
Bersamaan dengan waktu Rion masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Para wanita pun, menikmati waktu kebersamaan mereka.
Ibu menarik tangan Merilin, berbisik pelan pada menantunya, kalau dia mau menunjukkan sesuatu pada Mei. Ruangan khusus milik Rion yang ada di rumah ini.
Dulu, Rion tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam, bahkan ibunya sekalipun. Namun, setelah dia membuang mimpinya, yaitu perusahaan game, ibu dibolehkan masuk untuk pertama kalinya. Kalau sekarang ibu yang membersihkan ruangan ini. Di dalam ruangan itulah, mimpi Rion berasal.
Kedua wanita itu sudah menaiki tangga, searah dengan kamar Rion. Tapi kamar yang didatangi Mei sekarang dengan ibu jauh lebih ke sudut. Mereka sudah berdiri di depan pintu.
"Bibi bilang, kau diizinkan masuk ke teras balkon, ibu yakin kau juga pasti dibolehkan masuk ke dalam ruangan ini."
"Ia Bu, balkon apartemen sangat indah, Kak Rion dan bibi merawatnya dengan sangat baik."
Tapi, apa aku benar boleh masuk ke sini.
Senyum dan kata-kata ibu langsung membuat Mei berdebar, ruangan apa memang ini. Walaupun penasaran, tapi entah kenap dia ragu dan takut untuk masuk. Rion kan aneh, kalau dia masuk tanpa izin bisa jadi dia akan dituding yang tidak-tidak kan nantinya.
Tidak melakukan apa pun saja bisa dituding pengkhianatan olehnya, apalagi ini. Memasuki ruangan yang mungkin saja selain dia hanya ibu yang diizinkan.
Tapi, aku kan masuk dengan ibu. Begitu Mei mengurasi rasa takut yang mendominasi hatinya sekarang. Saat pintu terbuka, hanya kegelapan yang menyambut mata. Suara saklar lampu terdengar, nyala terang sudah memenuhi kamar.
Wahhhh, apa ini.
"Boneka..."
Ibu tertawa sambil mendorong tubuh Merilin untuk mendekati lemari kaca.
Didalam ruangan ini hanya diisi dengan lemari kaca, eh, ada meja dan kursi juga, hanya itu furniture yang ada selain lemari kaca. Lemari-lemari itu tidak kosong, banyak benda yang terpajang di sana. Yang Mei sebut sebagai boneka tadi adalah action figure, koleksi Rion dari saat dia masih kecil dulu, remaja bahkan yang dia beli saat sudah dewasa.
Aku tidak menyangka, dia punya sisi yang menggemaskan dan imut begini. Merilin bergumam sambil mendekat ke lemari kaca yang terlihat lebih besar daripada yang lain. Tangannya menempel di kaca, matanya melihat satu persatu boneka kecil yang tersusun dengan rapi di dalamnya.
"Wahh, kamu jeli juga ya Mei, ini boneka kesayangannya Rion." Ibu ikut menempelkan tangan di lemari kaca, mengusapnya perlahan. "Ini mimpinya Rion."
Mengalirkan cerita ibu tentang masa kecil dan remaja Rion. Anak laki-laki yang selayaknya anak ceria lainnya. Rion yang menyukai game selalu meminta oleh-oleh action figure setiap ayah dan ibunya pergi ke luar negri. Kalau ibu tetap menyebut boneka benda-benda kecil itu. Awal-awal membeli mainan itu, ibu sangat kaget, karena walaupun kecil harganya ternyata mahal. Tapi karena anaknya yang minta, ya tetap dibelikan juga.
Dan boneka di dalam lemari yang sedang dipandangi Mei dan ibu, ini adalah karakter dari game milik Rion. Mimpi anak laki-laki yang dulu hanya bisa mengumpulkan karakter game yang dia mainkan, menjadi pemilik karakter game itu sendiri.
"Ini produk sampel sebenarnya, yang dia buat sendiri sampai ke luar negri, jadi bisa dibilang hanya ada satu-satunya. Dulu dia bilang semua ini ada namanya masing-masing, tapi ibu lupa. Hehe." Ibu menyimpan memori saat dengan suara di penuhi kebahagian Rion menunjukkan action figure itu. Dengan ceria sambil memeluk ibunya, bahkan mengajak ibunya menari di tengah ruangan, saking dia bahagianya. Karakter gamenya sudah dibuat action figure.
Tapi produk sampel itu hanya menjadi produk sampel, tidak pernah diproduksi secara masal, atau ditunjukkan kepada publik. Karena seperti menutup lembaran buku yang dia baca, Rion melupakan mimpinya itu.
Aku tidak menyangka, dia punya sisi seperti ini. CEO Rionald yang terlihat manusiawi gumam Merilin. Mengoleksi benda-benda imut seperti ini sebagai hobi dan juga bagian dari mimpinya.
"Sekarang, bagaimana game buatan Kak Rion Bu?" Merilin penasaran.
"Entahlah, sepertinya dia menjualnya. Ibu juga tidak tahu kenapa dia melepas mimpinya ini dan akhirnya kembali ke Andez Corporation." Sedikit-sedikit ibu tahu, walaupun tidak semuanya secara pasti. Hingga dia merasa tidak berhak membongkarnya pada Merilin.
Kedua wanita itu terdiam, sedang tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Merilin mencoba memahami dunia, dibalik wajah angkuh dan sombong milik Rion. Apa yang disembunyikan laki-laki itu dibagian hatinya yang dalam.
Apa aku nanti tanya Kak Ge kalau ada kesempatan ya, apa dia akan menjawab. Hah! masalah wanita yang mencampakkan Rion saja Kak Ge tidak menjelaskan semuanya.
"Mei..."
"Ia Bu."
"Rion sangat menyayangi boneka-boneka kecil ini, bahkan sampai sebesar dia sekarang. Kalau pulang ke rumah, dia bisanya masuk ke ruangan ini. Duduk lama sambil membersihkan bonekanya."
Aku benar-benar tidak menyangka. Dia memegang benda kecil begini, yang lebih tidak aku sangka, boneka-boneka ini tidak hancur ditangannya.
"Rion pernah bilang nggak kalau Mei mirip boneka, kecil imut, lucu dan menggemaskan." Ibu mencubit gemas pipi Mei. Sampai gadis itu kaget. "Mei kan imut."
Deg. Apa!
Mei hanya bisa tertawa mendengar kata-kata ibu, boneka dalam kata-kata ibu sangat positif artinya. Sedangkan dia, dia hanyalah boneka Kak Rion dalam arti lain. Istri yang harus patuh dan melakukan apa pun yang ia inginkan, istri yang sudah dia beli dengan uangnya. Jadi dia bukan boneka imut dan menggemaskan.
"Jangan tersinggung ya Mei, kalau Rion bilang kamu itu mirip boneka, karena dia itu sebenarnya pasti ingin memujimu imut dan menggemaskan, seperti boneka-boneka kecil milik Rion ini."
Ibu membuka kunci lemari, mengeluarkan satu action figure, membiarkan Mei menyentuh impian Rion yang mungkin sudah disimpan laki-laki itu jauh di dasar hatinya.
Deg.
Bagian hati Merilin berdetak dengan kencang. Ah, apa memang dia yang terlalu berburuk sangka selama ini saat Rion menyebutnya sebagai bonekanya. Kalau sebenarnya tidak ada konotasi negatif di dalamnya. Tapi murni karena dia kecil dan imut seperti mainan Kak Rion yang ia sayangi ini. Mei jadi menyentuh pipinya yang bersemu merah. Sekarang, kata boneka tidak terlalu menyedihkan untuk dia dengar.
Setelah melihat-lihat semua isi lemari, akhirnya mereka keluar dari ruangan. Ibu bilang, jangan mengatakan pada Rion kalau ibu mengajak Mei masuk ke dalam ruangan mimpinya Rion.
"Kenapa Bu? Apa Kak Rion akan marah nanti."
Merilin tahu maksudnya, bagi ibu Kak Rion akan selalu menjadi anak yang lucu dan baik hati. Sebesar apa pun dia bertumbuh. Merilin jadi penasaran, kenapa sampai Kak Rion membuang semua mimpinya itu. Apa suatu hari nanti dia punya kesempatan, mendengarnya langsung dari Kak Rion.
"Ia Bu, aku juga kaget dan tidak menyangka. Terimakasih sudah menunjukkan rahasia Kak Rion."
Aku tidak akan terlalu sedih kalau dia memanggilku bonekanya, itu artinya aku imut dan menggemaskan kan buat Kak Rion. Eh, Merilin! Kenapa kau berbunga sekarang dengan panggilan itu. Ah, entahlah, diam dan jangan ajak aku bicara. Mei memarahi hatinya sendiri, karena sekarang kerap kali membuatnya bingung.
Ibu membawa Merilin ke kamarnya, karena masih ada yang ia ingin berikan pada menantunya. Berbeda dengan kamar Rion, kamar ibu sangat luas. Bahkan ada sofa dan juga TV. Mereka mendekat ke tempat tidur, ada dua buah tas di sana.
"Besok ikut ibu ya, ibu ada kegiatan sosial."
Sambil menyodorkan tas, saat Mei membukanya ternyata pakaian, dan sepatu. Mei ingin sekali ikut, tapi, dia kan tidak bisa pergi tanpa izin dari Kak Rion.
"Aku tanya Kak Rion dulu ya Bu."
"Jangan khawatir, ayahnya pasti sudah bilang sama Rion tadi. Besok kita kencan berdua saja, ibu sama Mei."
Suara deheman terdengar dari pintu, membuat dia wanita yang sedang bercengkerama itu kaget. Rion sudah berdiri menyandar ke pintu sambil memiringkan kepala.
"Kak Rion!" Merilin lagi-lagi terperanjat kaget seperti istri yang ketahuan selingkuh lagi.
Dia itu apa si, bisa tiba-tiba muncul dimana saja!
Ibu yang bicara sementara Mei masih menenangkan hati.
"Sudah selesai bicara dengan ayahmu? Dia sudah bilang kan, kalau ibu mau mengajak Mei ke acara sosial. Boleh ya?" Ibu sebenarnya tidak minta izin, dia hanya melakukan pemberitahuan. Tertawa saat anaknya agak merengut.
Rion mendekat, melihat isi tas Merilin. Sementara ibu masuk ke ruang ganti, mencari tas yang cocok untuk dipakai Merilin besok.
"Ibu mau mengajak Mei berapa lama besok? Aku antar ya? Aku malas pergi main golf sama ayah. Pasti membosankan." Lebih seru pergi dengan ibu pastinya gumam Rion sambil menarik Mei untuk duduk di pangkuannya. Mereka duduk di tempat tidur. Dia sudah menyandarkan kepalanya di bahu Mei. Saat ibu belum menjawab atau keluar dari ruang ganti, dia gigit bahu Merilin. "Kau mau ikut ibu?"
"Awww, Kak!"
Rion cuma mencibir lalu tertawa mengusap bahu Mei yang baru dia gigit. Dia cium-cium bekas gigitannya itu. Mendorong Mei turun dari pangkuannya. Tepat saat kepala ibu menyembul, dengan tas di pelukannya.
"Kenapa Mei? Kau menggangu istrimu?"
Rion hanya mengangkat bahu, dan tertawa menjawab pertanyaan ibu. Sementara wajah merah Merilin sudah menjadi jawaban. Ibu berdecak, mengacak kepala anaknya.
"Ya Bu, besok aku yang antar."
"Tidak boleh, Ibu mau kencan sama Mei. Kamu sama ayahmu saja."
"Malas, nggak seru."
Nggak ada Mei soalnya disana, gumam Rion sambil menjatuhkan tubuh.
"Nanti semua orang malah fokus perhatiannya saka kamu Nak, padahal panitia pasti sudah bekerja keras menyiapkan acara. Ibu tidak mau begitu, ayahmu saja ibu larang untuk ikut."
Rion mendengus, lalu menjatuhkan tubuh. Merilin melihat dengan jelas, reaksi kekanakan yang ditunjukkan Rion pada ibu. Dia benar-benar berbeda kalau di depan ayah dan ibunya gumam Mei. Kalau saja kau normal disetiap kesempatan Kak.
"Setelah makan siang kami sudah pulang kok, bisa jadi duluan dari kalian main golf. Mei Sam ibu, pasti aman. Oke."
"Baiklah, aku akan mengalah untuk ibu."
Rion menjentikkan jarinya menyuruh Mei mendekat. Saat Mei sudah merapatkan telinga.
"Ajak aku tidur dengan mesra di depan ibu."
Hah! Rasanya Mei ingin menjerit, mendengar perintah kekanakan dari mulut Rion barusan. Seharusnya kan dia yang mengajakku tidur, itu pasti lebih gampang kan.
Rion menyeringai, saat melihat kebingungan Merilin melihat kata.
"Terimakasih ya Bu, untuk baju dan semuanya, aku akan memakainya besok. Sekarang, kami keluar dulu ya Bu. Kak Rion, apa Kakak sudah mau tidur?"
Merilin mengulurkan tangan, Rion yang masih tiduran menyeringai meraih uluran tangan Mei. Dia bangun dan menangkap Mei yang hampir terjatuh ke dalam pelukannya.
"Jangan tidur terlalu malam, Mei besok harus bangun pagi." Ibu tertawa melihat tingkah anak dan menantunya.
"Haha, baik Bu. Kami pergi ya. Selamat malam Bu." Rion masih menggandeng tangan Merilin sambil mencium pipi ibu. Saat mereka berjalan ke luar kamar, dia berbisik di telinga Mei. "Jangan mimpi, hahaha."
Wajah Mei langsung merah.
Bersambung