Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
121. Lembaran Hidup Baru


Disebuah rumah yang terasa dingin, bukan hanya karena suhu ruangan yang rendah. Bukan karena hembusan angin yang masuk melalui ventilasi udara. Namun, karena tidak ada kedekatan hati para penghuninya. Membuat suasana dingin yang memenuhi setiap sudut rumah.


Ya, dulu Amerla tidak pernah memusingkan itu. Karena ia punya banyak teman yang membuatnya tidak pernah menghabiskan waktu di dalam rumah. Dia juga bekerja dari pagi dan sore hari, pulang hanya untuk istirahat. Setelah menikah pun, dia langsung pindah. Hingga dia tidak pernah memusingkan kehangatan keluarga.


Namun sekarang, rasanya menyakitkan.


Ketika hati tersakiti, sedikit demi sedikit dia akan membuat pemilik hati kehilangan sinarnya. Seperti kelopak mawar yang telah merekah, satu persatu, layu termakan waktu. Begitulah yang terjadi pada Amerla.


Dia tidak keluar dari kamarnya kecuali untuk mengambil makanan. Hari pertama, ibunya masih berisik, hari kedua ayahnya datang untuk memarahinya. Setelah lelah memarahi Amerla, karena gadis itu hanya terdiam, tidak membantah ataupun menyanggah, apalagi membela diri. Membuat yang marah lelah sendiri. Dan akhirnya mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ayahnya bekerja, ibunya dengan dunia sosialitanya.


Namun, di akhir pekan, karena ada di rumah, mau tidak mau mereka merasakan keberadaan Amerla. Dan itu memancing emosi ayahnya lagi. Apalagi menantunya Ibram mulai mempermasalahkan laporan keuangan yang dia kirimkan. Untung saja, modal tidak ditarik kembali. Ibu Amerla akhirnya mendatangi kamar gadis itu. Mengetuk pintu dengan suara sangat keras supaya anaknya terbangun dari dunianya.


Saat pintu berderik terbuka, seraut wajah yang tampak layu dan lusuh terlihat. Ibu sampai menganga tidak percaya, dimana menghilangnya paras cantik anaknya yang selama ini dia banggakan. Dia semakin geram, bisa-bisanya anaknya berubah menyedihkan begini.


"Erla, kau sudah gila ya! Sampai kapan kau mau disini!"


Ibu masuk ke dalam kamar, melihat setiap sudut kamar. Tumpukan kertas ada di mana-mana, bahkan sebagian berserak, Piring sisa sarapan masih tergeletak di atas meja. Jendela kamar yang tertutup. Dengan kesal, ibu berjalan ke dekat jendela, mendorong jendela kaca sampai terbuka dengan lebar, angin langsung menampar wajah ibu dan masuk ke dalam kamar.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Erla? suamimu bahkan tidak mencarimu. Mertuamu juga tidak mengangkat telepon ibu."


Ibu Amerla sudah tahu, karena mertuanya menghubunginya saat itu. Menuding dia tidak bisa mendidik anak, karena Amerla menggoda laki-laki lain rekan bisnis suaminya. Betapa malunya ibu Amerla saat itu. Dan sekarang, pandangan mata ibu melihat kertas yang berserak, kau malah berkutat dengan desain-desain baju lagi. Dasar! Kau tidak tahu situasi sudah separah apa sekarang!


Amerla hanya diam, duduk di atas tempat tidur. Menatap jendela yang terbuka. Ternyata sejuk ya gumamnya udara di luar sana. Sepertinya sudah lama aku tidak menghirup udara segar.


Masih membisu, gadis itu bangun. Merapikan kertas-kertas desain yang berserak di lantai. Dia tertawa melihat apa yang dia lakukan beberapa hari ini. Seperti orang gila, dia menggambar desain lagi. Dulu, dia menciptakan baju-baju untuk game Kak Rion. Laki-laki yang membanggakannya, yang bilang, tangannya seperti tangan dewa, karena setiap goresan tangan itu selalu menciptakan keajaiban. Kak Rion selalu memuji hasil desain bajunya. Ditatapnya lagi hasil desainnya, kali ini dia membuat desain pakaian untuk manusia. Bukan untuk game.


"Jangan kaget kalau Kak Ibram mengirimkan surat perceraian Bu." Pelan, Erla bersuara. Sambil duduk di kursi, dengan setumpuk kertas di depannya.


"Kau sudah gila ya! Lalu bagaimana dengan perusahaan ayahmu. Kau mau membuat keluarga ini jatuh miskin, setelah miskin, memang kau mau apa. Dengan status jandamu itu." Ibu masih mengoceh, bagaimana nasib adik perempuan Amerla kalau kakaknya menjadi janda.


Tanpa sadar, Amerla meremas satu lembaran kertas kosong. Kenapa kau hanya perduli dengan nasib perusahaan suamimu Bu, aku ini anakmu. Aku yang menderita. Namun, gadis itu benar-benar sudah merasa lelah, hingga dia tidak mau menyanggah apa pun yang ibu keluhkan. Walaupun dia disalahkan sekalipun, dengan nasib adiknya.


Terserah kalian saja, mau menyalahkan ku atau apa. Asal jangan memukulku atau mengusirku. Memilih diam seribu bahasa, supaya ibu dan ayahnya tidak terpancing amarahnya. Karena kalau dia diusir, dia tidak tahu mau menuju ke mana.


Suaminya, Ibram bahkan tidak mencarinya. Padahal hari ini ulang tahun pernikahan mertuanya. Artinya akan ada tamu dari keluarga besar yang datang. Dia yang menghilang, seperti sesuatu yang tidak berarti. Bahkan keberadaannya yang tidak terdeteksi, seharunya bisa menimbulkan prasangka keluarga besarnya kan. Tapi, Ibram bahkan tidak muncul di hadapannya. Untuk membawanya pulang. Gadis itu merasa, inilah ujung dari hubungannya dengan Ibram yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


Hati kecil Amerla merasa sakit. Namun, jika dia bertahan di rumah itu, bukan hanya hatinya yang sakit. Tubuhnya juga lebih menderita.


Ibu mendekat ke tempat duduk Amerla, memutar kursi yang di duduki gadis itu. Mengguncang bahu anak perempuannya.


"Dalam pernikahan pertengkaran itu hal biasa, kau kan yang salah di sini, kenapa kau menggoda laki-laki lain di depan suamimu." Ibu masih mengguncang bahu Amerla, menyadarkan anaknya. "Tentu saja dia marah. Yang harus kau lakukan adalah memohon pengampunanya, bukannya kabur dan jadi gelandangan begini. Kembalilah ke rumah mertuamu. Mohon ampun dan minta maaf, demi kita semua Erla. Ibu akan menemanimu. Sekarang, mandi dan berdandanlah, kita pergi ke rumah mertuamu dan berlutut di sana." Ibu kehabisan nafas setelah bicara, sejujurnya dia juga tidak mau berlutut dan merendahkan diri begini. Namun, dia juga harus menanggung malu ini karena kebodohan anaknya.


Amerla tertawa dalam hati. Ternyata, ibu tidak jauh berbeda dengannya. Nasib mereka sama. Sama-sama harus mengalah pada keegoisan seorang suami. Ibu yang harus meminta maaf, karena ayah juga tidak mau merendahkan diri di depan menantunya. Walaupun menantunya sudah memberikan uang yang sangat banyak bagi perusahaan.


"Kak Ibram menamparku Bu, dia memukulku, dia mendorongku ke tempat tidur dan melampiaskan hasratnya sesuka hatinya." Amerla menarik lengannya. "Bekasnya saja belum menghilang. Memar di tubuhku memang bisa hilang, tapi, bagaimana dengan yang disini Bu." Amerla menggores hatinya, dengan jemarinya. "Dan aku takut, aku akan mendapatkan perlakuan yang jauh lebih buruk, karena aku sudah berani kabur dari rumah itu. Jadi aku mohon Bu, aku mohon. Kali ini, tolonglah aku. Tolong anakmu yang tidak berdaya ini."


Ibu melepaskan tangannya. Menjauh dari kursi dan anaknya. Dia masih mau marah, tapi dia tidak punya kata yang tepat untuk dia ucapkan sekarang.


"Aku mau membuka lembaran hidup yang baru Bu."


Amerla tertunduk, dia memutar kursinya. Meraih kertas dan pensil, tidak mau menjawab kata-kata ibu. Dari semua hal yang diucapkan ibu, sama sekali tidak terselip sedikit pun kekhawatiran ibu pada dirinya.


"Erla! Sadarlah! kau kan yang memilih untuk menikahi Ibram, jadi sekarang apa pun resikonya kau harus menanggungnya. Lagian, dia tidak bersikap kasar padamu sebelumnya kan, kau yang memancingnya dengan menggoda laki-laki lain." Kata-kata ibu cuma berputar di situ saja. Intinya menyalahkan Amerla, dan meminta gadis itu mengalah sekali lagi, demi kebaikan semua orang.


Karena tidak menjawab, malah mulai menggambar, ibu menjejakkan kaki marah, membanting pintu dan keluar dari kamar. Tetesan airmata jatuh di kertas gambar yang dipakai Amerla mendesain baju.


Gadis itu tidak langsung sadar begitu saja. Dia menghujat Merilin yang sudah mencuri satu-satunya harapan hidupnya. Siang dan malam dia memaki nama itu. Mengatainya gadis jelek dan kampungan tidak tahu diri, bagaimana bisa dia bersama Kak Rion. Dia tidak pantas berdiri di samping laki-laki sekeren Kak Rion.


Amerla juga masih menyebut nama Kak Rion berulang kali, supaya Tuhan menjawab doanya, bahwa dia ingin Kak Rion kembali. Kalau dia mau bersama Kak Rion.


Namun, semakin lama memaki, semakin marah hatinya, dia tidak mendapatkan apa pun selain rasa lelah, hingga hanya bisa jatuh tersungkur, menggigil memanggil nama Kak Rion yang sama sekali sudah tidak perduli padanya. Dia menangis dan marah berulang kali.


Saat sedang jatuh terduduk di sudut kamar, saat sedang meratapi nasib, tangan Amerla menyenggol sesuatu. Sebuah buku sketsa jatuh menimpa kakinya. Dia meringis kesakitan sambil meraih buku.


Kenapa kau juga! Kau juga sedang menertawakan nasibku kan!


Amerla memukul-mukul buku sketsanya, berhenti saat matanya melihat tulisan di sudut sampul buku. Airmatanya tidak bisa dia bendung, jatuh bercucuran begitu saja. Buku yang dia pegang sekarang, adalah hadiah dari Kak Rion. Hadiah pertama kali setelah mereka resmi pacaran. Dia ingat, bagaimana ekspresi wajah dan senyuman Kak Rion saat memberikan buku ini padanya.


Untuk Erlaku, teruslah bersinar seperti semua desain yang kau buat. Kekasihku. Aku akan selalu ada mendukungmu.


Dan seketika, seperti sebuah tamparan, kata-kata itu membuka pikirannya.


Aku yang sudah membuang laki-laki baik itu, aku yang membuangnya. Aku yang bodoh, aku yang gila. Aku yang menganggap uang adalah segalanya. Aku yang tidak mau hidup miskin bersama pemilik perusahaan game kecil. Hiks, hiks. Aku yang bodoh. Aku yang sudah menyakiti hati Kak Rion.


Semalaman gadis itu menangis di sudut kamarnya, itu terjadi saat dia baru kembali ke rumah orangtuanya. Menangis sesenggukan sampai tertidur di lantai, memeluk buku sketsa hadiah dari Kak Rion.


Mungkin sudah terlambat untuk menyesal, namun jika diberi kesempatan, gadis itu ingin bertemu sekali saja dengan Kak Rion dan istrinya Merilin. Bukan untuk menggangu mereka, namun dia ingin menuntaskan masa lalunya dan hidup dengan membuka lembaran baru lagi. Setelah meminta maaf pada mereka berdua.


Hah! Tapi, sepertinya Kak Rion sudah tidak mau melihatku lagi.


Angin berhembus masuk ke dalam kamar, melalui jendela yang terbuka. Gadis itu menatap ke luar, lalu membawa kertas kosong dan pensil berjalan keluar balkon. Siang sudah merangkak naik.


"Apa yang sedang dilakukan Kak Ibram ya? Apa pesta ibu dan ayah mertua sukses? Atau hari ini, Kak Ibram membawa wanita lain ke pesta orangtuanya dan mengumumkan kalau kami sudah bercerai."


Tidak tahu, apa arti airmata yang mengalir di sudut mata Amerla. Namun, bibirnya memaksakan diri tersenyum. Tidak tersisa harapan untuk cinta dan mencintai di hatinya sekarang. Kalau ada sesuatu yang membuatnya ingin hidup, hanya inilah yang ingin ia lakukan.


Satu goresan pensil mengotori kertas putih yang dia pegang.


Bersambung


Curhat:


Kalo aku sebagai pembaca, aku pengen Erla dan Ibram balikan, dan jatuh cinta 😆


Kalau kalian gimana? ✌️🏃🏃