Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
174. Perang Batin


Malam itu, Ibram membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sendirian. Erla sedang menunggu dengan tegang dan cemas di dekat tempat tidur. Dia berdiri mematung sambil meremas jemari, menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Kenapa lama sekali, gumam gadis itu takut. Segala macam pikiran negatif berdatangan di pikirannya. Dia sudah memancing kemarahan Ibram, sekarang dia menyesalinya.


Gadis itu takut, kemarahan itu akan semakin memuncak saat dia mengatakan kalau dia sudah menandatangani surat perceraian. Nyeri di pipinya kembali muncul. Ah, sakit. Erla mengusap pipinya dengan punggung tangan. Masih menatap daun pintu yang tertutup rapat.


Saat masih menghitung waktu sambil berdebar takut, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, membuat Erla semakin meremas jemari. Erla belum mendekat atau bicara pada Ibram, gadis itu masih melihat situasi. Eh, kenapa ini, gumam Erla sambil memperhatikan semua hal yang dilakukan Ibram.


Sekilas Ibram menatap Erla, laki-laki itu bisa menangkap dengan jelas ketegangan gadis itu. Dia memalingkan wajah saat pandangan mata mereka bertemu, dia berjalan menuju lemari pakaian. Padahal, baju tidurnya sudah ada di sofa. Ibram meraih kemeja, merapikan pakaiannya sebentar di depan cermin. Sorot mata Erla masih mengawasi, dengan bingung. Lalu Ibram menyambar kunci mobilnya di atas meja. Tanpa bicara sepatah kata pun, Ibram sudah berjalan ke dekat pintu. Tangannya yang sudah memegang handle pintu, terlepas. Dia berbalik, menatap Erla lagi.


"Jangan keluar dari kamar selangkah pun, apa pun yang kau dengar di luar." Suara tegas Ibram memenuhi udara di dalam kamar.


Erla tidak menjawab.


"Tidak menjawab?" Sorot mata Ibram membuat Erla merinding.


Jawaban Erla hanya berupa anggukan kepala karena takut memancing emosi kalau dia menjawab dengan bersuara, Ibram menghela nafas sejenak, lalu menghilang di balik pintu.


Erla yang tadinya takut berganti bingung, dia langsung jatuh terduduk di tepi tempat tidur. Menatap heran, kenapa Kak Ibram pergi begitu saja. Dia mau apa, sampai aku tidak boleh keluar kamar.


Apa dia tersinggung? Apa dia mau bertanya pada ayah?


Hah! Terserahlah, ujarnya kemudian sambil mengusap pipinya yang masih terasa nyeri. Kalau dia tersinggung dan pergi, terserahlah, malah semuanya akan menjadi lebih mudah kan.


Kalau dia pulang ke rumahnya dan bertemu dengan ibunya, maka berakhirlah sudah semuanya. Nyut, hati Erla berdenyut sakit dan pedih. Di satu sisi, inilah yang ia harapkan kan, perpisahan dengan Kak Ibram, terlepas dari jerat menakutkan suaminya. Namun, ada bagian hatinya yang bahkan sudah merasa hampa, saat Ibram pergi tanpa memberi penjelasan apa pun.


Hati manusia yang terkadang sulit untuk dimengerti, bahkan oleh pemiliknya sekalipun.


...🍓🍓🍓...


Perasaan malu di dada Ibram membuatnya bergegas menuruni tangga. Sialan! gumamnya sambil mengepalkan tangan. Erla seperti menghujamkan pisau tak kasat mata di dadanya. Kata-kata Erla yang selam ini hanya dia pendam di relung hatinya.


Benar, selama ini aku melakukan hal yang sama padanya, kenapa sekarang aku marah, saat luka di pipinya bukan karena aku yang membuatnya. Ibram jadi merasa dirinya sampah menyedihkan. Sekarang saja, saat melihat pipi Erla yang memerah, dia bisa merasakan nyeri dan sakitnya tamparan itu. Tapi kenapa, kenapa dulu tangan ini yang menorehkan luka itu.


Ibram menatap pergelangan tangannya sendiri. Ingin menghancurkan tangannya sendiri.


Terlalu banyak yang dia pikirkan, sampai tidak sadar, dia sudah sampai di tangga paling bawah, Ibram melihat kedua orangtua Erla sedang duduk di ruang tamu. Mereka bergegas berdiri saat melihat menantunya, kedua orangtua Erla terlihat panik, saat melihat Ibram turun. Karena biasanya laki-laki itu tidak pernah keluar dari kamar, setelah pulang bekerja.


Perasan was-was orang tua Erla, berfikir karena Ibram mau membuang Erla.


Sepertinya dugaan ku benar, kalian yang sudah melukai istri ku kan? Kalian terlihat ketakutan begitu, walaupun aku belum bicara apa pun.


Ibram, ingin tahu semua, yang terjadi hari ini.


Akhirnya, Ibram memanggil semua orang penghuni rumah. Tanpa terkecuali, para pelayan, terutama pelayan muda yang sering bicara dengan Erla. Adik perempuan Erla bahkan berdiri sambil membuang muka. Gadis itu sepertinya tidak mau terlibat dengan masalah kakak perempuannya. Tapi ibunya menyeretnya, karena Ibram mau semua orang berkumpul tanpa terkecuali.


"Beraninya kalian memukul istriku." Sebenarnya, Ibram sudah menyusun narasi di pikirannya, kalimat sederhana yang tidak terkesan provokatif, tapi entah kenapa, yang terucap malah ini. Karena dia terpancing emosi lagi, mengingat memar di pipi Erla.


Ayah dan ibu Erla mulai pucat, apalagi para pelayan yang tahu semua kronologi.


"Aku bersikap baik pada kalian hanya karena Erla, aku mau menanggung kerugian dengan memberi modal pada perusahaan kalian hanya karena Erla. Beraninya kalian menggangu istriku." Kembali, suara Ibram yang mengisyaratkan kemarahan terdengar.


Ibram sudah salah paham tapi karena meledak duluan, jadi semua orang kebingungan, bagaimana meluruskan kesalahpahaman ini, lagipula ibu juga takut mengungkit perkara surat cerai yang sudah ditanda tangani Erla. Jadi, baik ayah dan ibu berinisiatif tidak akan membicarakan apa pun.


"Bukan kami..." Adik Erla bergumam, masih dengan pandangan melihat ke arah lain, tidak mau bersitatap dengan kakak iparnya.


Ibram yang baru mau bereaksi, tertahan, karena sikap ibu.


Plak!


Tangan ibu memukul bahu anaknya, lalu minta maaf dengan cepat, karena anaknya sudah tidak sopan. Tindakan ibu malah semakin memantik kecurigaan Ibram, kalau ada yang sedang mereka tutupi. Dan, pilihan Ibram untuk mengorek keterangan adalah lewat pelayan muda, yang sering bicara dengan Erla.


"Kau, bicaralah, apa yang terjadi dengan istriku hari ini?"


"Hah!" Suara helaan nafas Ibram terdengar, karena jengah menunggu jawaban pelayan muda itu.


"Maaf Tuan Muda, saya tidak tahu." Setelah melihat ke arah ibu, pelayan muda itu akhirnya menjawab demikian.


"Ayah, Ibu... Bukankah aku pernah bilang, setelah menikah, Erla itu istriku, dan kalian tidak berhak ikut campur." Kesabaran Ibram habis. Karena mereka terlihat tidak mau bicara dan mengaku.


"Kami tahu Nak Erla itu istrimu, kalian kan saling mencintai, jadi sudahlah, jangan dibesar-besarkan, Erla juga nggak papa kan, nanti memar di pipinya juga pasti hilang besok. Jadi jangan terlalu marah." Ibu dengan seenaknya bicara, sambil dibumbui tawa canggung. "Kalian itu kan saling mencintai."


"Haha, benar." Ayah ikut-ikutan. "Yang penting, Erla tetap menjadi istri mu kan Nak Ibram? Ayah minta maaf, kalau Erla belum bisa menjadi istri yang baik. Dalam rumah tangga, pertengkaran itu biasa."


Apa sih! Kalian malah bicara tidak nyambung.


Entah apa yang dipikirkan orangtua Erla, kata-kata mereka sama sekali tidak menjawab pertanyaan Ibram. Karena Ibram hanya ingin meminta pertanggungjawaban, dan bertanya, kenapa sampai pipi istrinya memar.


"Aku sedang tidak mau mendengar omong kosong kalian. Yang aku mau tahu, siapa yang memukul istriku!" Sinis terdengar, kata-kata Ibram membungkam tawa canggung orangtua Erla.


Karena ayah dan ibu Erla malah bicara yang berbelit-belit, membuat Ibram semakin kesal. Ibram menatap satu persatu orang, pelayan muda menunduk semakin dalam, dan tatapan terakhir, jatuh pada adik Erla.


Beberapa detik mereka bertatapan. Ibram seperti menebar ancaman, kalau dia sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia ingin tahu semuanya.


Sekarang!


"Ibu Anda yang melakukannya." Akhirnya, adik Ela mengatakannya.


"Apa? Ibu ku yang melakukannya, omong kosong apa ini."


Plak! Plak! Tangan ibu beraksi lagi. Kesal memukul putrinya.


"Ibu sakit!" Adik Erla yang giliran menyuarakan kesal. "Memang kalau kalian menutupinya, kakak ipar tidak akan tahu, dia juga kan harus menandatangani surat perceraian, baru bisa diajukan ke pengadilan. Butuh dua tanda tangan untuk perceraian, nyonya kan sudah memaksa Kak Erla tanda tangan, jadi tinggal kakak ipar. Hah! Memang aku juga mau begini, aku juga marah dan kesal, melihatnya Bu. Apa Ibu tidak marah dan sakit hati."


Kata-kata itu terdengar seperti adik yang mengkhawatirkan kakak perempuannya. Padahal terbersit kekhawatiran di hati adik Erla. Kalau kalian bercerai, itu juga akan menjadi aib untukku kan. Adik Erla mengusap bahunya yang sakit di pukul ibu.


Ibram tidak mendengar apa pun, selain kata, surat cerai yang sudah ditanda tangani Erla.


"Ibu ku datang dan menyuruh Erla tanda tangan surat perceraian? Dia yang menampar istriku, karena Erla menolak untuk tanda tangan?"


Ayah dan ibu menganggukkan kepala, walaupun tahu, sebenarnya Erla yang menandatangani atas kemauannya sendiri. Adik Erla dan para pelayan memalingkan wajah, tidak mau menjawab pertanyaan Ibram.


Tangan Ibram bergetar menggengam kunci mobil.


"Ibu ku yang menampar Erla?" Gumaman yang dipenuhi amarah.


Tidak ada yang menjawab, bahkan sampai Ibram keluar. Suara deru mobilnya yang berdecit, terdengar sampai ke dalam rumah.


Di depan jendela kamarnya, Erla menatap jauh, mobil milik suaminya yang menghilang ditelan kegelapan malam. Semua sudah berakhir, gumamnya getir.


Penutup.


Malam itu, Ibram belum memiliki keberanian, untuk melakukan perang terbuka dengan orangtuanya. Dia memilih, membawa mobilnya melaju ke sebuah apartemen miliknya. Ruangan sepi yang menyambutnya, membuatnya getir. Dia jatuh terduduk di sofa.


Maaf Erla, maafkan aku.


Karena sudah menjadi, sumber penderitaan mu selama ini. Gumam Ibram sedih.


Hari itu, lama Ibram merenung, keputusan apa yang ingin ia ambil selanjutnya. Orangtuanya sudah bertindak terang-terangan. Dia yakin, yang dilakukan ibunya hari ini, pasti karena perintah ayahnya. Tapi, aku tidak mau kehilangan Erla. Aku mencintainya. Hati, logika, dan pikiran Ibram berperang. Apalagi dia juga harus melawan ayahnya, sebagai penerus keluarga, selama ini, dia selalu patuh dan menurut, pada semua keputusan yang dibuat ayahnya.


Malam larut, membuat hati Ibram semakin tersayat sepi.


Bersambung