
Di luar segala keromantisan pasangan lain, ada dua orang yang sedang berusaha memahami perasaan mereka satu sama lain. Mencari tahu, sebenarnya apa yang mereka inginkan.
Dari pihak laki-laki.
Ibram yang ingin berubah menjadi suami yang lebih baik, dia bahkan sudah memiliki rencana untuk meminta maaf pada Erla. Dia mau mengajak Erla merajut lagi, rumah tangga mereka yang sudah hancur. Kalau pernikahan seperti serpihan puzzle, dia akan memegang tangan Erla dan menyusunnya bersama. Satu persatu, perlahan, dia akan belajar bersabar. Dan malam ini dia akan memulai lembaran baru itu.
Tapi...
Deg.. deg... rasanya hawa panas sudah berkumpul di belakang kepala Ibram. Sejak awal masuk tadi ke dalam kamar, sudah ada yang aneh dari Erla. Gadis itu jadi lebih pendiam, menuruti kata-katanya. Tidak ada bantahan atau pun perlawanan, sedikit pun. Ibram yang di kepalanya dipenuhi tanda tanya, menangkap hal lain lagi di wajah Erla. Membuat emosinya kembali terpantik.
Make-up, dia memakai make-up. Padahal selama beberapa hari ini, gadis itu tidak pernah memakai riasan saat di depannya. Karena dia hanya berkutat dengan menggambar desain atau pun menjahit baju. Sebenarnya Ibram juga heran dengan apa yang dilakukan Erla, tapi karena istrinya terlihat senang dengan kegiatan barunya, maka dia membiarkan. Lebih senang juga karena Erla hanya menghabiskan waktu di rumah.
Dan riasan tebal yang ada di wajah Erla dia maknai pengkhianatan dan ketidakpatuhan, Erla keluar rumah tanpa izin darinya. Dia bukan marah karena riasan itu, tapi dia berfikir Erla memakai riasan karena dia keluar dari rumah.
"Kau keluar dari rumah tanpa izin dariku?"
"Tidak Kak..." Erla menjawab cepat, dia sudah menduga, tidak mungkin Kak Ibram tidak melihatnya.
Ibram berusaha mempertahankan kewarasan.
Tahan, tarik nafas. Kenapa kau berteriak lagi. Ibram sedang berusaha mengendalikan emosinya. Namun, saat tangannya menyentuh dagu Erla, dia bisa merasakan, noda bedak yang berpindah ke jari-jarinya. Dia angkat dan ditunjukan jarinya ke depan hidung Erla.
"Lalu kenapa kau memakai make up setebal ini? Ah, sialan! Aku kesal sekali tapi aku tidak boleh marah!" Walaupun bicara begitu tapi tetap meledak-ledak, membuat Erla bingung, kenapa dengan suaminya. "Ehmm, jawablah dengan benar Erla, aku mohon, aku tidak ingin marah padamu! Kau berdandan dan keluar rumah? pergi ke mana saja kau, dan siapa yang kau temui?" Ibram menjaga intonasi suaranya supaya tetap melunak.
"Aku hanya ingin berdandan, supaya terlihat cantik di depan Kak Ibram." Erla terlihat menyesali kata-katanya. Karena alasan ini terlalu dibuat-buat, ditengah situasi hubungan mereka yang belum membaik.
"Haha.." Setelah tertawa, wajah Ibram langsung berganti sinis. "Kau sedang bercanda?"
Ah, sialan! Kenapa menahan amarah itu menyiksa begini si, aku sudah ingin meledak. Tahan, tahan. Kalau kau marah dan bertengkar lagi, maka kau yang akan menyesalinya. Tips-tips yang Ibram baca di internet tadi kembali berseliweran di kepalanya, menjadi pedoman baginya mengambil langkah selanjutnya. Ibram naik turun menarik nafas.
Ditengah situasi yang aneh menurut Erla, gadis itu menyadari, kalau Ibram yang biasanya mungkin sudah menarik rambutnya atau menampar pipinya. Tapi ini.
"Kak, katanya Kak Ibram mau mandi?" Erla mengalihkan pembicaraan. Dia mundur beberapa langkah menjauhi Ibram. Setelah meletakan baju ganti, dia kembali ke meja kerjanya. Meraih pena. Pura-pura tidak memperdulikan situasi. Walaupun tangannya terlihat bergetar. Masuklah ke kamar mandi Kak, aku mohon. Pintanya dalam hati sambil menundukkan kepala.
Tapi ternyata, kecurigaan Ibram belum selesai.
"Hapus makeup mu!"
"Kak, kenapa si, aku juga dulu biasanya memakai make-up kan."
"Tapi kau tidak pernah memakainya saat ada di tempat tidurku." Ibram membalas cepat. "Kau mau aku menciumi bedak tebal mu itu."
"Kalau begitu, jangan cium aku." Erla dengan bibir bergetar menjawab. Dia sadar, kata-katanya bisa memancing kemarahan. Dan benar saja. Ibram memukul meja kerjanya, merebut pena yang sedang dia pegang.
"Kau mau aku yang menghapus makeup mu?"
Tubuh Erla langsung kaku, dia berdiri. Semua ingatan tentang kekerasan yang Ibram pernah lakukan padanya langsung menstimuli rasa nyeri di tubuhnya. Dia takut diseret ke kamar mandi, dia tidak mau disiram air dingin. Air yang akan menghapus make-up sekaligus menyisakan rasa sakit di hatinya. Akhirnya dia dengan kepala menunduk, berjalan meninggalkan Ibram dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sialan! Dia kenapa si? perkara make up sampai membuatku kesal. Memang apa yang mau kau sembunyikan dari ku!
Ibram menatap pintu kamar mandi, tidak terdengar suara apa pun, hanya gemericik air yang juga tidak terlalu jelas.
Deg...
Tiba-tiba wajah Ibram menegang. Erla dulu sesekali juga memakai make up tebal saat keluar rumah. Yaitu saat, memar diwajahnya membiru karena tamparan dan pukulannya. Untuk menyamarkan memar saat pergi ke luar, biasanya Erla menutupinya dengan make up.
Deg..
Ibram bangun dari duduk. Tangannya bergetar ragu, meraih handle pintu kamar mandi. Beberapa detik dia terdiam, belum berani membuka pintu.
Tapi kenapa! Sialan!
Ibram mendorong pintu dengan kasar, Erla tersentak kaget, spon ditangannya terjatuh. Buih sabun masih menggumpal di bagian wajahnya.
"Kak Ibram?"
Erla meraba kran air, semburan air membasuh kumpulan busa di wajahnya. Luruh, buih mengalir di sela kakinya menuju lubang pembuangan. Saat tangannya membasukan air, dan busa sudah menghilang, dia bisa melihat Ibram yang berdiri dengan tatapan marah melihat ke arahnya.
"Apa ayah mu yang memukul mu?"
Pertanyaan Ibram langsung membuat Erla menyentuh pipinya, nyeri itu masih terasa. Memang, menutupinya sia-sia saja. Sudahlah, gumam Erla. Tapi, kenapa kau malah berfikir ini karena ayahku?
"Pantas semua orang aneh di luar tadi. Pelayan mu, bahkan adik mu. Apa terjadi sesuatu tadi siang?"
Erla menggelengkan kepala, gadis itu meraih handuk. Membersihkan sisa air. Tiba-tiba, tangannya terguncang. Ibram sudah menyentuh kedua lengannya dengan tangan. Mengguncangnya keras.
"Erla!"
"Kak, sakit."
Tangan Ibram terlepas perlahan, sekarang, tangan Ibram berpindah ke dagu Erla. Memaksa gadis itu untuk menatap matanya.
"Siapa yang memukul mu?"
"Sudahlah Kak, aku tidak apa-apa."
Jawaban Erla membuat Ibram semakin marah.
"Kalau kau tidak mau menjawab, aku akan tanya pada ayah dan ibu mu langsung, dan adikmu juga. Aku akan minta pertanggungjawaban mereka. Kau itu istriku, beraninya mereka."
Bibir Erla menyunggingkan senyum getir. Baginya, kata-kata Ibram terdengar lucu sekali. Dia marah karena memar di wajahnya, dia menuding ayahnya sebagai pelaku utama. Kenapa kau marah Kak? Apa karena memar ini bukan karena mu. Lucu sekali, lagi-lagi senyum getir lahir di sudut bibir Erla, mengejek kemarahan Ibram.
"Ini bukan apa-apa Kak, jadi tidak perlu semarah itu."
"Bukan apa-apa! Kemarilah!" Ibram menarik lengan Erla, mendorong tubuh Erla untuk berdiri di depan kaca. Dia menunjukkan memar yang sekarang terlihat dengan jelas, setelah Erla menyapu wajahnya dengan air. "Kau masih bilang, ini bukan apa-apa."
Erla menyunggingkan senyum, lalu tertawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?"
Tawa Erla semakin mengeras.
"Memar ini, tidak lebih sakit dari yang aku terima dari Kak Ibram kok, makanya aku bilang, sudahlah, aku masih bisa menahannya."
Senyum Erla dia tunjukkan untuk bayangannya sendiri di dalam cermin kaca, tangan Ibram yang sedari tadi mencengkeram pergelangan tangan Erla bergetar, lalu mengendur dan terlepas. Erla sampai terkejut, saat melihat ekspresi kaget yang muncul di wajah Ibram.
Bukan kemarahan, bukan perasaan tersinggung, tapi terlihat penyesalan. Hah! Kak Ibram menyesal, kau pasti salah menafsirkan Erla. Gadis itu membuang praduganya. Karena tidak mungkin, Kak Ibram memiliki perasaan menyesal itu untuk dirinya.
"Sudahlah Kak, aku keluar dulu ya. Kakak silahkan mandi. Aku tunggu di luar."
Erla takut juga, karena reaksi diam Ibram. Gadis itu bergegas keluar dari dalam kamar mandi. Membiarkan Ibram sendirian, dengan kecamuk perasaannya.
Laki-laki itu menatap nanar, bayangannya sendiri di dalam cermin.
Bersambung