Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
185. Lamaran


Masih harinya Serge, laki-laki baik hati yang terkadang saking baiknya, membuat salah prasangka wanita yang menerima kebaikannya. Serge sendiri tak pernah berniat tebar pesona atau menebarkan umpan, karena menurutnya, dia hanya laki-laki biasa yang tenggelam di samping sang bintang. Aura Rion yang menekan sekelilingnya, selalu membuat mata melihat Rion ketimbang siapa pun yang ada di sampingnya. Bertahun-tahun, seorang Serge hidup seperti itu sambil mengikuti Rion.


Lanjutan dari jalan-jalan sambil bergandengan tangan tanpa alas kaki di bibir pantai.


Saat menyusuri pantai, Dean pura-pura terjatuh tersandung bebatuan yang bertebaran di bibir laut, separuh tubuhnya masuk ke dalam air laut. Serge yang berusaha membantu Dean bangun, malah ditarik sekalian tangannya oleh gadis itu. Jadilah akhirnya Serge jatuh terjerembab ke dalam air. Dengan wajah kaget campur senang. Mereka terasa semakin dekat dengan candaan sederhana ini.


Tawa keduanya tertimpa deru ombak yang mengejar pantai. Di kejauhan suara teriakan orang-orang yang terjebur dari banana boat. Semakin membuat Dean dan Serge tertawa juga. Selain menertawakan mereka yang kebasahan, mereka malah main ciprat-cipratan air sekalian. Seperti bocah yang sedang menghabiskan waktu ditengah teriakan para orangtua untuk jangan pergi ke tengah air.


Itulah, yang membuat mereka basah kuyup saat kembali ke vila.


"Kak Ge, ganti baju dulu sana. Nanti kita makan bersama. Aku juga mau ganti baju." Dean bicara sambil menunjuk dirinya yang basah kuyup.


"Lho, katanya kamu mau naik banana boat tadi." Maksud Serge, mereka kan sudah basah, kenapa tidak sekalian saja. Kenapa harus ganti baju segala.


"Kita lakukan setelah makan ya Kak, aku lapar."


Dean meremas ujung rambutnya beralasan, tetesan air laut menjatuhi pasir di dekat kakinya. Memercik, pasir lengket menempel di kaki tanpa alasa itu. Saat melihat Dean yang tampak kedinginan juga akhirnya Serge mengangguk.


"Ia, baiklah. Kau kedinginan juga kan. Nanti kita makan makanan yang hangat ya."


Serge melambaikan tangan, saat Dean berjalan duluan meninggalkannya. Laki-laki itu melihat sekeliling sebelum masuk ke dalam vila. Kok sepi ya, pada kemana orang-orang gumamnya. Karena tidak ada yang dia temui, dia langsung bergegas masuk ke kamar saja menaiki tangga.


Baik di halaman vila, maupun di dalam vila tampak sepi, tidak terlihat batang hidung orang-orang.


Mandi dan mencuci rambut Serge lakukan dengan cepat, wajahnya memerah membayangkan kejadian tadi. Dia menyentuh bibirnya, lalu menjerit tanpa suara di bawah percikan air. Dasar gila! Beraninya kau Ge!


Tapi, kenapa kau ketakutan saat mau mengajak Dean menikah. Serge membenturkan kepala ke dinding. Mengutuk dirinya yang penakut. Aku takut dia menolak ku. Bukan menolak dalam artian Dean tidak mencintai Serge. Tapi takut, jawaban Dean bukan yang dia inginkan. Dia takut Dean berfikir kalau dia terlalu terburu-buru mengajak menikah.


Pantulan wajahnya terbiaskan di cermin, Serge sedang mensugesti diri sendiri untuk lebih berani lagi. Minimal, menyatakan keseriusan dulu. Ayolah Ge, kau bisa melamar Mei untuk Rion kan. Kau juga pasti bisa melamar Dean. Serge memukul pipi kanannya, itu kan beda. Semburat kesedihan karena tidak berhasil meyakinkan diri muncul.


Setelah bersih dan segar, Serge keluar dari kamar mandi. Memaki kaos dan celana pendek, karena rencananya mereka mau bermain air setelah makan nanti. Saat sedang menyisir rambut di depan cermin, ketukan pintu mengagetkannya yang masih sambil melamun meyakinkan diri. Kalau Dean sebaik itu, walaupun dia menolak untuk menikah sekarang, tapi dia yakin tidak akan dicampakkan Dean.


"Siapa?" Serge meletakan sisir dan berjalan ke pintu.


"Aku Kak, Harven."


Harven? Kenapa dia?


"Masuklah Ven!"


Harven muncul setelah pintu terbuka, dia membawa sebuah tas kertas. Lalu meletakkan di atas tempat tidur. Dia duduk di tepi tempat tidur, tersenyum sekilas pada Serge. Penampilan Kak Ge santai sekali pikir Harven.


"Kenapa? Kamu bawa apa itu?"


Harven menepuk tas di sebelahnya.


"Kak, kata Kak Rion, Kak Ge disuruh ganti baju formal, karena katanya ada tamu penting yang akan datang." Bicara sama persis seperti yang diajarkan pada Harven tadi waktu dia menerima tas. "Ini baju ganti Kak Ge, sudah disiapkan."


Setelan wajah Harven sangat serius ketika bicara.


"Hah? Tamu penting siapa?" Serge meraih tas di atas tempat tidur, saat mengeluarkan isinya, dalam sekali lihat saja dia sudah tahu kalau ini memang ukuran bajunya. Tapi, siapa yang menyiapkannya. Memikirkan Rion yang menyiapkan ini membuatnya merinding, sejak kapan si gila itu perduli hal yang beginian. "Rion di mana? Ah, hp, biar ku telepon dulu dia. Memang siapa yang mau datang sampai aku disuruh ganti baju. Padahal aku mau kencan dengan Dean."


Baru saja mencari nama Rion, Harven tiba-tiba bangun dan merebut hp yang sudah ada dalam genggaman Serge. Membawanya menjauhi Serge.


Apa sih, Harven ini, kenapa dia iseng begini?


"Kata Kak Rion, Kak Ge di suruh cepat. Sudah ya, ganti buruan, aku tunggu di luar."


"Hei Ven, hp ku!"


Harven sudah menghilang ditelan pintu yang tertutup, laki-laki itu masih sempat menggoyangkan hp Serge di dekat pintu tadi. Apa sih, anak itu. Cuma bisa mengeluh dengan sikap aneh Harven. Dan ditengah kebingungan itu, Serge tetap melepas kaos yang sudah dia pakai dan berganti baju yang ada di dalam tas. Ini kenapa sih? Kenapa Rion tidak bilang apa-apa? Memang tamu penting siapa. Urusan pekerjaan? Aaaaaa bikin pusing saja, kenapa aku harus mengurus pekerjaan lagi si, aku kan mau kencan setelah makan siang nanti. Aku mau pergi dengan Dean.


Walaupun agak muram saat keluar kamar karena rencananya berantakan, Serge mengencangkan dasi dan tersenyum pada Harven yang ternyata menunggu di depan kamar.


"Kau menunggu?"


"Wahhh, Kak Ge keren banget. Aku foto ya. Lihat sini Kak."


Harven tidak menjawab kata-kata Serge, tapi langsung mengambil foto beberapa kali, dengan kamera hp milik Serge. Cekrak cekrik berbagai gaya. Bahkan Harven meminta Serge untuk membuat berbagai gaya. Dengan wajah bodohnya, Serge ikut aja lagi, apa perintah yang keluar dari mulut Harven. Setelah agak sadar dengan tingkahnya sendiri, Serge baru memukul lengan Harven.


Kenapa aku tidak bisa menolak bocah ini juga si. Efek menyayangi Mei, memang menjalar ke seluruh keluarga.


"Hei, sudah-sudah."


"Wahhh, Kak Ge seperti orang mau lamaran. Hihi." Harven menutup hp setelah melihat hasilnya sekilas.


Lamaran apanya! Dasar bocah, kau tidak tahu aku sedang gelisah setengah mati karena tidak tahu bagaimana harus mengatakan keseriusanku pada Dean. Seperti kumbang yang kehilangan arah, walaupun kelopak bunga sudah ada di depan mata. Tinggal dor, tapi malah keberanian di hati Serge masih maju mundur, hilang muncul seperti ombak yang menerjang pantai.


Hah! Sudahlah, sekarang fokus pada tamu Rion dulu nanti pikirkan lagi bagaimana aku mengatakannya pada Dean.


"Ayo Kak, tamunya pasti sudah menunggu."


Semua yang dilakukan Harven sejak tadi terasa aneh dan mencurigakan bagi Serge, tapi masalahnya akalnya tidak sampai menduga ke mana-mana. Karena dia hanya percaya, ada tamu penting yang harus dia temui, seperti yang dipesankan Rion.


"Siapa Ven? Tamunya?"


Harven mengangkat bahu, sebagai jawaban kalau dia tidak tahu.


Begitu pintu vila terbuka, suasana yang tadinya sepi sudah terlihat normal. Bahkan Serge melihat nyonya dan Presdir diantara tenda-tenda yang ada di dekat pantai. Dia memicingkan mata, apa salah satu tamu penting itu sedang bersama Presdir. Keberadaan Rion dan Mei tidak terdeteksi. Saat sedang melihat keadaan, muncul Kendra dengan kameranya. Baim dan Mona juga. Tidak masalah bagi Serge mereka mau membawa kamera.


Tapi kenapa? yang jadi objek kamera mereka itu aku!


Bukannya mendapatkan jawaban dari para pemegang kamera, yang diterima Serge malah tepuk tangan. Orang-orang yang tadi terlihat beraktivitas masing-masing, sepertinya sekarang hanya berdiri melihat ke arahnya. Mereka bertepuk tangan, bahkan nyonya juga. Suaranya yang mendominasi di antara orang-orang.


Mungkin yang wajahnya kecut saat melihat pemandangan bingung Serge, hanya senior Mei. Yang hari ini rasanya patah hati berulang kali.


"Hei! Kendra! Kalian ini kenapa? Kalau kalian pikir ini hari ulang tahun ku kalian salah!"


Dasar gila! Kalian sedang mau memberiku kejutan atau apa si! Ini kenapa? Kenapa semua orang tepuk tangan dan melihat ku.


Di tengah kebingungan Serge terdengar suara teriakan.


"Kak Ge! Kak Serge!"


Suara Mei nyaring terdengar. Mengalahkan tepuk tangan orang-orang yang sudah mereda. Serge memutar kepala, mencari ke segala penjuru, keberadaan Mei. Tidak ada. Ini kenapa si? Serge semakin kebingungan. Suara Mei terdengar lagi, kali ini lebih nyaring.


"Kak Ge! Lihat ke atas! Kak Serge!" Teriakan Mei lagi. "Kak Ge, sini ke atas."


"Hei! Serge! Balkon!" Saat suara Rion yang terdengar, Serge langsung mendongak. Melihat Mei yang loncat-loncat kegirangan karena Serge sudah melihat ke arahnya. "Dasar bodoh!" Mei memukul lengan Rion karena laki-laki itu masih saja mengatai Serge.


Mereka ini kenapa si? Serge yang masih belum tahu ada apa sebenarnya semakin bingung. Dan kenapa kau masih di sana dasar gila! Masih pakai piyama lagi. Kau bilang ada tamu penting tadi. Saat melihat baju Rion masih sama dengan baju yang dia pakai tidur semalam.


"Hei! Rion! Kau bahkan belum ganti baju. Kau bilang ada tamu penting kan? Di mana dia?"


Teriakan Serge malah di sambut tepuk tangan, grup Presdir dan nyonya juga ikut bertepuk tangan paling keras. Kamera masih mengikutinya. Serge sampai tersentak kaget. Harven tertawa saat Serge meminta penjelasan.


"Hei! Ada apa si ini? Kalian sedang bosan ya, jadi mengerjaiku."


Tepuk tangan mereda begitu pula kata-kata Serge langsung terhenti, saat seorang gadis muncul dari arah vila bagian lain. Bibir Serge bergetar saking kagetnya.


Gadis cantik dengan rambut panjang terurainya, tangan lentiknya mengibaskan rambut saat berjalan. Dia memegang buket bunga di kedua tangannya. Memakai dress yang senada dengan pakaian yang Serge pakai sekarang.


Tunggu! Apa ini!


Deandra berjalan mendekati Serge. Wajahnya berbinar cerah dengan sangat cantiknya. Cahaya matahari yang cerah, semakin memancarkan sinar wajahnya yang berseri. Ditambah senyuman Dean yang semakin membuat Serge tidak bisa tidak terpesona.


Saat mereka sudah berdiri berhadapan. Dean menyodorkan bunga yang dia pegang, sorakan orang-orang datang dari segala penjuru semakin meramaikan. Sekali lagi, hanya senior Mei yang terlihat sangat shock dengan semua pemandangan ini. Tidak pingsan memang, tapi, dia jatuh terduduk di pasir.


"Dea, apa ini? Apa ini semua?" Serge yang sampai kehilangan kata-kata, pikirannya pun tidak bisa bekerja karena dia terlihat sangat kaget.


"Terimalah bunga ini dulu Kak, ini tanda cinta ku untuk Kak Ge."


"Apa?"


Saat pikiran Serge masih loading, suara panggilan Mei kembali memekik keras, menyuruh Serge untuk mendongak ke arah balkon. Dan saat semua mata tertuju ke Balkon. Mei merentangkan spanduk besar yang menjuntai ke bawah. Sementara Rion di sebelahnya membawa keranjang bunga, lalu menebarkan kelopak bunga itu seirama dengan spanduk panjang yang terbentang. Hujan bunga sesaat dari balkon vila, kelopak berterbangan terbawa angin bahkan sampai jatuh di depan senior Mei yang sedang terduduk di pasir.


"Kak Ge, apa kau mau menjadi pengantin laki-laki ku?"


Serge terbata membaca tulisan yang ada di spanduk, Rion menebarkan kelopak bunga lagi, membuat suasana hening itu semakin dramatis dan romantis. Deg.. deg... dada Serge rasanya ingin meledak saking bingungnya bagaimana dia mengekpresikan perasaan senangnya. Saat dia beralih menatap Deandra, gadis itu menyodorkan bunga ke dalam dekapan Serge.


"Menikahlah dengan ku Kak. Aku akan membuat Kak Ge, jadi laki-laki paling bahagia di dunia ini."


Walaupun rasanya ada yang aneh dari semua kejadian ini, tapi bagi semua orang yang berdiri menjadi saksi lamaran Dean pada Serge hanya merasa takjub saja yang ada. Tepuk tangan lagi, sambil bersorak-sorai, menyemangati Serge untuk menerima.


"Dea...."


Aaaaaaa! Kenapa jadinya begini si, kenapa malah aku yang dilamar! Mungkin itu yang sekarang sedang meledak seperti petasan di kepala Serge. Dia yang dari kemarin ketakutan sekedar membicarakan hal ini dengan serius pada Dean, kenapa malah sekarang.


"Aku kan yang seharusnya melamar mu?" Terucap juga dari mulut Serge. "Sungguh, aku sebenarnya sedang menyiapkan hati untuk melamar mu. Tapi kenapa kau malah duluan."


Aaaaaa! Kenapa aku bisa keduluan begini si!


Dean meraih tangan Serge yang masih memegang buket bunga. Gadis cantik itu tersenyum dengan hangat, lalu senyumnya berubah menjadi seringai.


"Kalau aku menunggu Kak Ge, bisa-bisa aku jatuh cinta pada laki-laki lain nanti. Karena tidak tahu, kapan Kakak mau melamar."


"Tidak boleh!" Suara Serge melengking, disambut tawa semua orang. "Tapi, aku tetap ingin melamar mu. Apa aku boleh melakukannya sekarang?"


Walaupun hanya bermodalkan kata-kata pikir Serge, karena dia belum menyiapkan apa pun. Sekedar sekuntum bunga sekalipun.


"Dean..."


"Ia, aku mau Kak. Aku mau menikah dengan Kak Ge."


"Belum!"


"Maaf, saking semangatnya aku. Walaupun sekedar niat, aku sudah sangat senang."


Orang-orang ikut tertawa dengan kelakuan Serge dan Dean. Serge memeluk Dean.


"Menikahlah dengan ku Dea, aku juga akan mencintai mu dan membuat mu selalu tersenyum dan bahagia."


Tepuk tangan menyambut lamaran Serge pada Deandra, gadis cantik yang beruntung mendapatkan hati laki-laki seperti Serge.


Yang diatas balkon saling pandang lalu tersenyum, mereka punya dunia sendiri untuk ikut merasakan kebahagiaan Dean dan Serge. Rion mengangkat spanduk yang dipegang Mei meletakkannya di pagar balkon, untuk menutupi wajah mereka yang sedang berciuman dia mengangkat keranjang bunga. Lalu, sisa kelopak bunga yang masih ada di keranjang dia tebar di atas mereka. Dengan baground bangunan vila, kelopak mawar yang berjatuhan di sela sinar matahari keemasan, mereka berciuman dengan mesra.


"Aku mencintai mu Mei."


Baim dan Mona, seperti tahu atau kebetulan saja melihat itu. Kamera mereka langsung sibuk membidik ke arah balkon.


Bersambung