
Sebentar lagi menuju waktunya pulang kerja.
Di depan ruangan direktur, dua orang itu tanpa sadar berpegangan tangan. Sangat jarang sekali mereka dipanggil ke ruangan ini. Biasanya, Merilin selaku pimred yang mewakili semuanya untuk masuk ke ruangan ini. Mei saja tidak terlalu suka masuk ke sini, apalagi mereka.
Segala prasangka buruk bermunculan. Karena terkadang, melihat Mei yang langsung menjatuhkan kepala lesu setiap kali keluar dari ruangan direktur. Membuat tidak tersisa sedikit pun pikiran baik di kepala mereka sekarang.
"Kak Mona, kenapa kita dipanggil?" Baim semakin erat memegang tangan Mona.
Ternyata dua orang ini lagi ya. Lagi-lagi berdua, dan lagi-lagi tanpa sadar bergandengan tangan karena sama-sama dilanda kecemasan.
"Tidak tahu, aku pernah masuk sekali ke sini dan dimarahi direktur waktu itu." Mona menyesal menjawab begitu, karena tangan yang dia genggam jadi semakin bergetar. "Ah, itu karena aku melakukan kesalahan."
"Aku juga pernah sekali Kak, saat aku salah membuat update sosial media, itu waktu aku baru masuk dulu. Kak Mei yang menemaniku, dia membelaku, akhirnya Kak Mei yang dimarahi karena katanya tidak becus mengajariku."
Hiks, mungkin dari saat itulah, Mei jadi terlihat semakin mempesona di mata Baim. Bocah yang baru bekerja dan tidak tahu apa-apa, bertemu senior yang mengulurkan tangan dan membantunya. Mei jadi terlihat seperti malaikat tak bersayap di mata Baim.
"Perasaan aku tidak membuat kesalahan apa pun Kak, aku bekerja sesuai instruksi Kak Kendra dan Kak Mei." Baim bicara lagi sambil mempererat genggaman tangannya.
Ah, Mona gila! Kenapa kau malah ingin memeluk dan menenangkan bocah ini si!
"Ehm, jangan khawatir, sekarang, aku yang akan membelamu. Ayo masuk, diam saja di depan direktur ya. Cukup bilang maaf kalau dia memarahi kita. Kau paham?" Mona menggoyangkan tangan mereka yang tergenggam. "Dan jangan menangis! Kau dengar itu?"
Jangan menangis! Nanti aku reflek memelukmu!
"Ih, apa sih Kak, aku nggak pernah menangis kalau urusan pekerjaan. Aku itu strong kalau urusan pekerjaan."
Apa iya?
Sorot mata tidak percaya Mona malah membuat Baim membuat ekspresi mau menangis sekarang.
"Baiklah, baiklah, aku percaya, kau strong dan kuat. Ayo kita masuk. Ingat, diam saja, kalau dimarahi, bilang maaf. Sekarang, ketuk pintunya." Mona lagi-lagi menggoyangkan tangan mereka yang masih saling menggenggam.
Saat tangan Baim satunya sudah terangkat mau mengetuk pintu, sudah hampir menyentuh pintu malah, sebuah suara berat terdengar di belakang mereka, membuat keduanya loncat sambil melepaskan tangan. Dibumbui teriakan, baik Mona maupun Baim.
"Sudah selesai dramanya? Minggir! Sudah seperti mau dihukum mati saja kalian ini." Direktur divisi menatap Mona dan Baim bergantian, wajah kedua orang itu antara pucat bercampur malu. Mona sampai menempel tembok, karena tidak mau bertatap muka. "Minggir!"
Kenapa Anda muncul dari sana!
"Kalau sudah selesai menulis surat wasiat, masuk!"
Sekarang bukan hanya Baim, Mona juga mau menangis. Sebenarnya direktur sedang meledek, tapi karena dia bukan orang yang suka bercanda, kali ini candaan direktur pun dianggap serius oleh Baim dan Mona.
Direktur membuka pintu lebar, sengaja membiarkannya terbuka. Dia sudah duduk di kursi kerjanya saat Mona dan Baim dengan wajah tertunduk masuk ke dalam.
"Duduk!"
Sebenarnya ingin tetap berdiri, supaya cepat selesai. Tapi karena lirikan direktur, membuat Mona menarik tangan Baim dan duduk.
"Kalian sudah menerima gaji bulan ini?" Direktur bertanya.
Hah? Kenapa bertanya gaji? Bukan mau dimarahi? Padahal Mona sudah menyiapkan hati.
"Sudah Direktur, saya sudah." Menoel tangan Baim, laki-laki itu mengangguk. Kalau dia juga sudah. "Saya dan Baim berterimaksih atas gaji yang sudah kami terima."
Kenapa aku berterimakasih sih, itu kan memang hak ku. Mona mencubit kakinya karena tidak bisa menarik kata-katanya yang keluar begitu saja barusan. Deg, deg. Waktu berlalu dengan hanya memperhatikan gerakan tangan direktur. Dia mengeluarkan dua amplop dari dalam laci.
Apa itu! Surat peringatan? Memang kami salah apa!
"Kami minta maaf kalau kami salah Direktur, tapi kami mohon, berikan penjelasan kesalahan apa yang sudah kami lakukan. Saya dan Baim, kenapa kami sampai mendapat surat peringatan." Sudah keceplosan, yang Mona pikirkan dari tadi keluar juga dari mulutnya.
"Memang, siapa yang bilang ini surat peringatan." Laki-laki di depan Mona bicara dengan enteng, seperti menikmati ketegangan yang diciptakan Mona sendiri.
Kalau begitu itu surat pemecatan! Tidak! Kenapa kami dipecat.
Tangan Mona bergerak meraih tangan Baim di bawah meja. Mencoba memberi ketenangan, tapi yang ada keduanya sama-sama gemetar. Melihat kedua orang di depannya pias dan ketakutan, akhirnya direktur tertawa mencairkan suasana.
"Sudah, sudah! Kalian lucu sekali. Bukalah, ini punya mu." Meletakan milik Mona. "Dan ini milik Baim."
Apa sih! kenapa Anda senyum-senyum begitu?
Baim dan Mona saling pandang sebelum meraih amplop, Seperti bertelepati mereka meraih amplop bersamaan. Bola mata keduanya membesar. Amplop yang mereka pegang, berisi cek, dengan nominal yang sangat besar. Karena mulut mereka belepotan menghitung jumlah angka nol.
"Ini apa Direktur? Apa kami dipecat dan ini uang pesangon kami?" Cuma itu yang terpikir di kepala Mona. Sambil tangannya yang bergetar karena menggengam uang sebanyak itu. "Tolong jelaskan."
"Itu hadiah dari CEO." Jawaban direktur semakin membuat Baim dan Mona tersentak kaget.
"Apa! Kenapa? CEO Rionald memberi kami uang sebanyak ini?" Baim menjatuhkan amplop di atas meja. Apa dia ketahuan menyukai Kak Mei, dan suami Kak Mei sedang menunjukkan kekayaan padanya. Walaupun Anda tidak pamer begini, saya juga tahu, tidak bisa bersaing dengan Anda. Hiks.
Ehm, Baik sepertinya korban nonton drama romansa.
Direktur menghela nafas panjang, mana dia tahu alasan sebenarnya CEO memberikan bonus kepada dua orang ini, secara pastinya dia juga tidak tahu. Mana berani juga dia bertanya.
"Sekretaris Serge bilang, CEO berterimakasih pada kalian, karena kejadian di kantin waktu itu. Kalian sudah membela beliau kan. Waktu beliau di fitnah."
"Beliau? Mei maksudnya? yang Anda maksud Merilin?" Mona memotong.
"Kenapa kau menyebut nama beliau sembarangan."
Anda kan atasan Mei Direktur yang terhormat! Kenapa jadi begini si, pantas sekarang Anda tidak pernah memanggil Mei lagi. Biasanya kalau ada salah sedikit, Mei pasti langsung dipanggil dan dimarahi. Panggil dia pimred Merilin! Mona merasa geli sendiri dengan perubahan sikap direktur.
"Maaf, karena kami sudah dekat, kami sepakat memanggil nama tanpa embel-embel jabatan. Maafkan saya direktur karena sudah lancang." Mona memilih mengalah.
Baim menggoyangkan kakinya, lalu bicara.
"Kami tulus membantu Kak Mei, ia kan Kak Mona, jadi CEO tidak perlu memberi kami hadiah sebanyak ini. Kami kan memang berteman dengan Kak Mei sebelumnya." Baim mendorong amplop menjauh, meminta Mona juga melakukan hal yang sama. Karena dia akan melakukan hal yang sama walaupun Kak Mei bukan istri CEO Rionald sekalipun. "Jadi, ini sangat berlebihan. Kami tidak berani menerimanya direktur. Mohon Anda sampaikan kepada Tuan Rion. Tanpa mengurangi rasa hormat kami tentunya."
Mona sedang menatap Baim dengan sorot mata terpesona, karena Baim baru saja bicara dengan sangat keren. Ah, aku pikir dia cuma bisa menangis kalau urusan Mei. Ternyata dia bisa bicara dengan keren begitu.
Tapi, mode garang direktur keluar. Dia memukul meja, membuat dua orang langsung menciut, yang satu jadi tidak terlihat keren, yang satunya tertunduk.
"Kau pikir, kalau CEO tidak melihat ketulusan kalian saat berteman dengan pimred Merilin, kalian bisa mendapat hadiah ini. Hah," Direktur memberi sorot mata menyeramkan, mengingatkan Mona dan Baim tentang bagaimana nasib karyawan lain yang sudah memfitnah Mei. "Kalian paham kan, jadi terima saja hadiah dari CEO dan berterimaksih dengan tulus, aku akan menyampaikan surat terimakasih kalian pada sekretaris Serge."
Padahal alasan direktur berapi-api bicara begitu, karena dia tidak mau repot kalau kedua orang di depannya menolak hadiah CEO. Memang alasan apa yang mau dia katakan pada CEO nanti.
Baim dan Mona meraih amplop bersamaan. Dan mengucapkan terimakasih bersamaan juga. Tidak punya pilihan.
Ketika merasa sudah selesai, Mona mau bangun, tapi, tiba-tiba dia duduk lagi. Karena ada yang mengganjal di hatinya.
"Direktur, maaf, apa hanya kami saja yang mendapat hadiah? Bagaimana Kak Kendra?"
"Mana ku tahu, tanya sendiri pada CEO sana kenapa cuma kalian yang mendapat hadiah." Kesal, karena dia sendiri tidak tahu kenapa sampai CEO memberi hadiah pada dua orang ini.
"Hehe, terimakasih. Saya tidak penasaran kok." Mona manyun, mana dia berani, dia bertanya juga karena merasa tidak enak saja kenapa Kak Kendra tidak dipanggil. "Kalau begitu, kami keluar kalau sudah selesai."
Ternyata poin utamanya baru saja dimulai. Direktur bicara dengan tegas. Jangan terlalu dekat dengan Mei, apalagi kau. Direktur menuding Baim, kau kan laki-laki, jadi CEO tidak mau sampai ada gosip aneh tentang istrinya dan rekan kerjanya yang laki-laki. Jangan juga mengajak makan malam bersama. Apalagi kalau cuma berdua.
Baim yang mau protes langsung menundukkan kepala karena tangan Mona mencubit pinggangnya. Dengan mata melotot supaya Baim tidak menjawab.
"Baik Direktur, kami paham. Baim juga paham, kemarin saja gosip tentang Mei menyebar begitu. CEO pasti mau berhati-hati sekarang. Kami juga akan berhati-hati. Apalagi Baim."
Aaaaa! Ternyata CEO mengenali kami. Perasaan geli apa ini batin Mona. Sisa-sisa jiwa penggemar yang masih ada. Merasa bangga dikenali idolanya.
Akhirnya berakhir sudah petuah panjang direktur, menyuruh mereka menjaga sikap. Dan mengingatkan lagi bagaimana nasib orang-orang yang sudah menyebarkan gosip. Mereka keluar dari ruangan direktur.
"Kak Mona, bagaimana ini? kita menerima hadiah dari suami Kak Mei."
"Apa kita bagi tiga saja dengan Kak Kendra?" Mona sedang mengurangi rasa bersalah mereka.
"Kalau Kak Mei tahu kita menerima uang dari CEO bagaimana? Padahal kita kan tulus pada Kak Mei." Baim bicara lagi.
"Benar, kita bagi tiga saja yuk. Kak Kendra juga."
"Bagaimana, kalau kita bagi Kak Mei juga." Ide konyol Baim keluar.
Direktur membuka pintu.
"Kalian belum selesai juga main dramanya? Bubar! Kembali bekerja! Kalian pacaran ya, dari tadi gandengan tangan terus?"
Saat melihat pergelangan tangan, Mona dan Baim wajahnya memerah. Ternyata benar tangan mereka terpaut satu sama lain. Segera melepaskan pegangan tangan, Mona mendorong kepala Baim untuk tertunduk Lalu kabur dari depan ruangan direktur. Lagi-lagi menarik tangan Baim untuk berjalan cepat.
Direktur memandang kedua orang yang menghilang dari pandangan itu. Ah, sejujurnya dia sangat terkejut. Bagaimana bisa pimred Merilin bisa menikah dengan CEO. Karyawan sederhana, tapi cukup handal dalam hal bekerja. Dia gadis pekerja keras, walaupun dimarahi sekalipun, dia hanya akan menunduk dan minta maaf.
Dan yang membuat direktur lebih terkejut, tentu saja, kenapa sampai CEO perduli dengan orang lain. Hah! Padahal terkadang aku menyapanya saja dia cuma menatap dengan sorot mata dingin begitu.
CEO bahkan memberi hadiah pada Mona dan Baim. Hemm, tapi kenapa Kendra tidak diberi hadiah ya? Atau aku? Aku kan pimpinan Merilin.
Sang direktur sedang berkubang dengan kebingungan, dengan perubahan sikap CEO Rionald.
...🍓🍓🍓...
Kafe Musim Semi
Katanya, kakak pemilik kafe ini sangat menyukai musim semi yang dia lihat di buku, Vidio atau dari cerita orang-orang. Dia sendiri belum pernah datang ke negara empat musim untuk melihat bunga bermekaran di musim semi. Namun, yang dia yakini, musim semi itu selalu dipenuhi semangat dan gairah. Hingga ia ingin selalu, menjadikan tempatnya ini seperti musim semi bagi semua orang pengunjung yang datang tanpa terkecuali.
Kakak pemilik kafe meletakan minuman dan cake stoberi pesanan mereka berdua di atas meja.
"Kalian hanya berdua?"
"Hehe, ia Kak. Jesi sedang dikejar dead line. Terimakasih, kami akan menikmatinya dengan bahagia." Mei melambungkan senyum cerianya sambil meraih gelas minuman. "Cakenya selalu enak."
Senyum juga merekah dari kakak pemilik kafe, setelah itu dia berlalu meninggalkan meja pelanggannya. Pelanggan yang sering datang bertiga ke tempatnya, hingga memori di kepalanya tanpa disadari menyimpan wajah-wajah ketiga pelanggannya itu.
Yang sedang duduk di kursi di tempat yang selalu mereka pilih adalah Merilin dan Deandra. Sore ini sepulang bekerja mereka berjanji bertemu. Tentunya setelah mendapat izin Kak Rion, Mei melajukan mobil, menuju kafe kesayangan mereka.
"Kopi disini tidak pernah berubah ya? Rasa cake stroberinya juga." Mei bicara.
"Hemm, padahal kita sudah banyak berubah ya Mei." Dean menanggapi.
Diam lagi, padahal banyak yang ingin mereka bicarakan satu sama lain. Tapi malah lidah mereka rasanya kelu. Sedang mempersiapkan kata-kata untuk memulai.
"Kau duluan." Mei menyeruput minuman dinginnya. "Baru aku yang cerita masalahku."
Dean tersenyum. Mendekatkan kursi ke meja supaya bisa meraih tangan Mei. Lalu kedua tangannya menggengam tangan Mei.
"Maaf! Maafkan aku Mei!" Dean bahkan bicara dengan suara meninggi. Lalu tangannya semakin erat menggengam tangan Mei, tidak mau melepaskan tangan itu. Karena dia menunduk, dia tidak melihat kalau gadis di depannya sebenarnya tersenyum. "Aku teman yang jahat ya Mei? Maafkan aku!"
Eh, saat mendongak, Dean bisa melihat Mei tersenyum. Tunggu! Apa kau sudah tahu yang mau aku katakan? Jesi! Satu-satunya tersangka muncul, menyeringai di kepala Dean.
"Akhirnya, kau mengatakannya, aku menunggumu tahu." Mei menggoyangkan tangannya yang di genggam Dean.
"Dasar Jesi!"
"Hehe, aku yang memaksanya. Jangan marah padanya. Aku juga baru tahu kok beberapa hari ini."
Mei yang sedang datang bulan, membuat Rion melepaskannya lebih awal di pagi hari, dia bisa berangkat lebih pagi untuk datang ke rumah Jesi. Karena dia penasaran setengah mati setelah dari rumah ibu waktu itu. Ada apa dengan Dean.
"Maaf ya Mei..."
"Kenapa kau minta maaf, kan aku juga sudah bilang kalau aku sudah melupakan cintaku padanya, dia juga bukan milikku De, dia laki-laki bebas yang bisa disukai atau menyukai siapa pun. Termasuk kamu." Mei memegang pipi Dean menggoyangkannya. "Tapi, dia kan tidak peka, apa kau mau menyatakan perasaanmu duluan."
Mei sendiri merasa, Kak Ge dan Dean sangat serasi. Gadis cantik seperti Dean, dengan latar belakang pekerjaan dan orangtua yang baik. Sangat sejajar bersanding dengan Kak Ge. Ah, Merilin, apa kau sedang merasa rendah diri lagi sekarang.
"Aku akan menyatakan perasaanku duluan Mei padanya. Kamu nggak papa kan?"
Mei memukul bahu Dean sambil tertawa. Karena Dean masih meragukan hatinya yang sudah berpaling.
"Terimakasih Mei, dan maaf aku baru mengatakannya karena aku takut menyakiti perasaanmu." Dean baru berani mengatakan, setelah Mei bicara kalau dia sudah move on dan mencintai Tuan Rion.
Mereka berdua ketawa ketiwi membicarakan tentang Kak Serge. Mei malu sendiri dengan caranya menyukai Kak Serge dulu. Setelahnya Dean menatap Mei, menunggu Mei menceritakan masalahnya.
Awalnya Mei masih ragu untuk membicarakan ini, tapi hanya pada Dean dia merasa bisa berbagi kegalauan hatinya. Senyum dibibir Dean langsung memudar saat Mei memulai ceritanya. Dia mendorong kursinya mendekat. Saat bahu Mei terguncang. Saat kata pernikahan kontrak terucap.
"Aku mencintai Kak Rion, padahal dari awal dia cuma menganggapku bonekanya De." Tangis Mei pecah dalam pelukan Dean. Sementara gadis itu mengeryit. Karena matanya yang jeli dan hatinya yang peka, jelas-jelas melihat cinta di mata Tuan Rion untuk sahabatnya.
Sore masih berlanjut, semoga Dean bisa membuka pikiran Mei.
Bersambung