
Malam sudah merayap naik, ketika Mei dan Rion sampai di apartemen.
Rion sudah mandi, dia juga sudah masuk ke kamar. Jangan tanya dia memakai baju apa ya? Dia hanya memakai celana pendek saat keluar dari ruang ganti. Bagaian atas tubuhnya sudah tidak memakai penutup apa pun. Alias bertelanjang dada. Sekarang dia sedang malas-malasan tidur tengkurap di atas tempat tidur. Menunggu kedatangan Mei. Yang entah kenapa sepertinya lama mandinya.
Bergerak dari kamar, keluar, mendapati ruangan lengang. Hanya suara air dari dalam kamar mandi yang terdengar. Mei sedang membasuh sampo di rambutnya di bawah guyuran air shower.
Ah, itu juga bukan karena kamu Mei, jadi jangan besar kepala.
Mei akhirnya tahu, alasan kenapa Kak Rion menyuruhnya menciumi tangannya. Tadi, saat Kak Rion sedang pergi ke kamar mandi di rumah ibu. Kak Serge bicara sambil bisik-bisik.
"Rion bahkan tadi sampai ganti kulit Mei, saking lamanya dia mandi."
"Hah! Apa sih Kak. Ada-ada saja ganti kulit. Memang kenapa?"
Masih dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Mei, Serge bercerita.
"Saking bencinya karena Erla memegang dan mencium tangannya. Pokoknya Rion itu sama sekali sudah tidak punya rasa yang tersisa untuk Erla. Dia mandi lama banget sampai kinclong kulitnya." Melirik Mei yang terlihat senang mendengar ceritanya. "Ehmm, ehm, kau senang kan, cintamu terbalas Hehe."
Apa? Hah! Terserahlah kau berfikir Kak. Mei teringat kalau kesalahpahaman antara dia dan Kak Serge belum terselesaikan. Kak Ge selalu berfikir kalau dia menyukai Kak Rion sejak awal. Sudahlah Mei, kau tidak perlu meluruskan, karena sekarang, kau pun benar-benar menyukai Kak Rion. Jadi biarkan saja Kak Ge salah paham begitu terus.
"Selamat ya Mei, dan terimakasih banyak sudah merubah hati dingin Rion kembali seperti dulu. Ah, dia sebenarnya laki-laki ramah dan hangat sebelum hatinya tersakiti. Terimakasih sudah hadir dalam hidup Rion."
Mei tersenyum mendengar kata-kata itu. Saat dia mau bicara lagi, aura Kak Rion sudah tercium Kak Serge sepertinya. Jadi demi keselamatan bersama, Kak Serge kabur menjauhi Mei.
"Aku pergi dulu Mei, Rion bisa ngambek kalau aku bicara denganmu terus." Mei cuma bergumam menanggapi, kita kan tidak ada di kantor kenapa begitu si kak. Tapi Kak Serge benar langsung berada di radius sekian meter dari dekatnya, saat Kak Rion mulai menempel lagi padanya Kak Serge sudah entah ada di mana.
Dan sekarang, kembali ke waktu di kamar mandi. Mei menyapu wajahnya yang sedari tadi senyum-senyum karena mengingat semua yang dikatakan Kak Serge. Air berjatuhan. Setelah busa sampo dan sabun menghilang, dia pun selesai mandi. Mei menarik handuk dan mengambil handuk yang lebih kecil untuk mengeringkan rambut.
Itu artinya nama Amerla benar-benar sudah tersingkir dari hati Kak Rion kan. Ah, Mei, apa kau berani mengatakannya Mei. Mengatakan kalau kau menyukai Kak Rion. Semangat berapi-api. Namun setelah masuk ke ruang ganti, dan memilih baju tidur. Hati yang sudah bersemangat tadi kembali dihinggapi keraguan.
Bagaimana kalau Kak Rion menolak ku. Tidak, yang lebih parah, Kak Rion mendorongku dengan marah dan berkata aku merepotkan. Karena di awal pernikahan dia jelas-jelas tidak mau terlibat dengan hal merepotkan seperti pasangannya jatuh cinta dan haus akan perhatian. Mei mematut dirinya di depan cermin. Meletakkan sisir yang baru saja dia pakai. Merasa gamang lagi.
Tidak Mei, jangan menyerah. Kau tidak meminta Kak Rion untuk membalas perasaanmu kan. Kau hanya ingin mengungkapkan isi hatimu dan berterimakasih. Akhirnya Mei memantapkan hati. Seiring langkah kakinya berjalan ke kamar tidur.
Saat membuka pintu perlahan, dia mengintip dulu. Ah, Kak Rion sudah tidur sepertinya. Laki-laki di tempat tidur sedang berpose dengan gaya andalannya. Tidur setengah telanjang, dengan selimut melorot sampai ke paha. Memeluk bantal dengan sebagian lengan terangkat di atas bantal.
Bahkan saat tidur tengkurap begitu dia terlihat seksi dan tampan. Aaaaaa! Apa aku sudah jadi bucin gila, yang tergila-gila pada CEO Rionald. Eh, tapi kan statusnya suamimu. Aku seharusnya boleh donk tergila-gila padanya melebihi fans bar-bar di kantor.
Pemilik kasta tertinggi, fans CEO Rionald jatuh kepada Pimred Merilin. Haha, aku pasti sudah gila. Mei cekikikan sendiri, disamping tempat tidur. Walaupun merasa sayang, Eh. Tapi, karena Kak Rion sudah tidur mau bagaimana lagi. Mei pelan-pelan Mei naik ke atas tempat tidur. Dengan perlahan, menarik selimut yang ada di atas paha Rion. Untuk dia pakai menyelimuti tubuh.
Pelan, pelan. Supaya tidak menimbulkan suara.
"Aaaaaaaa!" Teriakan Mei memenuhi kamar.
Saat pikiran Mei, sedang konsentrasi penuh supaya selimut tertarik dan menutupi tubuh Rion, tangan laki-laki itu sudah berpindah tempat dengan cepat, membekap tubuh Mei. Menjatuhkan Mei hingga terkapar ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Rambutnya terburai di bawah tangannya yang naik ke atas kepalanya.
"Kakak! Maaf Kak, aku membangunkan Kak Rion ya? Aku mau menarik selimut." Memiringkan kepala sambil menjerit dalam hati, karena sekarang wajah Kak Rion mungkin hanya berjarak helaan nafas saja. Tarikan nafas dan hembusan nafas laki-laki yang ada di atasnya bahkan terasa di pipinya. "Kak, maaf."
"Kau lama sekali sampai aku tertidur."
Berarti dia benar-benar tidur tadi. Maaf Kak, aku melamun karena ingat kata-kata Kak Serge.
"Maaf Kak, aku mencuci rambut tadi, malah kelamaan. Kakak mau tidur lagi?" Pertanyaan Mei dijawab dengan tawa.
"Aku sudah tidak mengantuk sekarang, gara-gara kau." Membenturkan keningnya di kening Mei. Lalu mengecup bibir Mei. "Jadi, buat aku mengantuk."
Hah! Apa sih!
"Kakak mau apa?"
"Memang kau mau memberiku apa? Bukanya kau yang janji mau memberiku hadiah." Rion mengangkat tubuhnya, lalu berbaring di samping Mei. "Aku kan sudah melakukan banyak hal untuk mu hari ini Mei, aku kelelahan." Bicara dengan suara lemas seperti orang sehabis lari maraton.
Aku yang tanya malah balik nanya. Memang aku bisa memberi apa si Kak, yang aku punya kan cuma tubuh ini.
Sekarang gantian Mei yang memutar tubuhnya. Tengkurap dengan separuh badannya berada di tubuh Rion. Mei mengusap pipi kanan Rion. Baru disentuh begitu saja, seutas senyum sudah terkembang di bibir Rion.
Memang ini yang Kakak mau ya! Tunggu, sebelum itu, ayo katakan Mei. Mumpung suasana hati Kak Rion sedang terlihat senang.
"Kak, apa aku boleh bicara dulu sebentar?"
"Apa?" Sambil menunjuk pipinya yang sebelah kiri. Mau disentuh juga. Kali ini bukan hanya sentuhan, tapi juga kecupan. Senyum senang terkembang lagi dari bibir Rion. "Jangan bicara yang aneh-aneh dan membuat mood ku rusak."
Muah, muah, beberapa kecupan di bibir Rion menjadi jawaban, kalau Mei hanya akan bicara dengan singkat.
"Kak Rion, Kakak ingat kan waktu pertama kali kita bertemu." Bibir Rion agak mengkerut, sepertinya dia tidak suka Mei mengungkit hal itu. Buru-buru Mei mengusap tubuh bagian dada Kak Rion.
Dengarkan dulu Kak! Jangan tersinggung!
"Kak Rion, ingat nggak? waktu itu Kakak memberiku dua hadiah, aku boleh meminta apa pun itu. Sekarang aku ingin meminta dua hadiah itu Kak. Apa boleh."
Rion meraih dagu Mei, lalu menggoyangkannya. Dia tertawa, Rion pikir Mei mau mengatakan apa sampai bawa-bawa hari pertama mereka bertemu, Rion pikir Mei akan menyebut-nyebut dia yang hanya istri boneka.
"Kau mau minta apa? Mau aku mengundang keluargamu makan malam di rumah lagi?"
Mei menggeleng dengan cepat. Bukan itu yang dia inginkan. Karena semua sudah diberikan Kak Rion hari ini. Keluarganya sudah tenang sekarang.
"Lantas apa? Katakan, jangan minta hal yang merepotkan." Dengan nada ketus memberi ultimatum. Jangan meminta hal aneh-aneh gumam Rion. Minta saja uang atau perhiasan, akan langsung aku belikan apa pun yang kau inginkan. "Kau mau uang? Sebagian kekayaanku? atau kau mau naik jabatan di kantor?"
Mei menggeleng lagi.
Aku mau Kak Rion mengizinkanku mencintai Kak Rion. Aku juga mau Kak Rion bercerita tentang masa lalu Kakak, mimpi Kakak yang terlupakan itu. Aku mau, Kak Rion menunjukkan ruangan impian yang dipenuhi boneka-boneka kesayangan Kakak. Itu saja Kak, aku ingin melihat sosok Kak Rion yang sebenarnya. Sebelum hati ini terluka karena Amerla.
Lidah Mei kelu, dia belum punya keberanian mengatakannya dengan mulutnya hadiah yang ia inginkan itu.
Mei masih membutuhkan kesiapan mental dan hati, kalau dia didorong menjauh sekalipun. Dia ingin menyiapkan hatinya dulu untuk mendengar jawaban Kak Rion.
"Cih, kenapa lama sekali. Katakan saja sekarang." Lagi-lagi menggoyangkan dagu Mei. Sambil dia usap-usap bibir mungil Mei. "Kau mau aku membelikanmu apa?"
"Bukan sesuatu yang bisa dibeli Kak. Tapi, hanya Kak Rion yang bisa memberikannya padaku. Hanya Kak Rion seorang yang bisa memberiku hadiah itu."
Kalau uang dan perhiasan atau benda lain, Mei juga bisa mendapatkannya dari orang lain. Hanya aku yang bisa memberikannya. Hati Rion rasanya langsung dipenuhi kerlap kerlip kebahagiaan. Hanya dia yang bisa memberi Mei. Terserahlah apa hadiahnya, kalau Mei bilang cuma dia yang bisa memberi, artinya kan pasti spesial.
"Terserah kau saja. Baiklah, lupakan hadiah mu. Sekarang, berikan hadiahku." Rion menyeringai dengan nakal.
Mei tersenyum, lalu mencium bibir Kak Rion. Dia bergerak menggeser tubuhnya. Lalu bangun dan berpindah posisi. Duduk di atas paha Kak Rion. Sepertinya dia sudah siap membayar segunung hutangnya pada Kak Rion. Laki-laki yang di duduki Mei tertawa, melihat Mei yang bergerak tanpa diminta olehnya.
"Wahhh, kau mulai agresif ya."
Mei menutup wajahnya dengan tangan. Apa sih, kau suka kan!
"Buka! Haha!"
Tangan Rion menarik tali baju tidur Mei, yang langsung jatuh melorot. Ditarik ke atas dan dilemparkan Mei ke ujung tempat tidur.
"Wahhh, kau mulai pintar ya. Sekarang, buka punyaku." Menunjuk paha yang di duduki Mei. Rion tertawa saat melihat gurat malu mengumpal di wajah Mei. Istrinya memang masih malu kali disuruh membuka baju atau celananya. Padahal dia sudah terlihat biasa menanggalkan bajunya sendiri.
Sambil membuka bawahan yang dipakai Rion, Mei mulai menciumi dada putih dan bidang itu, turun menuju ke perut yang rata dan berotot. Cium lagi, kecup lagi. Sesekali lidahnya juga bergoyang.
"Katakan, kau menyukaiku Mei, katakan kau mencintaiku."
Deg.
"Kenapa diam, cium aku sambil bilang kau mencintaiku. Itu hadiah yang aku inginkan."
Deg. Dada Mei langsung bergetar.
"Ke...kenapa Kak Rion mau mendengar itu?"
"Entahlah, kenapa ya?" Malah bertanya dengan bibir menyeringai.
Mei yang tadi sudah berdebar-debar sesaat langsung tersadar saat Rion tertawa mengejek, sambil mencubit pinggangnya.
"Kak Rion cuma iseng mau mengerjaiku ya?"
"Terserah aku kan, ini kan hadiahku. Mulai!" Menunjuk perut lalu bergeser ke leher.
Aaaaaa!
Mei mencium perut Rion, lalu bergeser. Bagian bawah tubuhnya bergesekan. Pahanya pun bergesekan dan saling menempel. Menaikkan suhu tubuh. Saat bibirnya menciumi leher, dengan hati berdebar Mei bicara.
"Aku mencintaimu Kak. Aku mencintaimu Kak Rion." Terucap dengan mulus, dengan suara lembut setengah berbisik. Bahkan membuat mata Rion langsung mengerjap. Seperti yang sedang dikatakan Mei adalah kata-kata tulus dari hatinya. "Aku mencintaimu Kak."
Aaaaaa! Aku mengatakannya, aku pasti bisa mengatakannya nanti dengan sungguh-sungguh.
Padahal sekarang pun, Mei sedang mengatakan isi hatinya dengan setulusnya.
Setiap mencium dan meninggalkan noktah merah, diselingi dengan suara mendayu Mei dari bibirnya.
"Aku mencintaimu Kak, aku mencintaimu Kak Rion."
Seluruh tubuh Rion sudah tersapu dengan kecupan dari bibir Mei. Kepalanya sudah berbunga karena bisikan cinta Mei. Hasrat di dalam tubuh laki-laki itu semakin menggelora. Dia meraih tangan Mei, Menjatuhkan Mei terlentang lagi di atas tempat tidur.
"Kak..."
"Teruskan, aku mau mendengarnya. Sampai aku selesai." Rion mulai menorehkan tanda merah di atas dada Mei.
Rasanya Rion mengulangi semua yang Mei lakukan di tubuhnya. Bahkan lebih brutal, lebih banyak tanda merah, sepertinya suara cinta dari bibir Mei, mendongkrak energi yang ada ditubuh Rion, membuat gairahnya semakin meluap-luap.
"Aaaaa! Kak!"
"Teruskan, sampai aku selesai Mei."
Rion menggigit bahu Mei.
"Ahhhh, Aku mencintaimu Kak Rion." Isi kepala Mei semakin blank, saat dia merasakan titik puncak. "Kak, aaaaa! Aku mencintaimu Kak."
Begitulah hari panjang akhir pekan ini ditutup dengan pengakuan cinta secara paksa Mei oleh Rion. Laki-laki itu menyukainya, bisikan cinta yang keluar dari bibir Mei. Sekalipun itu belum ketulusan hati Mei sekalipun. Karena yang terpenting, dia telah jatuh cinta dan mencintai istrinya. Baginya itulah hal yang terpenting. Karena kedepannya dia akan melakukan apa pun, untuk membuat Mei mengatakan kalimat itu dengan ketulusan hati.
"Aku mencintaimu Mei."
Rion berbisik saat Mei sudah setengah tertidur dan hilang kesadaran.
Akhir pekan yang penuh drama pun berakhir, dengan suasana hati yang berbeda-beda. Ada yang berada dipuncak kepuasan dan mendapatkan kebahagiaan.
Ada yang lega, karena adiknya benar-benar dicintai suaminya. Ada adik laki-laki yang disela-sela memikirkan kekasihnya yang seenaknya, dia bahagia, karena Kak Mei bersama laki-laki yang mencintainya.
Ada yang tersipu-sipu meletakan hp setelah berkirim pesan selamat malam. Ada juga yang belum punya status apa-apa, tapi sudah nyaman berkirim pesan.
Namun, ada juga, yang bertengkar, diiringi Isak sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
Malam merayap naik.
Bersambung