
Pagi hari di ruang kerja divisi pusat dokumentasi data dan promosi. Ruang bagian majalah perusahaan.
Di ruangan ini jabatan Merilin adalah yang paling tertinggi, dia bertanggung jawab, baik pada terbitnya majalah, materi dan isi majalah, sebagai pemimpin redaksi. Selain majalah dalam bentuk fisik, tugas bagiannya juga termasuk web perusahaan. Kalau majalah perusahaan hanya terbit sebulan sekali, setiap harinya mereka mengelola web perusahaan dan sosial media. Selain Merilin, ada tiga orang lagi yang ada di dalam ruangan kerja ini.
Mari kita perkenalkan satu persatu rekan kerja Merilin.
Monalisa adalah wakil Merilin, tugasnya menulis artikel dan mewakili Merilin. Lebih tua beberapa bulan dari Merilin, tapi mereka sepakat untuk memanggil nama. Pembawaan anaknya ceria dan suka banyak bicara. Jomblo yang ribut dengan kejombloannya. Dalam artian dia tahu dia jomblo tapi dia tidak mau jadi jomblo, sudah beberapa kali kencan karena dijodohkan, tapi tidak berhasil membuatnya punya pacar.
Yang kedua adalah Kendra, memegang tanggung jawab bagian desain dan layout. Segala sesuatu yang berurusan dengan editing adalah tanggungjawabnya. Sudah menikah, dan baru saja memiliki anak laki-laki berusia satu bulan. Pembawaannya tenang, kalau bekerja lebih banyak diam. Dari segi usia, dia yang paling tua di ruangan ini.
Satu lagi Baim, laki-laki serba bisa, mau disuruh pegang kamera foto bisa, kamera Vidio juga bisa, menulis juga lumayan. Disain grafis juga keren. Postingan sosial media dibawah kendalinya. Usianya lebih muda dari Merilin, pembawaannya imut dan agak manja. Maklum, anak tunggal dari keluarga berada. Paling menurut dengan Merilin, disuruh apa saja kalau Merilin yang menyuruh sudah seperti kerbau dicucuk hidungnya. Menurut sekali.
Itulah sekilas rekan kerja Merilin, mungkin akan mengambil bagian cukup penting diantara hubungan Rion dan Mei. Karena kedekatan Merilin dengan rekan kerjanya yang mungkin akan menjadi sumber kesalahpahaman di antara mereka.
Kejadian pagi ini di kantor.
"Mei." Merilin mengerjap kaget saat bahunya diguncang dengan sedikit kuat. Gadis itu membuka matanya perlahan, menguap sambil menutupi mulut. Mengumpulkan energi kehidupan. "Mei, kamu berangkat kerja jam berapa si? Dari pagi buta." Mona mengusap kepala Merilin yang masih kelihatan mengantuk.
Merilin masih diam sambil mengumpulkan puzzle kesadaran, kenapa dia sampai tertidur di ruang kerja.
Aku siapa ya? Kenapa aku tidur di kantor ya? Bengong, bengong, berusaha mengingat-ingat. Setelah mendapat sedikit pencerahan matanya langsung membelalak.
Aku istrinya Rion. Karena aku mau menghindarinya makanya pagi buta aku sudah ke kantor.
"Jam berapa ini ya?"
"Jam delapan."
"Yang lain belum datang?"
Baru ditanyakan, dua laki-laki muncul di pintu masuk. Keduanya juga terlihat lelah. Sisa akhir pekan biasalah begini. Hari Senin entah kenapa selalu terasa lebih melelahkan.
"Kak Mei, aku belikan kopi. Firasatku mengatakan, kalau Kak Mei sudah datang, ternyata benar." Baim menyodorkan segelas kopi dan roti sandwich dengan aroma bakarnya yang langsung memantik rasa lapar. Merilin berkaca-kaca melihat Baim. "Aku tahu aku keren dan perhatian Kak, jadi kapan Kak Mei mau jadi pacarku."
Merilin mendorong kepala Baim menjauh, bocah di depannya sering sekali bercanda mengajaknya pacaran, tapi maaf ya karena hatinya sudah milik orang lain, bergeming sedikitpun tidak hati Mei dibuatnya. Mungkin bagi Mei, Baik itu seperti Harven.
"Sudah sana update status, terimakasih sarapannya."
"Hiks, Kak Mei berhati dingin."
Mona ataupun Kendra sudah tidak heran dengan kelakuan usil Baim, jadi melirik pun mereka tidak.
"Jam berapa majalah dikirim dari percetakan hari ini?" Sambil meneguk kopi untuk menstimuli otak bekerja lagi. Merilin melihat Mona.
"Siang nanti. Mei!" Mona menjerit dari tempat duduknya. Dua laki-laki yang sudah sibuk dengan komputer mereka bergumam mulai deh. Ya, yang dibahas Mona dengan suara seantusias itu siapa lagi kalau bukan CEO Rionald Fernandez. "Mei, Tuan Rion tersenyum Mei."
Grup chat sedang gempar sepertinya. Foto Rion masuk ke dalam gedung pagi ini tertangkap kamera salah satu anggota. Dia terlihat bersinar, secerah bunga matahari yang tersiram warna keemasan. Kalau itu memang sudah sewajarnya, dia memang selalu terlihat tampan, tapi yang membuat geger adalah foto-foto dia tersenyum sambil menyibak rambut dan bicara dengan sekretarisnya. Saat ada karyawan yang menyapanya, dia tersenyum membalas sapaan karyawannya itu.
Jangan tanya ada berapa foto yang masuk ke grup pagi ini. Notif hp Mona bergetar.
"Kau sudah lihat Mei, gila, Tuan Rion udah kayak orang jatuh cinta aja, gila ini pertama kalinya aku dapat fotonya yang sedang tersenyum."
Uhuk! Uhuk! Mei langsung tersendak dengan roti yang dia makan.
"Kak, pelan-pelan makannya." Baim bicara dari mejanya. Menatap sedih karena Merilin tersendak, saat gadis itu mengibaskan tangan memberi isyarat dia baik-baik saja, Baim baru meneruskan pekerjaannya.
"Hpku rusak, jadi aku pakai nomor baru sekarang belum masuk ke dalam grup." Mei meneguk kopinya beberapa kali sampai hampir separuh. Melancarkan tenggorokan.
Tapi sepertinya, aku nggak akan pernah masuk ke grup itu lagi. Tapi, kenapa tiba-tiba Mona ngomongin cinta lagi, hiiiii. Dia itu tersenyum begitu karena tidur dengan pulas setelah bermain dengan bonekanya. Huh! enaknya jadi bos, jam segini baru datang. Pasti sudah sarapan lagi. Hiks.
Kunyah-kunyah roti sampai habis.
Merilin membenturkan kepalanya ke meja, karena teringat kejadian semalam lagi. Kepalanya memanas, wajahnya memerah. Dia tertunduk malu.
"Mei..."
"Ia Kak..." Tersentak kaget saat Kendra memanggil.
"Direktur memanggilmu." Kendra meletakan telepon di tangannya. "Kenapa ya, aish, apa ada yang tidak dia suka dengan edisi bulan ini?"
Buru-buru Merilin menghabiskan roti dan kopinya. Dia juga bertanya-tanya kenapa direktur memanggil di hari majalah akan selesai cetak. Dia tidak terlalu suka masuk ke ruangan direktur, karena terkadang, kalau dia dipanggil secara pribadi, artinya ada yang tidak beres pada pekerjaannya ataupun rekan kerjanya.
Bergegas, Mei keluar ruangan tidak mau membuat direktur menunggu. Menuju ruangan direktur yang ada di bagian kanan ruang divisi.
"Selamat pagi Pak."
"Duduklah."
"Terimakasih Pak."
Mei duduk di depan direktur divisinya, pria tua yang cukup enak diajak bicara, walaupun kadang menyebalkan kalau sedang mengevaluasi kinerja bawahannya. Dan biasanya kalau sudah masuk ke ruangan ini yang dia bicarakan hanyalah hasil kerja.
"Majalah bulan ini sudah selesai?"
"Siang nanti dikirim Pak, akan langsung kami distribusikan dibagian internal, lalu besok akan mulai dikirim ke eksternal perusahaan." Hal standar begini seharunya direktur juga sudah paham kan. Tidak perlu ditanyakan lagi.
"Mulai edisi bulan ini kau yang mengantar langsung ke ruang Presdir dan CEO." Direktur bicara lagi.
Deg.
Hah! Kenapa tiba-tiba.
Biasanya pendistribusian majalah akan melalui direktur setiap divisi. Khusus untuk Presdir dan CEO biasanya laki-laki di depan Merilin inilah yang memberikannya langsung. Kenapa, bulan ini berbeda. Apa ini ada hubungannya dengan statusnya sebagai istri Rion.
Mei langsung diserang tanda tanya.
"Baik Pak."
Merilin hanya perlu menjawab begitu di depan atasannya. Walaupun dia penasaran dengan alasannya apa.
"Selain itu ada kabar baik untuk kalian, Presdir bersedia di wawancara untuk edisi bulan depan."
Hah! Kenapa tiba-tiba lagi ini.
Baru selesai kaget langsung diserang dengan kejutan selanjutnya.
"Beliau juga minta kalian membuat konsep tentang penerus perusahaan, jadi Presdir mau dia dan Tuan Rion tampil untuk majalah bulan depan."
Hah! Ada yang putus, tali kewarasan Merilin.
Kau bilang aku jangan sok kenal padamu kalau di kantor! Tapi kenapa!
Semua hal diatas Merilin yakin ada campur tangan Rion di dalamnya. Tidak mungkin Presdir yang awalnya tidak mau muncul di majalah perusahaan tiba-tiba begini, apalagi mereka menawarkan konsep artikel penerus keluarga.
Dasar manusia bunglon, kau sengaja kan? Ia kan? Jangan sok kenal apanya. Aaaaaaa! Mei bahkan sudah merasa frustasi. Ada beberapa tempat yang terkadang dia berpapasan dengan Rion, paling sering di loby kantor.
"Mei..."
"Ia Pak, maaf saya sedang memikirkan konsep seperti apa yang diinginkan Presdir dan CEO." Merilin menjawab asal.
"Bagus-bagus, aku bisa mengandalkanmu Mei, jangan sampai mengecewakan Presdir. Segera buat konsep semuanya, sebelum akhir bulan ini kau harus sudah menyerahkannya pada sekretaris Presdir dan Sekretaris Serge."
Hah! Bulan ini juga.
Semua memang harus melalui persetujuan mereka, termasuk pertanyaan yang akan diajukan. Tapi waktu deadline-nya, kenapa cepat sekali.
"Baik Pak, kami akan segera membahasnya."
"Kau sudah bisa keluar."
"Baik Pak, terimakasih, saya kembali bekerja dulu."
Merilin keluar ruangan dengan pikiran melayang-layang entah mendarat di mana. Apa rencana Rion dengan semua ini. Ini terlalu mencurigakan untuk dibilang kebetulan.
Dasar orang gila! Apa kau tidak bisa menjahiliku di rumah saja. Apa harus sampai di kantor aku harus kau ganggu juga. Aaaaa!
Merilin kesal sendiri jadinya, apalagi di telinganya terngiang-ngiang suara tawa Rion, manusia yang terkadang tertawa untuk alasan aneh.
Merilin menarik nafas dalam-dalam, mensuplai oksigen di otak supaya tetap waras.
Bersambung