Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
62. Pertengkaran


Sepertinya pihak Andalusia Mall terlihat sangat puas karena tawarannya mendapat sambutan yang baik, memang keputusan yang tepat mengundang makan malam di rumah pikir ayah Ibram. Keharmonisan dan kehangatan keluarga mereka semakin meyakinkan presdir Andez Corporation untuk menyetujui kerjasama.


Setelah makan malam mereka masuk ke dalam ruang kerja presdir, dan mulailah terjadi kesepakatan-kesepakatan yang saling menguntungkan antar keduanya.


Setelah waktu bergulir kurang lebih satu jam, akhirnya keempat orang itu keluar dari ruangan. Istri Presdir dan Amerla bergabung untuk mengantar kepergian Rion dan ayah Rion.


Kenapa dengan kakak? Apa dia takut akan dicurigai Ibram kalau sampai tertangkap melihatku, membuatnya bersikap acuh begitu. Entahlah apa yang dipikirkan gadis cantik itu, tapi hati dan pikirannya memang sedang seenaknya membuat kesimpulan. Dia sedang berfantasi sendiri.


Kak Rion tahu dia menikah dengan CEO Andalusia Mall, jadi pasti Kak Rion sudah tahu tentangnya. Bahkan Amerla berfikir kedatangan Rion karena merindukannya, bisnis dengan Andalusia Mall hanyalah sebuah alasan.


Gadis itu tidak memiliki urat malu, atau sekedar mengingat kejadian kelam yang terjadi di hari pernikahannya. Saat dengan mentah-mentah dia menolak Kak Rion yang datang padanya membawa sekoper uang. Amerla tidak ingat kejadian hari itu. Dalam fantasinya Rion masih menjadi laki-laki yang mencintainya yang datang ke rumah ini karena dirinya.


Kakak semakin tampan saja, aku ingin bicara padanya. Aku ingin mengadu dan menangis di bahunya. Ternyata dia orang kaya raya.


Tatapan gadis itu nanar ke depan. Ke arah mobil yang mulai menghilang di kejauhan. Saat mobil sudah tidak terlihat, Ibram suaminya bersorak dengan suara keras, laki-laki itu sedang mengekspresikan kesuksesan dan kebahagiaannha, dia sudah berfikir bisa melibas Erwin CEO Gardenia, tumbangnya saingannya seperti sudah ada di depan mata.


"Andalusia Mall akan menjadi yang nomor satu!" Ayah dan ibunya ikut merayakan kegembiraan anaknya, kesepakatan bisnis yang baru saja terjadi adalah kebahagiaan bagi semua, karena harapan menjadikan Andalusia Mall menjadi nomor satu semakin terbuka lebar, sementara Amerla hanya tersenyum sekenanya. Dia tidak terlalu perduli dengan apa yang dilakukan suaminya, apa yang membuat suaminya bahagia. Terserah saja, yang penting dia sudah melakukan kewajibannya.


"Maaf ayah, saya pamit masuk ke kamar." Amerla meminta izin pada ayah mertua.


"Ya, ya istirahatlah, kau sudah bersikap dengan baik tadi."


Amerla menundukkan kepala lalu berlalu masuk, meninggalkan ketiga orang itu yang masih meluapkan kebahagiaan mereka. Nama Gardenia Pasifik Mall disebut-sebut beberapa kali.


Sementara Amerla mempercepat langkahnya, menaiki tangga. Dia membanting pintu. Lalu masuk ke kamar mandi. Dia duduk di lantai sambil menatap wajahnya dalam bayangan lantai mengkilat itu.


Kenapa bisa jadi begini!


Bagaimana Kak Rion bisa menjadi CEO Andez Corporation? bagaimana dia bisa menjadi putra dari konglomerat ternama yang wajahnya sering muncul di berita bisnis. Gadis itu memukul lantai. Seharusnya kan dia hanya CEO perusahaan game. Pikiran Amerla campur aduk. Dia marah dan kesal pada dirinya sendiri. Dia merasa tertipu dan dikhianati.


Kenapa Amerla merasa sakit hati, padahal dia yang pergi dan mengkhianati. Apa ini konsep hidup merasa tersakiti, padahal semua akibat ulahnya sendiri.


Kalau Kakak mengatakan Kakak putra Presdir Andez Corporation semua tidak akan jadi begini, aku pasti memilih Kakak. Orangtuaku juga pasti akan memilih Kakak.


Amerla memang tidak tahu, lebih kaya Andalusia Mall atau Andez Corporation, tapi yang pasti dia tahu, mereka jauh lebih kaya dari pada sekedar CEO perusahaan game.


Kalau saja Kak Rion jujur, aku tidak akan menikah dengan laki-laki seperti Ibram.


Kebahagiaan manisnya pernikahan, menguap di tahun pertama pernikahannya.


Setelah sekitar setengah jam Amerla menghabiskan waktu di kamar mandi, meratapi kebodohannya, dia keluar lalu berganti pakaian. Suaminya belum naik ke kamar, mungkin sedang menikmati keberhasilan kesepakatan bisnis mereka. Gadis itu meraih hpnya, lalu menjatuhkan tubuh, duduk di tempat tidur. Kakinya masih menyentuh lantai.


Dia mencari nama Rionald Fernandez dan Andez Corporation di pencarian internet. Foto Rion langsung bermunculan beserta artikel keberhasilan Andez Corporation.


Selama ini Amerla tidak tertarik dengan Rion, tidak, bukannya tidak tertarik tapi dia bahkan tidak ingat dengan laki-laki yang pernah dia campakkan itu. Karena apa? ya untuk apa mengingat laki-laki miskin menurutnya. Walaupun kehidupan pernikahannya tidak bahagia tapi kembali pada mantan yang cuma pengusaha miskin tentu hanya akan semakin menghinakannya.


Tapi sekarang, semua sudah berbeda.


Saat sedang scroll di internet suara pintu terbuka terdengar, Ibram membanting pintu setelah melihat Amerla. Gadis itu melengos dan meletakkan hpnya segera di bawah selimut.


"Haisss."


Ibram mendekat, menatap Amerla dengan jengah.


"Ada apa denganmu? Aku sudah bilang ini kesepakatan penting untukku kenapa kau malah hampir menghancurkannya?"


"Ah, sialan! kau menantangku!"


"Bukankah semuanya berhasil, memang kau mau apa lagi, aku sudah tersenyum dan menggelayut manja di lenganmu seperti perintahmu kan." Amerla menjawab suaminya, gadis itu menjawab dengan suara agak keras.


Ibram mendekat, duduk di depan Amerla. laki-laki itu mencengkeram dagu istrinya.


"Kenapa kau diam saja selama makan malam? kau hampir mengacaukan semuanya." Amerla menepis tangan suminya.


"Yang penting kan kesepakatan kalian terjadi kan. Aku hanya lelah tadi, maaf." Gadis itu tertunduk.


Hah! Ibram menghela nafas jengah melihat wanita cantik di hadapannya. Sejak kapan ya hubungan suami istri mereka menjadi seburuk ini.


"Erla, bukankah aku sudah minta maaf padamu. Aku mengaku salah, tapi kenapa kau masih bersikap acuh dan kasar begini."


Amerla tertawa. Gadis itu pernah melihat Ibram berciuman dengan seorang gadis. Perselingkuhan di depan matanya. Walaupun saat itu Ibram bersikeras itu bukan sesuatu yang disengaja dan baru pertama kali terjadi. Amerla sama sekali tidak percaya. Rumah tangga yang awalnya setenang air sungai yang mengalir, berubah dengan beriak ketika Amerla menepis tangan Ibram.


Dia sakit hati karena suaminya berselingkuh di belakangnya, padahal dia sedang berusaha untuk mencintai suaminya. Ibram pun merasa marah karena sikap Amerla yang berlebihan. Dia hanya berciuman tidak sampai tidur bersama, tapi Amerla bahkan tidak mempercayai kata-katanya.


Dari situlah semua bermula, pernikahan yang mulai terasa dingin dan hampa. Bicara sesekali supaya tetap terlihat rukun di depan orang tua. Bercinta jika Ibram menginginkannya, untuk hal ini Amerla walaupun berusaha menolak, namun tidak berani sampai melawan dengan terang-terangan.


Kalau bukan karena uang, Amerla tidak mungkin bertahan. Orangtuanya bahkan tidak perduli saat dia mengatakan suaminya selingkuh, mereka hanya menyuruh Amerla mendiamkan saja. Kenapa, karen uang yang diberikan Ibram pada keluarganya tidak sedikit jumlahnya.


"Aku lelah Kak." Akhirnya dengan suara pelan Amerla bicara, mendorong tangan Ibram untuk menjauh darinya. Dia sudah menarik selimut, dan mau meluruskan kaki.


Namun, penolakan Amerla langsung merubah suasana hati Ibram yang tadinya senang karena suksesnya kontrak dengan Andez Corporation, ada api memercik di matanya.


"Kenapa, kau tertarik dengan CEO Rion?"


Apa sih, kenapa membahas Kak Rion sekarang. Amerla tidak mengacuhkan ucapan yang mulai terdengar dengan nada keras.


"Kau pikir aku tidak melihatmu meliriknya? Kau mau menggodanya?"


"Aaaaa! Sakit Kak!" Amerla merintih, ketika tangan Ibram mencengkeram pergelangan tangannya. "Aku tidak meliriknya, aku bersumpah! Sekarang lepaskan tanganku Kak." Ibram belum mengendurkan cengkeramannya. "Aku mohon Kak, sakit!" Amerla memalingkan wajah dengan sendu.


Dia tahu, kalau suaminya masih bersimpati kalau wajahnya mulai terlihat memelas. Dan terbukti, tangan itu mengendur.


Ibram menarik selimut yang sudah menutupi tubuh Amerla, membuangnya. Dia sudah naik ke tempat tidur. Bertumpu pada lututnya di atas tubuh Amerla. Gadis itu mulai pias. Mereka memang masih melakukannya, bercinta dalam keremangan malam untuk melampiaskan hasrat masing-masing. Walaupun lebih sering terjadi kalau kemarahan Ibram sudah tidak terbendung lagi.


"Jangan sekarang Kak, aku lelah aku mohon."


"Bukankah kau juga menikmatinya, baik sentuhanku atau pun uangku."


Amerla tidak bisa membantahnya, saat menikahi Ibram dia memang melihat uang laki-laki ini. Begitupula sekarang, setiap kali Ibram mengajaknya tidur bersama, esok harinya laki-laki itu akan mentransfer uang ke rekeningnya.


Dia seperti menjual tubuhnya pada suaminya.


"Nikmatilah Erla, selagi kau masih bisa menikmatinya. Walaupun kau tidak mencintaiku, setidaknya kau mencintai uangku kan." Tawa Ibram memenuhi ruangan.


Saat lampu kamar padam, laki-laki itu melakukan apa pun yang ingin dia lakukan di atas tubuh istrinya. Biasanya Amerla tidak merasa semenyedihkan ini, namun hari ini setelah bertemu dengan Kak Rion, entah kenapa rasanya dia ingin menangis setiap kecupan bibir Ibra menempel di tubuhnya.


Tolong aku Kak, Kak Rion, tolong aku.


Bersambung