Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
72. Kesalahpahaman Selesai?


Tidak disadari Merilin, kalau Rion sedang berdiri di belakang pintu, kalau sebenarnya Rion sedang merapatkan telinga sambil menyentuh handle pintu, membuka sedikit pintu kamar. Supaya bisa mendengar percakapan Merilin. Sekali lagi, ketidakpekaan gadis itu melihat situasi sekitarnya benar-benar sangat parah.


Hanya karena tidak ada Rion di dalam kamar, di sudah merasa aman untuk mengangkat hpnya yang bergetar.


Gadis itu sedang duduk di atas tempat tidur. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sampai menyentuh lehernya. Lalu memeluk lutut yang dia tekuk ke depan dada. Ada pancaran kebahagiaan tersendiri di wajahnya. Dari tempatnya berdiri dan memperhatikan, Rion bisa menebak, siapa yang sedang bicara dengan istrinya.


Cih, Rion memaki nama Serge beberap kali dalam hati.


Dan gadis tidak peka yang merasa aman sedang bicara dengan suara pelan.


"Kenapa Kak Ge minta maaf, aku nggak papa kok."


Walaupun aku belum paham apa si sebenernya yang Kak Ge maksud itu apa. Tapi tidak penting juga apa masalahnya, karen aku akan memaafkan Kak Ge.


Pokoknya seperti Kak Ge yang selalu membantu Merilin, gadis itu pun akan melakukan hal yang sama untuk Serge.


"Kamu marah ya Mei, kamu nggak mau membalas pesanku." Merilin tersentak, dia harus menjelaskan perihal hpnya yang tertinggal. Serge masih bicara. "Kamu sangat membenciku ya Mei." Terdengar gurat kesedihan bahkan hanya dari suara Kak Serge saja, Merilin bisa menebak, bagaimana ekspresi laki-laki itu sekarang. Merilin jadi ingin bertemu dan melihat wajah Serge sekarang, menenangkan laki-laki itu.


Tapi tidak mungkin kan, dengan baju ehem, yang dia pakai saat ini. Mei tersenyum sendiri setelah selintas melihat kondisi pakaiannya. Akhirnya cukup di telepon saja Mei meluruskan semuanya.


"Ya Tuhan Kak, maafkan aku, bukan begitu ceritanya. Hpku memang mati dari pagi setelah aku membaca pesan Kak Ge, lalu aku lupa membawanya ke kantor. Jadi baru saja hidup setelah aku pulang tadi."


Ini bukan salah Kak Ge, ini karena kecerobohan ku.


Tapi tetap saja suara rasa bersalah Serge masih terdengar, Merilin bahkan seperti mendengar suara Kak Ge menangis. Apa sih, apa karena aku tidak membalas pesannya dia jadi segalau itu.


Kau yang tidak membalas cintaku Kak, aku kan yang harusnya menangis. Ini baru pesan kau sudah sesedih ini. Merilin jadi ingin menertawakan sikap Serge yang menurutnya lucu sekali. Namun, dia hanya mengulum senyum. Sambil menutup wajahnya. Senyum Merilin ditangkap orang yang sedang berdiri di belakang pintu sebagai perselingkuhan, pengkhianatan dan ketidaksetiaan.


"Maafkan aku Mei, aku mohon maaf. Rasanya aku malu sekali padamu, pada Brama, Harven dan juga ibumu. Maafkan aku yang sudah menjerumuskanmu dalam pernikahan ini. Aku malu sekali pada ayahmu juga."


Menjerumuskan pada pernikahan, kenapa tiba-tiba. Bukankah dari awal mereka bertiga sudah tahu kesepakatan kontrak ini. Karena Kak Ge terlibat langsung di dalamnya, untuk apa sekarang Kak Ge minta maaf. Masih saja Merilin belum menemukan titik temu. Saat mendengar Serge minta maaf lagi, dia melemparkan hpnya karena seperti mendapatkan pencerahan.


Apa Kak Ge tahu perihal baju tidur seksi. Makanya dia minta maaf. Aaaaaa! Apa Kak Rion mengatakan semuanya padanya.


"Mei...Merilin.."


Merilin belum mengangkat hpnya, masih teronggok di tempat tidur. Dia takut meraihnya, dia malu bicara lagi dengan Kak Serge. Kalau Kak Serge benar-benar tahu tentang baju seksi dan kehidupan pernikahannya, walaupun dua tahun sudah berlalu, apa mungkin dia masih tidak tahu malu berani mengatakan perasaannya suatu hari nanti.


Tidak Mei, belum tentu, mungkin dia hanya tahu tentang baju seksi. Masih berusaha membohongi diri sendiri.


"Mei, Merilin."


Ragu, Merilin meraih hpnya. Apakah sekarang, semua sudah berakhir, sekedar aku mengatakan isi hatiku dua tahun lagi sudah tidak ada kesempatan.


"Ia Kak, maaf tadi hpku jatuh." Berusaha bicara dengan suara setenang mungkin.


"Bagaimana sekarang Mei, aku tidak tahu kalau Rion akan berubah seperti ini. Aku bersumpah Mei, kalau dia memang sangat membenci perempuan dulu. Seperti yang pernah aku ceritakan padamu. Aku jadi menjamin kau akan baik-baik saja. Tapi, bagaimana sekarang. Aku malu sekali padamu Mei, maafkan aku."


Duar! Kepala Merilin mulai benar-benar berasap sekarang, Kak Serge tahu semuanya, bukan hanya sekedar baju seksi. Dia tahu aku dan Kak Rion sudah melakukan hubungan suami istri. Sedikit demi sedikit, rasa malu dan hina itu menumpuk di dada Merilin.


Bagaimana ini! Bagaimana sekarang aku menjawab.


"Aku malu bertemu denganmu Mei dan aku merasa sangat bersalah Mei, maafkan aku. Aku kakak yang tidak berguna, maaf Mei." Rasa bersalah semakin menghujam ke dada Serge.


Merilin tertawa, entah kenapa dia tertawa sekarang dia juga bingung, tapi hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menutupi rasa malunya. Karena ketahuan Kak Serge sudah melakukan sesuatu dengan Kak Rion.


"Kak Ge ini aneh sekali, kenapa Kakak merasa bersalah, aku baik-baik saja kok."


Ayo Mei tertawa lagi, tunjukkan kalau apa yang kau jalani sekarang karena keinginanmu. Kalau kau bahagia dan menikmati semuanya. Kalau kau baik-baik saja.


"Aku bahagia dengan pernikahanku Kak, Kak Rion sangat baik memperlakukanku."


Ayo Mei, pertahankan suaramu untuk tetap biasa saja.


Diluar pintu, tangan Rion yang tadinya sudah terkepal, yang siap menghancurkan daun pintu mengendur lagi. Kakinya yang sudah ancang-ancang menendang pintu juga ikut mundur.


Mei bahagia dengan pernikahan ini, laki-laki itu bergumam sambil mengibaskan rambutnya yang basah. Baiklah, aku akan mengampunimu Ge. Padahal tadi di kepala Rion sudah muncul adegan pembantaian sekretarisnya sendiri. Entah apa yang dia pikirkan, tapi menyeramkan kalau direalisasikan.


"Tapi Mei, Rion memperlakukanmu dengan baik kan? saat kalian berhubungan, dia tidak melakukannya dengan kasar kan? Maaf, aku menanyakan sampai seperti ini Mei. Rasanya kepalaku mau meledak karena menebak-nebak. Maaf Mei, dia tidak menyebut nama wanita lain saat bersamamu kan?"


Yang ditakuti Serge masih sama, kalau Rion hanya menganggap Merilin sebagai pengganti Amerla. Dia takut saat mereka bercinta yang tersebut di mulut Rion adalah nama Amerla.


Lidah Merilin jadi Kelu untuk menjawab. Rion memperlakukan bonekanya dengan baik kak. Kadang dia sayang-sayang aku kalau suasana hatinya baik, kadang dia marahi aku juga kalau di kesal. Ya, begitulah, sesuka hatinya dia memperlakukan aku. Kalau saja boleh mengatakan hal ini, tapi Mei tahu, bahkan pada teman-temannya saja dia mengubur semuanya, apalagi pada Kak Ge. Ini hanya akan menjadi rahasianya dan Rion.


"Kak Rion sangat baik Kak memperlakukan aku, sampai membuat hatiku berdebar-debar." Merilin menutup mulutnya, kebohongan yang baru saja keluar dari mulutnya rasanya lucu sekali.


Tapi aneh, kenapa hatiku tidak menolak ya. Hatiku mengakui kalau aku berdebar-debar dengan setiap sentuhannya. Merilin!


Ketika tubuh dan hatinya tidak bisa menyangkal, akhirnya Merilin berdamai dan berhenti menolak. Baiklah, baiklah, aku menikmatinya. Puas!


"Ah, benar, kau memang sudah menyukai Rion dari awal ya. Ya Tuhan kenapa aku sampai lupa itu. Jadi dia tidak memaksamu untuk membuat tanda kecup-Kecup di lehernya itu kan." Serge sampai lupa pada fakta ini, padahal di awal dulu Mei sudah menunjukkan indikasi ketertarikannya pada Rion. "Ya Tuhan Mei, kau tahu seharian ini aku rasanya mau meledak saking takutnya, aku pikir dia memaksamu."


Biarlah, biarlah Kak Ge salah paham. Merilin tidak hendak meluruskan apa pun. Wajahnya hanya memerah karena semakin malu ketahuan semuanya.


Rion yang tadi sudah cukup tenang, berubah lagi karena melihat wajah Merilin yang bersemu merah. Lagi-lagi dia artikan kalau Merilin senang berbicara dengan Serge. Rion kan tidak mendengar perkataan Serge, yang dia lihat hanya wajah Mei yang memerah.


Bersambung