
Rion sudah berdiri di dekat gerbang, dia bisa mendengar percakapan dua orang wanita yang sangat dikenali ingatannya. Emosi langsung terasa meletup di kepalanya saat mendengar Amerla bicara.
"Aku wanita yang dicintai Kak Rion!"
Deg.
Tangan Rion langsung terkepal, saat mendengar kalimat itu. Suara Amerla yang terdengar sangat percaya diri. Kemarahan yang beberapa hari ini bisa dinetralisir oleh Mei rasanya ingin meledak membakar semuanya sekarang. Beraninya dia membanggakan itu di depan istriku.
Padahal kau yang sudah membuang cinta yang kuberikan, seperti sesuatu yang tidak berharga. Bagaimana bisa kau membanggakan hal itu seperti sesuatu yang sangat berarti. Rasa marah itu semakin naik kepermukaan karena ingatan Rion menunjukkan waktu kebersamaannya dengan Amerla. Hari dia dicampakkan di depan karyawan perusahaannya. Bayangan Rion memohon di hari pernikahan Amerla juga terpampang jelas dalam ingatannya. Semakin membuat darahnya mendidih.
Dia sudah membuang ku, tapi masih bicara tentang cintaku. Menyebutmu sialan saja sepertinya tidak cukup.
Rion mau menarik gerbang. Sebenarnya dia mau menendang gerbang itu supaya terlihat keren, tapi, pasti dia tidak akan bisa menumbangkan gerbang itu. Karena terlihat sangat kokoh. Tapi, baru saja akan memegang gerbang. Gerakan tangannya berhenti karena mendengar suara Mei menjawab Amerla.
"Haha..." Mei yang menjawab dengan tertawa dan santai membuat Rion terkejut.
Reaksi apa itu? dia tertawa dengan tenang.
Saat mengintip melalui celah yang ada di gerbang, Rion bisa melihat dengan jelas wajah Mei. Tidak ada ekspresi rendah diri, tidak ada wajah yang pucat, atau tangan dan bibir yang gemetar.
Padahal dia gemetar ketakutan saat bicara denganku, ternyata dia bisa setenang itu bicara dengan Amerla. Rion melepaskan tangannya dan urung membuka gerbang. Dia malah menonton pertunjukkan yang tidak terduga itu. Jadi, selama ini kenapa dia gemetar ketakutan di depanku ya, apa dia takut membuat kesalahan dan membuatku marah. Pikiran Rion malah jadi bercabang.
Tapi dia imut kalau gemetar di depanku, haha.
Karena Rion menyukai ekspresi Mei yang gemetar takut di depannya, dia tidak ada niat meluruskan apa pun.
"Lucu sekali." Suara Mei terdengar lagi. "Menyedihkan."
Rion sudah mulai terlihat tenang, karena situasi Mei sekarang ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dia pikirkan saat kabur dari lapangan golf. Tidak ada Mei yang tertunduk dengan rendah diri. Mei yang gemetar takut menghadapi Amerla yang gemerlap. Malah yang ada, istri yang percaya diri dengan posisinya.
Kau selalu penuh kejutan Mei. Aku benar-benar kau buat terkejut. Tunggu! Apa lagi sekarang, apa yang mau kau lakukan!
Rion membelalak, saat melihat Mei seperti ulat bulu meliuk-liuk dengan kibasan rambutnya.
Dia ngapain lagi. Hah! Haha.
Adegan Mei menunjukkan tanda kecupan yang dibuat Rion semalam, membuat tubuh Rion gemetar menahan tawa. Apalagi gadis itu terlihat geliat geliut seperti ulat bulu. Saat dengan sengaja Mei menurunkan kerah bajunya supaya lehernya terlihat, Rion jatuh berjongkok dengan tubuh gemetar menahan tawa.
Haha, dia lucu sekali. Ah, bodohnya aku. Seharusnya aku merekamnya. Saat ini yang terlihat di mata Rion hanya sosok Mei seorang dengan segala tingkah lakunya, sementara lawan bicara Mei hanya terlihat seperti kaca transparan. Kelakuan Mei yang membuatnya tertawa, menghapus kemarahan di hatinya. Dia jadi tidak perduli dengan Amerla sama sekali. Bahkan wanita itu tidak terlihat di mata Rion.
Saat sedang terduduk karena lemas menahan tawa, gerbang berderik.
"Kak Rion! Kapan Kakak datang?" Mei tersentak. Membuat tawa Rion malah meledak.
"Lucunya, istriku lucu sekali."
Rion bangun dari berjongkoknya, meraih pinggang Mei. Mendekatkan tubuh Mei. Bibir mereka bertemu.
"Lucunya istriku." Menepuk kepala Mei dengan perasaan bangga.
Mei terlihat mulai bisa menguasai kekagetan, kemunculan Rion yang tidak terduga, ciuman yang tiba-tiba barusan. Dia sebenarnya kebingungan. Belum lagi, Amerla, bagaimana kalau wanita itu tiba-tiba keluar dan akhirnya bertemu dengan Kak Rion.
Kalau Kak Rion meraih tangan wanita itu, hancur sudah semua harga diri yang sudah sok dia tunjukkan tadi. Eh, wajah Mei kembali memerah melihat Rion yang masih tergelak. Apa dia melihatku pamer tanda kecupan tadi. Aaaaa! Tidak!
Kalau melihat dari Rion yang tidak berhenti tertawa sepertinya dia melihat semuanya.
"Kak Rion, di dalam ada..."
Kenapa kau ketakutan melihatku Mei? Apa kau pikir aku akan menepis tanganmu lalu meraih tangan wanita tidak tahu diri itu.
Jelas sekali terlihat di wajah Mei, seperti apa yang dipikirkan Rion. Membuat Rion tertawa dan menuding kening Mei.
" Bodoh! Ikut aku..."
"Tapi Kak."
Rion menarik tangan Mei tidak menggubris apa yang mau dibicarakan Mei, mereka menjauh dari rumah yang terlihat paling bagus di desa tempat Mei mandi tadi. Agak tersengal Mei mengikuti langkah kaki Rion.
"Kak Rion, maaf bisa pelan-pelan jalannya."
Rion menoleh melihat Mei yang terlihat tersengal setengah berlari mengimbangi langkah kakiku.
Lucunya, dia jadi seperti kelinci yang melompat-lompat.
"Cih, kenapa kakimu pendek sekali." Walaupun mengeluh tapi Rion memperlambat langkah kakinya. Membuat Mei tersenyum sambil menyentuh dadanya. Wajahnya sedikit memerah karena senang.
Apa yang sudah kau dengar dari Amerla sebelum aku datang Mei? Apa yang kau pikirkan tentang Amerla? Kau marah, karena aku pernah mencintai wanita itu! Berderet pertanyaan muncul di kepala Rion. Aku ingin tahu, apa yang kau pikirkan sekarang.
Mereka sampai di area parkir, Rion memencet kunci mobil. Tanpa bicara sepatah katapun Rion mendorong tubuh Mei masuk ke dalam mobil. Dan dalam sekejap, mereka meninggalkan lapangan tempat acara. Menjauh dari keramaian
"Kak, kita mau kemana? kalau ibu mencari bagaimana?"
Rion tidak menjawab, dia mengemudi tanpa arah dan tujuan, hanya mengikuti jalan lurus di depannya. Saat sudah sampai di jalanan yang sepi, mobil berdecit. Berhenti. Rion memukul kemudi, lalu menoleh ke arah Mei.
"Cium aku!"
"Apa!"
Haha! lucu sekali, matanya seperti mau loncat keluar.
"Aku marah Mei."
Bibirnya gemetar lagi, lucunya.
"Kau sudah tahu sekarang kan?" Rion mengusap rambutnya sendiri. Lalu menatap Mei dengan lekat lagi. "Wanita yang bicara denganmu pasti sudah bicara banyak hal. Apa yang dia katakan padamu?"
Mei masih terdiam, dia takut bicara. Karena menduga kemarahan Rion karena dengan kurang ajarnya dia membuat Amerla semalu itu.
"Dia bilang aku mencintainya?"
Mei mengangguk, sambil mengamati ekspresi Rion.
"Lalu apa lagi?"
"Dia bilang Kak Rion mencintainya, hubungan kalian sangat dekat. Dan..." Keraguan tergambar dengan jelas saat Mei meremas jemarinya. "Sepertinya pernikahannya tidak berjalan dengan baik, dia bilang, kalau dia bercerai dan akan kembali pada Kak Rion."
Saat Mei selesai bicara, meledaklah tawa Rion, membuat Mei kebingungan.
Aku tidak perduli dengan pernikahan Erla, tapi, memang siapa yang mau menerimanya kalau dia kembali padaku. Lucu sekali, memang siapa yang mau menerimanya. Dia benar-benar meremehkan ku.
"Maafkan aku Kak."
"Kenapa kau minta maaf?"
"Karena sudah membuat malu wanita yang dicintai Kak Rion."
"Hahaha."
Mei semakin bingung, kenapa Rion malah tertawa sekarang. Apa dia senang, karena aku sedikit memberi pelajaran pada wanita itu. Deg. Rasa takut tiba-tiba muncul di hati Mei, kalau hubungan Kak Rion membaik, lalu bagaimana dengannya. Bagaimana kontrak dua tahun yang terjalin antara mereka. Apa akan mereka sudahi sekarang juga.
"Kak, maaf, kalau Kak Rion akan kembali pada wanita itu, lantas bagaimana denganku? Apa Kak Rion akan membuang ku." Mei tertunduk, sambil bergumam. Untunglah, aku tidak membuka hatiku padanya.
"Hahaha. Kau lucu sekali."
Bodoh! Baiklah, walaupun bodoh kau tetap lucu jadi aku akan memaafkanmu.
"Memang siapa yang mau membuangmu." Rion mencengkeram dagu Mei. Memberi kecupan tiga kali di bibir yang bergetar itu. "Dia memang wanita yang pernah aku cintai Mei, tapi, dia juga wanita yang sudah mengkhianati cintaku." Menggoyangkan dagu Mei membuat gadis itu fokus menatapnya. "Aku bukan laki-laki yang memiliki belas kasih sebesar itu, untuk memaafkan wanita yang sudah mengkhianatiku. Kau paham?"
Kepala Mei langsung mengangguk. Ada terselip rasa bahagia mendengar Kak Rion tidak akan kembali pada Amerla. Tapi, kata-kata itu terdengar sekaligus menjadi ancaman padanya. Kalau dia mengkhianati Kak Rion, nasibnya pasti akan persis seperti Amerla.
"Jadi Kak Rion tidak marah, karena aku mempermalukan wanita itu?"
Rion tertawa, Mei berteriak dalam hati, memang aku tahu arti tertawamu itu apa. Dari tadi menjawab pertanyaan dengan tertawa, membingungkan sekali.
Rion menghadap ke depan, menurunkan kursi mobilnya, sampai agak miring. Lalu dia menepuk pangkuannya.
"Pindah! Aku masih marah, jadi cium aku."
Aku marah karena kau berfikir aku akan membuangmu, apa kau senang kalau aku membuangmu. Kau jadi bisa kembali mengejar Serge. Jangan mimpi Mei.
Mei tengok kanan dan kiri, sepi, tidak ada siapa pun yang terlihat memang. Karena semua penduduk semua ada di lapangan acara. Bahkan tidak ada motor atau mobil yang melintas. Tapi kan! Aaaaaa! Ini kan di mobil!
Saat Rion menepuk pangkuannya untuk kedua kalinya, Mei sudah berpindah dari kursi mobil ke pangkuan itu.
"Jadi, Kak Rion marah karena apa?"
"Buka!" Rion menarik kancing baju yang Mei pakai. "Cium aku dan jangan banyak bertanya, ibu pasti sudah menunggu kita." Rion menyeringai, lalu menarik bahu Mei membuat wajah gadis itu terdorong ke depan.
Mereka berciuman, sepanas udara yang ada di luar mobil. Ada debu dan dedaunan yang diterbangkan angin. Ciuman demi ciuman diberikan Mei di seluruh tubuh Rion, meredakan amarah yang entah sumbunya ada dimana.
"Aku mencintaimu Mei."
Mei mengangkat kepalanya kaget, seperti mendengar suara Rion berbisik di telinganya saat dia menciumi perut Rion. Tapi saat melihat Rion, laki-laki itu tidak terlihat seperti habis bicara sesuatu. Wajahnya tenang, hanya terlihat sedang menikmati kecupan darinya.
"Kak Rion barusan bilang apa?"
"Hahaha, aku tidak bicara apa-apa, teruskan!"
Hampir saja aku keceplosan.
Mereka menghilang, kurang lebih satu jam. Acara makan siang bersama sampai sudah mau selesai. Mei muncul dengan menggandeng tangan Rion, membuat semua orang terkejut. Lebih-lebih, wanita yang sudah dengan bangganya bicara, aku wanita yang dicintai Kak Rion.
Tangan Amerla gemetar, melihat Rion melingkarkan tangan di pinggang Mei di depan semua orang.
Bersambung