Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
63. Kesalahpahaman


Malam semakin larut. Rion masih terdiam di dalam mobil. Sekretaris Presdir yang menyopir dan mengantarnya tidak bicara sepatah kata pun, ketika dia membuka pintu tadi, Rion tidak bergerak dari duduknya. Membuatnya hanya berdiri di depan pintu mobil, merapatkan jas. Menunggu, tuan mudanya menenangkan hati.


Rion masih bersandar di kursi mobil, sambil memutar tangannya mengusap rambut kepalanya. Dia menghela nafas dalam-dalam. Menyebut nama Merilin pelan di bibirnya.


Dia sebenarnya sedikit bangga pada dirinya sendiri, ternyata apa yang ditakutkan Serge sama sekali tidak terbukti. Dia yang belum move on, hah! Rasanya Rion ingin segera pamer pada Serge. Kalau dia kembali baik-baik saja. Bahkan setelah melihat wajah Amerla sekalipun.


Dia tidak bicara pada gadis itu, dia tidak berteriak atau menendang suaminya. Bukankah itu sesuatu yang sangat luar biasa dan layak dibanggakan. Karena dia dulu pernah membayangkan, memukul dan menghajar suami Amerla dengan tangannya sendiri kalau dia bertemu langsung dengan mereka.


Amerla masih tetap cantik, tidak ada yang berubah darinya. Walaupun hatinya sedikit tersentak, saat Amerla menunjukkan keharmonisan dengan suaminya, tapi itu hanya perasaan terkejut.


Aku hanya terkejut, tidak lebih. Tidak ada bagian hatiku yang berdebar sama sekali, atau bahkan menginginkan dia kembali ke sisiku. Sekarang, aku bahkan berfikir rambut ikal itu jauh lebih cantik. Begitulah dengan runut hati Rion menyadarkan pikirannya.


Rion mengetuk kaca mobil, ketika hatinya sudah tenang. Ketika luapan perasaannya sudah tidak berombak. Sekretaris Presdir membukakan pintu.


"Selamat malam Tuan Muda, selamat istirahat. Saya akan sampaikan pada Presdir kalau Anda sudah sampai di rumah."


"Hemm, pergilah."


Sekretaris Presdir masih berdiri di tempatnya, sampai Rion masuk ke dalam gedung. Segera mengangkat hpnya, karena di tempat yang lain, ada seseorang yang pasti sedang menunggu informasi yang akan dia sampaikan.


"Tuan muda sangat tenang ketika turun dari mobil, Anda tidak perlu khawatir. Baik saya mengerti, selamat malam."


Dan sambungan terputus.


...🍓🍓🍓...


Sementara itu, langkah kaki Rion ringan masuk ke dalam lift, membawanya menuju lantai 12 rumahnya. Keheningan yang menyambut saat pintu lift terbuka. Dia pun melangkah keluar, membuang semua rasa muak dan sebal supaya tidak terbawa masuk ke dalam rumah.


Saat pintu terbuka, ada beberapa lampu yang sudah padam. Lampu dapur masih menyala. Rion melihat gadis itu, gadis bertubuh mungil yang sedang terlihat melamun, menatap entah apa di depannya.


Apa yang dia lakukan sampai tidak mendengar aku pulang.


"Mei!"


Merilin terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang memanggil namanya, sesuatu jatuh dari tangannya. Buru-buru dia ambil benda yang ada dilantai dan dia masukkan ke dalam mulut. Menyambar air di atas meja, lalu glek, glek beberapa tegukan air mendorong masuk ke dalam perut.


Dia memutar tubuh, menyembunyikan rasa panik. Mengusap bibirnya yang masih basah karena air.


"Kakak, sudah pulang?"


Kaget aku! Kenapa aku tidak mendengar suara pintu! Ahhhh, gila! dia tidak melihat apa yang kulakukan kan. Merilin takut-takut mendekat menjauhi meja dapur.


"Air." Rion bicara tanpa melihat Merilin.


Rion berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya. Dia melepas sepatunya sembarangan.


Merilin menjawab baik, lalu bergegas kembali ke dapur. Membuka kulkas. Melirik sebentar, wajah terdiam yang menengadah ke langit kamar.


Apa dia marah? Benar dia marah sepertinya. Wanita itu pasti membangkitkan kemarahan hatinya kan. Lantas apa yang harus kulakukan sekarang? Merilin mendekat, sambil mendekap air dalam pelukannya. Dia buka tutupnya lalu dia sodorkan ke tangan Rion.


"Silahkan Kak."


Rion belum menerima botol yang diberikan Merilin, dia malah menatap gadis di depannya, bagi Merilin sorot mata itu dipenuhi amarah, melihatnya dari atas kepala sampai kakinya.


Kenapa? Kau mau apa? Merilin panik sendiri menerjemahkan tatapan Rion.


Aku sedang marah, aku mau kau duduk di pangkuanku dan menuangkan air yang kau pegang itu ke mulutku. Mencium pipiku sambil menghiburku. Aku mau kau menyentuhku supaya hatiku tenang.


Tapi mana tahu gadis itu dengan isi kepala Rion, malah sorot mata menakutkan yang ditangkap Merilin. Dengan agak gemetar dia meletakkan botol air di atas meja yang tidak diterima Rion. Lalu gadis itu duduk di karpet. Memegang kaki Rion.


"Apa yang kau lakukan Mei?"


"Me, melepas kaos kaki Kak Rion."


Bukan itu yang aku inginkan! Tapi Rion membiarkan tangan Merilin menyentuh kakinya. Saat kulit mereka menempel, nyess, seperti ada guyuran air dingin yang menempel. Hati Rion mulai berdetak lembut. Tapi setelah amarahnya lega, ada perasaan lain yang bergejolak. Sentuhan jari Merilin semakin erat, saat menarik kaos kaki. Bukannya membuat dahaga terobati, malah membuat Rion semakin kehausan. Dia ingin Merilin menyentuhnya dibagian lain juga.


Setelah semua kaos kaki terlepas, Rion menarik kakinya mendekati sofa. Merilin masih bersimpuh di lantai.


"Aku sedang lelah, kesal dan marah." Akhirnya diucapkan juga oleh Rion, karena merasa Merilin tidak akan memahami kode-kode yang dia berikan.


Lalu! Aku harus apa kak? Aku kan bukan wanita yang kau cintai itu, bagaimana aku bisa menjadi obat untukmu. Kalau kau marah padanya dan merindukannya, aku tidak bisa melakukan apa pun. Karena Merilin tidak tahu harus melakukan apa dia masih terdiam di tempatnya.


Sepertinya Merilin menemukan ide bagus, supaya hati Rion menjadi lebih tenang.


"Ka..kalau begitu, apa malam ini aku tidur di kamarku sendiri Kak, supaya Kak Rion bisa istirahat tenang tenang."


Duarrr! Merilin tersentak, seperti mendengar sesuatu yang meledak. Dan dia seperti melihat asap mengepul di kepala Rion. Kenapa dia semakin terlihat marah!


Tatapan kesal itu semakin nyata adanya, menghujam Merilin. Rion menghentakkan kaki, dan bangun. Dia menendang sepatunya lalu masuk ke kamar mandi, membanting pintu membuat Merilin hampir loncat dari duduknya bersimpuh.


Gadis itu membenturkan kepal di lantai. Aaaaa, bisa gila aku, seharusnya aku mendengarkan Kak Ge. Aku seharusnya bersembunyi dan tidak menunjukkan wajahku. Toh keberadaan ku tidak membantu apa-apa malah semakin membuatnya emosi.


Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang, Merilin kebingungan sendiri. Karena Rion tidak menjawab apa pun, dia jadi tidak berani masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tapi dia juga tidak berani kalau harus tidur satu kamar dengan Rion yang sedang dipenuhi amarah di kepalanya.


Sementara itu yang di dalam kamar mandi. Dia membanting pasta gigi yang baru dia ambil jatuh terpental di lantai.


Dia itu bodoh sekali ya, seharusnya kan dia tahu apa yang harus dia lakukan. Tinggal duduk di pangkuanku dan merayuku. Malah mau tidur di kamar terpisah! Hah! Aku mau marah tapi melihat wajahnya yang ketakutan begitu kan jadi gemas.


Rion menggusur seluruh tubuhnya, menenangkan hatinya lagi. Memikirkan cara yang paling masuk akal untuk menyerang Merilin.


Cih, kenapa aku perduli, aku tinggal menariknya ke tempat tidur dan menyerangnya kan, memang dia bisa menolak.


Suara tawanya membuat Merilin yang sudah meraih handle pintu berlari lagi ke dekat sofa. Gadis itu semakin takut karena tidak tahu kenapa suasana hati Rion tiba-tiba berubah. Padahal dia cuma menarik nafas sebentar saja.


Dia duduk lagi di karpet. Menunggu.


Bersambung...