
Disebuah sudut sekolah. Yang jarang didatangi anak-anak. Daun kering jatuh tepat di kaki Harven. Entah bagaimana awalnya tadi, sampai dia mengikuti seorang siswa yang tidak di kenalnya kemari.
"Kau datang juga akhirnya." Siswa yang tadi sudah lari menghilang meninggalkan Harven, ketika beberapa anak muncul dari belakang pohon.
Hah! Apa-apaan ini, siapa lagi mereka? Harven yang malas berurusan dengan hal merepotkan begini sudah mau balik badan. Kalau sampai terjadi perkelahian, bisa gawat kalau terdengar sampai ke telinga Kak Mei. Hanya itu yang dipikirkan Harven
Ketidak acuhan Harven menyulut kemarahan salah satu anak.
"Menjauhkan dari Sherina! Dasar menyedihkan." Kata-kata keras mengintimidasi.
Rupanya ini tentang Sheri, apa mereka fans Sheri. Dari kelas berapa mereka ini, adik kelas atau kakak kelas. Berusaha mengenali wajah-wajah siswa di depannya, tapi tidak ada yang dikenali Harven. Ya karen Harven memang tidak kenal siapa pun di sekolah.
"Maaf, kalian siapa ya?" Bertanya serius karena memang tidak kenal mereka.
"Dasar gila! Kau tidak kenal teman sekelasmu sendiri!" Salah satu menyalak marah dan tersinggung. "Dari awal aku sudah berfikir kau itu aneh, ternyata kau itu memang orang aneh."
Apa sih, dasar, kalian itu yang aneh, menyuruh orang kepojokan begini mau apa? main keroyokan lagi.
"Jangan menggangguku, aku hanya ingin sekolah dengan benar. Tentang Sherina, kalian protes saja padanya." Harven menjawab lugas langsung pada intinya. Kemudian dia berbalik, dan berjalan langsung tanpa mendengar pembelaan orang-orang di depannya.
Saat diteriaki untuk kedua kalinya Harven membalik badan. Menatap satu persatu siswa di depannya dengan kesal. Yang ditatap merinding ngeri lalu mundur.
"Sudahlah jangan ganggu dia, sepertinya dia memang orang aneh. Tapi kenapa Sheri menyukai anak begitu si, sampai menolakmu lagi." Yang dikatai marah, karena merasa terhina.
Malah mereka adu mulut sendiri sekatang. Harven meninggalkan mereka, cuma mendengus kesal. Waktu istirahatnya cuma buat meladeni orang tidak jelas.
...🍓🍓🍓...
Harven memasukkan semua buku ke dalam tas. Dia terlihat santai, karena dia sudah tidak bekerja paruh waktu. Biasanya dia kan berkejaran dengan waktu sehabis pulang sekolah supaya tidak terlambat datang ke kedai ayam goreng.
Dia berhenti bekerja, karena sudah ketahuan oleh Kak Serge.
Malam itu sehabis berbelanja Serge mendatangi kamar Harven, perasaan Harven sudah tidak tenang saat Serge terlihat sangat serius bahkan sampai menghela nafas saat duduk di atas tempat tidur. Dan benar saja.
"Ven, bisakah kau berhenti bekerja paruh waktu di kedai ayam goreng itu?"
Hah! Sial, dari mana Kak Serge tahu si. Satu-satunya tersangka adalah sepupu Sherina. Mengingat kejadian waktu itu saat Sherina menariknya menjauh untuk kabur. Kak Serge lama sekali bicara dengan sepupu Sherina.
Cih, padahal aku berhasil merahasiakannya dari Kak Mei selama ini.
"Kak, aku hanya bekerja setelah sekolah kok, nggak akan menggangu sekolahku." Sudah ketahuan, tinggal memohon Kak Serge merahasiakannya dari Kak Mei. Begitulah rencana Harven. Kak Serge kan baik hati, pasti mau membantunya menyembunyikan ini.
Tapi...
"Mei pasti khawatir kalau tahu kamu kerja Ven, apalagi sebentar lagi kamu ikut persiapan masuk universitas."
Ya, itu memang benar. Harven juga tahu itu, tapi dia mencari uang tambahan karena ingin meringankan sedikit saja beban Kak Mei. Walaupun dia tahu, uang yang dia kumpulkan juga tidak terlalu banyak. Tapi dia selalu merasa bangga setidaknya dia tidak berpangku tangan dan hanya melihat Kak Mei berjuang sendiri dari kejauhan.
Harven yang tahu susahnya mencari uang, akhirnya jauh lebih bijak menggunakan uangnya.
"Aku tahu kau mau membantu Mei, tapi sekarang Kak Mei kan sudah menikah, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang uang."
Harven semakin merasa sedih dan tidak berguna setelah mendengar kata-kata Serge.
"Maaf Ven, aku bukannya tidak menghargai usahamu. Tapi sekarang, kau harus memprioritaskan belajar kan. Persiapan universitas juga, nanti setelah ujian dan kamu masuk universitas, kamu bisa kerja paruh waktu kalau jadwal kuliahmu senggang. Saat itu Mei pasti bukannya sedih karena melihatmu bekerja, dia pasti malah akan bangga padamu."
Serge bicara dengan lembut, menyentuh pundak Harven pelan. Dia pun memuji Harven yang sudah bekerja keras dan tidak mengeluh selama ini. Karena kata-kata Serge yang menenangkan itu akhirnya membuat Harven menggangukan kepala.
"Baiklah Kak, aku akan berhenti bekerja, tapi jangan kasih tahu Kak Mei ya, aku pernah kerja paruh waktu."
Serge dan Harven membuat kesepakatan dengan membenturkan kepalan tangan mereka. Membuat janji sesama laki-laki.
Sekarang aku malah lebih nyaman bicara dengan Kak Ge, ketimbang Kak Brama. Huh, memang aneh sekali.
Begitulah kejadiannya, sampai akhirnya membuat Harven berhenti bekerja. Sekarang, sepulang sekolah tentu saja dia punya banyak waktu untuk belajar.
Saat Harven sudah menenteng tasnya berjalan menuju pintu, tiba-tiba dari belakang ada yang menarik tasnya. Sherina terkekeh, lalu merangkul lengannya.
"Hei, ini kan disekolah, kau janji kan akan menjaga sikap." Harven berusaha bicara dengan suara serendah mungkin. Supaya tidak ada yang melihat ke arah mereka.
Beberapa murid yang ada di dalam ruangan bersorak tiba-tiba.
Harven menatap Sherina, yang ditatap tertawa lalu nyengir. Kemudian menarik tangan Harven keluar kelas, menyusuri lorong, yang masih ramai karena bell pulang sekolah baru saja berdering.
"Kenapa kau membuat pengumuman segala si." Harven berjalan melewati anak perempuan yang bergerombol saling tunggu-tungguan.
"Supaya tidak ada yang merebutmu dariku."
"Dih, yang ada aku yang dituduh merebut bintang sekolah."
Perputaran gosip tentang Sherina pasti akan cepat menyebar, apalagi fans Sherina bisa dibilang lintas kelas. Gadis cantik di samping Harven melepas ikat rambutnya, menggoyangkan rambutnya yang tergerai dengan indah.
Ini anak kenapa lagi si, dia nggak sadar ya, kalau dia cantik. Main kibas-kibas rambut segala.
Langkah kaki Harven berhenti. Merebut ikat rambut dari tangan Sherina. Lalu tanpa bicara sepatah katapun, tangannya gesit bekerja. Mengikat lagi rambut Sherina seperti sebelum dia kibas-kibas tergerai barusan.
"Ven, kenapa?"
"Ini kan masih disekolah, rapikan penampilanmu." Asal menjawab, padahal karena tidak mau pesona Sherina menyebar kemana-mana.
Kalau dia membuka rambutnya, semua cowok yang tadi kami lewati langsung meliriknya. Dih, begitu saja nggak sadar. Tapi langsung nyerocos kalau ada siswi yang melihatku sekilas saja. Padahal yang harus disembunyikan itu wajahmu tahu. Harven segera menarik tangan Sherina yang malah tersipu-sipu karena rambutnya sudah dikucir Harven.
Gadis itu memang tidak tahu tempat, dimana saja bisa langsung berdebar saat Harven sedikit saja menunjukkan kepeduliannya.
Ketika langkah kaki keduanya menuju gerbang sekolah, sebuah mobil menepi. Suara klakson terdengar, membuat keduanya menoleh. Kakak sepupu Sherina menurunkan kaca mobil.
"Kakakmu sudah menjemput, pergilah."
"Lho, kenapa kita nggak bareng, rumah kita kan searah."
Padahal mereka sudah berjanji untuk pulang pergi bersama. Sherina yang membuat janji sendiri sebenarnya.
"Aku mau menemani kakakku belanja, katanya banyak yang harus dia beli." Harven sudah mendorong Sherina untuk mendekat ke mobil. "Masuklah."
Sherina memutar tubuh, berkelit dengan lihainya. Sekarang dia yang ada di belakang Harven, mendorong Harven sampai masuk ke dalam mobil. Laki-laki itu terlihat kesal karena Sherina malah main-main.
"Aku antar, duduk lah, lagian aku nggak ada janji."
Hah! Akhirnya Harven menghela nafas tidak bisa menolak kemauan Sherina, sambil menyapa Arman di kursi depan dia duduk bersandar.
Harven berbisik di telinga Sherina.
"Apa Kak Arman digaji orangtuamu untuk antar jemput? Dia benar-benar nggak ada pekerjaan ya?"
Pengawal pribadi Sherina yang sampai hari ini masih diakui sebagai kakak sepupu hanya bergumam dalam hati mendengar bisik-bisik Harven. Mobil melaju sesuai dengan alamat yang diberikan Harven.
"Dia kadang-kadang jadi sopir kakakku. Jadi sekalian antar jemput aku juga." Sepertinya Sherina belum berniat membongkar identitas asli kakak sepupu palsu.
Sebenarnya Sherina sudah mau jujur tentang identitasnya sekarang, karena mereka sudah pacaran. Tapi entah kenapa keraguan masih menghantuinya. Dia takut Harven akan menjaga jarak atau yang paling fatal meminta putus darinya. Di mata Sherina, Harven itu belum terlalu menyukainya. Status pacaran mereka saja masih coba-coba penjajakan. Nanti, kalau Harven sudah bucin dan cinta mati padanya dia baru mau jujur. Saat itu kan Harven tidak akan meninggalkannya.
Hehe, begitulah startegi nona muda itu mengurung buruan dalam dekapannya.
"Aku boleh menyapa Kakakmu Ven nanti?"
Kan, kalau dituruti merambat kemana-mana maumu.
"Siapa nama Kakakmu?"
"Ah, aku malu, nanti aku bilang apa ya. Aku pacarmu. Hihi."
"Eh, bagaimana penampilanku?" Sherina panik mengeluarkan sisir dari dalam tas. Saat menyentuh rambutnya, teringat kalau ikatan rambut dia sekarang adalah ikatan Harven. Tidak jadi dia lepaskan.
"Bagaimana, aku cantik nggak Ven?"
"Kakakmu nggak melarangmu pacaran kan?"
Sepanjang jalan sepertinya cuma Sherina yang tidak berhenti bicara. Kakak sepupu palsu cuma melirik sekilas di kaca spion, sambil bergumam. Duh nona, kalau tuan besar atau tuan muda tahu pacar Anda secuek ini pada kesayangan mereka sepertinya yang akan dimarahi itu saya. Hiks.
Mobil terus melaju, menuju tempat Harven dan Merilin janjian.
Bersambung