
Pagi hari yang kesiangan, di rumah Presdir Andez Corporation.
"Kak Rion."
"Apa?"
Rion masih berdiri di depan pintu, dengan gaya tidak merasa berdosa, padahal sudah menghalangi jalan. Belum bergerak selangkah pun dia, bahkan menghalangi Merilin yang mau menarik handle pintu.
Ini orang kenapa si! Memang tidak dengar tadi bibi sudah memanggil, ibu sudah menunggu di meja makan.
"Kak Rion, nanti kami terlambat. Kakak juga kan mau pergi dengan ayah."
Rion menghela nafas, sudah merasa lelah walaupun belum melihat hamparan rumput di lapangan golf.
"Mei..."
"Ia Kak?"
Cepat bicara dan segera menyingkir! Begitulah perang batin Mei yang rasanya ingin mendorong Rion sampai membentur pintu. Tapi tentunya, hanya sampai pada perang batin semata.
"Kau ingat siapa dirimu?" Rion menarik rambut ikal Mei, yang hari ini dia ikat menjadi ekor kuda di belakang kepala. Ada dua jepit rambut, terselip di dekat poni, untuk merapikan rambut yang masih suka menyembul dengan liar.
"Aku boneka Kak Rion." Entah kenapa bibir Mei tersenyum saat menyebut dirinya boneka. Hatinya tidak berdenyut nyeri. Efek melihat ruangan rahasia Kak Rion kemarin, betul-betul merubah suasana hatinya dengan sebutan boneka sekarang.
"Bukan itu! Bodoh sekali kau itu Mei." Rion menuding kening Mei. Membuat Mei mengeryit, biasanya kan itu jawaban yang ingin di dengar Rion. "Kau itu siapa bagiku."
Kalau jawabannya bukan boneka Kak Rion, berarti...
"Aku istri Kak Rion." Ragu, kalimat itu terucap.
"Kau tidak bodoh juga berarti kan?"
Apa sih! Apa? jadi benar itu jawabannya?jangan membuat orang bingung Kak, aku harus keluar, ibu menunggu.
Merilin belum bisa menerka apa sebenarnya yang diinginkan Rion sekarang.
"Kau itu istriku, jadi tegakkan bahu mu disamping ibu. Tidak usah senyum-senyum dengan laki-laki lain. Tidak usah menundukkan kepala pada semua orang." Lagi-lagi Rion menuding kening Mei. "Paham!"
Walaupun tidak terlalu paham apa maksudnya, tapi lebih aman kalau menjawab paham kan.
"Ia Kak, aku paham. Aku akan ada di dekat ibu, dan tidak mempermalukan nama baik Andez Corporation." Jawabanku benar kan gumam Mei. "Sekarang, kita keluar ya."
"Bodoh!" Rion tertawa mendengar jawaban tidak nyambung Mei. Tapi biarlah, karena dia lucu, aku akan memaafkan kebodohannya itu. Rion yang mulai menganggap semua kelakuan Mei lucu.
Apa sih!
Mei yang mau menyentuh handle pintu tidak menyadari perubahan wajah Rion.
Rion menyeringai. Kewaspadaan Mei yang menipis karena dia pikir Rion akan membuka pintu, ternyata dia memutar tubuh, dan menarik Mei, membenturkannya ke pintu.
Rion memegang dagu Merilin.
"Buka mulutmu, kalau ibu melihat wajahmu yang merah, pasti ibu tidak akan bertanya kenapa kau terlambat turun."
Aaaaa! Ada ya orang sepertimu ini Kak!
Beberapa lama ciuman itu berlangsung, sampai rasanya Mei kehabisan nafas. Meladeni Rion memang tidak ada habisnya. Tapi, saat Mei dan Rion turun dan ibu melihat wajah Mei yang memerah sambil gadis itu mengusap bibir dan merapikan rambut, ibu sudah memaklumi semuanya tanpa Mei memberi penjelasan kenapa terlambat turun.
Rion menyunggingkan senyum, saat Mei melihat ke arahnya.
...🍓🍓🍓...
Kegiatan sosial yang dilakukan ibu hari ini bersama dengan istri-istri pengusaha lainnya. Ada di sebuah daerah pinggiran kota. Berjarak sekitar satu jam dengan kecepatan normal. Ibu dan Merilin ditemani salah satu staf perempuan sekretaris Presdir dan seorang pengawal pribadi yang akan sopir.
Staf wanita yang pernah ditemui Mei saat dia datang ke kantor Presdir waktu itu. Gadis itu terlihat terkejut ketika mengenali siapa Mei. Ditangannya dia menenteng kamera profesional, atas pesan nyonya dia diminta membawa itu.
"Kau pasti sudah bertemu dengannya di kantor kan? Dia Merilin, pemimpin redaksi majalah perusahaan. Istrinya CEO Rionald menantu kami." Ibu menjelaskan dengan suara ceria sambil memegang bahu Mei. "Beri salam pada Mei."
Staf sekretaris terlihat bingung dengan banyaknya informasi yang dia dapatkan. Dia bahkan mundur dua langkah demi mempertahankan kejernihan pikiran. Istrinya CEO Rionald! Tidak mungkin gumamnya.
Tapi dia dengan segera, menundukkan kepala dan memberi salam pada Mei.
Belum selesai dengan fakta mengejutkan, mereka harus segera naik ke dalam mobil karena mengejar waktu. Mei agak kasihan melihat staf yang bengong sambil duduk di kursi depan, dia pasti shock. Apalagi kalau sampai dia masuk ke dalam kelompok penggemar CEO.
Mobil melaju di jalanan, berkejaran dengan waktu.
"Ia Nyonya."
Mei melihat, staf itu menoleh kebelakang, lalu menundukkan kepala padanya. Mei membalas dengan senyuman.
"Pernikahan Rion belum diumumkan kepada publik, diinternal perusahaan sekalipun, jadi perihal Mei, tolong jaga rahasia ini ya." Ibu tersenyum. "Hanya kamu yang tahu, jadi kalau sampai ada gosip atau berita di perusahaan, berarti kau yang akan dipanggil pertama kali." Senyum ibu masih ramah, namun dari kalimatnya sudah mengumbar ancaman. "Apa kau paham?"
"Baik Nyonya."
"Tolong bantuannya Ya, kau pasti tidak mau kan dipanggil Rion, kalau masalah Mei tersebar di perusahaan." Ibu sedang menebar ancaman kedua.
Ternyata ibu bisa bersikap tegas juga. Keren, Mei semakin mengagumi mertuanya. Yang cantik dan baik, serta tegas.
"Baik Nyonya, saya akan mengingatnya." Staf wanita itu melihat Mei. "Maaf, tidak mengenali Anda Nona kemarin, dan selamat atas pernikahannya dengan CEO."
"Eh, ia, terimakasih."
Jangan bicara dengan formal padaku! Saat mau meluruskan kecanggungan, staf wanita itu sudah membalikkan badan duduk dengan tenang menghadap ke depan. Tidak terdengar gerakan apa pun dari kursi depan.
Ah, aku jadi serba salah.
"Mei, di sana daerahnya cukup tandus, jadi cuacanya agak panas. Nanti kalau kau lelah jangan memaksakan diri ya."
"Ia Bu."
Sebenarnya Mei mau tertawa karena dikhawatirkan sampai segitunya oleh ibu, apalagi perihal cuaca. Karena kalau sedang bekerja di lapangan, dia termasuk karyawan yang tahan banting.
"Kamu malah mau bekerja juga lagi." Menepuk tas kamera di pangkuan Mei.
"Hehe, sekalian Bu, aku bisa dapat foto-foto ibu kan. Untuk edisi bulan depan kan ayah dan Kak Rion yang akan jadi sampul majalah. Aku juga mau memasukkan profil ibu."
Dikursi depan, staf wanita mencengkeram tangannya erat, saat Mei menyebut CEO Rionald dengan panggilan Kak Rion.
Tuhan, jantungku rasanya berhenti berdetak saking kagetnya. Bagaimana mungkin, CEO sudah menikah! Menara dingin Andez Corporation yang cuma bisa dikagumi semua orang dari kejauhan ternyata sudah menikah! Hatinya menjerit. Karena mulutnya yang harus terkunci rapat. Padahal ini adalah berita yang bisa menjadi bom dan mengguncang para karyawan wanita Andez Corporation.
Tapi, bagaimana CEO bisa menikah dengannya? Pemimpin redaksi majalah Merilin. Staf Wanita menutup mulutnya saat dia menghela nafas. Melirik sopir disampingnya yang diam dan fokus mengemudi. Dalam pikirannya dia sedang menilai Merilin, kepantasannya bersanding dengan CEO Rionald.
Setelah melewati jalanan yang cukup panjang, ada juga beberapa jalan berbatu, sampailah mereka di sebuah desa. Benar saja, hawa panas langsung menyerang wajah Merilin ketika dia keluar dari mobil.
Kenapa bisa sepanas ini ya, gumam Mei.
Saat ini memang sedang musim panas, dibeberapa wilayah memang sudah sangat jarang diguyur hujan. Dan bantuan yang akan diresmikan hari ini adalah bantuan sumur bor. Pengerjaan semua fasilitas sudah dimulai dari bulan lalu, hari ini adalah hari peresmian. Ada banyak sumur yang dibangun dari bantuan perkumpulan Istri para pengusaha.
Saat ibu keluar dari mobil, para aparat desa sudah menunggu. Mata kamera reporter juga mengabadikan momen kedatangan ibu. Merilin, alih-alih menempel disamping ibu, dia pun mengangkat kameranya. Bergerak selayaknya pegawai Andez Corporation yang sedang menemani nyonya Presdir.
Acara akan dibagi menjadi beberapa bagian. Seremonial peresmian yang diliput media, pemberian hadiah dan bermain dengan anak-anak, akan ada lomba dan permainan dengan anak-anak nanti dan di tutup dengan makan siang bersama para penduduk.
Tempat prasmanan juga sudah disiapkan di tenda tersendiri. Para panitia berjibaku mengatur waktu, supaya agenda berjalan sesuai waktu.
Seremonial acara peresmian berlangsung, sambutan demi sambutan. Baik dari perwakilan desa, perusahaan dan masyarakat yang mendapatkan bantuan. Nama-nama perusahaan yang ikut ambil bagian disebutkan satu persatu. Saat nama Andalusia Mall disebut, Mei langsung tersentak.
Dia ingat nama itu, bukankah itu nama perusahaan yang sedang menjadi topik panas dikantor, proyek besar asrama karyawan Andalusia Mall. Dan juga tempat wanita yang dicintai Kak Rion berada.
Mei jadi celingukan, memperhatikan teman-teman ibu. Banyak yang terlihat masih muda dan sangat cantik, hingga dia tidak bisa menerka yang mana wanita yang dicintai Kak Rion.
Apa dia disini juga ya? pasti ada, ibu saja mengajakku
Merilin penasaran sekaligus merasa takut.
Dan saat acara seremonial yang diliput media sudah selesai, para reporter itu di jamu makanan yang sudah disiapkan panitia. Lalu mereka berpamitan kepada ibu dan juga pejabat desa.
Setelah Media pergi, sebelum agenda selanjutnya dimulai, ibu menggandeng tangan Mei, mendekat ke arah tenda para istri pengusaha yang terlihat tidak nyaman karena suasana panas. Mereka ada yang kipas-kipas atau meneguk minuman dingin.
Ibu bertepuk tangan meminta perhatian, suasana menjadi lengang. Orang-orang berhenti bekerja, bahkan yang sedang menurunkan hadiah perlengkapan sekolah dan makanan untuk anak-anak warga desa ikut berhenti bekerja. Suara ibu menjadi magnet bagi semua orang. Mereka diam menunggu, apa yang akan dibicarakan oleh ibu.
"Nyonya semuanya, maafkan saya baru memberi kabar bahagia ini." Mei gelagapan malu dan panik, saat ibu menarik dan menyuruhnya berdiri di depannya. "Kami memang belum mengadakan pesta perayaan, karena ada sesuatu dan lain hal, tapi saya akan memperkenalkan kepada kalian, inilah menantu saya, istri anak saya Rion. Perkenalkan, dia menantu kesayangan kami, Merilin."
Saking kagetnya, teman-teman ibu tidak ada yang bereaksi, semua membeku dengan mulut terbuka. Tapi, diantara semua orang yang membeku kaget, ada yang berdiri dari duduknya. Seorang gadis dengan rambut sehitam langit malam, panjang terurai, walaupun di cuaca panas, tetap tergerai dengan lembut dan cantik. Mei menyadari, gadis itu menatapnya dengan tangan gemetar.
Aku menemukannya, gumam Mei. Wanita yang dicintai Kak Rion.
Bersambung