
Waktu terus berjalan.
Semakin dekat dengan hari resepsi pernikahan Rion dan Mei. Persiapan sudah di angka 90 persen. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, semua berjalan sesuai dengan rencana. Presdir dan nyonya pun terlihat senang dan sudah tidak sabar menantikan hari penting itu.
Semua aman batin Serge yang juga jadi tim sibuk, dia memastikan semua fix. Selain untuk persiapan Rion, rencana kehidupan pribadi Serge juga aman.
Serge pun sudah melamar Dean, secara resmi. Dia membawa orangtuanya, Rion dan Mei juga ikut menemani, Jesi dan Arman tidak ketinggalan ikut ambil bagian. Sahabat yang selalu hadir dalam momen-momen penting, karena mereka bertiga sudah berjanji untuk hidup bahagia bersama.
Beberapa hari ini hati ini Serge dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. Semakin hari semakin banyak hal yang membuatnya jatuh cinta pada Dean. Dia terkadang terlihat tersenyum tanpa alasan. Seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Bekerja pun Serge seperti mendapat energi berlipat ganda, Rion sampai terheran-heran. Laporan yang seharusnya diselesaikan tiga hari atau seminggu ke depan sudah menumpuk rapi di mejanya. Energi cinta yang diberikan Dean pada Serge sepertinya berdampak luar biasa.
Tapi, sore ini dia keluar dari ruangan kerjanya dengan raut wajahnya tegang, tertekuk, seperti ada tukang jagal yang menunggu di depan sambil memanggil namanya.
Sudah waktunya pulang kantor.
"Kenapa kau?" Rion mengeryit ketika melihat Serge berjalan cepat ke arahnya. Dengan raut tegang dan khawatir. "Cepat, aku mau pulang. Mei sudah menunggu ku."
"Kau tidak ada masalah kan?" Malah menjawab pertanyaan Rion dengan pertanyaan lagi. Sepertinya raut wajah tegang itu bersumber dari Rion seperti biasanya. "Rion, tidak membuat masalah kan?"
"Apa sih.."
Bukannya menjawab, Rion cuma mengibaskan tangan dan mengganggap kata-kata Serge tidak penting. Lalu mengambil langkah cepat menuju lift. Dia ingin segera pulang dan bertemu Mei. Gadis itu sudah ada di rumah, menyiapkan makan malam untuknya. Daripada meladeni Serge, waktu Rion yang berharga lebih baik dia habiskan bersama Mei. Dipikiran Rion, sekarang cuma Mei. Hanya Mei dan only Mei. Malam manis selalu menunggunya setiap dia pulang kerja, sejak Mei bicara dengan Erla waktu itu, Mei jadi lebih lepas mengekspresikan cinta. Rion berfikir, apa selama ini hati Mei masih mengganjal. Dalam hati kecilnya, ya dia sedikit berterimakasih pada Erla. Karena membuat hubungannya dengan Mei semakin dekat.
"Jangan bicara aneh-aneh, mau ku pukul kau."
Serge menggerutu dalam hati, dan masih menatap Rion dengan curiga.
"Presdir memanggil ku sekarang. Kau tahu kenapa?"
Alasan kalau sampai dia dipanggil secara pribadi oleh Presdir di luar jam kerja, biasanya ada tiga. Satu, karena Rion. Dua, kalau Rion membuat masalah. Tiga, kalau Presdir ingin mendapat laporan apa yang sudah dilakukan Rion selama ini baik tentang kehidupan pribadi atau pun pekerjaan. Jadi, alasannya ya cuma bocah satu ini pikir Serge. Tiga alasan dia dipanggil hanya itu, Rion.
Dengan santainya Rion cuma mengangkat bahu tidak perduli.
"Kau tidak membuat masalah kan?" Bertanya lagi.
Lift turun, menuju lantai satu.
"Masalah apa si, aku tidak melakukan apa-apa. Mungkin ayah cuma mau mengajak mu makan malam. Pergi sana! Padahal seharian ini kau masih cengar-cengir seperti orang gila karena membicarakan Dean. Ayah ku memanggilmu langsung gentar begitu. Dasar penakut!"
Dasar sialan! Makan malam kepala mu! Memang dia pernah mengajak ku makan malam tanpa alasan. Alasan ayah mu memanggil ku selama ini kan cuma kamu. Rasanya ingin menyembur kata-kata makian itu, tapi Serge masih sibuk menenangkan hatinya.
"Ge..." Rion mau sedikit berbaik hati, mengusir kegelisahan Serge. Tapi...
"Apa!"
Karena Serge menjawab dengan intonasi tinggi, Rion yang tadinya mau bicara mendengus.
"Apa? Kau mau bicara apa?" Tahu suasana hati Rion langsung berubah, Serge memperhalus suaranya. "Aku sedang gelisah tahu, sudah lama ayah mu tidak memanggil ku secara pribadi."
Memang rasanya tidak ada yang aneh selama beberapa hari ini, semua damai-damai saja. Pekerjaan Rion juga berjalan dengan baik. Urusan perusahaan berjalan dengan baik. Persiapan resepsi juga sudah hampir rampung. Lantas kenapa ya? Aaaaaa, karena tidak tahu alasan utamanya membuat Serge jadi semakin takut. Naluri alam bawah sadarnya sudah merasa tertekan sejak dia menerima pesan tadi siang.
"Kau tidak bertengkar dengan Mei kan?"
Rion mendorong tubuh Serge saat mereka berjalan menuju area parkir, sepertinya laki-laki itu sedikit kesal karena Serge jadi ribut sendiri. Mengkhawatirkan hal yang tidak penting. Baginya yang penting sekarang adalah pulang ke rumah dan bertemu Mei. Untuk apa juga dia bertengkar dengan Mei, hari-harinya makin manis dan membara. Dia merasa sebal mendengar ucapan Serge.
Sudah berdiri di depan mobil. Rion memiringkan kepala, berfikir. Tapi seutas senyum nakal mulai muncul.
"Apa? Kau tidak melakukan sesuatu pada Mei kan? Jangan-jangan Mei mengadu pada ibu mu. Dan mereka memanggil ku untuk memastikan. Kau bertengkar dengan Mei?"
"Hemm, aku cuma menggigit Mei di sini si kemarin. Kemarinnya lagi, dan kemarinnya juga. Tadi pagi juga." Menunjuk dada dan lehernya sendiri sambil tertawa usil dan menggemerutukkan gigi seperti menggigit sesuatu. "Apa Mei mengadu pada ibu ya?"
"Dasar gila!"
Serge mendelik lalu masuk ke dalam mobil.
"Haha.." Puas sekali Rion menggoda Serge sepertinya, sampai Serge membanting pintu mobil saya laki-laki itu tetap tenang dan marah, Rion masuk dan duduk di kursi belakang. "Berhenti bicara, antar aku pulang segera, aku merindukan Mei. Aku mau memeluknya dan menggigitnya lagi."
"Dasar bocah gila."
Mobil melaju keluar dari arah parkir, percuma saja bertanya pada Rion pikir Serge, jawabannya diluar normal. Main gigit-gigitan lagi. Eh, dia menggigit di mana tadi. Aaaaaa! Merilin, urus suami gila mu ini.
Terdengar dari kursi belakang, Rion berdendang sambil bergumam mencari hpnya. Tak lama kemudian, terdengar percakapan yang sebenarnya belum boleh di dengar Serge. Kelakuan Rion kalau sudah pamer kemesraan pada Serge selalu di luar batas.
Dasar gila! Dia memang bukan jomblo, tapi kan tetap ngenes juga karena cuma bisa membayangkan dan belum boleh melakukan. Tapi, sepertinya Rion senang sekali mengusili Serge. Jadi laki-laki itu tidak terlalu perduli, walaupun wajah Serge merah padam karena malu mendengar percakapannya dengan Mei.
"Ge..."
"Apa?"
"Cepat nikah sana, biar bisa menggigit istri mu."
"Dasar gila!"
"Haha..."
Aaaaaa! Dasar Rion!
"Ge.."
"Apa!"
"Terimakasih ya."
"Apa sih, tiba-tiba berterimakasih. Membuat orang takut saja. Kau benar tidak membuat masalah kan?"
"Haha, aku merindukan Mei."
"Hah! Dasar aneh, sudah sana turun. Bermesraan di dalam sana. Kau membuat polusi suara tahu!"
"Aaaaaa, aku kangen Mei. Aku menggigitnya saking gemasnya, dia menggemaskan sekali si."
Dasar gila! Berhenti bicara dan keluar sana!
Mobil memasuki area parkir apartemen Rion. Tempat di mana Rion selalu merasa bahagia ketika pulang dari bekerja.
Bersambung