
Rion yang masih menerima telepon dari ibunya, membuat mereka berdua masih berdiri di koridor, belum berjalan menuju ruang kerja CEO.
Percakapan yang terdengar ditelinga Serge cuma yang Rion katakan, sementara ucapan nyonya tidak terdengar. Laki-laki itu cuma bisa menebak-nebak, apa yang sedang dibicarakan Rion dengan ibunya.
"Hallo Bu, kenapa?"
"Ibu sedang ada di toko baju, kenapa kau menyuruh bibi, ibu kan bisa membelikannya untuk Mei."
"Aku tidak mau merepotkan ibu."
"Kau ini, inikan untuk menantu ibu, repot apanya. Mei suka warna apa? Nanti biar ibu pilihkan sesuai dengan warna yang disukai Mei."
"Kenapa mengikuti seleranya, kan aku yang melihatnya, aku juga yang membukanya, ibu pilihkan sesuai warna yang biasanya aku pakai saja." Tidak tahu malu bicara.
"Kau ini nakal sekali, baiklah ibu akan memilih yang terbaik untuk menantu ibu, ibu tidak akan mengganggumu lagi. Semuanya akan ibu antar nanti sore. Sekarang selamat bekerja ya Nak, titip salam untuk Mei. Ibu menantikan kedatangan kalian."
"Baik Bu, terimakasih banyak, aku menyayangi Ibu."
Dan sambungan telepon terputus, Rion memasukkan hpnya di saku jasnya. Serge sedang melihatnya dengan tatapan dipenuhi tanda tanya. Karena bawa-bawa selera, apa yang sedang dibicarakannya ya gumam laki-laki itu.
Baju? Biasanya Rion mendatangkan pemilik butik kalau mau membeli baju baru.
"Kenapa dengan Nyonya? tidak ada masalah kan?" Bertanya juga, karena tidak bisa menebak.
"Bukan urusanmu." Rion ketus menjawab, setelah memalingkan wajah dia tersenyum. Membayangkan ekspresi Merilin saat menerima hadiahnya nanti. Dia pasti terkejut dan malu, malu. Haha aku sudah tidak sabar. Hari Rion berdendang. Sementara laki-laki di sampingnya merengut mendengar jawaban Rion.
Dasar!
Serge mengikuti langkah Rion, Rion sudah masuk ke dalam ruangan. Dia meminta salah satu stafnya untuk mengambilkan air dingin. Tidak lama stafnya muncul dengan membawa sebotol air dingin.
Serge meletakan air di atas meja, lagi-lagi Serge melihat Rion tersenyum. benar-benar janggal batin laki-laki itu. Dia bahkan tersenyum tanpa alasan kan, jadi benar, semua itu karena Amerla. Masih berkubang, dengan kesalahpahaman yang dia buat sendiri.
"Ge... duduk."
"Tidak usah, aku kembali ke ruangan ku."
Langsung menarik kursi karena sudah dipelototi.
"Ayahku tidak menanyakan apa pun padamu?"
Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan semalam sialan!
"Tidak ada, sekretaris Presdir hanya bicara urusan pekerjaan denganku semalam. Semua baik-baik saja kan? Waktu makan malam dengan pihak Andalusia Mall?"
"Memang mau terjadi apa." Serge semakin negatif thinking, karena melihat Rion tersenyum sambil mengusap bibirnya. Ya, Rion sedang memikirkan hal menyenangkan yang dia habiskan bersama Merilin, semalam dan pagi ini.
"Rion, kau bertemu dengan Amerla kan?"
Sialan! Aku menanyakannya juga. Serge mendorong kursinya, sudah siap untuk dipukul karena sudah menyebut nam Amerla di depan Rion. Bahkan dia sudah menutup wajahnya dan memejamkan mata.
Eh, dia diam saja? Aku kan menyebut nama Amerla. Apa dia tidak mendengar. Serge kebingungan sendiri dengan sikap Rion.
"Amerla."
"Kenapa dengan Amerla?"
Serge sampai merosot dari kursinya karena dengan santainya Rion menyebut nama Amerla. Rion mendengar, tapi dia tidak mengamuk. Bahkan dari mulutnya sendiri nama Amerla terucap. Wajah bingung Serge.
Apa karena dia sudah kecup-kecup dengan Amerla, jadi dia tidak marah lagi aku menyebut nama Amerla, hah sialan! Kau menyeretku masuk ke dalam neraka sialan!
"Kau sudah tidak marah kalau aku menyebut namanya?"
Rion tertawa, menuding hidung Serge dengan pena ditangannya. Mulutnya mencibir dengan kedua tangan yang terangkat, seperti orang yang tidak perduli.
Hah! Ini bagaimana sih! kau tidak marah karena sudah kecup-kecup basah dengannya atau karena kau sok move on supaya aku tidak meledekmu. Lagi-lagi cuma Serge yang berkubang dengan kebingungan sedangkan Rion dengan santainya kembali meneruskan pekerjaan.
Serge memilih bangun dari duduk, mendorong kursi menempel ke meja. Kepalanya bisa pecah kalau hanya memikirkan Rion, sedangkan banyak hal yang harus dia urus.
Tapi Serge mau mematikan satu hal dulu.
"Kau, pulang ke rumah kan semalam? Kau tidur di rumahmu kan?"
Aku mohon, aku mohon, jawab ia.
"Memang aku mau tidur di mana kalau bukan di rumah." Jawaban ketus Rion benar-benar menenangkan jiwa Serge.
"Baiklah kalau begitu."
Sudah berjalan dua langkah, Serge berbalik lagi. Lupa belum menanyakan perihal Merilin.
"Kalau Mei, dia tidak sakit kan? Kenapa dia perlu izin sampai setengah hari kerja."
Serge terlonjak kaget, karena Rion membanting pena di tangannya. Apa sih! Kenapa kau marah!
"Hei, berhenti." Memberi isyarat Rion untuk tetap duduk. "Dengarkan dulu, aku cuma bertanya karena takut Mei sakit atau apa, biasanya dia kan nggak pernah begini."
Kenapa kau sekarang malah jadi sensitif setiap aku menyebut nama Merilin sialan!
"Sudah kubilang jangan tertarik dengan bonekaku, kau tidak paham juga!"
Ah, sialan! Aku selalu terpancing emosi setiap Serge menyebut nama Merilin, aku takut si bodoh ini akan menyadari perasaan Merilin. Rion takut, kalau sampai Serge tahu, Mei menyukainya, dan laki-laki di depannya ini akan membalas perasaan Mei.
Sebelum itu terjadi, dia ingin memutus semua tali penghubung di antara mereka.
"Aku tahu Rion, maaf! Aku cuma bertanya karena tidak biasanya dia begitu. Aku takut kau melampiaskan kemarahanmu setelah bertemu dengan Amerla padanya." Serge mundur tiga langkah sampai ke pintu. Tangannya bahkan sudah meraih handle pintu. Dia akan langsung kabur kalau Rion bangun dari tempat duduknya. "Tidak mau! Kau mau memukulku!" Menolak dengan keras saat Rion menjentikkan jarinya menyuruh Serge mendekat.
"Kemari kalau kau tidak mau mati!"
Ah, sialan! Dia menyeramkan sekali.
Serge mendekat lagi ke belakang kursi yang dia duduki tadi. Rion sudah bersandar di kursinya. Mengangkat kedua tangannya di atas meja. Menopang dagu.
"Pergilah cari pacar Ge, kau bisa melakukannya sekarang."
"Kenapa tiba-tiba? Kau sadar sudah menjadikanku budak di kantor ini ya, aku karyawan yang tidak punya hari libur."
Rion tertawa, lalu menyeringai.
"Kau mau mati?"
"Tidak, aku kan memang bekerja karena mencintai pekerjaan ini. Saking cintanya aku sampai tidak memikirkan hal lain selain bekerja. Aku paling senang bekerja di akhir pekan kok."
Puas sekali kau sampai tertawa begitu. Dasar bos sialan!
"Aku akan memberimu hari libur sekarang, liburlah di akhir pekan. Kau tidak perlu bekerja, karena aku juga akan libur mulai besok."
Hah! Apa Rion benar-benar sudah sinting sekarang, manusia yang menyeretnya setiap akhir pekan untuk datang ke kantor. Mengatakan mau libur setiap akhir pekan sekarang.
"Jadi, pergilah cari pacar Ge, berkencan dengan wanita yang kau sukai. Kalau perlu segera menikahlah." Kalau kau menikah, maka aku jadi bisa lebih tenang. Jadi cari pacar dan segera menikahlah sialan! Rion tersenyum sambil memaki dalam hati. Supaya kau tidak mencuri Mei dariku.
Serge mengatupkan tangan di dada. Tersentuh dengan keperdulian Rion. Bola matanya bahkan berkaca, saking merasa haru dengan ucapan Rion yang perduli dengan penderitaannya selama ini.
Pernikahan sudah merubahmu menjadi waras ya, eh tidak bukan pernikahan. Tapi karena pertemuanmu dengan Amerla kan?
"Rion, kau memperlakukan Mei dengan baik kan? Aku mohon jawab saja."
Hah, Rion menghela nafas dengan kesal.
"Makanya aku bilang cari pacar sana, biar kau tidak perlu mengkhawatirkan Merilin, Mei bukan adikmu lagi, dia istriku, jadi biar aku yang mengurusnya."
"Tapi kau dan Amerla?"
"Serge, bukankah kau tidak aku hajar setelah menyebut nama wanita sialan itu, seharusnya kau sudah sadar dan tahu jawabannya kan?" Tatapan Rion terlihat penuh kebanggaan, dia seperti ingin mendapat pujian.
"Kau sudah move on?"
Rion tertawa, sambil mengangkat kedua tangannya tinggi.
"Kau pintar juga, sudah sana pergi, bereskan pekerjaanmu, setelah itu pergilah cari pacar."
"Lantas, dari mana tanda merah bekas kecup-kecup dan gigitan di lehermu itu?" Ups, Serge menutup mulutnya panik, keceplosan. Saking kagetnya dia karena katanya Rion sudah move on.
"Haha, kau belum cukup umur. Ini urusan orang dewasa. Keluar sana! Hus! Hus!" Rion tertawa sambil menggerakkan tangan mengusir Serge. "Bertanya sekali lagi, aku akan menghajarmu!"
Hah sialan! Serge yang mau membuka mulut terkunci lagi. Pikirannya blank saat menutup pintu ruang kerja Rion.
Kalau bukan dengan Amerla? Terus dengan siapa?
Mata Serge membelalak,
Bersambung