Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
177. Rencana Semua Orang


Di malam yang sama, disebuah rumah.


Harven baru saja bicara dengan Kak Mei di telepon. Setelah meletakkan hp, di atas meja belajarnya dia keluar dari kamar. Mencari keberadaan ibu. Mau mengatakan, kalau mereka akan diajak Kak Mei liburan. Dia terlihat senang sekali setiap kali Kak Menelepon.


Lho, ibu nggak ada?


"Ibu! Bu, Ibu di mana?" Panggilan Harven cukup nyaring terdengar. Dia membuka pintu kamar ibu, tidak mendapatkan siapapun di dalamnya. "Ibu!"


Masih tidak ada sahutan, pandangan Harven melihat ke arah pintu belakang yang terbuka. Bergegas dia berjalan dengan cepat, tangannya sudah meraih handle pintu. Dia melihat ibu yang sedang duduk termenung, sambil melihat langit malam di kejauhan.


Deg.. perasaan khawatir Harven langsung muncul. Ibu sudah tidak pernah lagi melamun beberapa waktu ini. Ada apa ya, gumam Harven.


Apa ibu sedang kangen sama ayah?


"Ibu..."


Ibu menoleh, saat panggilan anak laki-lakinya terdengar. Wanita itu tersenyum, tidak terlihat sedih ataupun sedang menangis. Harven sedikit merasa lega. Ujung mata ibu juga tidak basah.


Syukurlah, aku takut sekali kalau ibu menangis tadi.


"Kenapa Ibu diluar? Kan udaranya dingin?" Sebenarnya tidak terlalu dingin, bahkan sejuk dan segar, saat angin pelan berhembus. Harven, duduk disamping ibu. Mengusap bahu ibu. "Masuk yuk Bu."


"Sebentar lagi saja, udaranya sejuk." Ibu kembali menatap kejauhan, langit malam yang bertebaran bintang. Saat ibu seperti terhanyut, Harven jadi tidak mau menyela, dia membiarkan ibu larut dengan pikirannya. Beberapa saat mereka terdiam, lalu tiba-tiba, ibu meraih tangan Harven dan menggenggamnya. "Ven, ibu boleh kan pergi ke makan ayah mu sendiri? Bukan besok, nanti kapan-kapan, kalau Ibu ingin pergi."


Deg..


"Ibu..." Suara Harven jadi bergetar takut.


Ibu mengusap punggung tangan Harven, memukulnya pelan. Puk, puk beberapa kali. Ibu tersenyum menenangkan, karena melihat anak bungsunya menjadi cemas.


"Ibu tahu ayahmu sudah meninggal Ven, ibu sudah sadar sepenuhnya. Ibu sudah ikhlas. Cuma, ibu ingin sesekali pergi. Itu saja kok, jadi jangan khawatir." Kata-kata ibu menggantung selama beberapa detik. "Tapi, jangan bilang Kak Mei ya."


"Kenapa?" Harven malah jadi curiga.


"Nanti dia jadi khawatir, ibu tidak mau menambah beban pikiran kakakmu lagi. Selama ini, ibu sudah sangat banyak menyusahkan. Ibu nggak akan lama kok di makam ayahmu. Hanya membersihkan makam sebentar lalu pulang."


Tangan Harven meraih lengan ibu, memeluknya. Lalu dia menjatuhkan kepalanya di lengan ibu yang satunya.


"Nanti Harven antar ya Bu, Ibu jangan sendirian. Bukan karena aku nggak percaya sama Ibu, aku cuma mau nganter aja kok. Aku juga mau menjenguk ayah."


Hiks, aku yakin, kalau Kak Mei tahu dia pasti akan kepikiran. Jadi sesuai keinginan ibu, Harven tidak akan mengatakan pada Kak Mei. Dia yang akan mengantar ibu kalau ibu ingin pergi. Mungkin, mengajak Kak Brama juga bukan pilihan buruk.


"Ibu mau kan, kalau aku antar?"


Akhirnya ibu mengiyakan, walaupun sebenarnya dia benar-benar bisa pergi sendiri. Tapi kalau dia bersikeras malah akan membuat anak laki-lakinya kepikiran dan khawatir kan. Jadinya dia mengalah.


Beberapa lama kemudian keduanya masih berada di halaman belakang, menatap langit malam.


Harven menceritakan pada ibu tentang rencana liburan Kak Mei.


"Apa benar kita boleh ikut Ven? itu kan liburan acara kantornya Mei?"


"Ia Bu, katanya liburan ini hadiah Presdir, untuk Kak Mei dan rekan kerja Kak Mei. Memang disuruhnya membawa keluarga."


"Oh begitu, berarti Nak Rion dan keluarganya ikut juga ya?"


Hah? Aku tidak tanya si, tapi pasti begitu kan. Tidak mungkin Kak Mei tidak mengajak Kak Rion kan. Dengan kesimpulan pikirannya sendiri, akhirnya Harven menjawab. Pastilah dengan keluarga Kak Rion. Mereka berdua terlihat bahagia.


Ibu juga mengatakan, kalau ibunya Kak Rion menelepon tentang rencana resepsi. Di sela-sela itu yang dibicarakan keduanya hanya tentang Kak Mei. Harven bercerita tentang bagaimana dia dan Kak Mei menjalani hidup berdua, selama ibu sakit. Terasa menyedihkan, namun ibu yang memaksa Harven untuk terus bercerita.


Mei, ibu bergumam lirih. Airmata bergulir menjatuhi pipi. Seberapa banyak kau menderita Nak. Maafkan ibu. Sebanyak airmatanya yang mengalir, sebanyak itu pula ibu berdoa untuk kebahagiaan Mei. Semoga hanya jalan berbunga yang akan dilalui anaknya setelah menikah.


"Keluarga menantu Rion sangat baik ya Ven, ibu jadi malu tidak bisa membantu apa-apa untuk persiapan resepsi."


"Ibu tersenyum di acara Kak Mei nanti, itu saja sudah membuat Kak Mei bahagia Bu."


"Mei memang putri yang sangat baik, ayah mu pasti bangga padanya."


"Bukan hanya ayah dan ibu yang bangga, aku juga bangga punya Kak mei."


Sampai mereka masuk, yang dibicarakan masih saja tentang Kak Mei.


Setelah mengantar ibu ke kamar, Harven kembali ke kamarnya juga. Hpnya bergetar memanggil. Ternyata panggilan dari Sheri.


"Apa? liburan?"


"Ia, kebetulan keluarga ayahku ada yang menikah di pulau XX, jadi kamu ikut ya? Nanti kita jalan-jalan juga. Kak Arman juga ikut kok, aku menyuruhnya mengajak pacarnya juga. Jadi kita nggak sendirian." Sheri sudah nyerocos menjelaskan, karena takut Harven menolak. "Pokoknya ikut ya Ven."


"Kok bisa kebetulan ya." Harven tertawa.


"Kebetulan apa?"


"Kak Mei juga mengajak aku dan ibu liburan, ke pulang XX juga, sama dengan waktu kamu pergi. Kata Kak Mei dia dan rekan kerjanya dapat hadiah liburan dari Presdir dan disuruh mengajak keluarga." Harven belum menyelesaikan kalimatnya Sheri sudah berteriak kegirangan. Mau siapa yang membawa Harven tidak masalah baginya, yang penting dia bisa pergi dengan Harven.


Sheri langsung bicara panjang lagi, bilang dia akan menyiapkan semua keperluan Harven segala. Nanti dia juga minta Harven menemaninya saat pergi ke pesta keluarganya. Bahkan Sheri yang akan minta izin pada Kak Mei.


Terdengar suara muah, muah di hp yang dipegang Harven. Wajah laki-laki itu langsung memerah.


"Aku juga menyayangi mu."


Aaaaaaaa... malunya!


Harven melemparkan hpnya menjauh, merinding sendiri dengan kata-kata yang baru dia ucapkan. Ya, kalau Sheri memang dengan gampangnya bilang sayang dan cinta, sedang Harven selalu malu sendiri setelahnya.


Malam semakin larut.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Masih di kompleks perumahan yang sama, hanya berbeda area. Di kamar Serge, laki-laki itu sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Dia habis mandi air hangat. Sekarang, menjatuhkan tubuh terlentang di atas tempat tidur. Tangan kanannya memegang hp. Sudah mengirim pesan pada Dean. Kalau gadis itu menjawab, dia akan menelepon.


Eh, malah Dean yang langsung menelepon. Wajah lelah Serge langsung berganti sumringah. Dia memutar tubuh, tengkurap. Melihat layar hpnya, Dean terlihat semakin cantik saat mengibaskan rambut panjangnya.


"Kak Ge, kangen." Dean yang duluan bicara.


Deg..deg.. jantung Serge langsung seperti mendapat serangan.


"Aku juga. Ehm."


Keduanya tertawa, saling pandang tanpa sepatah kata pun. Mengobati kerinduan melalui sorot mata masing-masing. Setelahnya tersenyum bersamaan juga. Serge baru mulai bicara, setelah kerinduannya terobati.


"Dea, apa kau bisa meluangkan waktu, mau ikut liburan dengan ku?"


Serge pun menjelaskan, tentang liburan yang diberikan Presdir sebagai hadiah bagi Mei dan timnya. Perkara mengajak keluarga juga. Dan akhirnya karena Rion ikut-ikutan pergi, Serge pun begitu. Kebetulan ada pekerjaan yang sebenarnya sudah tertunda di pulau itu sejak beberapa waktu. Saat klien itu dihubungi ternyata pihak mereka senang sekali dan menyambut. Alhasil, Serge akan memaksa Rion bekerja dulu selama beberapa jam. Ya, anggap menyelam sambil mencari ikanlah.


"Kau bisa ikut? Aku punya banyak waktu luang. Mei juga pasti senang kalau kau ikut. Oh ya, Harven bilang, Jesi juga kemungkinan akan ikut karena Arman juga akan pergi bersama keluarga Sheri."


Dean tertawa dengan penjelasan panjang lebar Serge. Karena Serge menjelaskan dengan sangat detail, takut Dean akan menolak.


"Kak, aku pasti ikut kalau Kak Ge mau aku ikut."


"Eh, benarkah?"


Aaaaaa! Yes! Yes! Akhirnya, aku tidak sejomblo itu nanti. Serge bisa membayangkan ekspresinya bakal seperti apa kalau Dean tidak mau pergi dengannya. Rion dan Mei yang sudah seperti menjadi pemilik bumi, pasti tidak akan perduli pada sekitar. Cuma menyuguhkan keromantisan di depannya. Harven dan Sheri, dua bocah yang bahkan lebih di depan dari padanya. Aaaaa! Belum lagi Arman dan Jesi. Maka bersyukurlah Serge karena Dean akan pergi dengannya.


"Mei pasti senang, eh, jangan kasih tahu Mei ya. Biar dia kaget nanti."


"Kak Ge ini. Haha, setuju. Dia pasti kaget. Nanti aku bilang Jesi juga supaya tidak bilang."


"Wahhh, aku sudah tidak sabar."


Keduanya masih tertawa dan membicarakan tentang liburan, lalu menjalar ke mana-mana. Sampai bicara tentang kerinduan dan cinta mereka. Bukan hanya Serge yang bersemu merah, Dean juga terlihat malu.


"Aku mencintai mu De...."


Dean tertawa, saat melihat Kak Ge sudah jatuh terlelap di depan layar hpnya. Wajah tampan yang selalu menenangkan hati semakin terlihat tampan.


"Aku juga, sangat mencintai mu kak. Selamat malam, mimpi indah."


Dean belum menutup panggilan, dia masih belum puas melihat Kak Ge yang terlelap. Ehm, Mei memang senang, tapi bagaimana suaminya ya. Ah, ini kan bukan bulan madu, ini kan liburan kantor. Teman-teman kerjanya juga pasti membawa keluarga. Dean mengusir pikiran buruknya.


Liburan bersama Kak Ge, dia sungguh sangat menantikannya.


Malam semakin larut, kantuk pun menyerang. Dean pun jatuh tertidur.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Hp yang tergeletak di lantai dapur bergetar beberapa kali. Saat didekati ternyata ada beberapa pesan masuk.


Ibu mertuaku yang cantik.


"Mei, katanya kamu mau liburan ya?"


"Kenapa hanya mengajak ibu dan adikmu Harven, ibu juga mau ikut πŸ₯ΊπŸ₯Ί"


"Ibu mau liburan juga dengan menantu ibu😭"


"Ibu di ajak kan?"


Sepertinya esok pagi, Mei akan kembali dihujani rasa bersalah.


Sementara dari arah kamar masih terdengar suara.


"Aaaaah, Kak..."


"Aku sangat menyukai mu Mei, aku mencintai mu Mei."


Malam semakin larut.


Bersambung