Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
104. Kesombongan Amerla


Di kediaman Presdir Andalusia Mall.


Seorang gadis sedang mematut diri di depan cermin. Menepuk riasan di pipi. Memberi sentuhan terakhir di bibirnya yang merona. Dia kecap beberapa kali sambil tersenyum melihat pantulan wajahnya sendiri. Cantiknya, aku memang sangat cantik. Gumamnya memuji dirinya sendiri.


Sudah sempurna.


Dia adalah Amerla, saat ini gadis itu sedang berbunga hatinya. Karena berfikir, rencananya satu persatu berhasil dengan sempurna dan mulus seperti jalan bebas hambatan. Semua hal berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Hari ini dia akan bertemu dengan Kak Rion, atas undangan Kak Rion.


Setelah make up selesai, dia mulai menyisir rambut panjang lurusnya yang indah jatuh tergerai. Waktu yang dia pakai untuk menyisir jauh lebih lama, karena dibagian rambut inilah, dia selalu merasa bangga. Kak Rion dulu sangat suka menyentuh dan mencium rambutnya. Lagi-lagi gadis itu bernostalgia dengan masa-masa manis yang dia lalui bersama Rion.


Sekali lagi, yang diingat Amerla, hanyalah tumpukkan kenangan manisnya bersama Rion. Kak Rion yang mencintainya, Kak Rion yang akan melakukan apa pun yang dia inginkan.


Kau mau mengalahkan ku dengan wajah jelek mu itu. Hihi, tidak mungkin. Untung saja, si bodoh itu percaya begitu saja saat aku bilang Merilin memiliki hubungan dengan petinggi perusahaan.


Si bodoh yang Amerla maksud tentu saja adalah temannya. Wanita itu semakin mudah dia hasut, karena memang sudah ada perasaan iri dengki di hatinya untuk Merilin, hanya sedikit saja digesek, dari mulutnya berceceran kata-kata yang menjelekkan Merilin. Dia menjatuhkan Merilin, melalui tangan orang lain.


Jalan mulus itu sudah terbentang, tinggal melangkah keluar dari rumah ini gumamnya. Berpisah dengan suami menyebalkannya itu. Begitulah gadis itu merasa berbunga hatinya.


Semalam, temannya mengatakan, kalau gosip tentang Merilin semakin memanas, tapi sedikitpun tidak ada klarifikasi dari pihak perusahaan. Mereka membiarkan, hanya memanggil beberapa orang untuk ditanyai. Sudah itu saja. Mereka hanya mendapat peringatan untuk tidak menggunjing Presdir. Tapi tidak ada pembelaan untuk Merilin.


Bukan hanya tidak diakui kepada publik, bahkan Kak Rion pun tidak membelamu. Hihi, begitu kau sombong sekali waktu itu. Nah, Erla, kau harus menaklukkan hati Kak Rion hari ini.


Saat sedang senyum-senyum senang sendiri, pintu kamar terbuka. Ibram suaminya masuk, sepertinya sehabis olahraga. Gadis itu menggerutu dalam hati.


"Erla, mau kemana kamu?"


Amerla bangun dari duduk, dia tersenyum pada suaminya. Bicara dengan baik-baik, kalau dia membuat Ibram kesal, bisa-bisa di tidak bisa keluar.


"Aku mau pergi berbelanja Kak, boleh kan? Katanya Kakak hari ini ada pekerjaan?" Suara imut yang dia buat-buat, dalam hati dia memaki, ini terakhir kalinya aku bersikap sok imut di depanmu. "Aku pergi dengan teman-teman perempuan."


"Terserah saja, jangan pulang malam." Ibram melengos lalu berjalan menuju pintu kamar mandi. Deg, deg, deg. Sialan! Hatinya bahkan masih sedikit berdebar kalau Amerla bersikap manja dan imut di depannya. Dia masuk ke kamar mandi tanpa menoleh.


Sama halnya dengan Amerla, dia segera keluar kamar. Berpamitan dengan ibu, lalu membawa mobilnya melesat jauh. Suasana hatinya sedang riang, dia bernyanyi sambil mengemudi. Gadis itu memang benar-benar pergi berbelanja ke mall lebih dulu. Karena waktu janjian memang dua jam lagi.


Dia membeli pakaian yang langsung dipakainya hari ini. Bukan dress imut atau baju casual biasanya. Dia memakai baju yang menonjolkan keseksian tubuhnya. Dalam hati dia berfikir, tidak mungkin Kak Rion tidak akan melihatnya. Penampilan Amerla berbeda saat masuk dan keluar pusat perbelanjaan. Setelah melemparkan tas yang berisi pakaian yang dia pakai tadi, dia membetulkan riasan wajah. Sekali lagi memuji wajah cantiknya. Lalu membawa mobilnya melaju dengan kecepatan sedang menuju Andez Corporation.


Tempat Kak Rion berada.


Akhirnya, aku bisa terlepas dari jerat Ibram.


Gadis itu masih dipenuhi senyuman, bahkan sampai mobil memasuki area parkir Andez Corporation.


...🍓🍓🍓...


Gedung Andez Corporation di akhir pekan.


Ada karyawan yang datang ke kantor di akhir pekan. Kebanyakan para arsitek yang sedang menangani proyek. Mobil diarea parkir terlihat cukup banyak. Salah satunya mobil yang biasa dibawa Serge.


Setelah keluar dari lift, dia bergegas menuju area parkir. Para petugas keamanan yang sedang berjaga terlihat menundukkan kepala padanya. Saat sebuah mobil berhenti, dia memicingkan mata melihat siapa yang ada di belakang kemudi. Benar, itu mobil Erla kan.


Bersiaplah Ge, dia itu terlalu gila untuk mendapatkan rasa simpatimu. Jangan melemah, dia bahkan menyeret nama Mei demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sudah tidak waras, jadi jangan bersimpati padanya. Serge mengingatkan dirinya sekali lagi. Supaya tidak bersimpati atau terpedaya dengan tampang tidak berdosa Amerla. Saat melihat Amerla keluar dari dalam mobil dia lebih tercengang lagi.


Dasar gila! Kau mau menggoda Rion dengan tubuhmu! Kenapa kau memakai baju seperti itu!


Laki-laki itu menarik nafas, dan mendengus kesal. Kau pikir Rion itu mata keranjang! Kau pikir Rion itu gampangan. Kalau kau tahu, selama dia belum move on dari mu, perempuan itu makhluk yang paling dia benci, kecuali ibunya. Mau Rion disodorkan wanita dengan versi seperti apa pun. Cantik, seksi, dia tidak bergeming sama sekali.


Serge semakin ingin memaki saat Amerla mendekat, gadis itu mengibaskan rambutnya, melepas kaca mata. Tersenyum melihat Serge yang bahkan datang untuk menyambutnya. Gadis itu semakin besar kepala, dan berfikir kalau Rion sangat menantikan kedatangannya.


"Apa kabar Kak Serge, sudah lama kita tidak bertemu?" Suara lembut dan mendayu-dayu terdengar.


"Ikuti aku." Serge melengos dan tidak menjawab pertanyaan Amerla.


Gadis itu cemberut dengan gaya imut seperti biasa, lalu melangkah di belakang Serge. Saat mereka masuk ke dalam lift, dia melirik laki-laki disampingnya yang terlihat sangat acuh. Serge yang sangat berbeda dengan senior yang selalu bersikap baik hati pada semua orang dulu.


"Kak, seharusnya kau baik-baik padaku, kau tahu kan, Kak Rion akan mengabulkan apa pun yang aku inginkan."


"Cih."


"Haha, sombong sekali, kalau kau dipecat jangan datang memohon padaku nanti. Pagi ini Kak Rion sendiri yang meneleponku untuk datang ke sini." Dengan bangganya Amerla sesumbar, bahwa dia datang karena undangan Rion. Dan bisa membuat Serge dipecat kalau dia memintanya pada Rion.


"Seharusnya kau sadar diri Erla, dulu kau yang membuang Rion kan?" Serge terpancing karena merasa kesal.


"Sudahlah Kak, itu kan hanya masa lalu. Yang penting aku kan mau kembali padanya. Oh ya, bagaimana nasib adikmu." Amerla tertawa mengejek. "Merilin pasti menangis tersedu-sedu karena tidak mendapat pengakuan Kak Rion kan."


Dasar gila kau! Tapi Serge tidak bisa membalas Amerla, karena dia sedang mengikuti rencana balas dendam Rion. Yang akan membuat Amerla menjauh sejauh-jauhnya darinya, dan tidak akan pernah berani bersinggungan dengan Mei dikemudian hari. Rion ingin menjatuhkan Amerla sejatuh-jatuhnya. Terdengar sangat kejam sebenarnya bagi Serge yang baik hati.


Ini demi Merilin juga. Kau harus kuat Ge. Dia ini gila, karena sudah menyakiti adikmu. Dan kalau dibiarkan, entah apa yang bisa dia lakukan lagi.


Tapi, dia kan tetap perempuan. Lagi-lagi, hati Serge sedikit melemah.


Saat mereka sudah berdiri di depan pintu ruang kerja. Langkah kaki Serge terhenti. Dia berbalik menatap Amerla.


"Berhentilah disini Erla, jangan masuk, lupakan Rion. Jangan pernah menggangu Merilin." Dasar bodoh Ge, Serge kalah juga dengan hati nuraninya. Walaupun dia membenci Amerla, sepertinya masih tersisa rasa iba di hatinya. Terbukti dia masih memperingatkan Amerla untuk mundur. "Lupakan Rion, ini nasehat terakhir yang bisa aku berikan. Jangan dekati Merilin, demi kebaikanmu."


Namun, nasehat Serge ditanggapi dengan tertawa oleh Amerla.


"Kak, seharusnya nasehat itu kau berikan pada Merilin, jangan memimpikan bintang yang tidak mungkin bisa dia gapai. Hehe. Karena bintang itu akan selalu menjadi milikku." Amerla mendorong Serge, dia membuka pintu dengan tangannya sendiri. "Minggir, enyah dari sini Kak, aku mau bicara hanya dengan Kak Rion."


Amerla masuk ke dalam lubang jebakan yang dia gali sendiri. Bukan hanya Rion yang sedang menunggunya di dalam.


Dasar bodoh, aku sudah memberimu peringatan Erla. Serge ikut masuk ke dalam ruangan.


Bersambung