Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
133. Cuma Memijat


Halaman rumah Presdir sudah disulap menjadi beberapa bagian. Ada studio mini untuk mengambil foto dan lokasi yang akan dijadikan tempat wawancara dengan background gedung Andez Corporation. Tempat duduk serta dekorasi replika gedung Andez Corporation dan tumpukan majalah yang disusun sedemikian rupa. Semua sudah sempurna. Berbagai properti pendukung juga sudah ada ditempatnya.


Semua orang bekerja sesuai dengan tugas masing-masing. Dengan giat dan tekun tanpa kenal lelah. Vidio dan foto-foto pendukung yang akan mereka pakai selesai juga sesuai jadwal. Walaupun harus dibantu lembur. Edisi majalah bulan ini akan menjadi edisi spesial tahunan mereka. Akan dicetak dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya.


Setelah makan malam Mei langsung masuk ke kamar, ibu menyuruhnya untuk langsung istirahat.


"Tidak usah menunggu Rion Mei, langsung tidur ya, kamu kan seharian sudah bekerja keras." Ibu bicara dengan lembut sambil mengusap bahu menantunya. Memijatnya pelan.


"Hehe, ia Bu. Terimakasih untuk semua bantuannya, sudah menjamu semua tim, kami jadi merepotkan semua orang. Teman-teman sangat berterimakasih." Sekali lagi Mei menyampaikan salam dan ucapan terimakasih dari teman-teman yang lain.


"Apa sih, ibu malah senang tahu, bisa melihat Mei bekerja. Sudah sana, istirahatlah."


"Baik Bu." Mei sudah berjalan dua langkah, berbalik dan berlari ke pelukan ibu tiba-tiba. Ibu terkejut dengan pelukan spontan menantunya, namun dia tersenyum dan membalas pelukan Mei. "Terimakasih Bu, selamat istirahat."


Setelah itu Mei langsung lari menaiki tangga, malu sudah memeluk ibu tiba-tiba. Hatinya berdebar saat menoleh dan melambaikan tangan pada ibu.


Ibu yang sangat baik, terlalu baik, sampai rasanya Mei merasa terbebani. Dia bahkan merasakan cinta yang persis diberikan oleh ibunya dari orang tua Kak Rion. Mei masih dihujani rasa bersalah sebenarnya. Karena apa? tentu saja karena rahasia awal pernikahan yang terjalin antara dia dan Kak Rion. Mei benar-benar ingin berlutut dan memohon maaf pada ibu. Suatu hari nanti, dia berharap mendapatkan kesempatan itu. Dan dia juga berharap ayah dan ibu memahami alasannya. Dia tidak ingin dibenci oleh ayah dan ibu Kak Rion.


Setelah ganti baju dan menyisir rambut, Mei duduk di tempat tidur, menarik selimut sampai ke pangkuan. Memeriksa sekali lagi daftar pekerjaan yang sudah dia rampungkan. Dia memberi tanda cek list pada buku catatannya.


Foto-foto semua edisi majalah ☑️


Vidio rumah Presdir ☑️


Hasil Vidio drone cakep banget ☑️


Artikel pendukung ☑️


lokasi wawancara ☑️


Deretan daftar dia cek list semuanya, yang intinya semua sudah oke, tinggal menunggu tanggal mainnya besok.


"Aaaaaaaa! Akhirnya, semoga besok semua lancar!" Dia berteriak sambil menjatuhkan tubuh, terlentang diatas tempat tidur. Melebarkan kedua tangannya sambil menatap langit-langit kamar. "Kalau semua selesai besok, apa aku langsung mengatakannya pada Kak Rion saja ya. Aaaaa bagaimana ini."


Karena semua pikiran dan tenaga hanya dicurahkan Mei untuk persiapan wawancara, dia sampai melupakan rencana pengakuan cintanya. Bukan lupa, dia ingat, cuma tidak punya waktu untuk menyusun rencana apa yang akan dia lakukan besok.


Aku kan tidak mau menyatakan cinta di atas tempat tidur, aku ingin suasana yang romantis. Makan malam, benar, aku harus membuat makan malam romantis bersama Kak Rion, bola mata Mei berbinar. Seharusnya aku mengajak Kak Rion pergi berdua ke suatu tempat dan menyatakan cinta sambil memegang tangannya. Pasti akan romantis kan. Suasana juga harus mendukung.


Tapi, aku bahkan belum reservasi dan mencari tempat untuk makan karena hanya memikirkan wawancara.


Mei berguling, sekarang menelungkupkan wajah di atas bantal, miring ke kanan melihat pintu yang tertutup, kakak belum pulang ya, aku kangen. Setelah bergumam tentang kerinduannya pada suaminya, pikirannya mengembara jauh ke tempat-tempat yang sering dia kunjungi untuk makan bersama Jesi dan Dean. Apa aku ajak saja Kak Rion ke kafe musim semi ya? Gumamnya dengan mata mulai menyipit. Kantuk mulai menyerang Mei, padahal ini belum terlalu larut. Tapi, sebentar saja Mei sudah jatuh dalam tidur. Alam bawah sadarnya sedang mengembara dan menyusun rencana.


"Hemm, makan malam. Hemm." Gumam-gumam. "Ahhh." Mei terbangun dengan mata langsung membelalak saat merasa sentuhan hangat di kakinya. Lebih terkejut lagi saat melihat Kak Rion duduk di sebelahnya. Sudah dengan pakaian tidurnya, eh bukan pakaian. Celana tidurnya saja maksudnya. "Kakak!"


Apa yang Kak Rion lakukan, kenapa dia menyentuh kakiku.


Rion tersenyum.


"Kau bangun?"


"Apa yang Kak Rion lakukan? Eh, maaf Kak, aku malah tidur duluan sebelum Kak Rion pulang."


Tunggu! Apa yang dia lakukan! Mei semakin kaget, saat Kak Rion mengambil sebuah botol kecil di dekat kaki. Botol apa itu pikir Mei, belum sempat bertanya, Rion sudah menuangkan isi botol itu ke atas telapak tangannya. Dan telapak tangan lebar itu langsung menempel di kaki Mei. Hangat dari minyak terasa di kaki Mei.


Dia memijat kakiku!


"Kak, apa yang Kak Rion lakukan? Aku nggak papa Kak?"


Berapa imbalan yang harus kuberikan pada Kak Rion karena dia sampai memijat kaki ku! Laki-laki yang selama ini sangat perhitungan padaku dalam hal apa pun. Dia kan tidak mau rugi!


"Diamlah, ibu bilang kau bekerja keras seharian ini, lari ke sana ke sini, lompat-lompat seperti kelinci tidak ada habisnya. Kakimu Pati lelah kan." Sentuhan jari Rion mulai menekan kaki. Ah, enaknya. Mei sampai mengeluarkan suara dari bibirnya. Kaget sendiri dia, karena menikmati pijatan Kak Rion. "Wahh, kau sampai men*desah. Haha, tanganku memang tangan dewa."


Mei tersenyum menimpali kata-kata Kak Rion.


"Kau suka?"


Tunggu Mei, jangan asal menjawab. Dia kan kadang aneh. Mei jadi kelamaan berfikir karena menebak maunya Rion apa.


"Tidak menjawab?"


"Maaf Kak, tentu saja aku menyukainya Kak. Kakiku sepertinya agak tegang karena tadi banyak jalan. Terimakasih ya Kak, enak sekali."


Apa ini nyata? bagaimana mungkin Kak Rion sampai memijat kakiku. Eh, apa karena ibu yang menyuruhnya. Mei mencoba menebak ekspresi wajah Kak Rion sekarang. Halah, memang aku pernah berhasil menebak isi hatinya. Mei langsung menyerah begitu saja.


"Pijatan Kak Rion enak sekali."


"Benarkah? Hemm, apa perlu aku buka jasa pijat ya?" Menatap Mei dengan sorot mata ingin mendengar jawaban. Mei jadi panik karena tidak bisa menebak jawaban apa yang diinginkan Kak Rion. "Bagaimana menurutmu Mei? Kau mau aku jadi tukang pijat?"


"Haha, apa si Kak. CEO kita mau jadi tukang pijat. Kakak ada-ada saja." Mei memukul bahu Rion agak keras. Laki-laki itu berhenti menggerakkan tangan dan melihat Mei. "Maaf Kak, maaf, aku refleks sumpah!" Mei menarik kakinya, tapi baru mau menggeser kaki menjauh, Rion sudah memegangi kedua kaki itu. Mempertahankan pekerjaan mulia yang sedang dia lakukan barusan.


Lagi-lagi, Kak Rion tertawa untuk alasan yang tidak dimengerti Mei. Ah, terserahlah, tawa mu membuat wajahmu semakin tampan Kak, jadi aku akan menikmati setiap tawa dari bibirmu, walaupun kadang situasi dan waktunya sedang menyebalkan sekalipun.


Masih memijat dengan lembut, diseputar kaki, turun ke telapak kaki. Setelahnya Rion merayap ke paha.


"Buka..."


"Apanya Kak?" Mei bicara dengan suara agak meninggi karena kaget.


"Bajumulah, memang apa lagi?"


Setelah melepas tali pita yang mengikat baju, kain lembut itu sudah melorot. Mei menariknya melalui kepalanya. Dan membuang baju tidurnya entah jatuh ke mana. Dia sendiri langsung merebahkan tubuh, dengan menjatuhkan diri.


Eh, kenapa diam saja, padahal aku sudah pasrah.


Mei yang awalnya memalingkan wajah karena malu, melirik Rion lagi. Laki-laki itu sedang menahan tawa, wajahnya memerah karena berusaha tidak tertawa.


"Kak? Kenapa?" Mei kebingungan.


"Haha, Mei, kenapa kau pasrah begitu." Akhirnya keluar juga tawa yang sampai terdengar seperti ejekan saking terpingkalnya dia. "Padahal aku menyuruhmu buka baju karena mau memijat punggungmu."


Apa!


Saking malunya Mei tidak mau menjawab, dia membalik tubuh, menelungkupkan semua bagian wajahnya ke dalam bantal. Saat dia mendengar Kak Rion tertawa lagi, dia tidak mau mendongak saking malunya.


Eh, apa ini! Katanya mau memijat!


Tapi Mei bisa merasakan, ketika kulitnya bergesekan dengan tubuh Kak Rion yang ada di atasnya, dia bertumpu pada lutut. Celana laki-laki itu sepertinya sudah melayang pergi.


"Kak, katanya mau memijat."


"Memang."


Ahhhhh, ahhhh!


Rion menempelkan tubuhnya erat sampai menempel ke pinggang Mei, menggoyangkan pinggulnya, lalu jemari Kak Rion mulai menari di punggung Mei. Mei bisa merasakan kecupan demi kecupan menjalar di bagian telinga. Sembari tangannya memijat anggota tubuh yang lain juga aktif beraktifitas baik bagian atas maupun bawah.


Aaaaaaa! Bagaimana ini, Mei kenapa kau mendesah dari tadi, dasar gila! Kenapa si Kak, kenapa kau pintar sekali menyenangkan tubuh dan hatiku! Mei merasa malu sendiri.


"Kau suka?"


"Ahhhh, Kak!"


Pijatan yang menekan punggung terasa sangat pas, tidak terlalu kuat, tapi juga tidak lemah. Mei sampai merasakan seperti sedang dipijat tukang pijat profesional.


"Kak Rion pintar sekali memijatnya?" Mei meringis saat merasa sentuhan tangan Kak Rion menekan bagian yang pas.


"Aku memang pintar dalam segala hal." Menjawab sombong.


"Ah, tentu saja, Kak Rion kan sempurna dalam semuanya. Hehe. Enak sekali Kak, sering-sering ya. Eh, maaf Kak bukan maksudku begitu." Mei kaget sendiri dengan kata-katanya. "Maaf, karena aku bersikap kurang ajar."


"Berbalik."


Rion hanya mengangkat pinggulnya sambil melebarkan kaki supaya Mei bisa memutar tubuh. Sekarang, saat berhadapan entah kenapa Mei jadi malu. Dia tidak berani membuka mata dan menatap langsung Kak Rion. Karena posisinya yang sangat ambigu tanpa pakaian begitu.


"Apa ini yang namanya pijat plus-plus Kak?" Bertanya, tapi tidak berani membuka mata karena malu.


"Apa itu?"


Aaaaaa! Entahlah, masak aku disuruh menjelaskan si!


"Buka matamu, lihat aku." Mei membuka mata perlahan. "Puji aku, pijatan ku maupun wajahku yang tampan, aku baru mau meneruskan bagian depan." Rion menoel sesuatu. "Ibu bilang, aku tidak boleh mengganggumu malam ini karena kau kelelahan. Jadi aku akan menepati janji pada ibu, aku cuma memijat. Tapi..." Menoel lagi sesuatu yang ada di tubuh Mei. "Bagian depan tidak gratis."


Sudah kuduga, Mei tertawa karena tebakannya tidak meleset. Memang ada yang gratis, malah aneh kalau Kak Rion tidak minta apa pun darinya. Gadis itu tersenyum mempersiapkan diri. Bicara menjilat, untuk menyenangkan Kak Rion. Walaupun terdengar palsu, tapi apa yang keluar dari mulut Mei saat ini adalah kejujuran.


"Terimakasih Kak, sudah memijatku. Kak Rion sangat pandai memijat, tangan kakak lembut dan hangat. Kakak juga sangat tampan, sampai rasanya mataku silau karena cahaya ketampanan Kakak."


Rion terlihat puas sekali.


"Teruskan, lebih tulus lagi."


Aku sudah sangat tulus Kak!


"Ahhh, Kak,, awwww."


Rion tertawa.


"Kenapa menciumi Kak? katanya mau memijat."


"Aku memijatnya kok, cuma pakai bibir. Haha."


Hah?


Dan Kak Rion menepati janjinya, memijat tubuh Mei, bagian depan tubuh, tapi dia melakukannya dengan menggunakan bibir dan lidahnya. Karena kegelian dan hasratnya malah muncul, Mei menjerit pelan sambil memalingkan wajah dengan wajah yang sudah memanas dan berwarna merah.


"Lakukan saja Kak, jangan hanya memijat dengan bibir Kakak, lakukan apa pun yang Kakak inginkan. Karena aku menyukai tukang pijat ku yang tampan ini."


Untuk pertama kalinya, Mei meminta pada Rion. Dengan suara mende*sah, sambil memalingkan wajah yang memerah.


"Kakak tidak melanggar janji dengan Ibu, aku kan yang meminta."


Terlihat sekali, Rion yang agak blank karena kaget dengan kata-kata Mei. Tapi kemudian dia langsung tertawa dengan riang. Karena ini pertama kalinya Mei mengundangnya duluan. Dia tidak mungkin menolaknya kan, hatinya malah sedang berbunga dan dipenuhi percikan rona merah muda.


"Katakan kau menyukaiku Mei, katakan kau menginginkanku."


Bisikan Mei seperti yang ingin Rion dengar, bercampur kecupan basah Rion di leher Mei. Dan malam mereka belum berhenti sampai disitu.


Bersambung