
Sekilas, kejadian sebelum huru hara.
Setelah ayah menelepon sekretarisnya, dia kembali. Mengajak ibu keluar dan meninggalkan Mei sendirian di dalam ruangan. Mei yang masih merasa sedih, hanya duduk melamun sambil menyandarkan kepala di sofa. Pikirannya berlarian ke mana-mana. Setelah termenung lama, dan ibu belum kembali, dia mengambil hpnya untuk membunuh waktu. Supaya pikirannya tidak berkeliaran jauh.
Aku bahkan tidak punya foto Kak Rion, kemana aja si kamu Mei selama ini. Dia menggoyangkan hp sambil tertawa getir. Mei melipir ke akun sosial media perusahaan, demi melihat foto-foto Kak Rion. Beberapa postingan memang memakai foto Kak Rion. Berhubung sudah tidak masuk grup chat, dia memang tidak punya foto-foto lagi. Apalagi dia beberapa kali ganti hp. Bahkan fotonya di dalam hp hanya ada beberapa.
"Kak Rion yang tampan, ih pantas saja banyak sekali fansnya." Mei mengusap hpnya, sambil tersenyum. Mengagumi paras indah suaminya. "Kok bisa ya dulu aku menganggapnya biasa saja, ih padahal setampan ini. Hehe." Lalu garis senyum Mei berangsur hilang saat dia kembali pada kenyataan. "Apa semua harus berakhir seperti ini Kak. Aku bahkan belum bilang, kalau aku mencintai Kak Rion. Aku baru mau mengatakannya malam ini. Tapi malah seperti ini jadinya."
Penyesalan memang selalu mampir terlambat. Ah, andai waktu bisa berputar ulang. Tapi itu tidak mungkin kan. Rasa sedih semakin menerpa, seperti hembusan angin di luar jendela.
"Tapi, ayah dan ibu benar-benar orang yang sangat baik. Bagaimana bisa mereka tetap sebaik ini padaku." Mei mendekap hp yang ada foto Kak Rion di dadanya. Sambil melihat ke luar jendela lagi. Waktu sebentar lagi berganti gumamnya sedih.
Hati yang lega sekaligus terluka. Begitulah yang dirasakan Mei saat ini. Mei merasa beban di pundaknya sedikit terlepas setelah mengatakan kejujuran pada ayah dan ibu. Tapi, dia pun harus menanggung buah dari kejujurannya itu. Walaupun ayah dan ibu tidak membencinya, tapi tidak mungkin mereka akan tetap menganggapnya menantu. Perpisahan itu menunggu di depan mata.
Mei merubah posisi, duduk dengan tegak saat mendengar pintu yang terbuka. Ayah dan ibu masuk, mereka mendekat, duduk bersamaan di depan Mei, belum bicara apa pun, hanya saling pandang, kemudian kepala keduanya mengangguk.
Sementara Mei menunggu dengan hati berdebar, apa yang akan dilakukan mereka. Kenapa mereka keluar lama sekali.
"Mei, ayah mau bertanya padamu sekali lagi." Ibu yang bicara mewakili ayah. "Tolong jawab dengan hati-hati dan pikirkan dulu sebelum menjawab ya."
Deg.
Mei langsung merasa takut, walaupun ayah belum bicara sepatah kata pun. Apa mereka sudah memutuskan sesuatu tadi.
"Apa kau benar mau melepaskan Rion dan pergi meninggalkan Rion?" Pertanyaan ini berulang.
Apalagi sekarang, kenapa pertanyaan ayah seperti ini. Memang apa yang aku putuskan masih penting sekarang. Mei masih belum menjawab, karena dia bingung kenapa ayah bertanya ini lagi. Apa pentingnya perasaanku, yang utama kan hati Kak Rion.
"Kak Rion tidak mencintai saya, walaupun saya ingin tetap bersama kakak, itu tidak mungkin kan."
Walaupun tahu, dengan tidak tahu malunya aku mau mengungkapkan perasaanku.
"Bagaimana kalau Rion juga sebenarnya mencintaimu."
"Hehe, Ayah, itu kan tidak mungkin." Tawa yang dipaksakan terdengar. Segaris senyum yang dibuat-buat juga muncul. "Saya sudah senang, bisa mencintai Kak Rion. Apa pun keputusan ayah dan ibu, saya akan menerimanya. Saya tidak dibenci oleh kalian saja, saya sudah sangat berterimakasih." Lagi-lagi, kesedihan muncul seperti air yang mengalir. Turun begitu saja. "Saya siap dengan keputusan ayah dan juga ibu, apa pun itu."
Ayah menepuk bahu ibu, tersenyum pada istrinya. Dia tidak merespon jawaban Mei, karena dia hanya sedang memastikan, ketulusan hati Mei untuk anaknya. Dan sekarang, yang harus dihadapinya adalah Serge. Orang yang paling dia percayai malah menusuknya dari belakanh! Dasar! Ayah bergumam, tanpa sadar dia membanting pintu karena sedang memikirkan Serge. Tapi, Mei terlonjak kaget. Dan berfikir ayah kesal padanya.
Sang waktu bergulir, kedua wanita itu berusaha saling menguatkan.
Ibu menenangkan Mei, dan menghibur dengan kata-kata lembutnya, semua pasti baik-baik saja ujar ibu. Tapi tetap saja, tidak membuat kecemasan di hati Mei pergi. Ibu memanggil bibi untuk membawa jus dan camilan sambil menunggu. Karena mereka tidak akan keluar dari kamar, sebelum dipanggil. Sambil menunggu dengan gelisah, Mei mendengarkan ibu bercerita tentang masa kecil Kak Rion.
Mei menanggapi dan tertawa sebisanya, karena gadis itu tahu, bahwa ibu sedang berusaha menghibur hatinya supaya tidak gelisah.
Sambil memegang foto kecil Kak Rion Mei tertawa dan bertanya ini dan itu, walaupun pikirannya sedang berlabuh entah di mana.
Hidup seperti apa yang akan dia jalani ke depannya tanpa Kak Rion. Mei tidak bisa membayangkan, tapi sepertinya akan jauh lebih suram ketimbang saat dia kehilangan ayahnya. Karena dia sudah terikat terlalu dalam dengan laki-laki itu. Dia sudah sangat mencintai suaminya itu.
"Ibu, tolong jangan benci saya ya walaupun saya bukan lagi menantu ibu." Tanpa sadar, Mei memegang empat foto. "Hehe, apa ini boleh buat aku Bu?"
Kak Rion imut sekali waktu pakai seragam TK. Hihi. Aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.
Ibu membelai kepala menantunya, mengganguk.
"Mei, apa kamu tidak pernah berfikir kalau Rion juga mencintaimu?"
Tawa palsu itu terdengar lagi. Menghibur hati yang terluka.
"Kak Rion memang membuka sedikit hatinya Bu, karena dia sudah melupakan Amerla. Tapi, dia juga tidak mungkin mencintaiku. Ibu dan ayah pasti salah paham. Hehe, aku nggak apa-apa Kok Bu. Sungguh."
Dan akhirnya mereka berdua terdiam, dengan pikiran masing-masing. Hanya tangan yang saling terpaut dan mengusap, memberi kekuatan. Tiba-tiba Mei melepaskan tangan ibu.
"Ibu, apa saya menghubungi teman saja untuk menjemput ke mari." Mei sudah memegang hp dalam dekapan. Dia mau menelepon Dean meminta untuk menjemput. Setelah semua hal yang terjadi hari ini, dia sudah tidak sanggup untuk bertemu dengan Kak Rion.
"Mei, kamu ini bicara apa si, kamu itu masih menantu ibu."
"Tapi Bu."
Ketukan pintu terdengar menghentikan bantahan Mei, suara bibi yang mengatakan kalau sekretaris Presdir memanggil. Membuat ibu membuka pintu. Mei ikut mendengarkan yang dikatakan paman dengan tegang.
"Presdir meminta Anda dan nona untuk datang ke ruang kerja beliau sekarang. Tuan Muda sudah datang."
Kak Rion sudah datang! Aaaa! Bagaimana aku bisa bertemu dengannya sekarang, setelah semua ketahuan begini.
"Baiklah, ayo Mei."
Sudah waktunya ya, gumam ibu. Dia mengganguk, lalu menarik lengan Mei untuk keluar dari kamar.
"Kita mau ke mana Bu?"
"Bertemu dengan Rion."
Wajah ibu saat mendorong Mei, terlihat mulai cerah. Dia bahkan tersenyum sumringah. Seperti semua masalah sudah terselesaikan. Sedangkan Mei semakin gemetar, saat langkah kakinya semakin dekat menuju ruang kerja.
Dan di depan pintu ruang kerja ayah.
Mei yang tadinya mau menelepon Dean, masih menggengam hp. Berdiri kaku, pintu ruang kerja ayah terbuka. Membuatnya bisa melihat ruangan yang berantakan. Kak Rion yang sedang duduk berlutut. Suaminya yang tampan, terlihat menunduk sedih.
Deg.. deg... Semakin didengar, apa yang diucapkan Kak Rion kok semakin aneh, seperti sesuatu yang tidak mungkin keluar dari mulutnya.
Apa ini mimpi? Plak! Tangan kecil Mei menampar pipinya sendiri. Sakit, ini bukan mimpi gumamnya. Tapi, tapi apa yang sedang Kak Rion katakan sekarang? Tidak mungkin. Bola mata yang membesar, mulut yang terbuka. Tapi Mei, tidak bisa menutupi ekspresi senang dari bibirnya yang merekah.
Kak Rion menyukaiku, Kak Rion juga mencintaiku.
Deg..deg...
"Aku mencintai Mei!"
Hp yang ada ditangan Mei jatuh terlepas. Saat ibu mendorongnya masuk, ruangan yang berserak tidak terlihat di mata Mei. Bahkan seseorang yang sedang duduk berlutut dengan memar di wajahnya, hanya terlihat seperti bayangan samar di mata Mei. Yang dilihat Mei sekarang hanya Kak Rion. Suaminya yang tampan, suaminya yang katanya mencintainya. Kata boneka bukan hanya di coret, tapi juga menghilang.
"Kak Rion." Dengan bola mata sudah berkaca Mei mendekat.
"Mei, kenapa baru datang. Kamu kemana saja?"
Tidak ada kata-kata yang terucap, karena jantung yang berdetak sangat kuat. Airmata bahagia yang tidak mau berhenti. Mei hanya bisa menghambur ke pelukan Rion. Memeluk pinggang Rion, dan menangis di dada Rion.
"Apa, apa yang Kak Rion katakan tadi benar? Aku tidak salah dengar kan? Kalau Kak Rion bilang, Kakak mencintaiku."
Rion mendengus. Mei sampai mendongak memastikan. Wajah tampan itu merengut tapi juga terlihat memerah. Lucunya gumam Mei. Apa Kak Rion malu.
"Cih, kau tidak percaya?" Mode ketusnya kambuh.
"Ehem!" Ayah.
"Dih..." Serge.
"Ia, ia." Sadar kalau ternyata mereka tidak berdua. Belum lagi, paman yang berdiri tidak bergeming itu. Terserahlah, kalian mau menonton bodo amat. Rion fokus pada Mei saja. "Aku mencintaimu Mei, sangat mencintaimu. Aku bahkan sudah tertarik padamu saat pertama kali melihatmu. Aku mencintaimu Mei, bagaimana denganmu." Rion mencium hidung Mei. "Apa sekarang, cintaku bisa kau balas?"
Perasaan senang yang sekarang meluap di hati Mei, membuat gadis itu memiliki keberanian yang entah selama ini tersimpan di mana.
"Kak Rion ingat?" Meraih kedua tangan Rion, mengaitkan ke tangannya. "Aku akan menagih hadiah Kak Rion setelah wawancara majalah selesai."
Rion bergumam, dia ingat itu. Tapi apa hubungannya dengan cinta.
"Yang ingin aku minta dari Kakak adalah..." Mei menunduk, membenturkan kepalanya ke dada Rion. "Izinkan aku untuk mencintai Kak Rion. Aku tidak perduli cintaku terbalas ataupun tidak, tapi aku cuma mau minta, izinkan aku mencintai Kakak."
Deg. Kali ini detak jantung Rion yang menguat. Bahkan tangan miliknya yang digenggam Mei bergetar.
"Bohong!"
Mei menggeleng cepat. Dia tidak berbohong, saat ini, apa yang dia katakan adalah sesuatu yang dia simpan di dasar hatinya. Yang berusaha ia simpan rapat. Bahkan walaupun dia berusaha membantah hatinya, tetap saja cintanya yang menang.
"Karena aku mencintai Kak Rion, bahkan saat aku hanya dianggap istri boneka oleh Kakak, aku sudah jatuh cinta pada Kak Rion."
"Bodoh! Kenapa kau tidak mengatakannya."
"Ehem."
"Rion!"
"Dih..."
Suara ketiga orang yang menandakan ada makhluk hidup lain di sekitar mereka berdua terdengar. Mei sampai kaget, karena hanya melihat Kak Rion dia sampai tidak menyadari, kalau mereka jadi tontonan sekarang. Rona malu langsung mengembang di wajah Mei.
"Kita sama-sama bodoh Mei, tapi aku mencintai istriku yang bodoh ini." Memeluk pinggang Mei, dan menghadiahi kecupan bertubuh di pipi. Rion mengangkat Mei dan menjatuhkan gadis itu duduk di sofa di dekat ayahnya duduk. Lalu dia bersimpuh di lantai. Meletakan tangannya dipangkuan Mei. "Mei, dihadapan ayah dan Ibu, aku mau melamarmu lagi."
"Kak..."
Rion mencium telapak tangan Mei, kemudian dia letakan di pipinya.
"Jadilah istriku yang sesungguhnya Mei. Istri yang aku cintai dan mencintaiku. Dan juga, aku mohon maaf." Rion menjatuhkan kepala di pangkuan Mei. "Maafkan aku Mei, aku pasti sudah menyakiti hatimu. Maafkan aku yang pernah memanggilmu bonekaku." Mendongak dengan tatapan sendu dan rasa bersalah. "Dulu aku jahat sekali kan, apa kau mau memaafkan aku."
Ayah dan ibu bergandengan tangan, ibu bahkan menitikkan airmata karena saking bahagianya.
Serge cuma bisa melongo, melihat tingkah Rion. Laki-laki yang bahkan jungkir balik sifatnya. Dia dulu bucinnya dengan Amerla sampai membuatku mual, sekarang, dengan Mei sampai membuatku merinding. Hah, tapi aku benar-benar senang Mei, sungguh, aku senang kau menikah dengan Rion dan merubahnya. Tapi, hei! Mendelik ke arah Rion. Bisa tidak mulai sekarang jangan bicara omong kosong tentang hubunganku dengan Mei. Kau bisa membuat Presdir salah paham sialan!
Dan Serge tetap berkubang dengan kebodohannya, seperti yang sering Rion bilang berulang kali.
Kecupan lembut bibir Mei, menyapu kepala Rion. Diusapnya kepalanya laki-laki yang ada dipangkuannya itu.
"Kakak tidak jahat, kakak juga tidak perlu minta maaf. Karena suami dan istri kan memang saling memaafkan."
"Aku mencintaimu Mei. Aku mencintaimu."
Rion dusel-dusel di pinggang Mei. Membuat gadis itu spontan memukul bahu Rion. Karena malu di depan ayah dan ibu.
"Awwww, sakit Mei."
"Maaf Kak, aku tidak bermaksud memukul Kakak."
Rion memutar tubuh, duduk dilantai sambil menjatuhkan kepalanya bersandar di paha Mei. Rion menatap ayahnya.
"Aku dipukuli ayah Mei, sakit." Menggoyangkan kepala minta diusap.
Dan mereka sudah kembali menjadi keluarga bahagia.
Sementara itu, Serge.
Aku kesemutan sialan! Kapan kau selesainya! Serge sudah berani meluruskan kaki, sudah duduk dilantai. Menonton keharmonisan keluarga. Dia meringis menahan sakit, melihat pintu keluar. Mau kabur, apa aku merayap saja ya gumam Serge. Ah, aku mau pulang. Tapi, aku bilang apa pada ibu kalau melihat bibir pecah ini.
"Ge..."
"Baik Tuan!"
Serge berteriak sambil kembali ke posisi duduk berlutut. Terkejut, mendengar Presdir memanggilnya.
"Kenapa kau diam saja di situ, kemarilah."
"Ba...baik."
Dia bangun, menyeret kakinya yang masih agak kebas. Dia berdiri di dekat Rion yang duduk di lantai sambil bersandar di paha Mei.
"Duduklah..."
"Ah, baik."
Aku harus duduk di mana? Rion saja duduk di lantai. Saat sedang kebingungan, Presdir menepuk ruang kosong di sebelahnya. Apa? Kenapa aku harus duduk disebelah Anda! Takut-takut Serge menjatuhkan pantatnya ke sofa. Seperti duduk di atas duri beracun.
"Ge, kau tahu kan, aku sangat berharap padamu."
"Maafkan saya Tuan, saya belum bisa bekerja dengan baik."
Presdir menepuk bahu Serge.
"Kau juga, segera cari pacar dan menikah. Jangan melihat ke belakang, lembaran baru dan masa depan itu yang penting. Kau paham? Tidak perlu menoleh ke belakang. Paham kan?" Tepukan dibahunya memegang pelan, tapi Serge merasa di pukul dengan mata pisau. Karena dia juga tidak paham apa yang dikatakan Presdir.
"Baik Tuan, saya akan mengingat itu."
"Aku bisa mengandalkan mu."
"Baik Tuan."
Hah! Aku mau pulang! Serge memiringkan bibir, saat melihat Rion yang sama sekali tidak perduli sekitarnya, dia malah Cengengesan dan towel-towel kaki Mei. Sambil menggesek kepalanya beberapa kali di paha Mei.
Woi, ini bumi bukan milik kalian berdua.
"Sebelah sini Mei, sakit..." Rion menunjuk lengannya, minta diusap.
Ayah dan ibu tersenyum bahagia, rencana mereka berhasil sempurna.
Bersambung
Yang nyambung omongannya Rion cuma ayah 😅