Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
74. Kakak Beradik


Di akhir pekan yang cerah. Waktu bergulir menemani manusia mengisi hari.


Di sebuah kamar, di sebuah rumah seorang laki-laki sedang duduk di tepi tempat tidur. Dia menyapu wajahnya dengan tangan sambil tertunduk. Hati nuraninya tertusuk duri kesadaran. Selama beberapa hari ini rasanya tidurnya juga tidak nyenyak karena kesalahannya seperti mengejarnya dalam mimpi. Dia beberapa hari ini bermimpi tentang adik-adiknya.


Dia adalah Brama, kakak laki-laki yang seharusnya menjadi pengganti ayahnya sebagai kepala keluarga, tapi memilih kabur karena tidak percaya diri untuk menanggung semua beban keluarga. Karena hatinya terlalu rapuh untuk berjuang, hingga lebih mudah memilih cinta daripada keluarga.


Istrinya masuk ke dalam kamar, membawa secangkir teh, dia menyodorkan pada Brama tapi tidak di terima suaminya, tangan Brama menarik tubuhnya, mendekat. Brama memeluk istrinya dengan posisi dia yang masih duduk dengan lesu di tepi tempat tidur.


"Sayang, kau bermimpi lagi tentang adik ipar?"


Sang istri mengusap bahu Brama sambil meletakan cangkir teh di atas meja. Kemarin dan beberapa hari lalu juga begitu, semenjak pernikahan adik ipar, suaminya memang terlihat muram. Padahal saat berpisah setelah pernikahan semua baik-baik saja. Baik suaminya mau pun adik ipar. Brama mengeluhkan, dia bermimpi di kejar rasa bersalah karena sudah meninggalkan keluarganya demi pernikahan dan kebahagiaannya sendiri.


Semua itu berawal dari Merilin yang tidak bisa dihubungi, pesan Brama yang tidak terbaca, telepon yang tidak diangkat.


Mendengar keluhan suaminya, sang istri juga dihujani perasaan bersalah.


"Maaf ya Kak, kalau saja aku tidak memberikan ide itu, hubungan kalian sebagai keluarga pasti tidak akan seperti ini." Dialah awal mula, karena dia takut orangtuanya menolak Brama yang keluarganya sudah bangkrut, dia jadi membuat skenario supaya laki-laki itu berbohong tentang keluarganya.


Selama beberap hari ini, bukan hanya suaminya yang dihantui rasa bersalah, tapi dia juga muram karena melihat suaminya yang bersedih.


"Bagaimana kalau sekarang kita jujur pada ayah dan ibuku Kak?" Secercah oase berusaha dia munculkan. Untuk menyelesaikan masalah.


"Apa tidak terlambat, kalau mereka tahu sekarang bukannya mereka akan lebih marah karena tahu aku berbohong." Brama masih tertunduk memeluk istrinya. "Bagaimana caranya aku minta maaf pada Mei dan Harven?"


Ah, mau jujur atau meneruskan kebohongan semuanya tetap salah. Brama harus menanggung semua resikonya sekarang. Dia ingin menyudahi dusta ini, dia ingin diperlakukan selayaknya kakak seperti dulu lagi oleh Mei dan Harven, dia bahkan ingin mengenalkan keluarganya dengan mertuanya.


Apa itu mungkin sekarang, gumam Brama. Mei saja menolak uang yang biasanya ia kirimkan untuk melunasi hutang ayah. Mei bilang, suaminya yang akan melunasi hutang itu. Brama merasa menjadi terasing dan terbuang, dia jadi merasa tidak dibutuhkan.


Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Mei, Harven dan ibu. Dan aku harus memulainya dengan mengatakan yang sebenarnya pada keluarga istriku.


"Orangtuamu pasti akan sangat marah, entah dengan kebohonganku, atau karena latar belakangku. Apa kau siap dengan semua itu?" Tatapan Brama pada istrinya masih dipenuhi luapan cinta, dia tidak mau terjadi hal buruk pada hubungannya dengan istrinya.


"Aku akan membela Kak Brama di depan ayah dan ibuku Kak." Sang istri meraih tangan suaminya. "Walaupun aku tahu orangtuaku pasti marah, tapi aku mohon jangan masukkan hati kemarahan mereka Kak, jangan sakit hati, dan yang lebih penting jangan lepaskan tanganku."


Gadis itu takut, kemarahan orangtuanya akan membuat Brama sakit hati, dan suami yang tersinggung serta sakit hati, akan melepaskan genggaman tangannya.


"Berjanjilah Kak, apa pun yang terjadi jangan lepaskan tanganku. Untuk sampai pada hari ini Kak Brama sudah berkorban banyak hal, aku mohon bertahanlah dengan sikap orangtuaku sedikit lagi." Istrinya menggengam tangan Brama. "Kalau ibuku mengusir Kakak, aku akan ikut Kakak. Aku istri Kak Brama, aku akan pergi ke mana pun Kak Brama pergi."


Brama mendongak, lalu mendudukkan istri ga di pangkuannya, meletakan tangannya di pipi istrinya.


"Untuk mendapatkanmu aku bahkan kehilangan keluargaku, aku tidak akan semudah itu goyah hanya karena makian orang tuamu." Meraih tubuh istrinya dalam dekapan, lalu kecupan mendarat di kening istrinya beberapa kali. "Kau juga berjanji, tetap berdiri di sampingku." Sang istri mengganguk.


Brama ingin menyudahi sandiwara dengan mertuanya, dia ingin kembali mendapatkan kehormatan sebagai kakak laki-laki Merilin dan Harven, serta anak laki-laki pertama dalam keluarga.


Walaupun terbersit rasa takut dengan reaksi orangtua istrinya, tapi dia akan bersiap menanggung semuanya, demi keluarganya.


"Hari ini, ikut aku mengunjungi ibu di RS ya? aku mau mengenalkanmu."


"Ia Kak."


"Nanti kalau ibuku bicara agak aneh tentang ayahku, tolong maklumi beliau ya, karena ibu sedang sakit."


"Ia Kak."


Kedua orang itu sedang berusaha saling menguatkan, demi meyakinkan satu sama lain, bahwa keputusan yang akan mereka lakukan untuk jujur adalah hal yang terbaik.


"Aku mencintaimu Kak."


"Aku juga mencintaimu."


Semoga saja, kekuatan cinta Brama dan istrinya, berhasil memenangkan peperangan. Karena itu akan menjadi awal Brama memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Hari ini dia akan mengunjungi ibu ke RS bersama istrinya.


"Kak, ibu suka makan apa, nanti kita bawakan?"


Brama terdiam, karena urusan seperti ini biasanya Merilin yang selalu perhatian. Ah, aku memang kakak tidak berguna, gumamnya sambil tertunduk sedih.


...🍓🍓🍓...


Masih di pagi yang sama, di tempat yang berbeda.


Selepas olahraga pagi dengan lari pagi dan menggunakan alat olahraga di taman bermain, mereka berdua berjalan santai sambil bergandengan tangan. Membicarakan hal remeh seperti angin yang berhembus, dan alat olahraga yang paling mereka sukai di taman.


Wajah Sherina dan Harven terlihat bahagia, tersenyum sesekali sambil masih bicara. Tak terasa, langkah kaki mereka sudah sampai di pertigaan jalan di mana rumah Sherina berada. Harven belum pernah mengantarnya sampai di depan rumah.


Padahal gadis itu ingin sekali pergi mengunjungi calon mertuanya.


"Ia, ia sudah sana, lain kali kan aku masih bisa mengajakmu."


"Janji ya Ven."


"Ia, pergi sana."


Akhirnya Sherina menghilang di belokan. Kakak sepupu yang biasanya menempel pada Sherina hari ini tidak terlihat, katanya sedang libur.


Padahal aku bertemu dengannya setiap hari, tapi setiap berpisah, kenapa aku sudah kangen begini si.


Harven masuk ke dalam gerbang rumahnya, terkejut saat melihat seseorang duduk di teras rumah.


"Kak Ge, kenapa nggak telepon."


Serge nyengir sambil mengangkat tas ditangannya.


"Aku membawa sarapan, kau habis olahraga, tumben Sherina tidak mampir." Aneh melihat Harven sendirian.


"Katanya dia mau keluar kota, Eh, pipi sama bibir Kak Ge kenapa?" Ada lebam serta luka yang ditutupi dengan hansaplas di sudut bibir Kak Ge.


Mereka masuk ke dalam rumah.


"Aduh, aku jadi sakit lagi kan, padahal aku sudah lupa."


Dua ekor kucing berlari menyambut Harven, laki-laki itu menggendong keduanya masuk ke dalam kandang.


"Memang kenapa Kak?"


"Aku dicakar kucing gila kemarin. Cuci tanganmu sana, aku juga belum makan, sengaja mau makan bersamamu."


Harven terlihat prihatin, sambil membawa piring untuk makan bersama di ruang tamu. Melihat luka di wajah Serge lagi.


"Kak Arman sepupu Sheri juga pernah dicakar kucing sampai begitu, untung saja duo meong itu tidak suka main cakar-cakar."


Hah, ternyata Arman punya bos yang sama gilanya denganku ya. Serge cuma bisa menghela nafas.


Sarapan hari ini disponsori oleh ibunya Serge, masakan rumahan yang sangat disukai Harven, mengobati kerinduannya dengan masakan Kak Me.


"Hari ini kau mau kemana Ven? pergi denganku yuk, aku mau bertemu Deandra teman Mei, ada sedikit pekerjaan."


Sambil menyuap dan mengunyah.


"Maaf Kak, aku mau ke RS, Minggu ini aku cuma mampir sekali menjenguk ibu, rencananya mau menginap di RS."


Walaupun kecewa karena Harven tidak bisa menemani, tapi karena alasannya ibu dia pun tidak mau memaksa Harven. Sepertinya mereka janjian bertemu di RS pikir Serge, karena hari ini setahunya Mei dan Rion akan datang ke RS.


Serge menyentuh pipinya, haduh sialan masih sakit juga.


Rion benar-benar marah kemarin, Serge yang mau menyelamatkan diri dengan datang terlambat ke kantor langsung melesatkan mobil dengan kecepatan penuh setelah mendapat pesan.


"10 menit aku tidak melihatmu, aku akan menghajarmu 10 kali lipat."


Dan Serge benar-benar babak belur kemarin. Sungguh hari yang sangat menyedihkan baginya.


"Kak Ge!" Harven setengah berteriak memanggil.


"Eh apa! Maaf aku melamun. Kenapa?"


"Hp Kak Ge bergetar dari tadi."


Serge menjatuhkan sendoknya, melihat layar hpnya. Deandra memanggil. Serge segera mengangkat hpnya dan berjalan ke luar, duduk di teras rumah, beberapa waktu dia berbicara dengan Deandra.


Wahhh, apa akan lahir lagi korban kebaikan Kak Ge. Harven mengunyah makanannya, jadi laki-laki baik ternyata sudah juga ya, dia terlalu baik sampai tidak sadar menebar harapan dan menyakiti hati. Ya, Kak Mei salah satu buktinya.


Aku kangen Kak Mei, ah, nanti aku kirim foto waktu di RS sama ibu buat Kak Mei.


Harven sudah punya rencana untuk membawakan makanan kesukaan ibunya saat mengunjungi RS nanti.


Bersambung