Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
90. Curhat


Akhir pekan yang penuh drama untuk sebagian orang, berbanding terbalik dengan akhir pekan seseorang yang lain.


Sekretaris Serge sedang berbahagia.


Selama ini kehidupan akhir pekannya yang seperti neraka perbudakan dunia kerja, yang tidak bisa ditolak Serge. Berubah dalam sekejap mata karena bosnya yang sudah menikah, seperti terlahir menjadi orang lain. Sekarang dia bisa menikmati akhir pekan yang damai karena mendapatkan libur bekerja.


Merilin seperti hadir menjadi penyelamat bagi Serge.


Hari ini, dia mengantar ibunya berbelanja ke supermarket. Dipamerkan ibu pada beberapa temannya saat makan siang. Pergi ke pusat kebugaran dan berolahraga sendirian. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan batin Serge. Di sore hari pergi dengan Harven menikmati makan malam di warung tenda yang ada di pinggir jalan. Sambil membicarakan banyak hal, kebanyakan isinya tentang Merilin. Tanpa sadar Serge dan Harven jadi membicarakan Mei, dengan segala topiknya.


Yang satu bangga dengan kakak perempuannya, yang satu memuji adik perempuannya. Mereka benar-benar seperti kakak beradik yang sangat rukun.


Sungguh kedamaian yang tidak akan mungkin dia dapatkan, kalau Rion tidak menikah. Serge jadi memikirkan Merilin lagi sekarang. Saat malam sudah menyapa dunia.


Hari ini, bagaimana akhir pekan Mei dan Rion ya. Serge menyunggingkan senyum dibibirnya, menerka hubungan kedua orang itu seperti apa. Tapi, tiba-tiba seraut kesedihan muncul ketika pikiran negatif di kepalanya malah muncul. Rion yang hanya menginginkan istri boneka, apakah dia sedang mempermainkan Mei dengan statusnya itu.


Semakin dipikirkan, semakin membuat pusing saja batinnya, karena dia tidak bisa menebak apa yang diinginkan Rion sebenarnya apa.


Laki-laki itu sedang berbaring di tempat tidur, bergulingan lalu tidur tengkurap memeluk bantal.


Tapi Mei terlihat bahagia, berarti hubungan mereka artinya baik-baik saja kan. Manusia tidak peka itu kembali berspekulasi. Saat pikirannya berlabuh pada Mei, otaknya jadi merambat pikirannya kepada Dean, teman Merilin yang kemarin dia temui. Selepas datang dari acara Jesi, mereka sudah berkirim pesan beberapa kali.


Cantik, dia cantik juga. Gumam Serge yang langsung terlonjak kaget dari lamunan, saat mendengar suara hpnya yang nyaring berbunyi.


"Siapa lagi malam-malam begini."


Panggilan dari nomor tidak tersimpan, setelah beberapa kali dering akhirnya dia angkat. Suara perempuan menyahuti kata hallo dari Serge.


"Siapa ya?"


"Kak... hiks."


Eh, Serge melihat nomor lagi, tetap tidak tahu siapa penelepon. Kenapa malam-malam ada telepon tidak dikenal dari seorang wanita yang kalimat pertamanya langsung tangisan. Hanya nama Mei yang langsung terlintas.


"Mei, ini kamu? Merilin? Kenapa? Kau baik-baik saja?"


Di mana kunci mobilku!


Tubuh Serge berhenti bergerak, saat mendengar suara lagi.


"Kenapa jadi Merilin, Kak Serge, ini aku Amerla!" Saat suara tegas dan nyaring itu terdengar, Serge baru mengenali suara wanita yang dibenci sekaligus pernah dicintai Rion itu. Suara yang terdengar samar menyiratkan kebencian saat menyebut nama Merilin.


Serge mendelik melihat layar hp. Kenapa lagi gadis ini gumamnya.


"Kenapa kau menelepon? tahu dari mana nomorku?"


"Nomor Kak Serge kan nggak ganti."


Hah! Benar juga, itu nomorku dari zaman dahulu. Cih, kenapa kau masih menyimpan nomorku. Membuat Serge kesal sendiri.


"Terserahlah, sekarang kenapa kau menelepon, aku mengantuk, bicara langsung saja."


Serge memang laki-laki baik masih memberi kesempatan Amerla untuk bicara, kalau Rion mungkin sudah membanting hp yang dia pegang sekarang, berhamburan ke lantai.


"Apa Kak Serge tahu, Kak Rion sudah menikah dengan Merilin?"Amerla terdiam sebentar. "Kau tahu Kak, ternyata Kak Rion anak Presdir Andez Corporation?" Amerla yang tidak tahu, kalau Serge adalah sekretaris CEO Rionald. "Kak Rion menikah dengan wanita jelek dan tidak menarik sama sekali."


Sekarang rasanya yang meletup amarahnya adalah Serge, saat nama Merilin disebut dengan tidak tahu malunya oleh Amerla. Serge tidak tahu bagaimana Amerla bisa tahu nama Merilin. Tapi yang pasti, laki-laki itu tidak suka. Karena keberadaan Amerla, akan mengancam posisi Mei. Apalagi mengatai Merilin jelek segala.


"Ya, semua yang barusan kau bilang benar. Aku masih sangat dekat dengan Rion. Aku juga datang ke pernikahan mereka. Kau kan sudah bertemu dengannya waktu makan malam dengan suamimu, itulah status Rion yang sebenarnya. Kau cuma mau memastikan itu? kalau sudah aku tutup ya?" Masih bertanya sebelum menutup panggilan. Tangan Serge berhenti ketika Amerla menyahut dengan suara keras.


"Kenapa Kak Rion jahat sekali!"


Apa! Gila juga ada batasnya donk. Serge menjadi gusar sendiri, ketika makian tidak berdasar keluar dari mulut Amerla.


"Kenapa jadi Rion yang jahat. Kau kan yang sudah mempermalukannya di depan semua orang. Kau juga mengkhianatinya dan mencampakkannya, lalu kau menikah dengan CEO Andalusia Mall."


Bahkan Serge sekalipun, tidak bisa menahan rasa kesal dan amarahnya.


"Kenapa Kak Rion tidak bilang, kalau dia anak penerus Andez Corporation!" Amerla berteriak menyerukan sesak dan protes. "Kalau saja dia bilang, aku tidak akan terjebak dengan pernikahanku yang menyedihkan ini. Aku pasti akan memilih Kak Rion."


Serge sampai kehilangan kata-kata. Dia mau memaki sebenarnya sekarang, tapi berhubung Amerla perempuan dia masih berusaha menahan rasa kesalnya.


Jadi orang tidak tahu diri juga harus ada batasannya donk, sekarang kau menyalahkan Rion. Tidak ingat dia membawa sekoper uang di hari pernikahanmu. Uang yang bahkan masih sangat disayangkan Serge. Dia mau menunjukkan kalau dia juga punya uang kan, tapi kau masih menepis tangannya.


"Jadi, kalau kau tahu Rion anak konglomerat, kau akan memilih Rion daripada CEO Andalusia Mall?" Sinis suara Serge mengalir memalui sambungan telepon.


Mei selalu bilang, aku orang baik dan perhatian. Tapi sepertinya aku bukan orang sebaik itu Mei. Buktinya aku tidak perduli sekarang pada tangisan Amerla.


"Pernikahanku tidak berjalan dengan baik Kak."


Hah, kenapa kau curhat padaku, memang aku perduli.


"Lalu, kau mau kembali pada Rion?"


"Hiks, hiks."


Kenapa malah menangis? Kau pikir aku akan membelamu.


"Dia jahat sekali, Kak Rion bilang aku tidak penting, dia malah memeluk Merilin dengan mesranya di depanku. Hiks. Kak Serge, Kak Rion melakukan itu hanya untuk balas dendam kan padaku. Dia tidak mencintai Merilin kan? Pernikahannya saja tidak diumumkan kepada publik." Meledak tangis bercampur makian yang ditujukan Amerla pada Merilin. "Tidak mungkin dengan Merilin."


"Tutup mulutmu Erla!"


"Kak Serge, kenapa Kak Serge juga begini padaku. Hiks, hiks."


Hah! Lantas kau mau aku bagaimana sialan! ikut menangis dan bersimpati padamu! Kau tahu bagaimana menderitanya hidupku karena mu! Amerla rasanya ikut menyalahkan Serge dengan semua yang terjadi padanya. Membuat Serge benar-benar kesal.


"Wanita jelek itu tidak mungkin dicintai Kak Rion!"


"Tutup mulutmu Amerla! Beraninya kau menghina adikku! Kau tahu, Mei itu seribu kali lebih baik darimu. Dan Rion menikah dengannya karena mencintainya! Soal pernikahan mereka yang belum diumumkan pada publik, itu atas perintah Presdir!" Sambil memukul bantal Serge mengarang dengan lancar. "Jangan berfikir untuk menggangu adikku Merilin!"


"Merilin adik Kak Serge?" Suara Amerla yang dipenuhi keterkejutan.


"Ia, jadi tutup mulutmu."


Amerla memakai senjata tangisan untuk menggertak Serge, saat mendengar Isak Serge akhirnya berhenti berteriak memarahi Amerla.


"Hah! Rion sudah move on, jadi jangan bermimpi terlalu tinggi!"


"Tidak mungkin! Kak Rion mencintaiku!


"Dulu! Itu dulu Amerla! Sebelum kau mencampakkan dan mempermalukan Rion seperti itu."


"Tidak mungkin! Kak Rion masih mencintaiku!"


Wahhh, Serge rasanya ingin meremas wajah Amerla seperti handuk basah saking gemasnya dengan sikap tidak tahu malu Amerla.


"Erla, kau tahu bagaimana menderitanya hidupku selama ini, kalau aku tidak sengaja menyebut namamu di samping Rion. Dia pasti akan menghajarku, karena dia masih marah dan mengharapkanmu." Ya, itulah yang terjadi. Beberapa kali Serge harus menanggung kemarahan Rion karena mulutnya yang keceplosan. Rion yang marah dengan nama Amerla, karena laki-laki itu belum move on. "Tapi, setelah dia menikah dengan Merilin, kau tahu, walaupun aku menyebut namamu di depannya sambil bernyanyi sekalipun, dia hanya mengangkat bahu tidak bergeming."


Aku bicara dengan kejam sekali sepertinya, tapi bodo amatlah, kalau begini dia tidak akan menggangu Mei.


"Dia tidak perduli lagi padamu, kenangan tentangmu sudah tidak penting lagi."


"Kak... hiks."


Lagi-lagi memakai suara tangisannya untuk menghentikan kemarahan Serge.


"Aku belum selesai! Rion sudah move on sekarang, jadi jangan muncul lagi di depannya kalau kau tidak mau dipermalukan." Tangisan Amerla sudah tidak mempan sepertinya.


"Merilin sialan!"


"Sudah kubilang tutup mulutmu Amerla! Kalau kau menggangu Merilin, bukan hanya aku yang akan marah Erla, kau belum pernah melihat kemarahan Rion kan. Ah tidak, bahkan Presdir sangat menyayangi Merilin. Aku saja merinding kalau melihat Presdir marah." Memakai alasan Presdir untuk mempermudah jalan hidup Serge ke depannya.


Tidak ada sahutan di sebrang, saat Serge melihat layar hp, masih tersambung. Tapi Amerla masih terdiam.


Sepertinya dia sedikit sadar. Baiklah, aku sudah malas mendengarnya curhat juga. Serge mau mengakhiri panggilan, tapi dia akan memberi ultimatum untuk Amerla.


"Jangan ganggu adikku Merilin! dan jangan pernah hubungi aku lagi."


Sambungan diputus Serge tanpa menunggu reaksi Amerla. Beberapa detik dia melihat layar hpnya.


Ada ya, wanita tidak tahu malu sepertimu. Sudah salah sendiri, berusaha mencari pembelaan. Lebih mengerikannya kau juga menyalahkan ku dan Rion. Kalau Rion muncul di depanmu hanya sebagai pemilik perusahaan game kecil, apa kau akan berisik begini. Sekarang kau menyesal sudah membuang Rion demi CEO Andalusia Mall. Apalagi pernikahan mu yang tidak bahagia. Aaaaaa! Kenapa muncul masalah baru si.


Serge hanya tahu hari ini jadwal Rion adalah menemani Presdir bermain golf. Tidak ada bayangan terlintas bagaimana pertemuan Amerla dan Merilin terjadi.


Kalau kau berani menggangu Mei, aku tidak akan tinggal diam.


Akhir pekan Serge yang tenang, ditutup dengan hal yang menyebalkan. Dia bergulingan sambil memblokir nomor yang baru meneleponnya.


Bersambung