
Pagi hari dengan hembusan angin pagi yang masuk ke dalam balkon. Jendela sudah dibuka, supaya angin dan udara masuk membelai dedaunan dan beberapa bunga yang sedang bermekaran. Matahari belum terbit, masih malu-malu di ufuk timur.
Hari ini, Rion beraktivitas lebih pagi. Karena ada hal penting yang ingin dia lakukan. Padahal biasanya dia masih bergelung dengan selimut sambil bermalas-malasan. Sebelum satu jam dari jadwal dia belum bangun dari tempat tidur.
Tapi, hari ini berbeda.
Rion berdiri, menatap pot bunga. Dia terlihat puas dengan semua yang dia lakukan pagi ini. Duduk di kursi sampai memandang hasil kreasinya, meneguk jus buah yang sudah dibuatkan bibi. Sandwich sayuran dan isian ayam dan telur ada di sebelah gelasnya belum dia sentuh. Sekali lagi, dia menikmati pemandangan penuh warna di antara pot tanamannya.
Sayup, dia mendengar percakapan antara Merilin dan bibi pelayan yang datang beberapa hari sekali ke rumah. Hari ini bibi dia suruh datang jauh lebih pagi, dia berdalih dalam hati, supaya bibi melihat kemesraannya dengan Merilin dan melaporkannya pada ayah dan ibunya.
Mari bergerak, untuk melihat kejadian di dalam rumah.
Merilin sudah selesai bersiap, dia keluar dari ruang ganti sambil menarik koper pakaiannya. Hari ini batas toleransi Rion untuk melihatnya memakai baju-baju lamanya.
"Nona, biar saya saja yang membuangnya. Tuan muda berpesan untuk mengosongkan lemari Anda dan menggantinya dengan pakaian yang baru. Saya akan mencuci semuanya hari ini. Nanti malam sudah bisa Anda pakai." Bibi bergegas meraih koper dan tas Merilin.
Bagi Rion isi tas dan koper ini memang hanyalah sampah, namun bagi Mei, ini semua adalah barang berharganya. Dia tidak akan membuangnya begitu saja. Dia akan menyimpannya di rumah Harven. Semua benda berharga yang penuh dengan kenangannya.
"Aku saja Bi yang buang nggak papa kok." Merilin mempertahankan kopernya.
"Nggak papa Nona, ini kan berat." Bibi tetap mempertahankan koper supaya tetap berada di tangannya. Karena perintah dari tuan muda untuk membuang semuanya. Membuat bibi tidak menyerah begitu saja.
Merilin jadi merasa frustasi dengan kegigihan bibi. Tapi dia tidak bisa menyalahkan karena itu memang tugasnya. Akhirnya dia berkata sedikit jujur namun dibumbui kebohongan sedikit.
"Maaf Bi, ada barang-barang yang mau saya taruh di tempat adik saya, jadi semuanya nggak akan saya buang. Nanti Bibi bawa bantu ke bawah saja ya. Oh ya, Kakak di mana ya Bi?"
Kata-kata Merilin akhirnya berhasil membuat bibi melepaskan tangannya. Bibi meminta maaf. Lalu menunjuk balkon.
"Tuan muda sedang ada di teras Nona, apa Nona mau sarapan bersama tuan muda?"
Sarapan? Ah tidak-tidak, walaupun aku ingin sarapan tapi aku tidak mau sarapan bersamanya. Sekarang, tanpa disadari wajah Merilin merona merah setiap kali pikirannya berlabuh pada nama Rion.
"Tidak usah Bi, aku sarapan di kantor saja. Mau segera berangkat sekarang." Merilin berjalan menuju balkon sementara bibi ke dapur. Sepertinya dia akan menyiapkan sarapan untuk dibawa Merilin.
Sementara Merilin terlihat ragu di depan pintu teras, belum dia buka. Terlihat berfikir, apa yang dilakukan Kak Rion pagi-pagi di teras ya, gumam Mei. Apa dia sedang menikmati udara pagi sambil melihat tanaman. Didekatkan telinga ke pintu. Tidak ada suara apa pun.
Akhirnya di tariknya handle pintu, melihat Rion yang sedang duduk di kursi panjang sambil menaikkan kedua kakinya. Dia sedang makan rupanya.
"Kak Rion, maaf menggangu. Aku mau berangkat bekerja, mau pamit." Berharap Rion hanya mengibaskan tangannya, dan menyuruhnya pergi. Tapi sepertinya itu mimpi yang terlalu tinggi untuk Mei sekarang.
Dan benar saja, sepatah kata yang terucap dari mulut Rion sudah menghancurkan mimpi Mei untuk keluar dari rumah ini dengan segera.
"Masuk."
Hah! Tidak bisakah kau melepaskan ku begitu saja! Aaaaaaa!
"Baik Kak."
Pada akhirnya Merilin masuk juga, tubuhnya langsung terdiam saat matanya menangkap sesuatu yang terlihat lain dari pot-pot tanaman yang ada di depannya. Rion sudah bangun dari duduk, menangkap tubuh Merilin dari belakang. Memeluknya seperti waktu pertama kali dia masuk ke balkon ini.
"Kau suka?"
"Ia Kak, cantik. Ternyata bisa secantik ini saat ditempel di pot tanaman."
Stiker hadiah Baim yang harusnya di tempel di hp atau laptopo, sepertinya sudah menempel di semua pot. Lembaran kertas penempel stiker berserak di lantai. Dihitung Merilin ada lima lembar.
Pantas aku cari-cari tadi tidak ada.
Awalnya Mei mau membawa stiker itu diam-diam, karena berfikir Rion pasti sudah melupakannya. Tapi ternyata tidak seperti itu.
"Seharunya kau bilang kalau kau membelinya untuk menghias pot tanaman, aku kan tidak akan semarah itu kemarin." Bicara lembut dengan tidak tahu malunya. Begitulah Rion yang seenaknya.
Kau gila ya Kak? Padahal tahu itu hadiah untuk temanku. Dan mana ada orang yang sengaja membeli stiker begitu untuk ditempelkan di pot tanaman.
"Kau membelinya untuk itu kan?" Menutup fakta kalau Mei membeliny untuk hadiah temannya.
"Ia Kak, aku memang membelinya untuk pot tanaman Kakak. Aku senang karena Kak Rion menyukainya." Mencari aman saja Mei, begitulah akhirnya. Merilin menyetujui kegilaan Rion.
Tapi, kalau dilihat-lihat stiker-stiker itu membuat pot yang tadinya polos jadi lebih ceria. Ya sudahlah, memang nasib Baim cuma mendapat segelas kopi.
Merilin bisa merasakan, bibir Rion yang merayap dari pipi menuju lehernya. Dia seperti sedang menghisap aroma tubuh Merilin. Peluk semakin erat, lagi dan lagi. Angin yang ikut berbaur, menyentuh wajah Merilin. Cahaya keemasan mulai terlihat, ada yang nakal menerobos di sela jendela, membagi kehangatan pada dedaunan.
"Bibi sedang mengintip kita, jadi lakukan tugasmu dengan benar Mei." Bohong Mei, bibi nggak mengintip sama sekali, dia sedang sibuk menyiapkan bekal untukmu di dapur. "Ibu dan ayahku pasti penasaran dengan apa yang kita lakukan."
Memang aku harus melakukan apa! Semakin frustasi pagi-pagi, setelah dengan bibi sekarang dengan majikannya yang tidak tahu maunya apa. Merilin tidak tahu harus berakting bagaimana dengan posisi tubuhnya yang dipeluk dengan erat begini.
Memang tidak bisa ya kau bicara jelas dengan perintah mu. Kau mau aku melakukan apa sekarang?
"Mei."
Merilin memutar tubuhnya segera setelah namanya dipanggil dengan intonasi rendah, lalu gadis itu menyentuh kedua pipi Rion. Memberi kecupan di seluruh bagian wajah Rion.
"Aku pergi bekerja ya Kak, sampai jumpa nanti malam." Bicara dengan suara yang lembut dan imut yang dibuat-buat, Mei bahkan mau muntah mendengar suaranya sendiri, tapi anehnya Rion malah tersenyum, lalu mencium bibir Merilin, diakhiri dengan tertawa.
Dia ini memang aneh, tertawa untuk hal-hal yang tidak lucu.
"Pergilah, kembali sebelum aku pulang."
"Memang Kak Rion nanti pulang jam berapa?"
"Mana ku tahu, kau pikir saja sendiri."
Gerrr, bisa tidak si, kau tidak menghancurkan suasana!
"Kan biar aku tidak terlambat Kak, Makanya aku bertanya."
"Mana ku tahu aku pulang jam berapa, yang pasti kau sudah harus ada di rumah sebelum aku. Kau pikir sendiri caranya."
Hal yang pertama ingin aku lakukan kalau bisa membalasnya adalah memukul kepalnya, lalu membalikkan kata-katanya dengan angkuh begini. Hiks, kapan ya aku punya kesempatan.
"Kalau begitu nanti aku mengirim pesan pada Kak Rion, tolong dibalas ya Kak."
"Kau tidak bodoh juga ternyata."
Semoga kau tersandung saat jalan di loby kantor nanti Kak, dan Mona akan pamer foto-fotomu yang terjatuh.
Rion masih menempel pada Merilin saat mereka keluar dari teras balkon. Bibi yang melihat kemesraan pengantin baru di depannya terlihat sangat senang. Dia tersenyum puas, akan membawa kabar baik ini untuk nyonyanya. Dia mendekat menyerahkan kotak makanan kepada Merilin.
"Ini untuk sarapan Anda Nona."
"Awww, terimakasih Bi." Tidak menduga akan mendapatkan bekal dari bibi. "Aku akan menghabiskannya dengan bahagia nanti, terimakasih banyak." Mendekap kotak makanan di dadanya.
"Kau senang sekali sepertinya."
"Hehe..." Merilin nyengir sambil melihat Rion. "Aku pergi ya Kak sampai jumpa nanti." Mengecup pipi kanan Rion dua kali. Bibi yang menonton sampai terkejut. Dia semakin tersenyum senang saat tuan mudanya membalas dengan memberi kecupan di bibir istrinya.
Ah nyonya dan tuan, kalian berdua tidak perlu khawatir, tuan muda dan nona sangat romantis begini. Begitulah yang terngiang di kepala bibi.
Merilin melambaikan tangan, bibi sudah keluar dengan membawa koper dan tas miliknya. Akhirnya dia keluar juga dari sarang harimau, tidak sarang manusia bunglon karena dia bisa berubah wajahnya secepat dia menarik nafas.
Dengan tangan bergetar gadis itu menyentuh mobil barunya. Mobil yang terlihat sangat mewah dan menawan. Dia menjatuhkan kepalanya di kemudi, bingung sendiri bagaiman harus menjelaskan kalau sampai ada yang melihatnya ke kantor membawa mobil.
Ah telepon Harven dulu. Bilang mau meletakan barang nanti.
Panggilan segera terhubung, setelah bicara sebentar, gadis itu mulai menghidupkan mobil. Dengan hati berdebar keluar dari area parkir apartemen menjumpai jalanan ramai, orang-orang yang akan pergi baik menuju sekolah ataupun tempat kerja sudah mulai ada di jalan raya.
Merilin bergumam pelan saat mobil berhenti di lampu merah. Apa inilah cara Tuhan menjawab doa-doanya selama ini, untuk terbebas dari hutang ayah dan hidup dengan lebih baik. Merilin mengetuk kemudi, lalu menderukan mobil dengan cepat.
Apa Tuhan memang mengirim Kak Rion sebagai penyelamat hidupku. Ah, Mei kenapa kau berfikir orang gila itu sebagai penyelamatmu. Wajah Merilin memerah, karena lagi-lagi kegiatan malam langsung muncul di kepalanya.
Dia memang menyelamatkan hidupku, hiks, mau aku mengakui ataupun tidak. Dia memang menyelamatkan hidupku. Walaupun aku tetap harus membayarnya dengan tubuhku. Hiks.
Merilin menyentuh lehernya, kalung yang lebih sederhana dari kalung pernikahan. Rion memberikan kalung ini di dalam tas semalam.
Tapi kenapa inisial liontinya MR, ah anggap saja itu singkatan Merilin. Haha, bodoh kalau kau berfikir begitu Mei. itu pasti kepanjangan dari milik Rion. Gadis itu tertawa sendiri, karena masih merasa beruntung, tulisan di liontinya bukan boneka Rion.
Tak terasa, mobil sudah masuk ke dalam area parkir kantor. Merilin melihat sekelilingnya, keluar mobil setelah memastikan tidak ada orang. Dia berlari masuk ke dalam gedung dengan cepat sebelum ada yang melihatnya.
Bersambung...