
Walaupun sudah menyiapkan hati, meskipun sudah pasrah, saat benar mengalaminya, tetap saja hati berdebar dengan kencang. Tubuh dengan sendirinya bereaksi. Gemetar dan tengkuk berkeringat, tidak bisa dihindari Merilin.
Merilin tubuhnya terasa kaku, walaupun hanya kaki Rion yang menindih pahanya, namun entah kenapa sekujur tubuhnya rasanya ikut membeku.
"Mei..."
Tenanglah Mei, bayangkan saja... bayangkan apa! Kau mau aku membayangkan siapa sialan! Entah memarahi siapa Merilin. Mungkin bagian hatinya yang sedang sok bijak menasehatinya yang sedang dia marahi.
Suara Rion mengalun dengan sayup, perlahan memasuki pendengaran Merilin. Mengusik hatinya yang berkhianat dan tidak mau berkompromi. Mei tenanglah, yang kau sukai itu Kak Ge, tapi beraninya hatimu berdebar pada sentuhan orang aneh ini. Akal sehat Merilin sedang berperang dengan naluri bawah sadarnya.
Kalau dia menyerangku dari segala arah begini, bagaiman jantungku bisa bertahan. Kau mau apa si Kak? jangan menggodaku dengan kelembutan dan wajah tampan mu. Bersikap ketus saja supaya hatiku tidak berdebar.
"Kak..." Merilin tidak berani memandang ke depan, karena wajah Rion dekat sekali. Saat masih memejamkan mata demi menjaga kewarasan, Mei bisa merasakan, selimutnya menjauh dari tubuhnya. Gadis itu menarik baju tidur yang tersibak tidak beraturan. Namun, urung menarik bajunya supaya menutupi kaki, satu tangannya di genggam tangan Rion, terasa hangat dan kuat. "Kak Rion, su.. sudah malam. Besok kita kan harus bekerja."
"Kau tidak suka?"
Ia, aku tidak suka, jadi menyingkir dari atas ku. Kalau aku bicara begitu apa kepalaku akan melayang seperti yang pernah Kak Serge bilang.
Merilin tidak menjawab sepatah katapun. Karena takut bisa menyinggung Rion, bisa gawat kalau itu terjadi. Tersentak kaget saat jemari tangan Rion menyentuh kancing bajunya yang paling atas. Rion melepaskan dua kancing baju sambil tangan satunya merapikan rambut Merilin. Sekarang ujung jarinya Rion gesekkan diantara dua kancing yang terbuka itu.
Sumpah, rasanya kepala Merilin sudah berasap dengan semua sentuhan tangan yang dilakukan Rion sekarang. Bahkan dia tidak memikirkan apa pun, alias blank, karena sibuk menekan debaran kuat dadanya.
Memang orang bisa berdebar walaupun tidak cinta ya? kenapa kau berdebar hati kurang ajar. Rasanya Merilin tidak terima, dia ingin hatinya berdebar hanya untuk Kak Serge. Gadis itu masih belum berani melihat ke depan, takut dag, dig, dug semakin menguat.
"Mei, kau tidak akan mengkhianatiku kan?" Tangan Rion mengusap kepala Merilin lagi. Posisi mereka berdua sangat ambigu. Yang satu terbujur kaku, yang satunya tengkurap dengan santainya. Bahkan kecupan lembut bibir Rion mampir di bekas Rion mengusap kepala Merilin dengan tangannya. "Karena kalau kau melakukannya, bukan hanya kau yang akan hancur, tapi semua orang yang kau lindungi juga akan ikut hancur bersamamu."
Deg, mengancam tapi sambil kecup-kecup basah di sekitar area kening dan pipi. Membuat yang diancam semakin campur aduk rasanya. Antara takut, geli dan berdebar-debar tidak karuan.
"Aku tidak akan berani melakukannya Kak. Hidup keluargaku bergantung dari Kak Rion kan." Merilin merasakan bulu halus disekujur tubuhnya berdiri, saat merasai tangan Rion berpindah ke pahanya. Merayap dengan mudahnya masuk ke dalam baju sampai menyentuh pinggangnya. Laki-laki itu sudah menjatuhkan tubuh sekarang, sampai kepalanya menempel di bahu dan bibirnya menyentuh leher Merilin.
Hawa panas dari helaan nafas Rion langsung menampar leher Merilin. Jantung gadis itu rasanya mau meledak. Apalagi saat tangan Rion tidak berhenti mengusap sana sini bahkan mencubit lemak tipis di pinggangnya.
Dia ini mau apa sih! Kalau mau memakan ku, sat set lakukan dengan cepat kenapa! Saking pasrahnya Merilin karena tidak ada celah dan keberanian untuk menolak dia jadi seperti menantikan. Eh, aku bukan menantikannya! Aku hanya ingin semua adegan ini cepat selesai. Marah lagi Merilin saat hatinya meledek.
Eh, kenapa dia diam. Apa cuma sampai di sini?
Tidak ada tanda Rion mau meneruskan serangan sampai tahap berhubungan. Saat tangan di pinggang Merilin berhenti bergerak. Saat nafas teratur mulai terdengar.
"Kak Rion...."
Hening, suara Merilin menghilang tidak ada sahutan. Apa dia tidur? Ya Tuhan, aku sudah pasrah dan berharap dia melakukannya dengan cepat, ternyata dia kelelahan dan langsung tidur. Merilin menyentuh tangan Rion yang masih ada di bawah bajunya, menariknya perlahan. Pelan-pelan dia pindahkan ke samping tubuh Rion. Tidak ada reaksi. Dalam hati Merilin menertawakan dirinya sendiri.
"Hemmm." Gumaman terdengar, membuat Merilin langsung menahan nafas.
"Kak, Kak Rion." Tubuh Rion tidak memberi reaksi sedikitpun. "Hah, syukurlah, aku selamat." Gadis itu bersorak dalam hati. Senangnya hati Merilin karena Rion ketiduran. Dia berfikir tinggal menggeser kepala Rion sedikit, dan selesai.
Tapi Mei, maaf itu cuma bohong.
"Aaaaaaa!" Mungkin jeritan ini sampai keluar kamar, karena keras sekali.
Rion terpingkal saat Merilin menjerit, tangan Rion menyentuh area dada yang sensitif milik Merilin secara tiba-tiba. Saat isi kepala gadis itu sedang menari-nari senang karena berfikir Rion tertidur dengan begitu mudahnya. Gadis itu tidak sempat untuk kaget, karena serangan Rion selanjutnya.
"Sudah kubilang aku tidak akan melepaskan mu malam ini Mei." Rion beranjak duduk, mendorong tubuh Mei yang mau ikut bangun sampai terjerembab lagi. Pias dan takut mulai terlihat. "Haha lucunya, kau selamat?" Tangan Rion menyentuh pipi, mengusapnya sampai ke leher. "Memang aku mau melakukan apa sampai kau gemetar begitu. Haha."
Jangan gemetar Mei, jangan gemetar.
Walaupun hatinya berkata jangan gemetar nyatanya bibirnya yang bicara juga bergetar. Merilin mengais sisa kesadaran untuk fokus.
"Kak, apa Kak Rion menyukaiku?" Terbata Merilin bicara, saat satu persatu kancing bajunya terlepas. Gadis itu menelan ludah takut. Rion menyentuh dagu Mei, mencengkeramnya sambil menyeringai.
"Kenapa? Kau tidak mau?"
Dia tersinggung dengan pertanyaanku barusan!,
Merilin sadar dia tidak bisa menolak sekarang, mau dia disayang-sayang, mau dia disentuh atau dibuang sekalipun, itu terserah Rion. Namun, dia hanya sedang berjuang sebisanya untuk mempertahankan kehormatan demi orang yang akan ia cintai kelak.
Ayo Mei, rendahkan dirimu serendah-rendahnya. Buat dia berfikir, kalau kau wanita yang tidak pantas untuk dia tiduri. Eh, saat Merilin sedang berusaha menyusun kata-kata menghina dirinya sendiri, Rion malah tertawa dengan suara keras.
Kenapa kau tertawa lagi manusia aneh!
Setelah tertawa entah karena alasannya apa. Rion menunjuk dada Merilin.
"Kau milikku, terserah aku mau melakukan apa padamu."
Glek, sepertinya usahamu menghinakan dirimu sendiri gagal Mei.
"Buka!"
Apa! Apa yang dibuka? Bajuku, kan semua kancing bajuku sudah terlepas.
"Buka bajuku Mei."
Merilin menggigit bibir, sambil mengangkat tubuhnya. Melepaskan satu persatu kancing baju Rion. Saat semakin naik, membuatnya akhirnya mengangkat tubuh untuk duduk. Bajunya sendiri yang kancingnya terlepas melorot jatuh. Wajah Mei langsung merah padam. Mau memperbaiki posisi baju, tapi kain itu sudah ditarik dengan mudahnya oleh Rion. Dilemparkan baju itu ke udara diiringi tawa.
Dasar orang gila!
Saat kancing baju terakhir Rion terlepas, Mei menarik baju Rion. Setelah baju terlepas, berbeda dengan Rion yang melemparkannya ke udara, Merilin meletakan baju di samping bantal.
Deg..deg...
Merilin tidak tahu harus melakukan apa lagi sekarang. Rion malah hanya diam saja menikmati kebingungan Merilin. Dia tertawa lalu mendorong kepala Merilin dengan kepalanya. Sudah dengan posisi tebaring, Merilin berada di bawah.
Rion meraih dagu Merilin, mencium bibir, awalnya hanya dia kecap-kecap, saat Mei membuka mulutnya ciuman mereka menjadi lebih mendalam. Mei tersengal mendorong tubuh Rion.
"Kenapa kau tidak bernafas Mei? Kalau kau mati bagaimana?" Rion mengusap bibir Merilin dengan jarinya. "Apa ini ciuman pertamamu?"
Karena Merilin seperti orang kehabisan nafas. Wajahnya yang merah karena malu, juga merah karena perputaran oksigen tidak seimbang.
"Ini bukan ciuman pertamaku Kak."
Eh kenapa? Apa aku salah bicara?
Ada kemarahan langsung menyala di mata Rion. Kalau dia bukan yang pertama, jadi kau pernah berciuman dengan Serge! Ah, entahlah kalau sedang cemburu terkadang menutupi kewarasan. Padahal jelas-jelas Serge hanya menganggap Merilin adik, tapi kecurigaan Rion hanya mengarah pada Serge.
"Siapa yang sudah mengambil ciuman pertamamu Mei?" Tangan Rion mengguncang bahu Merilin, gadis itu bisa merasakan kemarahan dari nada suara.
Apa sih! kenapa marah? kau kan yang mencuri ciuman pertamaku saat hari pernikahan.
"Siapa Mei?"
"Kak Rion, kan Kak Rion yang menciumku saat hari pernikahan. Itu kan ciuman pertamaku Kak."
Mendengar jawaban Merilin yang ada membuat Rion tertawa. Tawa senang dan bangga.
Apa sih, tertawa lagi!
"Haha, kau bilang kecupan itu ciuman, itu bukan ciuman Mei. Ini baru ciuman."
Aaaaaa!
Rion mendorong Merilin sampai terduduk merapat di tempat tidur. Merek berciuman sampai Mei rasanya kehabisan nafas lagi. Lagi dan lagi, bahkan sampai berubah posisi beberapa kali. Rambut ikal Mei bahkan menutupi wajah Rion. Mei juga sudah duduk di pangkuan Rion.
Ehm, mereka tidak saling suka kok. Hanya tuan muda yang sedang bermain dengan bonekanya yang lucu dan menggemaskan.
Lampu kamar padam, masih terdengar nafas tersengal.
Bersambung