Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
137. Rasa Bersalah


Perasaan bersalah yang perlahan bisa dipadamkan Mei dengan dalih dia sekarang mencintai Kak Rion, seperti memercik lagi sedikit demi sedikit. Cinta Mei, tidak bisa menghapus begitu saja rasa bersalah kepada ayah dan ibu Kak Rion yang sudah memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan menganggapnya seperti anak sendiri. Dan saat ini rasa bersalah itu semakin naik ke permukaan. Saat gadis itu duduk di depan orangtua Kak Rion.


Ruangan tempat Mei duduk di hadapan ayah dan ibu rasanya sesak menghimpitnya. Sudah seperti ruangan direktur kalau Mei harus mempertanggung jawabkan kesalahan yang dia buat di kantor atau dipanggil karena bawahannya yang berbuat salah. Perlahan, rasa takut membuatnya jadi susah bernafas. Gadis itu berusaha menarik nafas pelan-pelan, malah membuatnya mengeluarkan suara terisak. Dan sudut matanya sudah basah. Dia menangis tanpa sadar saking takutnya. Rasa takut yang bercampur perasaan bersalah dari hatinya. Situasi ini sangat menyiksa.


"Mei, kenapa kau menangis?" Ibu langsung bangun dari duduk di sebelah ayah. Pindah ke samping Mei. "Sayang, kau menakuti Mei." Memarahi suaminya. "Mei, ayah bukannya marah padamu, dia hanya bertanya. Kalau suaranya agak meninggi tolong dimaklumi ya." Ibu sangat paham tabiat suaminya, dia bisa bijak dan tetap tenang dalam mengambil sikap, kecuali jika berhubungan dengan anak dan istrinya.


Ayah Rion minta maaf, kalau nada suaranya meninggi tadi. Dia juga mengatakan tidak bermaksud memarahi Mei jadi menyuruh Mei untuk berhenti menangis. Tapi, entah kenapa, airmata gadis itu malah semakin keluar. Seirama dengan hati nuraninya yang sedang berperang mengalahkan perasaan bersalahnya.


"Sekarang, jelaskan kepada kami Mei, pelan-pelan saja, kenapa kau sampai minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan Rion?" Ayah mengulangi pertanyaan yang dia ucapkan tadi, kali ini dengan nada suara yang lebih lembut. "Jangan takut, kami akan mendengarkan alasanmu."


Ibu mengusap punggung Mei yang gemetar. Pikiran gadis itu campur aduk. Sejak kapan ayah dan ibu tahu, sejak kapan pil itu ada ditangan ibu. Karena tidak meminumnya setelah datang bulan, Mei benar-benar melupakan keberadaan pil itu. Seharusnya aku membuangnya. Bagaimana ini. Seharusnya aku membuang pil itu. Walaupun sekarang dia sudah tidak meminumnya, tapi pil itu ditemukan di lemarinya. Dan itu faktanya. Dia minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuan Kak Rion.


"Mei, ibu dan ayah tidak memarahi mu. Kami mau membantumu." Deg, Mei malah semakin takut. "Apa karena kamu masih muda dan masih ingin berkarir, makanya kamu takut untuk hamil?" Sentuhan dan kata-kata ibu yang lembut, malah semakin menghujani hati gadis itu dengan rasa bersalah. "Kalau memang begitu alasannya kan bisa dibicarakan baik-baik dengan Rion."


"Maaf Bu, maaf Ayah. Saya minta maaf." Berulang kali hanya bisa mengatakan maaf, dengan tubuh gemetar.


"Suami istri itu seharusnya saling berkomunikasi dengan baik Mei, kalau kamu belum siap, bisa bicara para Rion." Ayah kembali bicara. Laki-laki itu mempertahankan intonasi suara rendahnya karena istrinya memelototinya. "Ini sesuatu yang sangat serius Mei, aku sendiri akan marah besar kalau istriku diam-diam minum pil kontrasepsi tanpa sepengetahuanku, atau dia diam-diam keluar rumah tanpa izin, itu saja sudah membuatku marah. Ini bukan perkara siapa yang berkuasa di dalam rumah, tapi ini adalah sikap saling menghormati antara suami istri." Mendengar suaminya bicara dengan tegas, ibu hanya bisa mengusap bahu menantunya. Menenangkan Mei. Semua yang dikatakan suaminya memang benar. Suaminya sangat mencintainya, dan melakukan apa pun yang ia mau. Tapi, dia pun mengimbangi itu dengan mematuhi aturan yang dibuat suaminya. "Sekarang, kami mau membantumu, kalau kau memang belum siap, ya tidak apa-apa. Kami juga tidak memaksamu. Nikmati saja pernikahan kalian. Tapi komunikasikan dengan Rion. Konsultasikan juga dengan dokter, jangan asal minum pil sembarangan, karena itu pasti akan berefek pada kesehatanmu juga kan."


Maaf ayah, Mei cuma bergumam dengan kepala tertunduk. Nuraninya semakin tertusuk sembilu. Sudah seperti ini, ayah dan ibu bahkan masih berusaha untuk memahami situasinya.


"Kalau kamu tidak berani bicara langsung pada Rion, biar ibumu menemani saat kamu bicara. Rion juga bukan laki-laki egois yang akan memaksa wanita yang dia cintai. Dia pasti paham, kalau kamu belum siap. Tapi intinya, bicarakan baik-baik berdua."


"Maaf ayah, maaf ibu..."


Kalau aku mengatakannya sekarang, kalau aku bilang, bahwa aku menikahi Kak Rion karena uang. Apa ayah dan ibu masih akan bersikap sebaik ini padaku? Tiba-tiba pikiran-pikiran yang entah darimana dasarnya bermunculan. Bercampur dengan rasa takut yang semakin menutupi akal sehat Mei. Semakin banyak ketakutan dan semakin menghujam perasaan bersalah. Silih berganti bermunculan membuat pikirannya kacau.


Ibu memeluk bahu menantunya yang gemetar dan terisak.


"Jangan menangis, maaf, ibu dan ayah tidak marah Mei. Jadi jangan menangis, kalau kamu tidak bisa bicara langsung pada Rion biar ibu temani ya. Sudah, sudah." Ibu menghapus airmata yang makin membanjir di pelupuk mata dan pipi. "Ibu kan selalu bilang, ibu sangat berterimakasih karena kamu sudah menikah dengan Rion, karena kamu sudah mengembalikan putra berharga kami seperti dulu lagi." Pelukan ibu yang hangat menjadi bara di tubuh Mei sekarang.


Ayah dan ibu yang malah berusaha menenangkan Mei. Kata-kata bijak ayah bercampur ucapan lembut ibu semakin menusuk-nusuk hati nurani Mei. Sampai kapan dia akan membohongi orang-orang sebaik ini. Dia malu pada dirinya sendiri. Dia seperti orang tidak tahu diri.


Mei bangun dari duduk, jatuh berlutut di lantai. Menangis dengan suara keras, sampai suaranya serak. Airmata sudah jebol seperti hujan di pipi gadis itu. Ibu dan ayah tentu saja terkejut, kenapa Mei sampai menangis sekeras itu dan berlutut.


"Maafkan saya Ayah, maafkan saya Ibu. Maafkan saya, menantu kalian ini tidak sebaik itu. Jangan terlalu baik pada saya Bu, saya tidak pantas. Hiks, hiks." Sesenggukan sampai Mei bernafas tersengal. "Saya tidak pantas menerima kebaikan ayah dan ibu sebanyak ini. Saya tidak pantas."


Ada apa ini? Ayah dan ibu saling pandang bingung.


"Mei, kamu ini kenapa? bangunlah. Ayah dan ibu tidak menyalahkanmu." Memukul tangan suaminya untuk menyuruh Mei bangun. "Sayang, bagaimana kalau kita kubur masalah ini, jangan sampai Rion tahu masalah pil kontrasepsi ini."


"Maksudnya?"


Rion marah, itu pasti, ibu juga tidak bisa menyalahkan kalau Rion marah. Dan walaupun putranya akan memaafkan Mei, namun pertengkaran mungkin tidak akan terelakkan. Dan ibu ingin menghindari itu. Toh Rion tidak tahu malah bisa menyelesaikan masalah dengan mudah.


"Jangan mengatakannya pada Rion, cukup kita saja yang tahu. Sekarang, Mei kan sudah tidak minum pil kontrasepsi, jadi anggaplah pil ini tidak ada. Bagaimana kalau begitu Mei? Bangunlah, jangan berlutut di lantai."


Walaupun ibu sudah mendekat dan mau mengangkat tubuh Mei, gadis itu tetap tidak mau bergerak dari tempatnya. Ayah juga masih terdiam, belum memberi jawaban pada perkataan ibu.


"Sayang, kita kan harus mencegah pertengkaran anak-anak kita. Mei juga sudah mengaku salah."


Semakin dibela dan semakin dimaklumi, suara tangis Mei mengeras, hati nuraninya berontak. Perasaan bersalah di hatinya seperti mengamuk ingin keluar. Dan seperti alam bawah sadarnya yang bicara, atau Tuhan yang menggerakkan mulutnya, bercampur dengan Isak gadis itu gemetar bicara.


"Ayah, ibu kenapa kalian baik sekali. Saya benar-benar menantu yang tidak tahu diri, hiks, hiks. Saya tidak pantas Bu mendapat kebaikan ibu sebanyak ini."


Walaupun kedua orangtua itu masih bingung, kenapa Mei malah tambah menangis. Ayah dan ibu membiarkan Mei menangis sampai puas, mereka menunggu gadis itu terisak, meraung, terisak lagi, memohon-mohon maaf lagi. Suaranya menjadi serak, matanya semakin sembab. Kurang lebih setengah jam, gadis itu berkubang dengan airmata dan perasaan bersalah di hatinya.


Ayah dan ibu masih menunggu, saling berbisik. Intinya, mau mengubur masalah pil kontrasepsi sampai di sini saja.


Tapi...


Bersambung