
Ballroom hotel yang sudah seperti menjadi tempat bersejarah bagi keluarga Fernandez, karena di sinilah kakek dan nenek Rion menikah, begitu pula ayah Rion dan semua saudara kandungnya. Sepupu Rion pun menikah di sini, dan sekarang giliran dirinya.
Suara musik sudah mengalun dengan syahdu, saat janji pernikahan kedua mempelai diucapkan. Rion menggengam tangan Mei, tatapan hangat yang dipenuhi cinta hanya tertuju untuk Mei. Kelopak bunga yang bertebaran, jatuh ke lantai seirama dengan berhentinya tepuk tangan para tamu. Keheningan menyergap. Hanya suara alunan musik, dan suara pengantin laki-laki yang memenuhi ruangan.
"Terimakasih telah hadir dalam hidup ku Mei, kau datang menyelamat kan hidup ku. Aku berjanji akan membuat mu bahagia kedepannya, hanya akan memberikan senyuman dan cinta untuk mu." Rion mengecup punggung tangan Mei yang ia sematkan cincin. Lalu kening dan berakhir manis dengan kecupan di bibir. Lalu dia melanjutkan kalimatnya. "Aku mencintai mu Mei. Mari saling terbuka, jangan ada yang kau tutupi dalam pernikahan ini, katakan kalau kau bahagia, mengadulah kalau kau bersedih. Supaya aku bisa menutup luka itu dan membuat mu selalu tersenyum. Aku mencintai mu Mei."
Ibu Mei tak henti menitikkan airmata kebahagiaan. Melihat menantunya yang merengkuh bahu dan mencium kening putrinya. Ibu teringat wajah suaminya yang pasti akan ikut tersenyum saat melihat ini. Putri kecil mereka yang cantik telah tumbuh dewasa.
Brama di samping ibu tersenyum, sambil menggengam tangan ibu. Sang kakak kini benar-benar yakin, bahwa adiknya sudah menemukan kebahagiaannya.
"Mei bertemu dengan laki-laki yang baik Bu, jadi jangan menangis. Ayah pasti juga senang melihat ini." Punggung tangan Brama menghapus jejak airmata haru di pipi ibu. "Terimakasih juga, karena menerima ku lagi Bu. Padahal ibu tahu apa yang sudah kulakukan." Tangan istri Brama disampingnya ikut menggengam tangan ibu.
Ibu menepuk bahu putra pertamanya, Brama sendirilah yang sudah membuat pengakuan tentang bagaimana pernikahannya berawal, saat dia meminta Mei dan Harven untuk pura-pura tidak kenal padanya. Saat mendengar itu, ibu tentu saja marah. Dia menghujani punggung Brama bertubi-tubi dengan pukulan. Tapi pada akhirnya, ibu pun memeluk putra pertamanya. Membuka hatinya dan memaafkan semua kesalahan Brama.
Karena dia pun pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri, seandainya dia tidak terpuruk kalah dan tenggelam dalam nestapa sepeninggal suaminya, anak-anaknya tidak akan melewati hari-hari buruk mereka.
Tidak jauh dari ibu dan Brama, Harven pun mengusap sudut matanya. Kemeriahan pesta pernikahan yang sungguh menakjubkan baginya, Kak Mei seperti putri. Kak Rion yang selalu terlihat sempurna, semakin membuat pernikahan ini menjadi luar biasa. Lengan Sheri masuk ke lengan Harven. Mereka duduk berdekatan. Tadi Sheri berangkat bersama keluarganya.
"Ven, Kak Mei cantik sekali. Aku pasti secantik dia kan kalau menikah?" Sambil bicara dengan senyum-senyum penuh makna. "Mereka serasi sekali."
"Hemm, ia aku percaya." Pikiran Harven menebak maksud ucapan Sheri. Pasti bercanda mengajak menikah gumam Harven.
"Kalau begitu, ayo menikah." Tepat sekali kan, Harven mendorong pipi Sheri lalu mencubitnya. Menyuruhnya diam dan mendengarkan janji pernikahan yang akan diucapkan Kak Mei. Harven dan Sheri tidak memperhatikan, di sudut lain, ayah dan kakak laki-laki Sheri sedang memelototi mereka. Sambil bergumam, bayi kecil ku, kenapa dia mencubit pipi mu. Oh bayi kecil ku.
Kembali ke podium acara. Setelah Rion menyelesaikan janji pernikahannya, tepuk tangan memenuhi ruangan. MC acara ikut meramaikan dengan memberi selamat dan menggoda kedua mempelai. Setelahnya giliran, mempelai perempuan.
"Nona Merilin, waktu dan tempat dipersilahkan."
Terdengar tepuk tangan lagi.
Dan suara Mei yang lembut namun terdengar jelas oleh semua orang. Wajahnya yang merekah, membuat pancaran aura kecantikannya menyebar. Hari ini, gadis itu terlihat semakin cantik.
"Pernikahan ini seperti sebuah mimpi bagiku, meraih tangan Kak Rion, jatuh cinta pada laki-laki sebaik Kak Rion, adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan pada ku Kak." Hening, semua orang menyimak dengan hati berdebar-debar. Hanya alunan musik pelan yang menemani suara Mei. "Jangan bertengkar, walaupun nanti akan ada kesalahpahaman dalam rumah tangga kita, aku akan berusaha untuk memahami Kak Rion, dan aku harap, Kakak juga begitu. Aku mencintai mu Kak, sekarang dan selamanya." Mei menjinjitkan kaki, mencium bibir Rion lalu merangkul pinggang suaminya. "Aku mencintai mu Kak."
Mereka berciuman dalam beberapa kali ketukan. Itu saja sudah menimbulkan kehebohan. Yang sudah menikah tertawa-tawa, barisan jomblo atau yang pacaran seperti Serge dan Arman melongo lalu menatap pacarnya masing-masing. Sheri menjerit sambil menutup mata Harven. Anak di bawah umur nggak boleh lihat ucap gadis itu sambil cekikikan.
Begitulah akhirnya, satu persatu acara dilaksanakan. Setelah selesai, kedua mempelai duduk dan mendapatkan ucapan selamat dari para tamu. Sambil musik mengalun dengan merdu, para penyanyi menyumbang lagu. Para tamu menikmati hidangan. Di barisan VVIP terlihat ramai, para kolega bisnis Frans yang tidak melewatkan kesempatan untuk bisa menyapa ayah Frans. Semua orang menikmati pesta dengan caranya masing-masing.
Di sudut pesta yang lain. Sahabat-sahabat Mei berkumpul.
"Mei cantik sekali hari ini. Sampai membuat orang tidak mengenalinya. Ah, waktu akad nikahnya dulu dia juga cantik, tapi hari ini aura kecantikannya seperti menyilaukan." Jesi melambaikan tangan ke arah Mei yang sedang melihat ke arah mereka. Sambil dia menikmati makanan di piringnya. "Apa setiap mempelai pasti begitu ya, apa aku juga akan begitu nanti. Secantik Mei?"
Arman mengganguk cepat sambil mengusap kepala Jesi, membuat Dean nyengir sambil melirik Serge.
"Tentu saja, kau akan jadi yang paling cantik nanti." Arman menimpali sambil mengusap ujung bibir Jesi. Wajah gadis itu merona malu.
Keempat orang itu duduk di satu meja, menikmati makanan sesuai dengan selera masing-masing.
"Bahkan kalau Mei bilang sedang hamil anak perempuan aku akan percaya, hihi, karena auranya dia itu berbeda sekali." Dean nyeletuk.
Serge yang tersentak kaget dan menjatuhkan sendok yang dia pegang. Saat Dean tertawa dan bilang seandainya Kak, Mei tidak bilang kalau dia hamil.
"Aku sudah kaget, aku pikir Mei sungguhan hamil tapi tidak bilang-bilang. Soalnya ibu dan Brama juga tidak bilang apa-apa." Serge sudah mau merasa terasingkan kalau sampai Mei atau Rion tidak memberitahukan perihal kehamilannya. "Walaupun bukan jadi orang yang pertama tahu, tapi mereka harus memberitahu ku sendiri."
"Hehe, apa si Kak. Mei dan Tuan Rion pasti tidak akan melupakan Kakak kok." Dean menepuk kepala Serge lembut. Wajah laki-laki itu langsung memerah. "Kak Ge kan orang yang sangat berjasa dalam hubungan mereka."
Serge berdehem bangga.
"Bukan hanya terlihat lebih cantik, Mei juga terlihat sangat bahagia. Pasti karena cinta di antara mereka kan. Dan Kak Ge, adalah orang yang menyatukan mereka."
Serge tidak bisa menutupi, betapa senangnya dia mendapatkan pujian itu dari Dean.
"Kak Ge juga akan jadi yang paling tampan ketika kita menikah nanti."
Hah? Ada yang loading di kepala Serge, dia melihat Arman, lalu kaget sendiri. Seharusnya kan dia yang mengatakan itu untuk Dean, seperti Arman memuji Jesi tadi. Kenapa dia kalah lagi si! Aaaaaa! Seperti tahu apa yang dipikirkan Serge, Dean tergelak dan menggengam tangan kiri Serge.
"Kak Ge yang seperti ini juga menggemaskan kok. Hehe."
"Apa sih." Serge mengusap wajahnya yang semakin memerah.
Obrolan mereka menjalar sampai ke persiapan pernikahan segala. Sambil menghabiskan hidangan yang ada di piring.
Selain ke empat orang itu, tentu ada banyak kejadian yang terjadi.
Tamu undangan yang datang silih berganti. Memberi selamat dan menikmati hidangan. Rekan kerja Mei bersama-sama datang. Berfoto dengan kedua mempelai setelah mengantri panjang. Baim dan Mona datang bersama. Tampak serasi dengan pakaian couple mereka.
Akhirnya, ditempat ini ibu Mei bertemu dengan orangtua menantunya, istrinya Brama. Mereka saling berpelukan, bahkan ibu istrinya Brama memeluk ibu sambil menangis dan minta maaf. Karena kejadian di masa lalu. Turut bersedih atas meninggalnya ayah Brama.
Banyak hal yang terjadi selama pesta berlangsung.
Disaat para tamu mulai berangsur pulang. Mei dan Rion yang sudah turun dari singgasana mereka dan berbaur dengan para tamu yang mereka kenal. Rion ditemani Serge sedang berbincang dengan rekan bisnisnya. Sementara Mei, sedang duduk sambil menikmati minuman dingin dengan seorang gadis.
Melepaskan masa lalu, begitulah niatnya, mengubur luka dan tidak akan menggalinya lagi. Dan Mei akhirnya mengundang Erla ke acara pernikahannya, tentunya dengan persetujuan Kak Rion. Bahwa mereka yang saling memaafkan dan berjanji akan menjadi teman.
"Ibu mertuaku menitipkan doa dan hadiah kecil untuk mu Mei, beliau bilang selamat berbahagia dan terimakasih."
Ayah dan ibu mertua Erla tidak mendapatkan undangan dari ayah Kak Rion, karena ayah Kak Rion masih marah dengan sikap ayah Ibram.
"Apa beliau akhirnya rujuk kembali?" Mei menutup mulutnya yang rasanya keceplosan bicara. "Maaf, sebenarnya ibu ku beberapa kali bertanya, tapi aku merasa tidak enak kalau menanyakannya."
Erla mengusap punggung tangan Mei. Gadis itu mengatakan tidak apa-apa. Toh karena keluarga Mei juga, ibu mertuanya selamat kan. Sudah sewajarnya mereka bertanya karena merasa khawatir.
Dan akhirnya Erla mengatakan garis besarnya saja.
"Kak Ibram membuat ayah meminta maaf pada ibu, saat itu, aku melihat sendiri ayah memohon-mohon sampai mencium kaki ibu. Berjanji kalau dia akan berubah dan meminta ibu kembali."
Walaupun ibu mertuanya ragu, namun dia menerima uluran tangan suaminya. Ibram membuat ayahnya menandatangani surat perjanjian di depan pengacaranya, kalau sampai terjadi KDRT lagi, ayah harus menceraikan ibu dan memberikan separuh kekayaannya pada ibu.
"Sebenarnya ibu menolak pasal itu, tapi Kak Ibram yang bersikeras untuk melindungi ibu. Semoga semua jadi lebih baik. Terimakasih ya Mei, untuk semuanya."
Dua orang wanita yang pernah saling membenci itu saling berpelukan. Mengusap bahu masing-masing dan saling mendoakan, untuk kebahagiaan mereka. Dalam pernikahan mereka.
Erla melambaikan tangan pada Ibram yang melihat ke arahnya. Tidak jauh berbeda dengan Mei, di belakang punggung Erla, gadis itu pun melambaikan tangan dan tersenyum pada Rion. Yang sedari tadi mencuri pandang mengawasinya.
Hari ini, Mei benar-benar merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Saat doa-doa melangit, saat semua orang bahagia menyambut kebahagiaan mereka. Dan saat Kak Rion merangkul pinggangnya, dan mengenalkannya pada semua orang yang dia sapa.
"Kenalkan, Mei. Dia istriku tersayang."
Sepanjang kemeriahan pesta, entah berapa kali Mei mendengarnya.
...🍓🍓🍓...
Di kamar hotel.
Setelah resepsi dan pesta selesai, semua orang kembali. Mei dan Rion akan bermalam di hotel. Ini memang bukan bulan madu lagi, namun mereka ingin merasakan atmosfer bulan madu, hingga memilih tinggal. Keluarga ayah dan ibu juga sebagian menginap namun ada juga yang langsung pulang.
Mei ambruk di tempat tidur setelah mandi. Dia meringkuk sambil memeluk bantal. Terlelap tidur. Rion bahkan tidak tega menggangunya, dan hanya menarik selimut menutupi bahu Mei sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.
Air mengguyur kepala Rion, sambil mengingat pertemuan Mei dengan Erla. Kau benar-benar baik Mei, dia sendiri sebenarnya tidak tertarik mengundang mantan. Tapi karena Mei yang meminta dia pun mengizinkan. Tadi pun dia masih memicingkan mata dan mengawasi, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi ketakutannya tidak terbukti, karena istrinya yang seperti malaikat itu merengkuh bahu wanita itu.
"Hah! Apa cuma aku yang masih sebal kalau dia bicara dengan Serge."
Rion sudah keluar dari kamar mandi, hanya memakai celana pendek dan sudah bertelanjang dada, dia mendekat ke tempat tidur. Dia menggoyangkan rambutnya, sampai airnya memercik ke mana-mana. Bahkan sampai membasahi pipi Mei, gadis itu mergerjapkan mata.
"Ah, maaf Mei, aku membangunkan mu ya." Langsung menyerbu pipi Mei di mana air dari rambutnya memercik. Alasannya mau mengeringkan air, padahal senang bisa cium-cium semaunya. "Maaf ya, sengaja. Haha."
Mei tergelak kecil lalu meraih tangan Rion, membuatnya jatuh dalam pelukannya. Wajahnya sudah terbenam di dada Rion yang masih lembab dan dipenuhi aroma sabun.
"Kakak sudah selesai mandi ya? Hoamm. Aku mengantuk sekali. Ayo kita tidur Kak, Kakak juga lelah kan."
Terdengar Mei menguap lagi, bahkan matanya sudah terpejam.
"Tidur?"
"Ia, Kakak capek juga kan?"
Rion tidak menjawab. Malah menggoyangkan tubuh dan kepalanya turun dari bantal. Sekarang kepalanya yang terbenam di dada Mei.
"Buka!"
"Ah, Kakak..."
"Aku tidak akan menggangu mu, janji. Cuma cium sedikit aja."
"Benar ya?"
"Hemm." Tertawa. "Sampai aku tidur. Haha"
Malam itu Rion memenuhi janjinya, membiarkan Mei terlelap tidur dan tidak menggangunya. Dia menciumi wajah istinya, menarik baju Mei turun. Bibirnya menyunggingkan senyum sebelum menarik selimut sampai menutupi rambutnya.
"Aku mencintai mu Mei. Tidurlah sayang." Gumaman masih terdengar saat dia setengah terlelap dalam dekapan dada Mei.
Malam semakin larut, Ibu mengecek ke kamar memastikan anak-anaknya sudah terlelap.
Bersambung