
Pagi hari di apartemen milik Rion.
Suara air terdengar dari kamar mandi, bibi pun terlihat sudah datang, dia sedang menyiapkan sarapan. Saat Rion selesai mandi, laki-laki itu keluar dengan memakai piayama handuk. Ternyata cukup tahu situasi karena keberadaan bibi. Berarti selama ini dia memang sengaja kalau cuma ada dia dan Mei.
Rion berjalan ke dapur sambil mengibaskan rambut dengan handuk kecil.
"Selamat pagi Tuan Muda, apa nona belum bangun?" Bibi bertanya karena biasanya Mei yang akan duluan muncul, tadi bibi juga menyangka kalau Mei yang ada di kamar mandi.
"Pagi Bi."
Rion menutup mulutnya yang mau tertawa, dia duduk di kursi meja makan sambil meraih gelas jus yang sudah dibuat bibi.
"Dia sudah bangun tadi, tapi aku menggangunya, jadi dia tidur lagi sekarang." Senyum diujung bibir Rion yang terlihat senang, sudah jadi arti dia menggangu Mei dalam hal apa. "Siapkan sarapan Mei, biar aku yang membawanya ke kamar."
Bibi menundukkan kepala, lalu dengan sigap menyusun segelas jus dan piring sandwich ke atas nampan. Sambil menyodorkan nampan ke depan Rion, bibi memperhatikan wajah tuan mudanya. Setelah menikah, bahkan aura beliau sangat terlihat berbeda.
"Saya senang melihat Anda dan nona terlihat rukun dan harmonis. Nyonya dan Tuan besar juga sangat bahagia kalau mendengar cerita dari saya." Bibi tersenyum malu-malu juga. Melihat keharmonisan Rion dan Mei, dia yang hanya seorang pelayan ikut larut dalam kebahagiaan.
Rion menanggapi dengan sedikit tertawa, lalu makan sandwich yang ada ditangannya.
Bibi membersihkan meja yang dia pakai untuk membuat sandwich tadi. Sebenarnya sudah bersih, tapi dia usap-usap lagi. Karena dia terlihat ragu, saat mau membicarakan sesuatu. Beberapa lama dia melakukan hal yang sama, akhirnya pertolongan Tuhan datang membantunya.
"Maaf Tuan Muda, apa saya boleh bicara." Bibi bahkan kaget saat mulutnya kelepasan bicara. Tapi, dia buru-buru menenangkan diri, dan berfikir, mungkin ini cara Tuhan membantunya.
Mulut Rion yang sedang mengunyah berhenti.
"Kenapa? bicaralah."
Mau bicara apa si bibi? Apa masalah kemarin, ibu pasti sudah tahu dari ayah.
"Maaf sebelumnya kalau saya bersikap lancang, ini juga berdasarkan pengalaman orang-orang yang saya lihat, perkara menunda kehamilan, jangan dilakukan terlalu lama tuan muda, karena tidak bagus untuk kesehatan juga." Bibi tahu dia sedikit lancang, tapi dia ingin memberikan informasi, kalau-kalau tuan muda dan nona kurang tahu perkara dampak pemakaian pil penunda kehamilan. "Maaf saya sudah lancang bicara begini Tuan Muda." Bibi terdiam sambil meremas jemarinya, menunggu reaksi Rion.
Apa sih, kenapa lagi-lagi membahas tentang anak, apa ayah yang menyuruhnya bicara, atau ibu. Hah! Kalian berdua ini tidak sabaran sekali, kami kan baru menikah!
Hup, hup, kunyah, kunyah, makan lagi. Lalu meneguk jus yang masih tersisa.
"Apa sih, kalian ini nggak sabaran sekali. Lagi pula aku nggak menundanya, aku juga tidak memakai pengaman. Katakan pada ayah dan ibu, jangan membahas anak pada Mei, nanti kalau sudah waktunya juga pasti datang, biarkan kami menikmati manisnya masa-masa pengantin baru ini." Rion menyambar nampan makanan Mei. "Bibi dengar kan, bilang pada ibu, kami masih mau jadi pengantin baru. Jangan meributkan tentang anak."
Deg.
Bibi tersenyum dan menundukkan kepala saat Rion berlalu, bibi sambil menjawab baik tuan muda. Lalu jawaban Rion terulang dikepalanya lagi. Jadi, Anda tidak menundanya? tapi kenapa nona minum pil penunda kehamilan setiap hari. Deg. Bibi sampai jatuh terduduk di kursi karena tiba-tiba serangan keterkejutan yang datang terlambat menyerangnya.
Apa nona muda meminumnya tanpa sepengetahuan tuan muda? Tapi kenapa? Mereka terlihat sangat harmonis dan romantis. Apa karena usia nona yang masih sangat muda jadi dia takut hamil. Bibi sedang bingung dengan informasi yang baru dia dapatkan hari ini. Dia belum yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi, sehingga belum menghubungi Presdir secara langsung.
Meninggalkan bibi, masuk ke dalam kamar. Mei masih terlelap di bawah selimut. Tadi pagi sebenarnya dia sudah mandi, Mei kembali ke kamar setelah mandi, tidak membangunkan Rion sebenarnya, tapi saat dia duduk di tempat tidur karena mau mengambil hp di dalam laci, pergelangan tangan Rion langsung memeluk tubuhnya. Membuatnya jatuh di atas tubuh Rion.
Mei yang masih berusaha meronta-ronta, akhirnya pasrah. Setelah dia terdiam, giliran Rion yang tertawa dan mulai menciumi lehernya. Dan bercumbu mesra di pagi hari pun mereka lakukan. Itulah yang membuat Mei akhirnya kembali tertidur dan Rion bangun duluan.
Rion meletakan nampan sarapan di dekat meja, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dia tertawa melihat rambut ikal Mei yang agak mengembang.
"Lucunya, haha." Dia tepuk-tepuk rambut dengan telapak tangan. "Rambutmu berdiri Mei, lucunya." Akhirnya malah dusel-dusel sambil dia cium-cium membuat yang sedang tidur terperanjat kaget. "Kau bangun?" Mei belum bereaksi, bahkan membuka mata pun belum. Sengaja, dia tidak mau meladeni Rion. Diamnya Mei, membuat Rion berbisik dengan jahil. "Ibu ada di luar."
Kata-kata itu langsung seperti menjadi sengatan listrik yang membangunkan seluruh Indra, Mei langsung duduk sambil mengusap-usap wajahnya, selimutnya melorot. Rion tertawa menoel sesuatu, yang langsung membuat Mei menarik selimut bahkan sampai menutupi wajahnya.
"Haha, lucunya. Aku bercanda." Bicara tanpa dosa langsung main kecup-kecup pipi saat Mei menurunkan selimut sampai ke dada. "Makanlah, aku membawa sarapan mu."
Kak Rion! Sepertinya Mei menjerit di dalam hati, sambil cemberut, melihat itu Rion lagi-lagi tertawa tanpa merasa bersalah sama sekali.
Mei meneguk jus yang dia ambil dari atas nampan yang dipindahkan Rion ke atas tempat tidur. Dengan lahap dia makan sandwich buatan bibi. Dia memang lapar.
"Kak Rion sudah makan?"
Basa basi saja Mei bertanya, karena Rion memandang orang makan sampai tidak berkedip. Mei jadi berfikir Rion menginginkan makanannya. Padahal yang ingin Rion makan, yang sedang makan. Bercanda 🤣
Rion sudah membuka mulutnya, membentuk huruf A. Bodo amat dia sudah makan, dia mau disuapi Mei sekarang. Mei yang mau meletakan roti yang sudah dia gigit dan mengambil sandwich yang masih ada di piring, menyodorkan rotinya saat tangan Rion mencengkeram pergelangan tangannya. Dan, hup, hup, Rion menggigit dalam ukuran besar.
Apa sih, ini orang. Mei cuma bisa bergumam. Saat dia menyodorkan piring sandwich yang lain, Rion menggeleng. Karena dia cuma mau disuapi Mei saja.
"Kak, apa Kak Rion mau ikut aku menjemput ibu?"
Deg.. deg, menunggu jawaban.
"Memang aku tidak punya pekerjaan."
Haha, lucunya. Rion mencubit bibir Mei yang maju-maju sambil mengunyah makanannya. Kau kesal ya.
"Apa Kak Rion mau bekerja? jadi aku bisa di rumah Harven dan ibu sampai sore?" Setelah manyun jadi terbit peluang yang membuat gadis itu senang. Kalau ia, berarti dia bisa disana sampai makan malam.
"Kenapa? kau mau makan malam bersama Serge?" Mei terlihat cuma bengong saat mendengar pertanyaan ketus Rion. "Serge akan pergi bersamaku, dia tidak akan pergi ke RS."
Jangan harap dia ikut menjemput ibumu, lalu kau berhaha hihi dengannya. Memikirkan saja sudah membuat emosi.
"Kenapa jadi Kak Ge, nanti Kak Brama dan kakak iparku yang datang Kak, Harven dan aku. Jesi dan Dean juga mau ikut menjemput ibu." Mengabsen satu persatu orang.
Syukurlah kalau banyak yang menemanimu, kau pasti senang karena ibumu bisa keluar dari RS.
"Terserah, lakukan saja yang kau inginkan, aku juga mungkin akan sampai malam nanti. Kirimi aku pesan, apa yang kau lakukan dan ada di mana. Kau paham! Menu makan malam mu juga."
"Baik Kak, Terimakasih banyak." Walaupun Kak Rion tidak ikut, Mei cukup senang dengan izin sampai malam yang diberikan. Apalagi karena foto menu makan malam yang dia minta, artinya dia boleh tinggal sampai makan malam. Gadis itu sama sekali tidak penasaran kemana Rion dan Serge akan pergi bersama di akhir pekan. Dalam pikirannya mungkin hanya pekerjaan. Mereka kan orang yang sangat mencintai pekerjaannya.
Hup, hup. Makan lagi, menghabiskan roti dan jus. Mendelik kaget, saat tangan Rion sudah menyusup di bawah selimut dan meraba-raba dan mengusap pahanya.
"Mei.."
"Ia Kak?"
Apa, jangan lagi Kak! Nanti aku bisa terlambat pergi ke RS. Ingin menepis tangan yang mengusap-usap, tapi saat melihat tatapan Rion ke langit-langit kamar, terlihat menerawang jauh, Mei jadi merasa aman. Rion sedang berbaring, entah memikirkan apa. Tapi tangannya tidak berhenti mengusap-usap paha di sampingnya.
"Kalau ibu atau ayahku bertanya, jawab saja, kita kan masih pengantin baru, jangan merasa terbebani."
Apa sih? Kak Rion bicara tentang apa? begitu kira-kira yang dipikirkan Mei dengan kepala miring.
Aku juga belum memikirkan tentang anak, nanti, setelah kau melupakan Serge dan jatuh cinta padaku. Aku akan mulai serius membicarakannya. Cih, kau itu buta ya! Kenapa tidak segera jatuh cinta padaku si, menyebalkan. Apa aku perlu menyerangmu lebih intens.
"Kenapa diam?"
"Baik Kak, aku akan menjawab begitu kalau ayah atau ibu bertanya." Apa sih, Mei berharap ini bukan masalah yang terlalu penting. Jadi asal menjawab saja yang penting tidak menimbulkan kesalahpahaman. "Kak, tentang kejadian di kantin kemarin, apa ayah dan ibu sudah tahu?"
"Aku malas membahas kejadian kemarin."
Sarapan Mei sudah habis, dia pindahkan nampan kosong, sambil menarik selimut supaya tetap menutupi tubuhnya. Saat dia agak berjongkok supaya tangannya sampai ke meja, Rion menggulung selimut itu dengan tangannya. Sok, tidak melihat ke arah Mei.
"Apa sih Kak?"
"Wahhh, kau Mei tidak tahu balas budi ternyata ya."
Apalagi sekarang! Dari tadi kenapa kau bicara sepotong-sepotong si, membuat orang bingung. Akhirnya pasrah duduk, meraih bantal untuk menutupi tubuh.
"Apa Kak? Kak Rion mau apa? Aku mau mandi."
Rion menyeringai.
"Aku kan sudah membawakanmu sarapan, kau harus berterimakasih donk." Sambil tangannya sudah menyentuh tengkuk Mei, dan dia usap-usap. Mei benar-benar kehilangan kata-kata bahkan sekedar memberi reaksi hah sekalipun. "Cium aku." Melepas tali piayama mandi. Menurunkan handuk itu, bagian bahu kanan jatuh menggantung. Sambil tertawa menunjuk tubuhnya. "Dari sini, terimakasihlah dengan benar, aku kan sudah membawakan sarapanmu sampai ke tempat tidur."
Memang aku menyuruhmu kak! Rion tertawa, seperti tahu Mei sedang menjerit dalam hati. Dia mendorong kepala Mei dengan kepalanya, dan mereka ambruk bersamaan saling menindih. Rion mencium hidung Mei. Lalu turun, mengecup bibir gadis itu yang masih terasa basah.
"Haha, lucunya. Tidak akan lama kok, aku janji. Kau tidak akan terlambat ke RS." Rion mulai mencium pipi, lalu turun ke leher Mei. "Eh, kenapa aku yang mencium mu, kan seharusnya kau yang mencium kan."
Aaaaaa! Kenapa kau tiba-tiba sadar si Kak! Begitulah akhirnya dengan malu-malu, Mei memulai terimakasihnya kepada Rion, dengan kecupan di bagian perut Rion.
Katanya tidak lama, tapi nyatanya, mereka baru ke luar dari kamar saat bibi sudah menyelesaikan pekerjaan dan pergi dari rumah.
Bersambung