahnya. Tapi, saat melihat laki-laki yang diutus suaminya, nyalinya, keberaniannya hilang menciut. Lagi-lagi, rasa sakit dan semua penderitaannya seperti mimpi buruk yang mengejarnya.


Karena Erla tidak bergeming, ayah bahkan sampai mencubit lengan Erla.


"Erla!"


"Ayah saja yang pergi sana! Temui Kak Ibram dan buat dia senang. Ini kan hanya menyangkut perusahaan ayah!"


Rasanya, seperti dilempar kotoran oleh anak sendiri. Wajah ayah Erla memerah karena malu dan marah. Di depan sekretaris Ibram, Erla kembali menunjukkan pemberontakannya.


"Aku tidak mau pergi! Katakan saja pada Kak Ibram, aku sudah menandatangani surat perceraian. Terserah selanjutnya mau apa!" Walaupun perasaan takut menjalar di tengkuk Erla, saat melihat kemarahan ayahnya. Tapi dia tidak bergeming. Karena yang jauh lebih dia takutkan sekarang adalah Kak Ibram. Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu padanya. Memikirkannya saja sudah membuat tengkuknya merinding. "Pergilah Tuan, aku mohon. Katakan pada Kak Ibram, hubungan diantara kami sudah selesai."


Sekretaris Ibram sedang memutar otak, semua rencana yang dia susun di dalam mobil tadi langsung berkelebat dengan cepat. Karena dia sudah menduga, kalau Erla pasti menolak.


"Tuan Ibram terluka."


Ayah dan ibu langsung tersentak kaget.


"Beliau meminta saya menjemput Anda, karena beliau sedang terluka."


Erla tergelak kecil.


"Kau sedang bercanda?"


Memang apa urusan ku kalau dia terluka? Aku sudah puluhan kali dia lukai dengan tangannya. Apa perduli ku dia terluka. Rasanya Erla merasa lucu dan ingin tertawa. Dia malah akan senang, kalau Kak Ibram sedikit saja merasakan sakit.


"Beliau tidak mau bercerai dengan Anda, dan akhirnya bertengkar dengan Presdir." Sekretaris melanjutkan kata-katanya. "Beliau ditampar dan babak belur, bahkan sampai tidak bisa berdiri. Presdir sangat marah, tapi CEO tetap bersikeras tidak mau bercerai dengan Anda. Saya mendengar beliau tidak mau bercerai, karena mencintai Anda."


Deg...deg..


Erla berusaha tertawa dengan omong kosong yang dikatakan sekretaris Ibram di depannya, tapi tiba-tiba hatinya berdebar cemas.


"Ke..kenapa tidak kau bawa Kak Ibram ke RS saja, kenapa kau malah meninggalkannya. Kau ini bagaimana si!" Erla buru-buru mendengus, karena terlihat mengkhawatirkan Ibram. "Aku bukan perawat, aku tidak tahu mengurus orang sakit."


Maafkan aku Tuan! Sekretaris itu menjerit dalam hati, karena akan membual lagi.


"Beliau bahkan tidak bisa bangun, dan cuma menyebut nama Anda Nona. Jadi tolong, sebentar saja. Tolong ikut saya untuk bertemu dengan... Eh..."


"Apa yang kau tunggu! Kau banyak sekali bicara."


Erla sudah berjalan ke depan pintu.


Ayah, ibu, bengong. Para pelayan juga begitu. Apalagi sekretaris Ibram.


Berhasil, gumam sekretaris sambil menundukkan kepala pada orangtua Erla.


"Aku cuma akan melihat sebentar lalu pergi, dia sudah diobati belum, mampir ke apotik dulu."


Entahlah, ketika kebencian itu masih teramat besar ada di hati Erla, namun entah kenapa kekhawatiran itu menutup kebenciannya. Dasar bodoh! Biasanya kau bahkan tidak pernah membantah ayah mu kan, kenapa?


Deg...deg... deg..


Mobil melaju cepat, menuju apotik.


Bersambung


Bersambung