Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
202. Perceraian


Apartemen Ibram, CEO Andalusia Mall.


Setelah kejadian hari itu, Ibram membawa ibunya untuk tinggal di apartemen. Lisa, pelayan muda pun ikut menemani. Erla yang tidak keberatan, membuat Ibram merasa lega. Mereka berbagi kamar yang ada. Sebenarnya, bisa saja Ibram menempati rumahnya yang lebih luas, tapi demi keamanan, dia memilih tetap di apartemen.


Dari pihak ayahnya tidak ada pergerakan apa pun, sekretarisnya mengatakan, ayahnya sudah beberapa hari tidak terlihat di ruang kerjanya.


Dan hari ini.


Situasi di dalam rumah mendadak menjadi tegang. Pembicaraan Ibram dan ibunya menemui jalan buntu. Ibram sudah meledak-ledak emosinya, dia membanting hp ke sofa. Ibram mencoba membujuk ibu lagi dengan menunjukkan rekaman yang diberikan Sekretaris Serge waktu itu. Tapi, ibu tidak merubah keputusan. Melihat anaknya yang semakin marah, ibu hanya bisa menggunakan airmatanya. Tangis ibu pecah membuat Ibram mengeram sambil mengepalkan tangan.


Erla hanya melihat, tidak berani mendekat. Gadis itu paham ketakutan ibu, tapi dia juga berusaha mengerti kemarahan Kak Ibram. Laki-laki yang dulunya adalah pelaku, laki-laki yang dulu melakukan hal yang sama seperti yang ayahnya lakukan. Kini, Kak Ibram memang telah berubah.


"Memang apa lagi yang mau ibu pertahankan, aku mohon Bu. " Lutut Ibram lemas, dia terduduk di lantai sambil memukul lantai. "Apa lagi yang ibu harapkan dari ayah!" Bahkan nyeri karena benturan tangan ke lantai tidak terasa, karena emosi Ibram yang membuncah.


Lisa berdiri di sebelah Erla, gadis itu tampak pias karena takut. Sebenarnya, Erla pun tidak jauh berbeda. Dia hanya pandai menyembunyikan perasaannya. Tapi, sejujurnya tangannya pun bergetar saat Ibram membanting hpnya tadi.


"Kak..." Lisa menarik lengan Erla.


Hubungan Erla dan Lisa semakin dekat, saat ini mereka sudah memanggil dengan sebutan yang berbeda.


Erla mengatupkan jari telunjuk di dekat bibir, meminta Lisa tidak bicara. Gadis muda itu mengangguk, tapi tangannya erat merangkul lengan Erla.


Suara Kak Ibram lagi-lagi memenuhi ruang tamu. Erla dan Lisa yang hanya diam mematung dengan kecamuk perasaan masing-masing. Ibu yang tidak juga berani bicara. Hanya suara Kak Ibram yang terdengar sedari tadi.


"Padahal ibu dulu bisa memaksa Erla untuk bercerai, sampai menampar pipinya. Sekarang, kuat kan hati ibu. Ayah tidak berubah Bu. Aku yang sakit melihat perlakuan ayah pada ibu seperti ini." Ibram merangkak, mendekati ibu yang sedang terduduk di sofa. Memeluk lutut ibu. "Aku mohon, berpisah lah dengan ayah Bu. Bercerailah dengan ayah. Bukalah lembaran baru bersama kami Bu. Ibu berhak untuk bahagia. Jangan seperti ini, ayah tidak berubah. Aku tidak mau melihat ini lagi." Sorot mata Ibram tertuju pada hpnya. "Kalau aku melihatnya langsung, aku pasti tidak bisa menahan diri." Benturan kecil kepala Ibram di lutut ibunya. "Aku mohon, lakukan ini demi kewarasan ku Bu."


Tangis ibu mengeras, sampai bahunya terguncang. Dan tangis ibu itu adalah jawaban, kalau dia tidak mau bercerai dari suaminya. Kalau pilihannya masih sama, dia belum bisa bercerai dengan suaminya. Setidaknya hari ini.


"Ibu!"


Ibu mundur, melepaskan tangan Ibram. Semakin keras dia menangis.


Deg...deg...


Erla yang berdebar takut, melangkah pelan-pelan mendekat. Ragu, tangannya menempel di bahu Ibram. Saat Ibram mengangkat kepala, Erla tersentak kaget. Mata Kak Ibram yang memerah, bercampur airmata dan amarah membuat nyalinya menyurut.


"Erla..." Lirih Ibram bergumam mengumpulkan kesadaran.


"Kak, kakak, biar aku bicara dengan ibu. Kakak tunggu di kamar ya?"


Ibram terdiam sebentar, lalu dia mengusap wajahnya. Bangun dari lantai, sebelum beranjak, dia meraih tangan Erla, menarik gadis itu dalam pelukannya.


"Kak..."


"Sebentar saja, biar aku memeluk mu sebentar."


Seperti mengais kembali kesadaran, Erla pun merasakan, tarikan nafas Ibram yang perlahan melambat. Tidak menggebu-gebu seperti tadi. Tangan gadis itu yang terkepal tegang, sedikit demi sedikit mengendur.


"Maaf, aku malah melibat ku." Erla bisa mendengar suara serak Ibram.


"Jangan minta maaf Kak, aku bicara dengan ibu sebentar ya." Sambil menepuk bahu Ibram lembut. "Kak Ibram tunggu di kamar sebentar ya."


Aku mohon jangan marah lagi. Karena aku juga takut. Erla bergumam, gadis itu dihantui ketakutan. Amarah Ibram yang akan menjalar ke mana-mana.


Ibram mengangguk, lalu mendaratkan kecupan di bibir Erla, gadis itu tergagap kaget. Melihat ke arah ibu, wanita itu masih tertunduk. Erla sepertinya masih malu menunjukkan kemesraan di depan ibu. Dia mengusap pipi Ibram pelan, lalu tersenyum. Setelah melihat senyum menenangkan Erla, Ibram pun dengan berat melangkah masuk ke dalam kamar.


Lisa langsung menghampiri ibu, mengusap airmata ibu dengan tisyu. Memberi ibu air minum juga. Gadis muda itu memeluk nyonyanya dengan erat.


"Nyonya, jangan menangis lagi."


Melihat Lisa yang berusaha menenangkan ibu, hati Erla tersentuh. Dia beruntung sekali memiliki Lisa. Bahkan sekarang, Erla meminta Lisa memanggilnya kakak, dia punya keluarga yang mengkhawatirkannya dengan tulus.


Erla duduk di sebelah kanan ibu, meraih tangan ibu dan meletakkannya di pangkuannya.


"Bu...."


"Aku tidak bisa bercerai Erla, dari ayahnya Ibram."


Kata-kata yang terbata-bata keluar dari mulut ibu. Yang tadi tidak bisa dia utarakan pada anaknya. Perlahan, dia sampaikan pada menantunya. Dia tidak mau bercerai, karena takut masa depan anak-anaknya hancur ke depannya.


"Bagaimana nasib Ibram dan adik-adiknya, kalau sekarang aku bercerai. Bagaimana kalau ayahnya membuang Ibram. Bagaimana kalau Ibram kehilangan jabatan yang sudah dia perjuangkan habis-habisan selama ini. Anak itu sudah bekerja keras untuk sampai di posisinya yang sekarang. Egois sekali, kalau sebagai ibu, aku tidak bisa melindungi anakku sendiri."


Ibu menghapus ujung matanya yang masih berlinang airmata. Sejujurnya, dia tidak mau kembali, tapi kalau untuk bercerai, itu juga bukan pilihan. Ketakutan akan masa depan anaknya membuatnya harus memilih bertahan.


Perasaan pedih dan sesak itu menjalar dari genggaman tangan Erla. Merasuk ke hatinya. Ah, aku memang tidak punya anak, gumam Erla. Yang memberatkan keputusan ku. Gadis itu berfikir tentang dirinya yang nekat kabur dan ingin bercerai dari Kak Ibram. Saat itu pertimbangannya hanyalah keluarga. Hah! Darah memang sangat kental ya. Kau rela bertahan, demi seseorang yang berharga.


"Tapi, Ibu tahu kan, kalau Kak Ibram akan semakin sakit dan terluka." Bibir ibu mengerucut, dan buliran airmata itu berjatuhan lagi. Erla tergagap, buru-buru menghapus airmata ibu. "Bukannya aku menyalahkan ibu, tidak. Aku juga tahu rasanya Bu. Karena aku pun pernah mengalaminya. Aku bertahan demi keluarga ku, keluarga yang sebenarnya tidak perduli pada ku." Rasa getir dalam kata-kata Erla, membuat ibu langsung menarik tangan Erla dan memeluk menantunya.


Sepertinya, ibu tahu maksud kata-kata ku.


"Kak Ibram berbeda dengan keluarga ku Bu. Kak Ibram menyayangi ibu, dia perduli pada ibu. Jadi dia marah seperti ini."


Erla berusaha membuka pikiran ibu, kalau Ibram pasti tahu konsekuensi yang akan dia hadapi kalau melawan ayahnya, tapi, karena cintanya pada ibu, dia akan menerjang apa pun yang ada di depan matanya.


"Tapi, bagaimana kalau ayahnya.."


Ibu masih bersikeras, dia tidak mau menyusahkan Ibram.


Bahu yang memeluk Erla terlepas, hanya pertanyaan seperti itu saja, bisa membuat ibu langsung bergetar. Dia menautkan tangan, perasaan takut yang langsung menjalar ke seluruh tubuh. Perasaan yang tidak asing bagi Erla. Itulah ketakutan yang persis dia rasakan saat itu. Tak terasa, airmata yang tadinya tak menetes, membasahi pipi Erla juga. Dia memeluk ibu, yang bahunya bergetar.


"Kak Ibram hanya ingin melindungi mu Bu, aku mohon. Kak Ibram juga pasti tidak mau, hidup bahagia di atas penderitaan ibu. Posisi dan jabatan yang ia miliki sekarang, aku yakin, dia tidak rela jika harus menukarnya dengan penderitaan ibu." Usapan lembut tangan Erla, membuah tubuh yang bergetar itu berkurang. "Aku tahu rasanya Bu, sekarang ibu takut kan, walaupun sekedar mendengar nama ayah."


Isak tangis ibu mengeras lagi, sebagai jawaban kalau semua yang Erla katakan benar adanya. Jangankan melihat suaminya, mendengar namanya saja sudah membuat semua pembuluh darah di tubuhnya menegang. Ibu sudah ketakutan, seperti deraan tangan itu memukulnya. Seperti dia merasakan sakitnya rambutnya ditarik. Padahal dulu dia pasrah menerimanya, tapi kenapa hanya mendengarnya saja sekarang sudah membuatnya ketakutan.


"Erla..."


"Demi Kak Ibram dan adik-adik, lakukanlah demi mereka Bu, bukan untuk bertahan dalam rasa sakit. Tapi melepaskan penderitaan Ibu. Karena sejatinya, itulah yang membuat Kak Ibram dan juga adik-adik bahagia."


Ketiga gadis di ruang tamu apartemen CEO Andalusia Mall berpelukan saling menguatkan. Mertua dan menantu yang memiliki pengalaman hidup yang sangat mirip. Erla yang bisa merasakan kepedihan yang mertuanya rasakan saat ini, menjadi lebih mudah gadis itu meyakinkan ibu.


...🍓🍓🍓...


Di depan pintu kamar. Erla sudah meraih handle pintu. Tapi dia belum menariknya. Wajahnya pias. Dia memejamkan mata setiap terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar. Kak Ibram sedang melampiaskan amarahnya. Dia takut untuk melihat dunia yang ada di balik pintu.


Deg..deg..


Hening.


Erla merapatkan telinga ke pintu. Sudah tidak tertangkap pendengaran di telinganya suara apa pun dari dalam kamar. Apa aku sudah boleh masuk? Tapi, aaaaaaa! aku takut. Menoleh sebentar pada ibu dan Lisa yang masih saling menenangkan. Kalau bukan dia yang masuk, lantas siapa lagi batinnya.


Akhirnya, walaupun dengan tangan gemetar, dia membuka pintu kamar. Sambutan yang pertama kali dia lihat, sudah seperti apa yang dia dengar. Barang pecah dan berserak di lantai. Pandangannya bergeser ke tempat tidur, Kak Ibram sedang terduduk di tepi tempat tidur. Menjatuhkan kepala di pangkuannya. Suara Isak tertahan, lirih terdengar.


Deg.. deg..


Erla bergerak selangkah dari depan pintu. Menutup pintu perlahan.


"Kak Ibram.."


Diam, tak ada jawaban.


"Apa aku boleh mendekat? atau Kakak mau sendirian dulu?"


Barulah, Ibram mengangkat kepalanya. Dia mengulurkan tangan. Walaupun takut dan ragu, Erla perlahan berjalan mendekat. Dan setelah sampai di tepi tempat tidur, tangan yang terulur Ibram menariknya dalam dekapan. Isak tangis yang tertahan itu mengeras dalam dekapan Erla.


"Ibu ku berhak untuk bahagia kan? kenapa dia tidak mau bercerai, padahal ayah sama sekali tidak berubah. Kenapa? Apa yang sebenarnya ibu pikirkan, apa dia masih mencintai ayah yang seperti itu."


Ibu bertahan, karena ingin melindungi mu Kak, karena tidak mau Kakak kehilangan masa depan. Dan, aku yakin, Kakak akan rela melepaskan semuanya sekarang demi ibu. Erla yang berusaha menjembatani Ibram dan ibu. Mengusap kepala Ibram yang sedang mendekap perutnya.


"Aku akan mendatangi ayah."


Erla menunduk, mencium kepala Ibram.


"Akan ku lemparkan Vidio itu ke depan wajah ayah. Kalau dia tidak sadar juga, aku tetap mau ayah bercerai dengan ibu. Erla..." Suara Ibram tertahan. Dia mendongak, melihat wajah istrinya yang sudah mengembalikan kewarasannya. "Sebelum semuanya normal, bolehkah ibu tinggal bersama kita? Aku mohon, sampai situasinya aman saja."


Senyum Erla seperti salju yang menenangkan hati Ibram.


"Terimakasih, terimakasih karena kau mau memaafkan aku dan ibu." Erat Ibram memeluk Erla. Airmata laki-laki itu membasahi baju Erla. "Apa ibu sudah tenang?"


Kesempatan kedua yang diberikan Tuhan telah merubah hubungan Ibram dan Erla. Dan gadis itu berharap, akan ada kesempatan kedua untuk ibu dan ayah. Walaupun mereka tidak bisa bersama lagi.


"Ibu bersedia bercerai Kak, ibu ingin hidup bahagia bersama Kakak dan adik-adik ipar. Jadi, lindungi lah ibu, seperti yang Kakak inginkan."


"Erla.."


"Ayo hidup bahagia Kak, bersama ibu dan Lisa. Kita mulai semuanya dari awal. Apa pun yang akan terjadi ke depannya, jangan lepaskan tangan Kakak dari ku dan ibu."


Ibram mengusap wajahnya ke baju Erla, menghapus airmata. Rasanya, hatinya saat ini dijejali perasaan campur aduk. Yang bermuara pada kebahagiaan. Seutas senyum sudah terlihat di bibirnya. Dia menarik tangan Erla, membuat gadis itu terjerembab dalam pelukannya. Setelahnya, tubuh keduanya jatuh ke tempat tidur.


"Aku mau mencium mu sekarang, boleh kan?"


"Kakak bahagia?"


Ibram mengganguk, meraih dagu Erla.


"Boleh, aku mencium mu?"


"Lakukan, apa yang ingin Kakak lakukan."


"Erla."


Entah kemana larinya emosi yang meluap-luap itu. Melihat bola mata bening di depannya, melihat wajah istrinya, mendekap bibir merah ini, membuat hati Ibram seperti tersiram air yang sejuk. Dia merasakan ketenangan dan kebahagiaan saat kulitnya bersentuhan dengan milik Erla.


"Erla..."


"Kakak..."


"Terimakasih, sudah menemani ku. Terimakasih Erla, sudah membuka hati mu, untuk ku dan ibu."


Mereka berciuman 😘


Sore hari, Ibram keluar dari apartemen sendiri. Meninggalkan ibu dan Erla, tujuannya hanya satu. Menunjukkan rekaman Vidio yang diberikan Serge saat itu. Keputusan yang akan dia ambil untuk ibunya, tergantung reaksi ayahnya. Walaupun, surat perceraian ibu, sudah dia siapkan.


Bersambung