Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
124. Ingatan Ibu Kembali


Minimarket yang mereka datangi masih di dalam komplek perumahan. Berjalan kaki saja mereka sudah sampai. Barang yang dijual juga beraneka ragam, segala kebutuhan sehari-hari bisa didapatkan tanpa keluar dari komplek perumahan.


Setelah membayar semua bahan makanan yang diminta ibu, dan barang yang dibeli Sheri, mereka sudah terlihat berjalan beriringan keluar dari halaman minimarket. Harven membawa kantung belanjaan yang terlihat lebih berat. Sheri membawa satu. kantung berisi camilan. Ringan, dia peluk dalam dekapan.


Mereka berjalan di pinggir, sengaja memilih bawah pohon supaya panas matahari tidak terlalu menyengat kulit.


Berjalan pelan, sambil menikmati waktu bersama.


"Ven..."


"Hemm, kenapa?"


Langkah mereka perlahan. Berpapasan dengan pejalan kaki dan pengendara mobil baik yang keluar maupun masuk ke dalam komplek perumahan.


Sheri terdiam sebentar, lalu nyengir. Dia mempererat dekapan kantung di dadanya. Memberi semangat pada hatinya sendiri. Dia sedang berdebar, karena mau bicara serius dengan Harven.


"Kau mau ke rumahku, berkenalan dengan orangtua dan kakakku." Akhirnya, meluncur juga kalimat yang sudah dia latih di rumah tadi.


Deg..


Langkah kaki Harven langsung terhenti. Pikiran laki-laki itu jadi beraneka ragam. Selama ini Sheri memang tidak merahasiakan keluarganya, walaupun gadis itu memang tidak menyebutkan siapa nama orangtuanya. Harven juga tahu, keluarga Sheri kaya berbeda dengan dirinya.


Namun, saat berfikir, dia harus berdiri di hadapan keluarga Sheri, dengan statusnya sekarang, entah kenapa dia takut. Ia, kalau keluarga Sheri seperti keluarga suami Kak Mei, yang menerima latar belakang keluarganya. Bagaimana kalau keluarga Sheri seperti keluarga kakak iparnya, seperti orangtua istri Kak Brama, bagaimana?


Aku bahkan masih sekolah, belum punya penghasilan sendiri. Sudah tidak memiliki ayah. Tidak ada jaminan kekayaan atau latar belakang keluarga yang bisa dia banggakan. Dia malu. Harven merasa rendah diri. Dia tidak perduli teman di sekolah yang menggunjingnya dan bilang dia tidak pantas untuk Sheri. Namun, dia juga cukup sadar diri.


Ah, sial! Apa sekarang waktu yang tidak tepat. Sheri menyesal sudah mengatakannya. Karena terprovokasi Kak Arman, dia jadi sedikit berani. Namun, melihat keterkejutan Harven, dia menyesal bertanya sekarang.


Bagaimana kalau Harven belum terlalu menyukai ku, dan akhirnya berfikir ulang tentang hubungan kami. Aaaaa! Tidak! Tidak mau! Sheri tiba-tiba terserang panik. Mereka sudah kembali berjalan.


Tiba-tiba.


"Tidak mau! Aku tidak mau putus dari mu." Bicara dengan lantang, membangun tembok tinggi yang tidak bisa dirobohkan oleh keraguan Harven. Sheri sedang bersikap keras kepala, walaupun Harven belum mengatakan apa pun. "Kalau kau belum siap bertemu orangtuaku nggak papa, kalau begitu nanti saja setelah kau siap. Aku juga tidak memaksamu kok. Tapi, aku juga nggak mau putus darimu." Memberondong lagi dengan kata-kata.


"Apa sih." Harven menggoyang tangan di atas kepala Sheri. "Memang siapa yang mau putus, kalau kau mau sekalipun, aku belum tentu mau. Beri aku waktu untuk menyiapkan hati dulu."


Mereka sampai di depan gerbang. Sheri berhenti melangkah. Menyentuh kepalanya. Dadanya rasanya meledak-ledak sekarang, meresapi kata-kata Harven. Apa aku sudah membuatnya tergila-gila padaku. Aaaaaaa! Memekik tanpa suara. Saking senangnya sampai lompat-lompat. Sheri berlari mengejar Harven yang sudah masuk ke halaman. Dia menutup gerbang.


"Harven, ulangi lagi, yang tadi kamu katakan! Aku mau merekamnya!" Sudah mengacungkan hp di depan wajah Harven. "Ulangi, katakan beberapa kali. Dengan berbagai bahasa juga boleh."


Harven tergelak sambil meletakan tas belanja di teras rumah.


"Merekam apa, singkirkan hp mu."


"Nggak mau, ucapkan lagi, kau yang tidak mau putus dariku tadi. Ulangi, berulang-ulang. Kamu sudah bilang lho. Sudah janji lho, ingat itu."


Kenapa dia jadi imut dan lucu begini si! Harven mendapat serangan bertubi dari Sheri. Cara bicara dan tingkahnya yang semakin menggemaskan dari hari ke hari. Membuat Harven harus pintar-pintar mengendalikan ekspresi.


Pembicaraan tentang rekam merekam berhenti. Keduanya terdiam. Karena mendengar suara dari dalam rumah.


Suara duo meong mereka, meong, meong kucing dari dalam rumah terdengar. Suaranya cukup keras, seperti sahut menyahut. Sengaja seperti memanggil orang atau menunjukkan keberadaan mereka.


"Kenapa si meong Ven? Ayo cepat masuk." Sheri sudah memasukan hp ke kantung bajunya. Menyudahi rengekan untuk merekam kata-kata Harven.


"Kenapa mereka berisik sekali ya, kan ibu di dalam rumah." Harven membuka pintu yang tidak terkunci. "Ibu, kami pulang." Memanggil ibu dengan suara agak keras.


Selain suara dua meong, saat pintu dibuka, terdengar suara lain. Suara tangis ibu. Harven menjatuhkan plastik belanjaan. Berlari ke tempat ibu. Ibu sedang duduk di karpet di depan TV. Ada pecahan gelas berhambur di lantai. TV juga sedang menyala, sepertinya sedang siaran berita siang.


Harven dan Sheri kebingungan sesaat dengan situasi di depannya. Duo meong duduk di samping ibu. Mereka langsung diam setelah Harven dan Sheri masuk.


Melihat kedatangan Harven, suara tangis ibu bukannya mereda, malah semakin mengeras. Dia bahkan memukul-mukul dadanya. Sesekali terdengar jeritan pilu dari bibirnya yang bergetar. Seperti orang yang sedang meratapi nasib, karena baru mendapat kemalangan dalam hidup. Matanya sendu menatap anak laki-laki terkecilnya.


"Ibu, ibu kenapa? Apa ada yang sakit?" Kepanikan membuat Harven tidak tahu harus melakukan apa. Dia hanya bisa memeluk ibunya, sambil memeriksa kondisi tubuh. Apa ada yang terluka. Tidak ada apa-apa. Pecahan gelas juga berserak cukup jauh dari ibu duduk bersimpuh. Harven meraih hp di saku celana, menelepon Kak Mei. Tidak tahu harus melakukan apa lagi, hanya Kak Mei yang terlintas di kepalanya. Saat tangis ibu kembali pecah, hp di tangannya terjatuh. Harven semakin ketakutan, tangisnya bercampur dengan tangisan pilu ibu.


Sheri akhirnya meraih hp milik Harven, dan menjelaskan sebisanya, pada Kak Mei. Setelah menutup panggilan dia melihat pecahan kaca. Aku harus membersihkan itu kan, nanti kalau Harven atau terluka bisa gawat. Pakai apa ya? Tisyu, lap, penyedot debu? Agak kebingungan Sheri mau melakukan apa. Setelah mengingat bibi pelayan di rumah dia pergi ke belakang. Ternyata dia mencari sapu. Sheri mendorong pecahan kaca ke dekat tembok, dengan gerakan kaku. Dia yang tidak pernah memegang sapu seumur hidupnya, sedang berusaha semaksimal mungkin memastikan, Harven dan ibu tidak terluka sedikit pun.


Gadis itu mematung setelah meletakkan sapu dengan posisi terbalik di dekat tumpukan kaca. Sebenarnya masih berserak, Sheri hanya memindahkan serpihan itu dan tidak mengumpulkannya menjadi satu. Dia mau ikut menenangkan ibu, tapi takut malah akan memperkeruh keadaan. Jadi dia berinisiatif menunggu.


Harven sedang berusaha mengetahui kondisi ibu.


"Ibu kenapa? Bilang Bu, ibu ada yang sakit? Aku mohon Bu, jangan begini, aku takut Bu." Harven memeluk ibu. Suaranya bergetar. "Kalau sakit kita ke RS ya?" Menoleh pada Sheri. Tangannya yang gemetar diraih Sheri. Gadis itu juga duduk bersimpuh di samping Harven. "Kita ke RS ya Bu, naik mobil Sheri? Ibu sakit di bagian mana?"


Belum ada jawaban. Sheri mencoba menenangkan Harven dengan menepuk bahunya. Ibu menangis lagi. Memukuli dadanya lagi. Harven sampai memegang kedua tangan ibu, supaya berhenti memukul dadanya.


"Ayahmu, Ven. Ayahmu sudah meninggal. Aaaaa!" tangisan yang menyayat hati terdengar lagi. Sheri maupun Harven tentu saja tersentak kaget mendengar ucapan ibu. "Ibu, ibu...." menunduk dalam dekapan Harven. Perasaan sedih langsung menjalar, dari ibu kepada Harven maupun Sheri. "Ibu ingat sekarang Ven, ayahmu sudah meninggal Ven." Airmata ibu berjatuhan membasahi pangkuan Harven. Bahkan suara tangisnya pun menjadi serak. "Ibu...ibu."


"Ia, Bu, ia. Sudah nggak papa. Aku ada di sini sama ibu. Harven di sini sama ibu sekarang."


Harven melepaskan pelukannya. Menatap wajah sembab ibu. Menghapus cucuran air mata di pipi ibu.


Tangisan ibu mengeras lagi, tubuhnya gemetar dengan hebat.


Wanita itu mengingat semuanya.


Kejadian tadi berlangsung tiba-tiba dan sangat cepat.


Kerinduan yang sudah menumpuk di hatinya, sedikit terobati dengan mimpi bertemu suaminya.


Sambil menunggu Harven, dia melamun, kapan suaminya pulang, hari ini suaminya pulang jam berapa. Kalau suaminya pulang masakan belum siap bagaimana.


Ibu membawa segelas air, mencari remot TV. Sambil melamun memikirkan jam berapa suaminya akan pulang. Kucing kesayangan Harven berlarian di dalam rumah kejar-kejaran, ibu merasa terhibur setiap melihat dua meong. Salah satu kucing tiba-tiba, melompat ke arah ibu. Ibu yang terkejut karena sedang memikirkan suaminya, melompat mundur saat tubuh kucing itu menabrak dadanya. Gelas ditangannya jatuh, pecah terburai ke lantai. Dia sendiri jatuh terduduk karena kaget.


Nafasnya menjadi cepat.


"Kecelakaan parah terjadi di persimpangan jalan, di akhir pekan jalanan ini cukup ramai dengan pejalan kaki. Sebuah mobil berwarna hitam menabrak seorang pejalan kaki dan kabur meninggalkan korban begitu saja, warga yang mengejar kehilangan jejaknya. Untung saja, masyarakat yang melihat tanggap dan memberikan bantuan. Korban tabrak lari pun di bawa ke RS tepat waktu.


Ibu yang masih terduduk karena kaget salah satu kucing melompat ke arahnya. Mendengarkan berita yang dibacakan oleh seorang pembawa berita. Vidio mobil yang ringsek, langsung tertangkap pandangannya. Wajah ibu terlihat lebih shock daripada saat gelasnya pecah tadi.


Tiba-tiba kepalanya berdenyut. Kecelakaan di persimpangan jalan. Kecelakaan, korban tabrak lari. Kecelakaan, kecelakaan, mobil berwarna hitam. Seperti tumpang tindih di kepala ibu. Ibu sampai meringkuk memegangi kepalanya. Duo meong mulai mengeluarkan suara meong-meong dengan suara keras.


Ibu jatuh di atas karpet sambil memegangi kepalanya. Ingatannya tentang hari kecelakaan itu kembali. Berputar-putar seperti benang kusut di kepalanya. Keringat dingin keluar dari tengkuk maupun keningnya. Setelah ingatan tentang kecelakaan satu persatu ingatan lain bermunculan. Dan tibalah pada ingatan yang paling menyakitkan dalam hidupnya.


Hari pemakaman suaminya.


Nafas ibu naik turun dengan cepat. Keringat semakin banyak keluar.


Ibu menangis sejadi-jadinya. Dia memukuli dadanya, memanggil nama suaminya. Menyebut nama anaknya satu persatu. Sambil ingatan dikepalanya berpadu satu persatu. Membuat rantainya, bahkan dia bisa mengingat dengan jelas, hari-hari bahagianya dengan suaminya. Kebangkrutan perusahaan, sampai hari dimana Tuhan memanggil suaminya. Hidup berat yang mereka jalani sepeninggal suami, membuatnya harus bekerja. Dan terjadilah kecelakaan itu. Semua merenggut hari-hari kebersamaan dengan anaknya. Karena dia harus di rawat di RS.


Dan kembali ke waktu sekarang.


"Ayahmu sudah meninggal Ven. Maaf, maafkan ibu!" Karena ibu sudah menyusahkan kalian. Ibu yang terbaring sakit semakin menyusahkan kalian. Kalimat itu berdengung di kepala ibu, namun tidak terucap. "Ibu malah...." Ibu malah berfikir ayah kalian masih hidup. Maafkan ibu Nak.


"Kenapa Ibu minta maaf, ibu nggak salah." Perasaan Harven jauh lebih lega, karena tahu alasan ibu menangis karena apa sekarang. "Ayah sudah meninggal Bu, ia. Kita sekarang hidup berempat. Aku, Ibu, Kak Mei dan Kak Brama."


"Ibu pasti menyusahkan kalian kan. Kenapa ibu nggak menyusul ayah kalian saja." Suara parau ibu menyusul Isak yang tertahan. Kalau dia menyusul suaminya, dia pasti tidak akan menyusahkan anak-anaknya.


"Ibu!" Kali ini Isak Harven bercampur marah. "Aku mohon, ibu jangan bilang begitu. Ibu sehat sekarang, aku, Kak Mei dan Kak Brama sangat bahagia Bu. Ibu nggak menyusahkan kami, kami yang bahagia karena ibu. Jadi jangan berfikir begitu. Aku mohon."


Sheri yang mendengar suara mobil di dekat gerbang, bergegas keluar. Dia melihat suami Kak Mei mendorong gerbang. Dan menggandeng Kak Mei yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan Harven.


"Ri, Sheri. Ibu kenapa?"


Sheri menahan tangan Mei yang mau masuk ke dalam rumah.


"Kak Mei, ibu nggak papa, tenanglah sebentar sebelum masuk. Harven sudah bisa menenangkan ibu." Sheri melihat ayah dan ibu Rion masuk ke dalam halaman. Dia bergumam, kalau dia mengenali mereka. Tapi buru-buru fokus pada Mei lagi. "Ternyata ibu sudah ingat Kak, ibu ingat, kalau ayah Kak Mei dan Harven sudah meninggal. Karena ingatan ibu kembali, dia jadi menangis sedih dan menyalahkan dirinya sendiri."


Deg, deg.


Mendengar itu kegelisahan dan ketakutan di sepanjang perjalanan sedikit menguap. Ibu Kak Rion mendekat dan menepuk bahu menantunya.


"Syukurlah Mei, semoga ini menjadi pertanda baik pemulihan kesehatan ibumu. Sudah, jangan menangis. Kalau sudah tenang, masuklah, kami menunggu di luar dulu sampai semuanya tenang."


Mei mengganguk. Kak Rion menghapus airmata yang masih menyisa, lalu menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.


"Ini berita baik Mei, jadi jangan khawatir."


"Ia Kak."


Mei melihat Ibu yang sedang berpelukan dengan Harven.


"Ibu..." Suaranya bergetar memanggil ibu.


Ibu yang melihat putrinya datang, kembali memecahkan kesunyian dengan tangisnya. Anakku yang malang. Anak Perempuanku yang paling menderita karena menanggung semuanya. Dia membuka tangannya, Kak Rion mengganguk, gadis itu berlari ke pelukan ibunya.


"Maafkan Ibu Mei, maafkan Ibu. Kamu pasti sangat menderita karena ibu kan. Ayahmu sudah meninggal Mei, kenapa kamu nggak bilang Nak." Menangis dengan tubuh gemetar sambil memeluk putrinya. "Maafkan Ibu Mei."


Tangisan ibu bukan hanya ingat suaminya yang sudah meninggal. Namun rasa bersalah pada putrinya berkali lipat jumlahnya. Dia ingat bagaimana Mei merawatnya di RS, anaknya yang lelah bekerja masih mendatanginya. Dia malah bercerita tentang suaminya yang sudah meninggal. Dan anaknya ini tetap tertawa dan tersenyum mengiyakan semua yang dia katakan.


"Maafkan Ibu Mei."


"Ibu, jangan bilang begitu. Jangan minta maaf. Ibu sudah ingat ayah sudah berpulang, ibu sudah sehat, itu kebahagiaan Mei. Ibu harus sehat dan hidup lama bersama kami. Mei sayang sama ibu. Jadi jangan minta maaf."


Airmata membasahi pipi mereka lagi. Namun kali ini airmata kebahagiaan. Ibu mengingat semuanya. Semoga ini awal ibu mengiklaskan kepergian ayah gumam Mei. Tangis-tangisan masih berlanjut, ibu bahkan meminta Rion mendekat. Wanita itu memeluk menantunya dan mengucapkan ribuan terimakasih karena sudah menjaga putrinya.


Sementara di luar rumah.


Ibu Rion menatap gadis muda yang menyambut mereka tadi. Agak memicingkan mata berusaha mengingat sesuatu.


"Kamu benar Sherina kan? Ya ampun Tante hampir lupa."


Aaaaa! Kenapa aku dikenali si sekarang. Sheri sedang kebingungan mau berkilah apa.


Ibu Rion menjelaskan pada suaminya.


"Dia putri Presdir Gardenia Pasifik Mall."


Bersambung