
Kenapa aku malah memikirkan Mei. Gumam Rion sebal pada dirinya sendiri. Namun dibagian hatinya yang lain, dia bersyukur, nama Mei menghapus bayangan suram yang seperti hantu mengejarnya dari masa lalu. Ketika nama gadis itu muncul tadi.
Rion memukul meja saat Serge malah terlihat sedang melamun seperti apa yang dia lakukan barusan. Serge yang terperanjat dan segera bangun dari lamunan setelah menemukan inspirasi.
"Rion."
Serge sudah berhasil merangkai kata menjadi karangan yang indah sepertinya. Matanya terlihat bersemangat.
"Bukannya ini kesempatan mu, untuk menunjukkan pada ayahmu, bahwa kau benar-benar menikahi Mei karena cinta. Kalau kau menerima proyek ini ayahmu akan berhenti curiga." Sekali mendayung, dua tiga pulang akan ditaklukkan langsung. Serge pun bisa sedikit mengendurkan kewaspadaannya pada ayah Rion.
Bukankah ini menguntungkan ku juga. Ayah Rion masih sangat menyeramkan dan bertanya ini itu sampai pagi tadi. Kenapa bertanya padaku bagaimana Rion di apartemen. Memang aku tinggal serumah dengan mereka.
Serge mau tetap waras tapi meradang juga, memang Presdir menyuruhnya memasang kamera pengawas, kalau kau penasaran kenapa tidak tanya pada anakmu sendiri. Sabar Ge, sabar. Sedang mengendalikan emosi karena nggak ayah nggak anak sama-sama menyusahkan.
"Apa hubungannya dengan pernikahanku?" Rion menangkap umpan yang ditebar Serge. Walaupun sedikit tertarik, tapi Rion tidak mau terlihat antusias. Dia tidak sudi, dia tidak mau berhubungan dengan Andalusia Mall. Titik.
Serge semakin bersemangat, karena menemukan celah merubah pendirian Rion.
"Ya ayahmu akan yakin kalau kau sudah melupakan gadis...." Belum disebut namanya saja sudah terlihat marah. "Setidaknya ayahmu akan semakin percaya dengan pernikahanmu kan. Bahwa kau menikahi Mei karena memang mencintainya." Ini adalah karangan Serge, hasil terbaik setelah otaknya ia peras diwaktu yang sangat singkat ini.
Rion terdiam sesaat, sedang merenungkan apa yang dikatakan Serge barusan.
Dipikir, dipikir sepertinya apa yang dikatakan Serge ada benarnya gumam laki-laki itu. Sekarang ayahnya memang masih curiga. Walaupun sandiwaranya di depan ayah dan ibunya sudah terlihat sempurna.
Rion jadi berfikir, apa ayahnya memang memberi sinyal menyetujui kerja sama ini untuk melihat reaksinya. Ah, kepalaku jadi pusing. Rion memegang kepalanya. Kalau dia menolak, ayahnya akan membuat kesimpulan sendiri, tentang hatinya yang belum move on. Bisa jadi dia akan mencurigai semuanya.
Sialan, maki Rion pada situasi. Karena mau pernikahannya hanya sandiwara, namun dia sudah terjebak di dalamnya sekarang.
Aku bahkan sudah menghabiskan malam yang menyenangkan bersama Mei semalam. Rion menatap Serge yang sedang serius berfikir. Apa perlu aku pamer padanya kalau aku dan Mei sudah tidur bersama. Senyum samar muncul karena Rion teringat wajah Merilin semalam. Reaksi gadis itu yang ketakutan tapi juga menggemaskan, menari-nari di pelupuk matanya.
"Kenapa kau senyum-senyum?" Menyeramkan gumam Serge. Kau sedang memikirkan hal jahat apa orang aneh. Mau menjadikanku tumbal apalagi di depan ayahmu! Sejuta prasangka muncul di kepala Serge, karena selama ini selalu dia yang terkena susahnya, kalau Rion sudah berulah dengan keputusannya.
"Ge..."
"Hemm, kenapa? Kau mau mencobanya? aku akan mengatur pertemuan mu dengan mereka."
Yang penting pertemuan antar pimpinan terlebih dahulu, kalau terjadi kesepakatan, semua bisa dilanjutkan sesuai dengan prosedur biasanya.
"Mei bisa membawa mobil?" Rion malah tiba-tiba menyebut Merilin, nggak ada angin apa-apa membahas Merilin.
Hah! kenapa malah bertanya tentang Mei. Dasar orang aneh. Eh, artinya dia setuju untuk melakukan kerja sama ini kan. Berhentinya Rion membahas masalah Andalusia Mall artinya karangan Serge tadi berhasil meyakinkannya. Kalau dia menerima ayahnya pasti akan semakin percaya dengan pernikahannya dengan Mei. Sepertinya merubah keputusannya. Sekali lagi Serge bersorak senang. Jiwa-jiwa pembuatnya berhasil lagi kali ini.
Ah, Mei, kau memang Dewi penolongku. Kakakmu ini selamat karena mu lagi.
"Kenapa tiba-tiba penasaran dia bisa membawa mobil atau nggak, ah, apa karena dia tadi pagi naik bus ke kantor dari rumahmu." Jawaban Serge lagi-lagi memantik rasa kesal yang tidak tahu sumbunya apa Dimata Rion.
Hiiii, kenapa kau marah lagi si! Aku kan cuma bertanya.
"Darimana kau tahu dia naik bus?" Masih dengan nada marah.
"Aku bertanya padanya." Menjawab dengan cepat.
"Serge, kau lupa peringatan ku, ah!" Rion mengusap tengkuknya kesal, seperti orang yang mau melakukan pemanasan. Siap-siap mau menghajar orang. "Kau bodoh ya, berapa kali aku harus mengingatkanmu jangan bicara dengan Mei sembarangan! Kau mau semua orang melihat keakraban kalian!"
Brak! Tangan Rion sudah menggebrak meja.
Dasar orang gila! Aku tidak akan merebut milikmu sialan!
"Aku bertanya lewat pesan! pesan!" Menunjukkan hp ke depan wajah Rion. "Aku juga tahu untuk menjaga sikap!"
Lagi pula, kalau di kantor memang ada yang tahu kalau Mei itu istrimu. Eh, Serge seperti ditampar sesuatu. Dia terhenyak menatap Rion. Kau memang sudah menganggapnya milikmu ya. Kau marah karena aku seperti menyentuh milikmu. Walaupun sudah menduga dari beberapa waktu yang lalu, tapi sekarang semakin terlihat jelas, kalau apa yang Serge pikirkan selama ini benar.
Kalau Rion menganggap mu miliknya, artinya dia bisa saja menyentuhmu. Haha, kau ini berfikir apa Ge, si gila ini saja masih mengamuk aku menyebut Amerla. Tidak mungkin dia akan menyentuh perempuan lain. Hatinya saja masih belum move on.
Serge sedang memperhatikan dengan seksama wajah Rion. Saat laki-laki itu menatapnya masih dengan amarah.
"Cih, aku juga tidak mau kau mengirimi dia pesan."
"Ia, ia, aku akan ingat itu. Tadi pagi aku hanya khawatir bagaimana dia berangkat bekerja, makanya aku tanya. Kalau dia berangkat denganmu kan pasti terlambat, makanya aku tanya padanya, dia bilang dia naik bus."
"Bus? berarti ramai orang? kenapa dia tidak baik taksi?"
Mana kutahu! Eh, apa Mei melakukannya untuk menghemat uang. Ya Tuhan Mei, sekarang kau kan istrinya Rion, kau tidak perlu melakukan penghematan tidak masuk akal itu lagi.
Kartu pribadi Merilin memang baru akan selesai hari ini.
"Apa kau tidak memberinya uang tunai?"
"Aku memberinya kartuku."
Hah! orang yang seumur hidupnya bahkan tidak pernah membayar dengan uang tunai, apa yang kau harapkan dari manusia di depanmu Ge. Tengkuk Serge berdenyut, sekarang dia yang pusing sendiri. Merilin pasti sangat terkejut dengan cara hidup Rion nanti. Banyak sekali yang harus di ajarkan Serge pada gadis itu.
"Berikan dia uang tunai juga, selama ini Mei kan tidak terbiasa dengan semua itu. Sepertinya dia menggunakan bus karena selama ini terbiasa hidup menghemat. Dia selalu baik bus sepulang bekerja."
"Miskin sekali." Ejekan sinis keluar. Rion memang tidak terpikirkan tentang uang tunai, karena selama ini jarang melihatnya. Biasanya urusan begitu, selalu diselesaikan Serge.
"Hei, sekarang dia istrimu."
Rion mendengus tidak acuh, sambil menarik laporan perusahaan. Dia mau mulai bekerja.
"Jadi dia bisa membawa mobil?" Kalau naik bus berarti dia bertemu banyak orang kan? bahkan bisa jadi bersentuhan dengan orang lain. Memikirkannya saja sudah membuat kesal.
Aku tidak mau bonekaku di sentuh orang lain. Dan berapa banyak debu yang menempel ditubuhnya nanti. Membayangkan mata yang akan melihat Merilin saja sudah membuat hati Rion memanas. Dia tidak mau miliknya disentuh orang.
"Bisa, dia biasanya membawa mobil kantor kalau ada pekerjaan luar."
Jangan bilang, kau mau memberinya mobil! Baru saja bicara begitu sudah keluar perintah tidak masuk akal.
"Belikan dia mobil."
Nah benar kan.
"Tapi, apa Mei mau. Kau tahu kan, selama ini dia hidup dengan sederhana, pasti akan aneh kalau dia ke kantor membawa mobil. Kau sudah bertanya padanya, dia mau atau nggak?"
"Memang dia punya hak menolak. Ge, kau lupa siapa dia? Merilin itu bonekaku, istri bonekaku yang aku nikahi untuk melakukan apa pun yang aku inginkan."
Dasar orang gila sialan! kau selalu memakai senjata istri boneka. Ya, ya, jangankan Mei, aku saja tidak berani membantah mu.
"Keluar sana! urus semuanya. Belikan dia mobil yang sesuai dengan seleraku." Serge mengeryit, kenapa mobil Mei harus sesuai dengan seleramu. "Aku akan bicara pada ayah tentang Andalusia Mall."
Serge langsung bangun. Satu masalah sudah terselesaikan batinnya.
"Baiklah, urusan mobil Mei akan kubereskan, kartu dan uang tunai juga akan kusiapkan. Jadi selesaikan semua pekerjaan dengan baik ya CEO kami yang terbaik." Serge menundukkan kepala. "Saya undur diri sekarang."
Rion hanya mengibaskan tangan tanpa menjawab sepatah katapun. Serge keluar ruangan CEO dengan hati berdendang. Karena masalah Andalusia Mall sudah beres, paling tidak dia bisa sedikit lega dari panggilan Presdir.
Apa aku telepon Mei ya tanya dia mau mobil apa? Warnanya apa. Tidak, tidak, memang aku mau cari mati.
Serge berhenti sebentar di depan pintu lift. Menatap ruangan Rion. Bagaimana Rion memperlakukan Mei kalau sedang berdua ya, tiba-tiba Serge merasa penasaran.
Bersambung