Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
40. Buang Semua Baju Jelek Itu


Kamar mandi apartemen Rion sangat luas dan bersih. Bathtub yang besar, bagian shower juga ada dalam bilik kaca. Masih ada area kering dengan dua buah kaca menempel di dinding. Satu kaca seukuran tinggi tubuh, bukan postur tubuh Merilin. Tapi sepertinya kaca itu dibuat sesuai tinggi badan Rion. Masih ada lemari berisi handuk dan segala keperluan mandi seperti sampo, sabun dan pasta gigi.


Di ruang ganti yang isinya cuma lemari juga ada kaca seukuran tinggi Rion. Gadis itu menatap pintu geser yang terbuat dari kaca. Merinding geli sendiri, kenapa Rion membuat pintu ruang ganti transparan begitu. Dia tadi membawa baju gantinya ke kamar mandi. Setelah menyisir rambut dengan rapi, Merilin mengintip keluar ruang ganti, keberadaan Rion tidak terdeteksi.


Apa aku membereskan pakaianku saja ya? Dia juga tidak memanggilku kan. Bodo amat lah.


Mei menarik koper pakaian dan tas yang ada di sudut lemari. Dia mulai memasukan pakaian kerja, blazer yang sudah terlihat memudar walaupun masih terlihat cukup rapi. Namun pakaian-pakaian itu tidak bisa menutupi jati dirinya yang sudah termakan waktu. Merilin terduduk di lantai memasukkan pakaian dalam ke laci yang lebih kecil. Dia urung mengeluarkan tas pemberian Kak Serge, selama beberapa menit dia menyentuh tas itu. Mengusapnya perlahan.


Aku tidak akan membuangnya, besok kuberikan pada Harven untuk disimpan. Ah, ia aku belum menghubungi Harven hari ini.


Saat Merilin sedang memasukkan beberapa barang pemberian Kak Serge ke dalam tas, pintu ruang ganti bergeser. Merilin mendongak. Posisi duduknya langsung bergeser seperti orang yang tersentak kaget. Menunduk cepat sambil menutup laci-laci lemari tempat dia menyimpan pakaian dalam.


Rion sepertinya baru selesai mandi. Rambutnya basah, ada tetesan air yang masih jatuh ke tubuhnya. Dia hanya memakai handuk kecil di pinggangnya. Rion tidak membawa handuk lain untuk mengeringkan rambut.


Jantungku! Ibu! Bisakah sedikit saja kau itu normal Kak! pakai piayama handuk kenapa!


"Sedang apa kau?" Rion bertanya sambil melihat koper yang sudah kosong isinya.


Merilin yang masih menunduk membereskan tasnya dengan segera.


"Aku merapikan pakaian Kak, sekarang sudah selesai. Aku mau keluar duluan, silahkan Kak Rion ganti baju."


Apa sih gunanya handuk segitu banyak di lemari kamar mandi. Kenapa kau memilih handuk sekecil itu untuk menutupi tubuhmu. Mana air masih menetes-netes begitu lagi.


Deg... Deg...


Merilin bangun dari duduk di lantainya, tapi baru mau mundur menuju pintu, tangan Rion sudah menempel di lemari menghalangi jalan Merilin.


Apa! Dasar orang gila, minggir!


"Baju apa yang kau pakai itu?" Pertanyaan dengan nada mengejek terdengar. Sambil menyentuh lengan Merilin. Dia usap-usap sebentar tangannya di bahu.


Merilin menyentuh baju tidurnya, bajunya memang sangat ala kadarnya. Dia memakai celana panjang dan baju kaos longgar, yang warnanya sudah agak memudar.


"Jelek sekali." Terdengar ejekan nyata bahkan ketika belum keluar sepatah kata pun dari mulut Merilin. "Buka lemarimu, apa kau membawa baju-baju jelek begitu masuk ke rumahku."


Hah! Dasar orang aneh! Orang gila aneh!


Di mana laki-laki yang tadi memeluk sambil kecup-kecup dengan suara lembut itu. Merilin menyesal hatinya sedikit bergemuruh tadi. Dia segera melakukan apa yang diinginkan Rion, menunjukkan isi lemarinya. Rion semakin berdecak ketika semua isi lemari terlihat dimatanya sekarang.


Bagaimana kau hidup selama ini, begitu pertanyaan yang bergentayangan di kepala Rion. Hanya ada baju kumal yang bergelantungan di dalam lemari. Sebenarnya nggak sampai segitunya si, pakaian Merilin masih layak dipakai jika dilihat dalam kaca mata manusia normal.


"Buang semua ini, beli baju baru, untuk bekerja dan saat kau di rumah." Rion menendang tas Merilin yang berisi barang pemberian Serge. "Buang semuanya, aku tidak mau kau memakai satu pun benda-benda ini."


"Tapi Kak, baju ini masih bisa dipakai kok." Kalau dia membeli baju baru untuk ke kantor, apa tidak akan aneh gumamnya. "Pasti teman-teman kantor nanti bertanya-tanya kalau semua pakaian aku terlihat baru semua." Walaupun Mei tidak pernah menceritakan kondisi keluarganya pada rekan kerja, tapi hanya dengan melihat penampilan Merilin saja mereka pasti sudah bisa menduga latar belakang ekonomi Merilin. "Jadi baju kerja boleh ganti sebagian saja kan kak?"


Dasar Merilin bodoh, kenapa kau menjawab. Begitulah yang langsung terpantik di otak gadis itu yang menciut takut dengan tatapan marah Rion. Dia membantah Rion dengan alasannya. Begitu arti sorot mata menusuk Rion. Rion tidak butuh alasan, dia hanya ingin melihat anggukan kepala.


Deg. Deg. Mei merasa takut.


"Maaf Kak, aku akan membereskan semuanya lagi, aku akan membuang semuanya sesuai keinginan Kak Rion." Merilin menarik kopernya yang sudah kosong. Lalu menarik baju yang sudah dia gantung, dia lepaskan dari gantungan, tidak beraturan jatuh ke dalam koper satu persatu.


Sebenarnya Kak Serge juga sudah pernah mengatakan, kalau Rion orang yang sangat detail dan memperhatikan penampilan. Tapi mau bagaimana lagi, memang hanya ini yang Mei miliki, dia tidak punya kemampuan untuk pura-pura berkelas dengan jumlah rekening uang yang ia punya kan. Dia membawa baju, tas dan sepatu yang memang selama ini menemani hari-harinya.


Sambil menahan debaran jantungnya yang menguat karena takut, Merilin memasukkan kembali semua pakaiannya.


Terdengar Rion menutup pintu lemari dengan suara agak keras, membuat Mei membeku, menghentikan pekerjaannya.


"Pikirkan dulu sebelum kau bicara Mei, aku akan melupakan pembangkangan mu kali, aku anggap ini kesalahan pertama dan terakhirmu, tapi kedepanmya berhati-hatilah sebelum menjawab kata-kataku." Rion bicara dengan datar dan suara rendah. Membuat merinding orang yang mendengarnya.


"Baik Kak, maafkan aku."


Aaaaaaaa! kau ini kenapa si Kak!


Dasar orang gila!


Merilin melihat handuk melayang ke dalam keranjang pakaian kotor. Dia memakai handuk sekali pakai gumam gadis itu sambil memasukkan baju-bajunya asal-asalan. Menutupi kecanggungan dan kekalutan hatinya. Kalau menoleh sedikit saja, entah pemandangan seperti apa yang akan dia lihat.


Dengan santainya tubuh tinggi berotot itu membuka lemari dan mengeluarkan baju tidur. Memakainya satu persatu, seperti bukan sesuatu yang aneh dia lakukan saat ada Merilin di dekatnya.


Rion mengeluarkan satu baju tidurnya lagi dari lemarinya.


"Mei..."


"Ia Kak." Menghentikan aktivitas, sudah berani menoleh sedikit. Saat tahu Rion sudah memakai baju dia mengangkat kepalanya tegak.


"Pakai ini!"


Rion melemparkan baju yang dia pegang, membentur hidung Merilin dan jatuh dalam pelukan tangannya. Baju tidur milik Rion, yang warnanya mirip dengan baju yang sedang dia pakai sekarang.


"Ganti bajumu dan keluar, siapkan makan malam, aku sudah memesan makanan tadi."


Belum dijawab, Rion sudah keluar dari ruang ganti. Tangan Merilin gemetar memegang baju tidur milik Rion. Bukan apa-apa, ini kan seperti Merilin harus memakai baju milik raksasa. Mei tidak tahu ingin menangis atau tertawa.


Karena pintu kaca transparan dia lari ke kamar mandi. Di depan kaca dia memutar-mutar tubuh.


Dasar gila, aku jadi seperti boneka sawah dengan baju kedodoran.


Merilin melipat pinggang, menggulung bagian bawah celana seperti orang kebanjiran. Bahkan kalau dia tidak memakai celana sekalipun, baju yang dia pakai sudah bisa menjadi dress selutut untuknya.


Ah, terserahlah.


Merilin keluar dari kamar mandi, bergegas menuju dapur. Rion yang sedang meneguk air di depan kulkas memutar tubuh saat mendengar langkah Merilin. Air di mulutnya menyembur karena dia langsung tertawa.


"Apa yang terjadi denganmu Mei? Haha, lucunya."


Suasana hatinya langsung berubah, padahal tadi dia menyeramkan sekali di ruang ganti. Aku benar-benar jadi badut yang menghiburnya.


"Lucunya.. kau jadi mirip boneka dengan baju kebesaran." Mendekati Merilin, menunduk, lalu tanpa basa basi mencium bibir Merilin sambil tertawa. "Lucunya bonekaku."


Merilin hanya bisa merengut dalam hati mendengar Rion tertawa setelah seenaknya mencium bibirnya, Rion meletakkan botol minum di atas meja. Sudah ada tas berisi makanan di sana.


Sudahlah Mei, kau itu memang cuma barang miliknya. Yang bisa sesuka hati dia perlakukan. Mau kau disayang-sayang atau dimarahi, terima saja. Begitulah Merilin berkesimpulan, dengan hati Rion yang bisa berubah secepat tangan terbalik.


Eh, kenapa! Kenapa kau mendekat.


"Putar tubuhmu!"


"Apa si Kak, bajunya memang kebesaran."


"Putar!" Rion mengulangi kata-katanya, Merilin langsung memutar tubuh sebelum orang aneh di depannya marah, beberapa kali seperti orang menari.


Gelak kecil terdengar, sambil Rion menatap kaki Merilin, senyum jahat seperti biasanya kalau laki-laki itu ingin mengatakan sesuatu muncul. Membuat tengkuk Merilin merinding.


Jangan bilang kau menyuruhku melepas celanaku yang kedodoran.


Rion tertawa saat melihat wajah Merilin yang pucat pasi, karena dia bahkan belum mengatakan apa pun.


"Kenapa kau lucu begini Mei, aku bahkan belum menyuruhmu, tapi sepertinya kau sudah tahu apa yang aku inginkan. Haha."


Aaaaa! Tidak!


Bersambung