
Masih di hari yang sama. Hari tidak terduga itu bukan hanya milik Mei, karena adik kecilnya pun merasakan hal yang sama.
Setelah mendengar sahutan Mei dari dalam kamarnya, Harven baru berbalik pergi. Dia mau mengantar Sheri katanya. Sebelum keluar rumah, Harven melewati ruang tamu, menyapa kakak laki-lakinya.
"Kak Brama, aku mau mengantar Sheri sebentar ya, kalau ibu mencari nanti."
"Hemm, Mei gimana?"
"Sebentar lagi katanya Kak Mei keluar."
Harven melambaikan tangan pada Serge, lalu menundukkan kepala pada anak-anak ibu tetangga sebelah. Setelahnya langsung lari ke luar rumah. Sheri dan Kak Arman sudah menunggu di dekat mobil.
"Harven ikut?" Arman sedikit bingung.
"Ia..." Sheri menjawab tanpa memberi penjelasan.
"Hah? tumben?" Arman menatap Sheri penuh tanda tanya. Kenapa membiarkan Harven ikut pikirnya. Kalau dia ikut berarti. "Sheri?" Arman menarik lengan Sheri, berbisik pelan, kalau-kalau nona mudanya sedang lupa ingatan, saking bahagianya karena Harven mau mengantar. "Nona, benar, Harven mau ikut? Kalau dia ikut berarti..."
"Dia sudah tahu semuanya Kak." Dengan santainya Sheri menjawab sambil nyengir.
"Hah?"
Sudah masuk ke dalam mobil, Arman melirik spion, melihat situasi di kursi belakang. Ini aman nggak ini? nggak bahaya apa? Laki-laki itu tentu yang paling akan terkena imbasnya, kalau tuan besar dan tuan mudanya menggila nanti, gara-gara kemunculan tidak terduga laki-laki yang sudah mencuri perhatian bayi mereka. Hah? bayi apanya, Arman tergelak geli sendiri.
"Ehm." Arman berdehem, sambil membunyikan mesin mobil. Memberi kode untuk terakhir kalinya pada Sheri, apa benar dia boleh menghidupkan mesin, dan membawa mobil melaju menuju rumah.
"Aku mau mengenalkan Harven pada semuanya Kak malam ini. Pada orangtua ku dan pada kakak ku serta kakak ipar. Hemm, pada para pelayan juga. Calon suami ku ini lho. Hehe."
Harven langsung mendelik, tapi disambut tawa seperti biasanya oleh Sheri.
"Wkwkw, Harven malu-malu."
Semakin dipelototi, Sheri semakin menjadi menggodanya. Akhirnya Harven hanya menghela nafas pasrah.
"Apa Nona sudah bilang pada tuan muda dan tuan besar?" Arman sudah memakai mode panggilan sopan, karena sandiwara kakak sepupu sudah berakhir.
Harven menatap kepala Arman lekat, terlihat bibirnya agak manyun.
"Selama ini Kak Arman pandai sekali aktingnya ya?" Bicara dengan nada agak ketus, demi menunjukkan kalau dia korban yang sudah ditipu selama ini. "Aku bahkan sama sekali tidak curiga. Apa Kak Jesi sudah tahu?"
Sheri melingkarkan tangan di lengan Harven, menempelkan kepalanya di lengan. Memastikan kalau Harven tidak sedang marah.
"Ven, kamu masih marah ya? Kak, Kak Arman juga minta maaf donk sama Harven." Padahal otak dari semua sandiwara kan Sheri, tapi gadis itu seperti ikut menyeret Arman untuk bertanggung jawab.
Harven yang mengibaskan tangan dengan cepat, kalau dia tidak butuh permintaan maaf dari Kak Arman.
"Aku tidak minta Kak Arman minta maaf kok. Aku hanya ingin mematikan, Kak Arman tidak menyakiti hati Kak Jesi, karena Kak Jesi itu sudah seperti kakak ku sendiri juga." Teman Kak Mei adalah temanku juga, gumam Harven dalam hati. Mungkin, bisa jadi, kalau dia marah pada Kak Arman bukan karena alasan dia tertipu, tapi kalau laki-laki yang sedang mengemudikan mobil dengan santai itu menipu Kak Jesi juga.
"Maaf Ven, aku mengikuti permainan Nona Sheri. Tapi, kalau dengan Jesi, aku mengatakan semua sejujurnya padanya siapa aku. Bahkan dia tahu berapa gaji bulanan ku." Arman melirik spion lagi, mematikan reaksi Harven. "Aku sudah mengenalkannya pada keluarga ku, tidak ada yang aku tutupi dari Jesi. Bahkan, koleksi komik ku yang tidak pernah aku tunjukkan pada orang lain, aku perlihatkan pada Jesi." Hal yang dulu tak pernah dilakukan Arman, dilakukannya bersama Jesi.
Hening...
Sheri menarik tangan Harven.
"Maaf..."
"Sudahlah, aku bertanya pada Kak Arman bukan karena marah. Aku hanya memastikan, kalau Kak Arman jujur pada Kak Jesi. Jangan tersinggung ya Kak."
"Haha, tentu saja tidak. Aku paham kok."
Mobil terus melaju.
Hah, syukurlah gumam Arman. Harven benar-benar laki-laki dengan hati yang hangat dan dewasa dalam bersikap. Menghadapi nona yang seenaknya, memang butuh hati seluas samudra.
Deg, tiba-tiba Arman mulai merasakan sesuatu.
Karena masalah terbesarnya sekarang adalah, mereka sudah sampai di depan rumah besar milik Presdir Gardenia Pasifik Mall.
"Nona, masalah kita sekarang ini." Arman menunjuk pintu gerbang rumah Sheri, saat penjaga gerbang melihat mobil Arman, salah satu penjaga langsung bergegas membukakan pintu. "Kalau tuan muda menggila, tolong lindungi saya ya. Saya kan cuma menuruti perintah Anda."
"Hih! Apa sih Kak, kamu membuat Harven jadi takut kan."
Harven langsung berubah tegang, saat mobil melewati gerbang utama. Sheri bisa merasakan tangan yang dia genggam keluar keringat dingin.
"Ven..."
"Padahal aku yang memaksa ikut tadi, tapi setelah sampai di sini kenapa aku mau pulang ya?"
"Haha, apa sih Ven. Tenang saja, kalau kakak ku sampai memarahi mu, nanti aku yang marahi dia balik. Tenang saja, aku kan ada di samping mu. Yang akan jadi perisai dan pelindungmu."
"Apa sih." Harven juga bisa tertawa, walaupun hatinya berdebar-debar. Takut dan cemas, entah apa yang akan terjadi di dalam sana. Dia sedang berusaha menyiapkan hati dan keberanian. Supaya tidak bicara dengan terbata-bata.
Tenanglah Ven, mungkin saja keluarga Sheri seperti keluarga Kak Rion kan. Harven sedang berusaha menghibur diri dan meyakinkan hati. Keluarga yang menerima Kak Mei dengan penuh cinta. Kalau mendengar cerita Sheri, sepertinya begitu. Walaupun tidak, walaupun hal paling menyakitkan sekalipun terjadi, jangan salahkan Sheri.
Perlakukan Sheri dengan baik, seperti kau ingin Kak Mei diperlakukan baik juga oleh suaminya. Kata-kata yang seperti alarm itu terngiang di kepala Harven.
Deg.. deg..
Harven menghentikan langkah, ketika mereka menapak bebatuan di taman. Harven memutar kepalanya, memastikan sekali lagi. Rumah ini memang seperti istana. Taman yang sedang dia lihat sekarang saja bahkan jauh lebih luas dari rumah yang dia tempati beserta taman depan dan belakang. Hati kecil Harven jadi menciut. Bagaimana bisa dia menyukai gadis setinggi bintang di langit ini. Dan yang lebih tidak masuk akal, kenapa Sheri bisa menyukai orang sepertinya.
"Sheri.."
"Kenapa Ven? Ayo masuk." Sheri menarik tangan Harven yang sesaat terpaku.
"Kau tahu kan, kalau biaya sekolah ku, dan biaya hidup ku, aku dapatkan dari Kak Mei. Aku tidak punya apa-apa. Kalau nanti orangtua mu marah dan mengusir ku, aku mohon jangan bertengkar dan membenci mereka. Karena mereka pantas untuk berfikir begitu."
Mulut Sheri maju, dia merengut. Sambil mendorong Harven supaya berjalan lagi. Walaupun pelan, akhirnya Harven melangkah lagi menuju pintu. Arman yang mengikuti Harven dan Sheri, menatap punggung Harven lekat.
Kau memang sangat baik Ven, awalnya aku saja sanksi dengan ketulusan hati mu. Apa benar, kau cuma pura-pura tidak mengenal Nona Sheri. Tapi, setelah mendengar cerita dari Jesi, entah kenapa aku merasa lega dan yakin. Bahwa bukan kau saja yang beruntung mendapatkan cinta Nona Sheri, namun nonalah yang beruntung, karena mencintai laki-laki sebaik kamu.
...🍓🍓🍓...
Rumah Presdir Gardenia Pasifik Mall yang tadinya setenang air Danau Hijau di malam hari, menjadi gempar.
Sementara Harven menelan ludah, sambil duduk dengan tegak. Tangan dia letakkan di atas pangkuan, punggungnya rata, tegak seperti orang yang sedang mendapatkan hukuman. Dia belum pernah merasakan ketegangan semacam ini sebelumnya. Sebagai anak yang tidak terlalu perduli lingkungan disekitarnya berjalan, Harven merasa sangat terintimidasi, ketika semua tatapan mata tertuju padanya. Dan ini pertama kalinya perasaan seperti ini muncul.
Aaaaaa! Kak Mei! Ibu! Bagaimana ini?
Tatapan kakak Laki-laki Sheri dan ayahnya, sudah seperti panah beracun yang bisa melubangi kepala Harven.
"Jadi, kau pencuri itu!" Suara ayah Sheri seperti menggelegar, karena tadi hening. Jadi, ayah Sheri bicara seperti orang yang sedang marah. "Dasar Pencuri!"
"Ayah! Jangan menakuti Harven." Sheri berteriak protes. Gadis itu sedang membentangkan pelindung. "Apa sih, memang siapa yang mencuri, enak saja kalau ngomong. Ayah, jangan jahat begitu donk."
Ayah, jadi berkaca-kaca sedih karena dimarahi anak kesayangannya. Bayi kecilnya, bahkan membela laki-laki lain dan bukan dirinya. Padahal dulu Sheri bilang, tidak mau menikah kalau bukan dengan ayahnya. (Maaf Pak itu waktu Sheri umur 5 tahun).
"Dia! Dia pencuri hati mu kan. Dia sudah mencuri hati bayi kecil kami! Benar kan yah!" Kakak laki-laki menghardik dengan kejam. "Beraninya kau datang, dasar Pencuri!" Bla...bla mengoceh protes, meminta ayahnya mendukung. "Sheri, kau kan masih kecil, kenapa sudah pacaran, bahkan mengenalkannya sebagai calon suami. Memang kau sudah mau menikah. Oh, hiks, bayi kecil ku." Kakak Sheri terisak lebay, sambil membenturkan wajahnya ke bahu istrinya. Sementara kakak ipar Sheri cuma menahan senyum sambil membelai kepala suaminya.
Hah! Mulai deh dramanya. Arman yang sedang duduk tenang bergumam sambil menepuk keningnya. Aku yang selalu mendengar kalian menyebut nona Sheri bayi saja malu, apalagi Harven. Dalam hati dia pasti ingin tertawa. Eh, kenapa ekspresi mu begitu Ven? Arman seperti kaget saat matanya melihat Harven. Bola mata laki-laki itu berbinar. Seperti mengakui, kalau Sheri memang bayi kecil yang lucu dan menggemaskan.
Kakak laki-laki Sheri meneruskan ocehannya.
"Gara-gara kamu ya, kemarin liburan dia saja kabur dari kami."
"Apa si Kak! Kakak ini nggak penting. Ven, jangan dengarkan kakak ku."
Adu mulut seperti bocah terjadi. Dan beberapa kali Harven mendengar kakak Sheri menyebut adiknya bayi.
"Dia itu bayi kecil kami, kau lihat masak bayi sekecil itu pacaran."
"Sheri itu malaikat di rumah kami, awas saja kau kalau sampai menyakiti bayi kami."
"Dia adik kesayangan ku. Apa kau? Ya dia memang adik ku satu-satunya."
Mulai bicara tidak nyambung, sambil memeluk istrinya yang masih mengelus kepalanya.
Ayah Sheri yang sedari tadi cuma menganggukkan kepala setuju dengan semua kata-kata kakak laki-laki Sheri, ikut bicara.
"Siapa nama mu tadi?"
"Harven ayah, tadi aku kan sudah bilang."
Sheri mendelik pada ayahnya sambil menggengam tangan Harven. Kepala ayahnya rasanya langsung berdenyut melihat anaknya dipegang tangannya oleh laki-laki lain. Ehm, yang pegang Sheri pak 🤭
Ayah Sheri berdehem, sambil memandang putrinya dengan bola mata memelas. Lalu beralih melihat Harven. Tatapannya berubah sangar, sorot mata yang biasanya dia berikan pada karyawan yang melakukan kesalahan di perusahaan.
"Apa kau serius mencintai Sheri? Itu yang pertama dulu. Jawab yang jujur sebelum aku bertanya tentang yang lain." Ayah Sheri mendadak menyiapkan draf wawancara tadi. Dan akan dia tanyakan satu persatu pada pencuri di depannya. Tapi sekarang yang utama, ayah ingin tahu isi hati laki-laki di depannya. "Kau menyukai Sheri, tulus dari hati mu?"
Harven bisa merasakan genggaman tangan Sheri menguat, gadis itu sekarang yang merasa tegang. Sepertinya dia takut, apa pun jawaban Harven.
"Ven, kalau kau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Biar aku yang jawab."
"Hei, kami bertanya pada Harven, Sheri, diam sebentar dulu bisa kan? Biar kakak mu dan ayah yang menilai ketulusan laki-laki di depan mu ini." Kakak Harven langsung menyambar.
Tanpa sadar Harven tergelak, dia menutup mulutnya kaget karena tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Entah kenapa, keluarga Sheri sangat jauh dari bayangan yang ada di kepalanya. Sambutan yang dia terima juga sangat-sangat jauh dari prediksinya. Bukannya tidak sesuai ekspektasi tapi memang jauh menyimpang, padahal dia sudah menyiapkan hati untuk jangan sakit hati, untuk jangan mengambil hati tadi.
Tapi kenapa, kalian semua lucu begini si! Sekarang aku tahu, dari mana kelakuan Sheri yang seenaknya itu berasal. Karena dia mendapatkan limpahan cinta dan kasih sayang dari kalian sebanyak ini.
"Kenapa kau tertawa?" Kakak Sheri bangun dari duduk, menyalak marah. "Kau meremehkan kami."
"Apa sih Kak?" Sheri membela lagi. "Harven tertawa pasti karena kakak aneh."
Harven menunduk sambil menutup wajahnya, tapi dari bahunya yang terguncang, dia jelas terlihat sedang menahan tawa.
"Hah! Sudah-sudah!"
Ibu yang sedari tadi diam di samping suaminya jadi ikut tertawa. Melihat Harven yang menutup wajahnya sambil bahunya terguncang.
"Kalian mau menggoda Harven sampai kapan? Dasar kalian ini! Ayah bucin dan kakak bucin. Ven, jangan pedulikan mereka berdua ya. Maaf, kelakuan ayah dan kakaknya Sheri memang begitu."
Ayah dan kakak Sheri merengut protes tapi tidak membantah ibu Sheri.
Ibu Sheri bangun dari duduk, mendekat dan meraih tangan Harven tiba-tiba. "Ven, ikut Tante yuk, kamu suka makan buah apa? Nanti Tante kupaskan, jangan urusi dua bucin itu."
"Hah?"
Harven yang bengong sudah di apit Sheri dan ibunya, kanan dan kiri.
"Ibu, kenapa malah mau mengupaskan buah dia si." Sang kakak merajuk.
"Sayang, wawancara sama pencuri itu belum selesai." Ayah Sheri ikut menyusul.
Ibu Sheri tidak menggubris. Tapi, dia menoleh sekilas dan bicara, dengan tegas.
"Kalian berdua bisa diam nggak? Kalau tidak bisa diam tidak boleh makan buah." Tersenyum pada Harven. "Harven suka makan buah apa?"
"Eh, apa saja."
"Apa saja Bu, asalkan aku di samping Harven, dia bisa makan apa saja."
"Haha, kok persis seperti ayah mu."
Harven menoleh pada Kakak Sheri yang sedang memeluk istrinya, sambil bilang, bayi ku. Lalu beralih kepada ayah Sheri yang menggelayut pada istrinya.
Ah, ini bukan tentang seberapa banyak uang yang keluarga Sheri miliki. Tapi, sebanyak apa cinta dan kasih sayang, gadis cantik yang sedang tersenyum sambil membersihkan piring dengan lap. Gerakan tangannya yang selalu kaku setiap melakukan pekerjaan rumah yang paling sepele sekalipun. Sheri dibesarkan dengan cinta oleh keluarganya, hingga seperti itulah dia tumbuh tanpa kesombongan.
"Ven... Aaaaaa. Aku belajar mencuci stroberi dari bibi. Hehe." Di tangan Sheri, buah stroberi merah terlihat menggoda. Harven menundukkan kepalnya, dan membuka mulut. Hup. Buah merah itu langsung masuk ke mulut. Sheri menarik tangan Harven, membisikkan sesuatu. "Ibu ku, ratu di rumah ini. Hihi, jadi jangan kaget kalau mereka semua menurut."
Harven tersenyum. Lalu menyodorkan stroberi ke depan mulut Sheri. Bola mata Sheri langsung berbinar, senyum nakalnya terkembang. Sheri menggigit jari Harven. Ayah yang melihat, hampir pingsan.
"Bayi ku...."
Bersambung