Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
157. Serge Selalu Salah (S3)


Sementara itu, di luar kamar, meninggalkan Mei yang sedang bimbang. Tepatnya di ruang kerja Rion. Laki-laki itu menatap lantai yang berserak di depannya. Dia sedang melampiaskan kemarahannya dengan cara ini. Bibi pasti akan kaget kalau melihat ini besok pagi. Semua yang ada di atas meja kerjanya sudah berhamburan tidak beraturan.


Sepanjang jalan dia berusaha mengembalikan kewarasannya. Tapi tetap saja, yang meledak-ledak di hatinya tetap tumpah sekarang. Dia mengusir Mei menjauh, karena takut tidak bisa mengendalikan diri.


Rion sedang berdiri di depan lemari, menatap deretan majalah perusahaan hasil kerja keras Mei dan divisi majalah. Satu persatu dia tatap. Sambil memunculkan wajah Mei di kepalanya. Istri yang dia cintai. Seseorang yang sudah tidak bisa lepas dari kehidupannya sekarang.


"Apa kau benar mencintaiku Mei?" Entah kenapa sekarang keraguan itu membuncah di hatinya. "Semua yang kau tunjukkan padaku, semua kata cinta yang kau ucapkan untuk ku, apa itu benar ketulusan?"


Sialan! Kenapa sekarang aku meragukan Mei? Tapi kenapa? Kenapa kau sampai tidak mau mengandung anakku? Apa di hatimu nama Serge masih bersemayam. Rion yang hati dan pikirannya tertutup amarah dan cemburu hanya berfikir apa yang mau dia pikirkan saja. Mei yang dulu mencintai Serge.


Aku mencintaimu Mei, aku sungguh-sungguh mencintai mu. Bagaimana denganmu? Apa yang selama ini kau tunjukkan padaku hanya sandiwara?


Helaan nafas terdengar berat. Rion menutup pintu lemari, sampai pintu bergetar. Untung saja tidak pecah kacanya.


Kursi kerja dia tarik, lalu duduk dengan kasar. Mengeluarkan hp. Dalam dua kali dering, panggilan terhubung. Suara Serge terdengar. Hp dia letakan di atas meja, sementara kepala Rion bersandar di kursi kerja. Menatap hpnya tajam, kalau Serge bisa keluar dari benda kecil itu, pasti sudah jadi serpihan karena tergores tatapan tajam Rion.


"Halo!" Beberapa kali Serge mengulangi kata-katanya. "Rion! Kenapa? Kenapa diam saja?"


Mendengar suara Serge memanggilnya, perasaan kesal, marah dan cemburu semakin memantik. Apa ini gara-gara kau? Dasar sialan! Satu-satunya tersangka, yang dituding Rion sebagai sumber keberanian Mei minum pil kontrasepsi. Selalu Serge, bagi Rion selalu Serge yang akan dia tuding pertama kali. Karena kecemburuannya, Serge pernah menempati posisi paling besar di hati Mei. Maka Serge akan selalu salah dan menjadi tersangka.


"Rion, kalau kau tidak bicara aku tutup ya?"


"Jawab dengar jujur Ge, jangan ada yang kau sembunyikan."


Kata-kata ketus yang keluar, langsung membuat Serge tergagap kaget di tempatnya berada sekarang.


"Apalagi si, Hei, jangan membuatku takut. Ada apa?" Serge yang tidak tahu apa-apa mulai panik. "Bukannya hari ini kau pergi dengan Mei ke RS, apa sudah selesai?"


Rion tidak menjawab, hanya memukul meja, karena Serge menyebut nama Mei seenaknya.


"Apa ide, Mei minum pil kontrasepsi datang dari mu?"


"Apa? Kenapa tiba-tiba pil kontrasepsi? Memang Mei minum pil kontrasepsi? Jadi bagaimana cek kondisi kesehatannya? Mei baik-baik saja kan?" Pertanyaan Serge tidak ada maksud apa-apa, kecuali karena dia mengkhawatirkan Mei. Bahkan Mei yang minum pil bagi Serge bukan suatu kesalahan.


"Tutup mulut mu dan jawab saja pertanyaanku."


Serge terdengar mengeluh sesaat, lalu dia juga bicara dengan seseorang yang ada di sampingnya. Sepertinya Serge mulai paham kenapa dari tadi kata-kata Rion terdengar ketus setelah mendengar penjelasan dari Dean.


"Aku tidak mungkin melewati batas, tanpa perintah mu, aku nggak mungkin memberi ide aneh pada Mei. Tapi Rion, kenapa Mei minum pil kontrasepsi? Kalian mau menunda kehamilan?" Malah banyak bertanya sesuatu yang tidak ingin di dengar Rion sekarang.


Karena Rion hanya ingin menyalahkan Serge sekarang.


"Mei baik-baik saja kan?"


Sambungan telepon ditutup Rion, tanpa basa basi. Serge berkata jujur, itulah yang laki-laki itu yakini sekarang. Dia tidak terlibat secara langsung, jadi murni keinginan itu memang berasal dari Mei. Benang merah ditemukan Rion. Ya, walaupun kau tidak terlibat langsung, tetap ini karena mu juga sialan! Karena Mei menyukaimu.


Rion bangun lagi dari kursi kerjanya, berjalan ke depan lemari penyimpanan majalah.


"Jadi, aku harus bagaimana sekarang? Apa aku tanya Mei alasannya? Tapi bagaimana kalau dia menjawab karena dia mencintai Serge dia tidak mau hamil anakku. Bagaiman kalau semua kata cinta yang dia berikan padaku hanya kepalsuan." Dulu, saat dia hanya menganggap Mei bonekanya, dia mendapatkan sentuhan palsu atau pun kata cinta palsu tidak sampai membuat Rion kecewa. Karena dia tahu, Mei tidak menyukainya.


Tapi sekarang, rasanya sangat mengecewakan, jika semua senyum yang seperti sungguhan itu ternyata adalah palsu.


Hp di atas meja bergetar. Rion menghampiri dan melihat layar, terlihat Serge memanggil. Diraihnya hp.


"Apalagi! Awas saja kalau kau bicara omong kosong!" Serge padahal baru mengatakan hallo sudah dibombardir.


"Aku sedang bersama Dean."


"Lalu kenapa sialan! Kau mau pamer? Kau mau mati ya, aku sedang kesal padamu Ge."


Serge wajahnya pucat di sebrang sana, dia ragu mau melanjutkan, tapi Dean menggengam tangannya, gadis itu menganggukkan kepala. Memberi dukungan, supaya Serge tidak ragu dan takut. Karena apa yang akan disampaikan Serge penting untuk Mei.


Apa? Bibir Rion bergetar. Dia bahkan mengatakannya pada temannya.


"Apa kau mau tahu, apa yang dikatakan pada Dean?"


"Cepat katakan!"


Dada Rion berdebar, dia menutup kedua telinganya dengan tangan. Sekaligus menajamkan pendengarannya. Karena dia ingin sekali tahu, sekaligus tidak mau tahu. Karena dia takut, alasannya membuatnya semakin kecewa.


"Alasan dia minum pil kontrasepsi karena dia hanya istri boneka mu."


"Apa! Sekarang dia bukan boneka ku lagi sialan!" Rion marah karena diungkit lagi masalah ini. Kalau Serge ada di hadapannya sekarang, sudah habis pasti laki-laki itu.


Sementara itu, di tempat Serge.


Aaaaaa! Jeritan hati Serge kalau berubah jadi kepulan asap, pasti sudah membuat susah bernafas, saking kesalnya laki-laki itu. Saking menumpuknya rasa kesalnya pada Rion. Memang aku bilang sekarang? Dulu! Dulu waktu kamu masih sering bilang boneka-boneka pada istrimu sialan! Dean sampai mengusap pundak Serge supaya pacarnya itu tenang.


"Rion, aku kan bilang dulu." Sabar Ge! Sabar! Dean sudah menghiburmu, jangan sampai kau marah-marah di depan pacarmu. Gara-gara Rion lagi. Kewarasan Serge kembali, dia tersenyum pada Dean. "Saat kalian baru saja menikah. Kau kan hanya menjadikannya istri boneka mu yang harus melakukan apa pun yang kau mau kan. Kau juga kan menyuruhnya menandatangani kontrak, serta bilang akan menceraikan Mei setelah dua tahun. Kau tidak lupa semua itu kan?"


Rion masih terdiam. Tapi, kata-kata Serge seperti menamparnya. Awalnya perlahan, lalu lama-lama mengeras.


"Aku yakin Mei hanya ingin melindungi dirinya. Kalau kalian berpisah nanti. Dia tidak mau anak yang dia lahirkan menderita. Apa kau pernah bilang pada Mei, kalau kau mau punya anak dari Mei? Tidak kan? Dean bilang, itulah yang dikatakan Mei."


Pertanyaan Serge kembali datang memukul wajah Rion.


"Tidak, aku tidak pernah mengatakan aku ingin punya anak."


Dean tadi bilang, mungkin saja Rion dan Mei sedang bertengkar karena masalah ini. Jadi Serge berusaha sehati-hati mungkin bicara.


"Kalau begitu jangan marah pada Mei. Dia melakukan itu karena kau juga tidak meminta anak padanya kan. Posisinya dulu yang kau anggap boneka, mengharuskannya melindungi dirinya dengan cara ini."


Aku bahkan kaget kau sampai tidur dengan Mei, walaupun saat itu kau belum benar-benar move on. Jadi jangan marah-marah kalau Mei takut. Sebenarnya ingin mengatakannya dengan lantang, supaya kepala Rion dipukul palu kesadaran. Tapi karena takut, akhirnya bicara dengan santun.


"Dan, Mei bilang lagi pada Dean, kalau dia berhenti minum pil karena dia mencintaimu. Dia mau menyatakan perasaan cintanya padamu, dan berharap kau membalas cintanya." Apa sih, aku bilang ini. Walaupun Serge agak bingung dengan kata-katanya sendiri, karena setahunya Mei kan memang sudah dari awal menyukai Rion. Tapi karena Dean bilang begini, akhirnya dia katakan juga pada Rion. "Mei mencintaimu, itu kan yang paling utama sekarang. Berbaikan sana, jangan bertengkar lagi. Kau harus memahami alasan Mei dulu dengan besar hati." Agak menciut sebenarnya Serge. Karena terkesan dia menggurui si keras kepala ini.


"Jadi ini bukan karena kamu?" Jawaban Rion membuat Serge mendelik kesal ke hpnya.


"Hei! Lagi-lagi kau berfikir sesuka hatimu, apa hubungannya denganku! Aku juga tidak pernah memberi ide ini pada Mei! Awas saja kau menyalahkan ku, apalagi sampai kau bilang di depan Presdir. Aku mau pensiun jadi sekretaris mu!"


Serge masih ngomel-ngomel saat seenaknya Rion mematikan hpnya.


Sekarang, Rion berusaha memunculkan wajah Mei di kepalanya. Sambil membayangkan semua kejadian yang sudah berlalu. Saat awal pernikahannya dengan Mei.


Jadi, ini bukan karena Serge? Bukan karena Mei masih mencintai Serge? Jawaban-jawaban Serge berulang di kepala Rion.


Kau minum pil karena aku? Jadi aku yang salah di sini?


Sepertinya Rion kaget dengan kata-kata yang dia ucapkan sendiri. Sampai dia menutup mulutnya sendiri. Menatap bayangan dirinya di pintu kaca lemari. Deretan majalah itu seperti tersenyum mengejeknya.


Aku mau bertanya pada Mei? Tunggu, bagaimana kalau jawaban Mei berbeda, tidak seperti dugaan Serge. Bagaiman kalau Mei menjawab lain. Kembali overthingking, padahal tadinya sudah menyentuh handle pintu untuk keluar ruang kerja.


Bagaimana ini? Aku takut mendengar jawaban Mei? Ah, sialan apa perlu aku memanggil Serge untuk aku konfrontasi dengan jawaban Mei. Ah, tidak, aku tidak mau melihatnya, menunjukkan tatapan cinta itu lagi. Ah, sialan! Karena kembali galau dia malah menendang pintu dengan kesal.


Rion selama kurang lebih setengah jam, masih menenangkan diri, dan berusaha menemukan kewarasan. Sebelum dia bertemu dengan Mei.


Sementara Mei masih bergulingan di tempat tidur, menjerit beberapa kali, supaya Kak Rion segera datang. Dia sudah tidak sabar, ingin mengatakan semuanya pada Kak Rion.


Bersambung