Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
65. Hadiah Rion


Hari ini bukan akhir pekan, Mei tahu harusnya dia sudah membuka mata sekarang, mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Tapi, ahhhh, rasanya matanya masih sangat berat. Belum lagi, tubuh yang memeluk di belakang punggungnya. Gadis itu menggeliat, berharap Rion bergerak dan membalikkan tubuh. Percuma, walaupun dia sudah menggerakkan bahunya, lengan kokoh yang membekapnya tidak bergeser sama sekali.


Aaaa! Bagaimana ini. Karena dipeluk begini jadi membuatku semakin malas bergerak. Aku masih mengantuk. Tubuhnya juga lemas. Kalau dituruti semakin banyak yang dikeluhkan Merilin.


Tapi dia hanya karyawan biasa yang harus absen tepat waktu kan, dia bukan bos yang bisa seenak jidatnya datang ke kantor jam berapa pun dia mau. Merilin meraih tangan Rion, mengangkatnya perlahan. Tidak ada reaksi, sepertinya Rion juga masih terlelap karena kelelahan.


Baiklah, bangun Mei!


Sekali lagi gadis itu menguap. Mengusir kantuk dan rasa lelah. Dia mengangkat tangan Rion yang melingkar di bahunya. Tangan itu bergeser sedikit.


"Kak..."


"Hemm."


Merilin merasakan kepala Rion malah semakin menempel di punggungnya. Dusel-dusel. Dia mau diam-diam bangun sebenarnya, tapi tidak kuat mendorong Rion, akhirnya dia bangunkan juga Rion supaya menggeser tangan dan tubuhnya.


"Maaf Kak, bisa tolong lepaskan aku, aku mau mandi dan bersiap berangkat ke kantor." Padahal sudah sejelas itu bicara, kalau dia mau turun dari tempat tidur tapi Rion masih tidak bergeming. Malah terasa pelukannya dipererat. "Kak, aku mau kerja."


Lepaskan aku!


"Hemmm, aku masih mengantuk."


Terserah Kakak kalau masih mengantuk, aku kan tidak meminta Kakak bangun. Rasanya gemas sendiri Merilin. Yang dia inginkan cuma Rion menggeser tubuhnya supaya dia bisa bangun. Aaaaa! Bukannya memindahkan dekapan, sekarang kaki Rion malah naik ke atas paha Merilin.


Apa sih, orang ini.


"Kak, kalau aku tidak bangun dan bersiap sekarang, aku bisa terlambat datang ke kantor."


Ya Tuhan, aku mohon berfikirlah kalau aku itu cuma karyawan yang harus absen tepat waktu. Direktur Merilin orang yang sangat perhitungan pada jam kantor, terlambat sedikit saja, bisa-bisa dia harus masuk ke ruangan direktur sebelum mulai bekerja.


"Mei, hari ini kau bisa datang terlambat ke kantor." Merilin bisa merasakan, bibir Rion yang mengecup punggungnya beberap kali.


"Tapi Kak..."


"Anggap itu hadiah yang kuberikan padamu." Kembali bicara seenaknya. Merilin bergumam, memang kenapa kau memberiku hadiah segala.


Hadiah, hadiah, kata itu jadi mendengung di kepala Merilin, karena dia bingung, hadiah apa yang dimaksud Rion.


Oh, apa? Hadiah? Ah, hadiah yang dia bisikkan saat di ruangan Presdir. Apa sih, aku tidak perlu hadiah yang begini.


Agak kesal sebenarnya karena hadiah yang dia terima rasanya tidak berguna begini. Masih lebih baik, hadiah itu berupa undangan makan malam untuk Kak Brama dan Harven pikir Merilin.


"Terimakasih Kak, tapi aku tidak perlu hadiah ini kok. Aku mau bekerja saja." Masih berusaha menggerakkan tubuh, karena sekarang kondisi Rion sudah sadar sepenuhnya, malah rasanya tubuh laki-laki itu semakin berat. Yang ada dia semakin terlilit, dalam pelukan Rion.


Terdengar Rion mendesah sambil menguap ketika mendengar jawaban Merilin. Laki-laki itu hanya menginginkan ucapan terimakasih, bukan bantahan.


"Putar tubuhmu dan lihat aku." Sambil menarik rambut di depan hidungnya.


"Awwww. Baik Kak."


Deg. Saat membelakangi tubuh tadi, wajah Dan otot perut serta tubuh Rion tidak kelihatan jadi Merilin tidak melihat. Merilin menutup wajahnya. Banyak bekas kemerahan di tubuh Rion akibat ulahnya semalam. Baik kecupan ataupun gigitan. Menyebar di seluruh bagian tubuh. Dia jadi semakin malu kalau mengingat itu semua akibat perbuatannya.


"Kau menolak hadiahku?"


Mulai deh marah, kalau kau mau aku senang menerimanya, berikan aku hadiah yang normal saja kenapa. Padahal kau juga tahu apa yang aku inginkan. Merilin cuma berani menggerutu dalam hati.


"Tidak Kak, mana aku berani menolak hadiah Kakak, aku sangat berterimakasih. Tapi, aku kan harus absen tepat waktu Kak, atau aku harus izin dengan direktur."


Di kantor kau kan bukan atasan langsungku, mau kau bicara aku boleh libur seharian, tetap tidak berarti kalau direkturku tidak memberi izin. Begitulah kondisi sebenarnya, tapi bagaimana Merilin harus menjelaskan pada manusia pemarah yang cuma percaya apa yang mau dia percayai saja.


"Serge akan mengurus izinmu."


Kak Ge.


Rion mencengkeram dagu Merilin, dia terlihat tidak suka dengan reaksi wajah Merilin saat dia menyebut nama Serge. Bola mata yang mengerjap senang, walaupun hanya dengan mendengar nama orang yang dia sukai.


"Awww, Kak sakit." Rion mengendurkan tangannya ketika Merilin meringis dan menyentuh tangannya.


Apa sih, kenapa tiba-tiba marah, padahal aku tidak bicara apa pun.


"Jadi, kau mau menerima hadiahku atau tidak? itu ketulusanku Mei, aku ingin kau istirahat dan tidur lebih lama pagi ini, karena aku tahu kau lelah dan masih mengantuk kan."


Ada sedikit rasa haru langsung menyeruak di hati Merilin, dengan keperdulian Rion. Ternyata dia tahu aku kelelahan meladeninya semalaman ya. Hatinya masih normal sepertinya.


"Tentu saja Kak, aku akan menerimanya dengan senang hati." Terserahlah, gadis itu bergumam, entah bagaimana caranya Kak Ge meminta izin, tapi kalau sekretaris CEO sudah turun tangan, dia bisa percaya kan kalau semua urusan sudah beres. "Terimakasih banyak Kak."


Rion menyentuh rambut Merilin, lalu jemarinya memilin telinga, dan menyusuri leher.


Merilin langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia lupa, kalau dia bahkan belum menggosok gigi. Sudah sedekat ini bicara. Dengan wajah memerah dia bergegas turun tanpa bicara sepatah katapun. Bahkan tidak menangkap senyum mencurigakan yang selalu ditunjukkan Rion kalau dia sedang ada maunya itu.


Ah, lucunya, dia polos sekali gumam Rion sambil meraih bantal, tengkurap, dengan keadaan setengah telanjang. Bahunya yang dipenuhi tanda merah, semakin terlihat saja sekarang.


Di kamar mandi Merilin menjerit tanpa suara, saat melihat sekujur tubuhnya. Yang tadinya cuma mau menggosok gigi dan mencuci muka, akhirnya dia mandi juga. Selepas mandi, kantuknya lenyap, perasaan segar menyeruak, dia jadi tidak punya keinginan untuk tidur lagi. Dia akan pergi ganti baju dengan baju kantor langsung pikirnya.


Tapi, saat membuka pintu kamar mandi, Rion sudah berdiri di depan pintu. Menyentuh dagu Mei sambil tersenyum.


"Masuk ke kamar, dan tunggu aku di tempat tidur."


Aku sudah tidak mengantuk Kak, aku mau bekerja. Tapi karena sudah mendengar perintah, tubuhnya reflek masuk ke kamar lagi setelah dia berganti baju. Merilin memakai dress selutut yang terbuat dari bahan kaos. Dia membelinya untuk dia pakai di rumah.


Saat sedang menunggu Rion, dia mengambil hpnya. Ada pesan masuk dari Kak Serge.


"Mei, kau tidak apa-apa kan? Rion menyuruhku mengurus izinmu sampai jam makan siang. Kau tidak sakit kan?"


Ditempatnya Serge mengirim pesan dengan segala pikiran buruk yang menimpa Merilin. Setelah Rion bertemu dengan Amerla, Mei izin terlambat. Hanya ada ketakutan di kepala Serge, apa Rion melampiaskan kemarahannya pada Merilin. Hanya itu yang dipikirkan sekretaris baik hati namun malang itu.


Merilin yang baru saja akan membalas pesan, mendengar suara handle pintu. Buru-buru dia matikan hp dan dia masukkan ke dalam bantal. Pesan sudah terbaca tapi belum dia balas, hpnya tidak aktif juga sekarang.


Rion masuk ke dalam kamar, memakai handuk kecil di pinggangnya. Dia juga terlihat seperti sudah mandi, aroma segar dari sabun dan sampo yang dia pakai menyeruak. Ada tetesan air dari rambut, bergulir menciumi otot tubuhnya.


Glek. Miria, memalingkan wajahnya yang memerah.


Aaaaaaaa! Dia memang orang gila!


Rion menjatuhkan begitu saja, handuk yang ada di pinggangnya ke lantai. Merilin yang menjerit dalam hati dan reflek menutup mata dengan tangan malah membuat Rion tertawa.


"Kak, karena su..sudah mandi, aku jadi tidak mengantuk lagi. Apa..."


Rion yang berjalan mendekat, membuat Mei tidak meneruskan kata-katanya. Saking bingung dan malunya, dia malah meraih bantal dan menutup wajahnya sekarang dengan bantal. Rion melemparkan tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur. Terlentang tanpa busana sehelai pun. Dia tiduran miring sambil bersangga dengan tangan kanannya.


"Aku tambah hadiah mu Mei?"


Hah! Apalagi si!


"Selain terlambat datang ke kantor, aku tambah dengan tubuhku."


"Hah! Apa?" Seperti orang bodoh Merilin melongo. Maksudnya apa, gumam gadis itu.


"Sekarang, kau boleh melakukan apa pun pada tubuhku." Rion mengusap perutnya, yang berotot. "Kau boleh mulai dari mana saja, nikmatilah tubuhku sepuasmu."


Siapa yang minta hadiah semacam ini!


Rion tertawa karena wajah Merilin yang kaget bercampur kesal, terlihat menggemaskan di matanya. Haha, lucunya.


"Haha, sepertinya kau senang sekali dengan hadiahmu ya, baiklah, kalau kau patuh dan bersikap manis aku akan sering mengizinkanmu menyentuhku." Rion menarik tangan Merilin sampai gadis itu jatuh terjerembab ke atas perutnya. "Sentuhlah Mei, sampai siang nanti tubuh ini milikmu."


Memang siapa yang mau hadiah beginian! Dasar orang aneh.


Kenapa jadinya Merilin yang mendapatkan hadiah tapi malah Rion yang terlihat puas dan menikmati. Gadis itu cuma bisa pasrah saat Rion menyuruhnya menikmati tubuh Rion dimulai dari pangkuannya.


Apa ini? Dia ini kenapa si? Apa dia kepikiran mantannya lagi, makanya menyuruhku menyentuhnya lagi.


Rion benar-benar tidak bergerak di awal, hanya menikmati kecupan dan sentuhan Merilin. Sesekali dia tertawa, lalu menggoda Mei dengan kata-kata "Kau senang, mana lagi yang mau kau sentuh? Kau tahu, cuma kau yang aku izinkan menyentuh tubuhku sesukamu. Jadi berterimakasih lah."


Merilin mendongak, saking kesalnya dia sampai ingin menangis.


"Kau terharu sekali ya, bonekaku yang lucu. Teruskan jangan berhenti." Dengan tidak tahu malunya Rion bicara. "Mana terimakasih mu Mei?"


"Terimakasih banyak Kak, hadiah Kak Rion sangat, sangat istimewa."


"Hahaha."


Saat hasrat Rion mulai terpancing karena kecupan bibir Merilin, dia menarik tubuh Merilin dan menjatuhkannya di bawahnya. Rion meraih bibir Merilin, ciuman dimulai dengan perlahan, pelan lalu mulai saling ******* dan mengalahkan. Sementara tangannya meraba bagian tubuh Merilin yang lain.


Pagi hari yang seharusnya di penuhi semangat bekerja, malah berkobar dengan cara yang berbeda.


Bibi pelayan yang datang juga hari ini, menutup wajahnya malu sendiri saat suara dari kamar terdengar. Dia masuk ke rumah tadi saat Rion keluar dari kamar mandi.


"Masa muda memang masa yang panas dan bergelora. Sepertinya Tuan besar dan nyonya akan segera memiliki cucu kalau begini." Dia tersenyum sambil membereskan dapur. Bergegas mengerjakan semuanya, supaya bisa lekas keluar. Dia tidak mau membuat nona mudanya malu kalau melihatnya saat keluar dari kamar nanti.


Bersambung