
Sore ini, kisah lain, akan menutup cerita akhir pekan.
Seorang gadis keluar dari rumah kontrakannya, dia memakai pakaian semi formal. Dengan dress selutut berwarna agak gelap. Tampak polos, namun karena dia memadukan degan bros yang tersemat di dadanya, dan kalung yang dia pakai, membuat penampilannya terlihat elegan. Sang komikus akan bertemu dengan keluarga dan orangtuanya. Jujur saja, itu bukan penampilan biasanya gadis itu. Tapi, hari ini dia ingin terlihat berbeda di depan orangtuanya. Mereka akan bertemu di sebuah restoran, untuk makan malam.
Ya, Ini kisah tentang Jesi. Sang komikus yang masih selalu dipandang sebelah mata kesuksesannya oleh orangtuanya, karena pekerjaan Jesi tak terlihat nyata, tak berwujud ID perusahaan yang bisa dibanggakan orangtuanya.
Diantara Mei dan Dean, mungkin jika dilihat dari banyak sudut pandang, gadis cantik dengan penampilan yang biasanya cuek ini akan memiliki banyak perbedaan. Tapi Jesi adalah Jesi, seorang gadis berjiwa bebas yang mengejar mimpinya dari awalnya tidak punya apa-apa, selain niat untuk sukses meraih mimpi. Mungkin dia berbakat, namun bagi Jesi, bakat tak akan berarti tanpa kerja keras, untuk orang sepertinya. Dan semua pencapaian yang dia raih adalah kebanggaan dan hasil kerja kerasnya, namun tak semua orang bisa ia puaskan dengan apa yang ia capai, termasuk orang tuanya.
Hei, kenapa kau malah memikirkan hal menyedihkan begitu, hardik Jesi pada hatinya. Karena setiap bertemu dengan orangtuanya, perasaan rendah hati dan merasa gagal sedikit menyisip di hati kecilnya. Membuat rasa takut dan cemas bermunculan begini.
Hari ini, Jesi akan mengenalkan Arman, pacarnya pada keluarga. Hubungan gadis itu dan Arman, semakin naik tingkat menuju keseriusan, dan Arman sendiri yang memintanya. Karena sebelumnya, dia pun sudah dikenalkan pada keluarga Arman. Jadi, permintaan Arman untuk bertemu dengan keluarga, tidak bisa lagi ditolak Jesi.
Gadis itu sempat minder dan merasa ragu saat berdiri di depan pintu gerbang rumah Arman kala itu. Karena ternyata, rumahnya masih satu kompleks dengan rumah Nona Sherina. Memang tidak sebesar rumah megah yang dia lihat dari kejauhan, namun bagi Jesi, keluarga Arman pun berada di luar jangkauannya. Kak Arman termasuk dalam jajaran keluarga kaya.
Kenapa dia memilih menjadi pengawal sekaligus sopir Nona Sherina ya? Kalau dari status, Jesi yakin, Arman bisa bekerja dengan baik di perusahaan besar. Ya, mungkin dia bisa menjadi petinggi di Gardenia Pasifik Mall seperti ayahnya. Tapi kenapa? Dia malah menjadi pengawal pribadi nona muda yang bahkan tidak terekspos kepada publik.
Tapi, tanda tanya di kepala Jesi tidak terlontar, karena seperti dirinya yang memilih menjadi komikus ketimbang bekerja di perusahaan, dia juga punya alasan, yang mungkin sulit dipahami oleh orang lain. Dia pun tak ingin berkilah, dan akan bingung menjelaskan kalau ada orang yang bertanya. Jadi, dia menyimpan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.
Aku juga tidak suka kalau ada yang bertanya tapi terkesan meremehkan, kenapa kamu malah cuma menggambar komik Jes, bukanya dulu kamu mau jadi sekretaris. Coba kamu kerja di perusahaan, atau jadi pegawai pemerintahan. Jesi, Jesi, kamu kerja apa sekarang? Hah, aku saja muak kalau ditanya begitu.
Jesi terjaga dari lamunannya, saat Arman menggoyangkan bahunya.
"Kak, rumah Kak Arman besar sekali." Jesi nyengir menghalau kegelisahannya. Setelah berhenti melamun, dia sadar, apa yang harus dihadapinya sekarang. Setinggi ini tembok yang harus dia lewati. Bagaimana kalau keluarga Kak Arman memandang rendah dirinya. Apalagi pekerjaannya yang sekedar komikus. Ah, Jesiii kenapa kau jadi memandang rendah dirimu. "Kak Arman, aku pulang saja ya?"
Arman tersenyum, lalu menoel dagu Jesi. Gadis yang biasanya selalu ceria tampak gelisah dan ragu. Laki-laki itu melihat ke dalam halaman rumahnya. Menebak, apa sumber kegelisahan Jesi.
"Ini rumah orangtua ku Jes, aku tidak punya saham sedikit pun di rumah ini. Hehe. Aku bahkan tidak tinggal di sini." Arman menyelipkan rambut Jesi, mengusir kegelisahan gadis itu. "Orangtuaku juga tidak akan memakan mu, jadi jangan tegang begitu. Tenanglah, mereka malah sangat penasaran dengan mu."
"Hah? Kenapa? Memang Kak Arman bilang apa sama keluarga Kakak? Jangan bicara aneh-aneh Kak." Jesi memukul lengan Arman, ketegangannya yang tadi sedikit menghilang, tiba-tiba muncul lagi. Jesi takut, kalau ekpektasi keluarga Kak Arman, jauh dari dirinya. "Aku semakin takut Kak. Kak Arman nggak bicara kalau aku itu wanita karir kan? Atau pegawai perusahaan. Kak!"
"Haha, tenanglah, aku menyuruhmu tenang, kenapa malah panik begitu. Keluarga ku pasti menyukai mu Jes, ya mereka malah pasti sangat berterimakasih padamu, karena kamu mencintai anak mereka yang aneh ini."
Apa si Kak? Membuat Jesi bersemu malu sekaligus bingung.
Arman bergumam dalam hati, malah mereka pasti bakal heboh menyambut mu. Apalagi ibu. "Ayahku agak kaku, jadi jangan tersinggung kalau dia bahkan tidak tersenyum padamu ya. Cuma ibu yang bilang ayahku tampan dan mempesona, padahal menyeramkan begitu." Ayah Arman memang tipe laki-laki yang seperti itu, sebenarnya Arman juga heran, bagaiman ibunya bisa jatuh cinta pada ayahnya.
"Kak, aku pulang saja ya?"
"Haha, ayo masuk."
Dan terjawab sudah, apa maksud dari kata-kata Kak Arman tadi. Keluarga Arman menyambut Jesi dengan kehebohan, kecuali ayah Arman, yang sama persis dengan apa yang dia deskripsi kan.
"Ya ampun, jadi ini komikus favoritnya Arman, ibu sampai tidak percaya dan takjub kalau ada takdir Tuhan seperti ini." Ibu menepuk bahu suaminya bicara dengan antusias. Ayah hanya mengganguk. "Jesi ya, namanya secantik orangnya. Terimakasih ya Nak, karena sudah mencintai Arman yang begini."
Jesi gelagapan dengan serangan mendadak ibu Arman. Wajah ibu Kak Arman seperti memancarkan sinar keemasan yang menyilaukan.
Ibu Kak Arman, terlihat sangat cantik dan elegan. Tinggi semampai seperti artis atau pun model. Wajahnya sumringah dan ramah. Jesi sampai bengong sesaat. Gadis itu berfikir, mungkin saat muda, pesona kecantikannya ibu Kak Arman seperti Dean. Tidak, sekarang saja dia masih cantik. Gadis itu bergumam sambil menerima uluran tangan. Mereka berjabat tangan erat. Tidak bisa dibayangkan secantik apa dia saat muda dulu.
"Anda sangat cantik Tante." Reaksi yang sudah biasa di dapatkan ibu Arman, ketika bertemu orang baru. Arman juga cuma tersenyum karena dia pun sudah sangat sering melihat reaksi terpesona orang-orang pada ibunya.
"Ibu ku dulu mantan ratu kecantikan." Arman menyenggol lengan Jesi menyadarkan gadis itu, "Dia jatuh cinta pada ayahku saat jadi BA Gardenia Pasifik Mall." Penjelasan singkat lanjutan. "Dan perpaduan ayah dan ibu, jadilah kami." Arman menunjuk dirinya dan dua kakak perempuannya.
Pantas saja, Kak Arman setampan ini gumam Jesi.
"Benarkah? pantas saja, Tante terlihat sangat cantik dan auranya, aura bintang." Pancaran aura yang ditangkap Jesi, seperti sosok karakter utama dalam komiknya. Cantik, kecantikan yang membuat orang bisa teralihkan dan hanya melihat ke arahnya. "Maaf ya Tante, saya nggak pernah nonton TV. Tapi saya tahu, kalau Tante seorang bintang."
Ibu Arman tertawa sambil memukul bahu anaknya, kenapa malah bicara tidak penting begitu. Wanita itu sudah terbiasa dengan sanjung dan puji.
"Jesi yang cantik dan manis, haduh ibu saking berterimakasih kamu mau sama Arman sampai bingung mau bicara apa. Jes, tolong maklumi kalau Arman agak aneh ya. Dan kamu Arman, perlakukan Jesi dengan baik. Awas saja kalau kamu membuatnya sedih."
Keluarga Kak Arman keluarga yang hangat. Walupun ayahnya yang tampak kaku dan dingin, sungguh sangat kontras dengan ibu, namun makan malam dengan keluarga Kak Arman benar-benar menyenangkan. Obrolan mereka berjalan ke mana-mana. Pekerjaan Jesi sebagai komikus pun dipuji-puji, membuat Jesi merona. Rasa rendah dirinya menjauh.
"Hemm, pantes." Kakak perempuan Arman nyeletuk. "Selama ini Arman kan pacaran sama makhluk gepeng, kaget donk kita waktu dia bilang punya pacar di dunia nyata."
"Aku pikir tingkat kehaluannya sudah menembus dunia nyata. Ternyata benar punya pacar. Pacarnya yang menggambar pacar dia sebelumnya lagi. Haha." Kalimat ini rasanya lucu sekali mampir ditelinga Jesi. Kakak perempuan kedua nyambung saja.
"Hei!" Arman meninju udara, menyuruh kakaknya diam. "Jangan dengarkan mereka Jes."
"Benar kan, kamu kan bilang nggak ada yang bisa membuatmu jatuh cinta selain komik-komik yang setiap hari kamu baca itu." Ibu ikut nimbrung, sudah menyerah menjodohkan anaknya untuk ikut kencan buta. "Ternyata, Ah, ibu bahagia sekali. Kisah cinta kalian bagaimana kok bisa bertemu, apa mendebarkan seperti cinta ayah dan ibu." Ibu menoel dagu suaminya, hanya bola mata suaminya yang berkedut.
"Mulai deh.."
Ketiga kakak beradik kompak menyahut. Ibu akan mengulang kisah cintanya yang penuh drama saat dulu menaklukan hati ayah. Dan laki-laki di samping ibu hanya tersenyum samar saat ibu bercerita panjang lebar. Jesi menanggapi dengan sangat antusias. Bahkan sampai bilang, kalau dijadikan komik romansa, cerita cinta mantan ratu kecantikan dan sekretaris dingin pasti akan meledak dipasaran. Ibu semakin heboh bercerita.
Hari ini Jesi baru pertama kali bertemu dengan dengan keluarga Arman, namun dia sudah merasa mereka sangat dekat.
Jesi pun tahu, alasan Arman yang sebenarnya bukannya menekuni ilmu manajemen bisnis, malah lebih fokus membentuk tubuh. Dia tidak mau bekerja di kantor yang membuat orang pusing, sudah cukup kakak-kakaknya yang meneruskan jejak ayahnya. Makanya dia lebih memilih masuk menjadi tim keamanan. Supaya bisa lebih santai bekerja, dan menjalani hobinya.
Alasan yang aneh, namun membuat Jesi bahagia. Kekasihku adalah pembaca komik ku. Gumam gadis itu. Karena itulah mereka bertemu kan.
Itulah pertemuan Jesi dengan keluarga Arman. Bahkan tak perlu meminta restu, kalau Jesi mau, bisa jadi keluarga Arman akan datang melamar hari itu juga, tapi tentu saja Jesi melarang dengan keras.
Dan kembali ke hari ini, giliran Arman untuk bertemu keluarga Jesi. Tidak di rumah, tapi Jesi mengajak keluarganya bertemu di sebuah restoran.
Dia hanya memberi tahu sekedarnya pada keluarganya, kalau dia mau mengenalkan seseorang. Jesi memang berkomunikasi dengan adiknya dan mengatakan kalau dia punya pacar. Cuma sebatas itu.
...πππ...
"Kenapa?"
"Kak, keluarga ku tidak seperti keluarga Kak Arman. Kakak tahu kan, aku sudah pernah cerita kalau mereka tidak mendukung pekerjaanku."
"Ia, aku tahu."
"Jadi, jangan terlalu berharap Kakak akan mendapat sambutan hangat dari mereka."
"Aku sudah siap, aku mencintaimu Jes, dan aku ingin membawa hubungan kita ke tingkat serius. Jadi aku ingin mendapat restu dari keluargamu."
Bahkan Jesi jauh lebih gelisah saat ini. Pekerjaan Kak Arman sangat mapan kalau dilihat dari jumlah gajinya, tapi, ah, aku yang komikus freelance saja sangat diremehkan mereka, apalagi kalau Kak Arman bilang dia sopir.
"Kak, nanti bilang saja Kak Arman bekerja di Gardenia Pasifik Mall, tapi tidak usah menyebut sebagai apa."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau orangtuaku merendahkan mu Kak."
"Kau malu dengan pekerjaanku?"
Jesi menggeleng. Karena dia juga tidak mau diremehkan dengan pekerjaannya, dia pun menghormati pekerjaan orang lain, apa pun itu.
"Gaji Kak Arman saja lebih besar dari ku, bahkan lebih besar dari gaji Mei dan Dean. Tapi, orangtua ku memandang sesuatu dengan sudut pandang mereka sendiri. Jadi aku mohon, jangan tersinggung nanti ya Kak."
Jesi memberi uang pada keluarganya, dan adiknya yang bekerja di badan pemerintahan lah yang memberikan kehormatan dan kebanggaan. Sedih memang, bohong kalau dia tidak tersinggung dan marah. Karena orangtuanya tetap menerima uangnya tapi selalu menghela nafas dan memandang rendah dirinya.
"Jesi, ayo. Aku sudah siap, aku akan mengambil hati orangtuamu."
Memang begitu rencananya, tapi ternyata tak semudah rencana Arman. Saat dia mengatakan tentang pekerjaannya, reaksi orangtua Jesi sama persis seperti yang dikatakan Jesi. Dan langsung tercipta kecanggungan yang membentang di antara mereka. Adik-adik Jesi yang ribut berceloteh mencairkan suasana. Sementara ayah dan ibu Jesi terlihat hanya menelan makanan di piring mereka.
"Adikmu sudah naik pangkat bulan kemarin Jes.."
"Ah, ia Yah."
"Katanya Mei menikah dengan CEO perusahaannya, benar kan?"
"Ia Yah, benar. Mei sudah menikah dengan CEO Andez Corporation."
Ayah dan ibu menghela nafas, tanpa mengatakannya pun mereka sedang membandingkan suami Mei dengan Kak Arman pikir Jesi.
"Bagaimana pekerjaanmu? kamu belum berubah pikiran, usia mu kan masih muda untuk memulai karir."
Adik-adik Jesi mulai membisu, mereka memasukan makanan dalam diam. Ini menu paling sensitif setiap mereka berkumpul bersama. Biasanya akan berakhir dengan teriakan Jesi, dan akhirnya gadis itu memilih pergi. Ayah yang tidak mau menyerah, Kak Jesi yang juga tidak mau kalah.
Melihat situasi yang mengancam. Tangan Arman meraih tangan Jesi di bawah meja. Laki-laki itu tahu, situasi mulai memanas. Dia tidak bisa diam saja.
"Paman, Bibi, ayah saya sekretaris pribadi Presdir Gardenia Pasifik Mall." Pamer pertama secara tiba-tiba. Membanggakan latar belakang keluarga.
"Apa?" Ayah dan ibu menyahut kaget. Adik-adik Jesi melihat ke arah Jesi. Kakak mereka menggelengkan kepala tidak tahu kenapa Arman bicara begitu.
Belum selesai keterkejutan, Arman melontarkan satu serangan lagi.
"Apa Anda pernah melihat Ratu kecantikan Gisella Amanda, katanya dulu beliau populer sekali. Apa Bibi pernah tahu beliau?"
Apa si Kak? Kak Arman mau pamer apa? Jesi melirik bingung. Tangan Arman semakin erat menggengam tangannya di bawah meja.
"Tentu saja siapa yang tidak tahu dia. Sekarang dia jadi pengusaha kan. Masih sering muncul di TV." Ibu menjawab, agak bingung sebenarnya, kenapa pacar Jesi yang cuma seorang sopir itu malah menanyakan tentang Gisella Amanda.
"Dia ibu saya, Jesi juga sudah pernah bertemu dengannya."
"Apa!" Ayah, ibu dan adik-adik Jesi berteriak bersamaan.
"Saya memang cuma sopir, tapi ibu saya Gisella Amanda, ayah saya juga lumayanlah. Apa kalian bisa mempertimbangkan lagi?"
Sesungguhnya ini sangat menggelikan, Arman juga tahu. Bisa-bisanya dia memakai orangtuanya sebagai tali penyelamat. Dia tidak tahu malu seperti kebanyakan karakter utama komik. Tapi, bodo amat. Dia tidak mau repot mengambil hati orangtua Jesi, karena dari awal dia memang sudah dipandang sebelah mata, jadi dia memilih jalan pintas memudahkan jalannya. Pamer nama orangtuanya.
Dasar gila! Aku malu sekali setelah bicara begini. Tapi tetap cool, Arman sedang memikirkan mimik wajah ayahnya. Supaya terlihat santai. Dasar Arman gila!
Jesi menjatuhkan kepala ke lengan Arman, tertawa kecil. Karena melihat reaksi bingung ayah dan ibunya.
Bersambung
Pojok terimakasih ππ
Hallo bagaimana puasanya? Semoga lancar dan tercapai target ibadahnya ya.
Aku mau berterimakasih untuk semuanya yang sabar menunggu, selama Ramadhan kita slow update yaπ₯Ί
Makasih juga buat kak Sha yang udah bom tips π₯Ί
Makasih semua yang udah nonton iklan tiap hari, yang udah bagi gift dan vote. Jangan bosen tiap hari nonton iklan ya π₯Ί
Semoga rejeki kalian berlimpah ruah dan dibalas Allah berkali lipat jumlahnya, salam sayang untuk semuanyaππ