
Kesalahpahaman yang terjadi, menghilang dengan sendirinya. Perasaan lega yang bukan hanya ditunjukkan Mei, karena Rionlah yang paling merasa bahagia saat ini. Sesungguhnya kemarahannya bukan pada kondisi Mei minum pil kontrasepsi dan menunda kehamilan. Namun, karena dia berfikir Serge yang membuat Mei melakukan itu, itulah inti dari kemarahannya yang meledak-ledak.
Dan sekarang, apa yang dilakukan kedua orang itu.
Sofa ruang tamu yang sebenarnya tidak terlalu lebar, apalagi untuk menampung keseluruhan tubuh Rion. Kaki Rion melintang dan naik ke ujung sofa. Sementara tubuh mungil Mei yang sebagian tubuhnya ada di atas lengan dan dada Rion, tidak menjadi masalah bagi gadis itu. Dia bisa nyempil dengan santainya.
Pakaian keduanya sudah jatuh berserak di sekitar sofa.
Peluh yang membasahi tubuh, tersapu dengan usapan sembarangan tangan Rion yang menyambar baju yang dia pakai tadi. Sambil menjatuhkan kepala dia melempar bajunya ke lantai lagi setelah selesai mengusap tubuh Mei.
Mereka ternyata tidak berhenti sampai kecup-kecup basah saja, tapi berlanjut sampai titik kepuasan masing-masing tercapai. Dan sekarang, mereka sedang saling memeluk sambil membisikan cinta dan janji, untuk selalu jujur satu sama lain. Dalam hal apa pun.
"Jangan berbohong sedikit pun, katakan apa yang ada dipikiran mu dan apa yang tersimpan di hati mu Mei. Aku ingin kedepannya hubungan kita terjalin di atas kejujuran."
Dan akhirnya, sampai juga ke pembahasan sebelum Rion menghujani tubuh Mei dengan kecupan tadii. Tidak boleh ada lagi yang ditutupi, jadi Mei harus menjawab semua pertanyaan Rion dengan benar.
"Kakak penasaran?" Entah kenapa Mei merasa senang karena memiliki sesuatu yang diharapkan oleh Rion. Walaupun hanya sekedar sebuah cerita belaka.
Rion merengut, sudah seperti ini masih ditanya penasaran atau tidak, tentu saja aku penasaran. Saking gemasnya Rion, digigitnya pipi Mei. Mei tertawa sambil mendorong kening Rion dengan kedua tangan, supaya laki-laki itu berhenti menggigit.
"Haha, baiklah karena Kakak benar-benar mau tahu." Tersenyum lagi Mei dengan penuh kebanggaan. Hati kecilnya yang kembali berbinar senang.
Lucunya Kak Rion, hihi, akhirnya aku punya sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Sekarang katakan pada ku Mei semuanya, apa yang kau pikirkan tentangku, tentang hubungan kita diawal pernikahan dulu." Sentuhan tangan yang hangat membasuh kening Mei, lalu kecupan sebagai hadiah diberikan Rion di kening Mei.
Mei menurunkan tangannya dan berpindah menepuk dada Rion. Plak! Plak agak mengeras, sampai gadis itu kaget dengan yang dilakukan tangannya. Dia mengerjapkan mata melihat sorot mata Rion, Kak Rion tidak terlihat marah. Lalu dia usap pelan dada yang bidang itu. Kemudian tersenyum.
"Tapi, Kakak janji dulu, jangan marah ya, apa pun yang aku katakan nanti."
"Cih..." Mendengus. Rion tidak suka karena Mei memberi syarat lagi. Apalagi perkara dia harus menahan diri. Karena Rion sendiri menyadari, kadar toleransinya setipis apa. Apalagi kalau sampai berhubungan dengan Serge.
"Nah kan, aku jadi takut kan mau mengatakannya, kalau reaksi Kakak sudah begitu."
Mungkin Kak Rion tidak akan marah, tapi, bagaiman kalau dia tersinggung pikir Mei. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Kak Serge, tapi murni bagaiman Mei menilai Kak Rion saat itu. Apa benar tidak apa-apa kalau aku jujur, ah kau kan sudah berjanji pada Kak Rion dan pada dirimu sendiri Mei. Jangan ada kebohongan, kau lelah dengan pertengkaran dan kesalahpahaman kan Mei?
Mei menganggukkan kepala beberapa kali, setelah berhasil menyakinkan hati untuk mulai bicara.
"Apa ini masih ada hubungannya dengan Serge?" Si tukang curiga masih saja menyebut nama Serge. Walaupun Mei sudah mengatakan berulang kali kalau selama ini Kak Ge menganggapnya sebagai adik adalah harga mati.
"Tidak Kak!" Nah, baru saja dipikirkan, terucap juga dari mulut Kak Rion tentang Kak Ge. "Kak Ge tidak ada hubungannya dengan ini. Tapi berjanjilah, jangan tersinggung dan marah ya Kak."
Lagi-lagi Rion mendengus karena mendapat syarat lagi.
"Baiklah, aku tidak akan marah dengan apa pun yang kau katakan." Kecupan lembut mendera bahu Mei, sambil Rion mempererat kakinya memeluk Mei. "Aku janji, jadi sekarang bicaralah."
Setelah berhasil meyakinkan hati, Mei mencium bibir Rion dua kali dan mengawali ceritanya.
Saat tawaran menikah dengan Rion datang dari Kak Ge, tentu saja hatinya kecewa. Namun, Kak Ge meyakinkan, kalau CEO Rion adalah laki-laki yang membenci perempuan, kecuali ibunya sendiri. Ada sejuta kelegaan yang langsung hadir saat itu, dan membuat Mei memutuskan untuk menerima. Tawaran yang diberikan Rion pun bukan sesuatu yang bisa dia dapatkan di mana pun di tempat lain. Mei masih berharap, setelah dia berpisah dengan dengan Rion dia masih punya kesempatan untuk menyatakan cinta pada Kak Ge. Karena kehormatan dan kesuciannya akan aman selama pernikahan.
Rion sedikit gusar saat Mei baru membuka ceritanya, kemudian menghela nafas dan bilang, "Baiklah, lanjutkan." karena melihat reaksi Rion tadi Mei mau berhenti cerita.
"Kakak tahu, saat Kakak menyentuh dan mencium di depan orangtua Kakak, aku selalu meyakinkan hatiku, itu akting Mei, jadi kau juga harus ikut tersenyum untuk mengimbanginya. Jangan pernah tergoda. Aku pikir, Kakak hanya akan melakukannya kalau ada di depan ayah dan ibu."
Rion ingat dengan jelas kejadian apa yang sedang dikatakan Mei. Saat dia seenaknya mencium Mei di depan ayah dan ibu. Saat dia melakukan skinship di luar batas normal. Saat dia menikmati itu semua.
"Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri, aku adalah boneka Kakak, yang harus menuruti semua yang Kakak mau. Aku melakukanya demi keluargaku dan membalas semua yang sudah Kakak berikan. Aku tidak bisa menolak dan hanya bisa menerima semua perlakuan Kakak. Dan yang aku pikirkan tentang Kak Rion adalah, ternyata Kakak sama seperti laki-laki pada umumnya, ada boneka disamping Kakak, tentu suka-suka Kakak mau melakukan apa padaku kan."
Ibarat kata, ada perempuan menganggur di sampingnya, ya walaupun tidak suka, lumayan kan untuk dinikmati sekedarnya. Pikiran Mei sampai berada di titik ini dulu.
"Awalnya aku merasa terhina, hanya perasaan tidak berdaya yang lahir. Padahal aku tidak pernah menyiapkan hatiku untuk sampai sejauh ini berhubungan dengan Kakak. Karena Kak Ge mengatakan, tidak ada hubungan suami istri, dia bisa menjamin itu karena Kakak membenci perempuan. Tapi ternyata, Kakak manusia yang sangat suka skinship."
Sekarang lucu kalau diingat, tapi dulu sangat menyiksa bagi Mei.
"Aku berfikir, apa saat Kakak menciumku, yang ada dipikiran Kakak adalah mantan Kakak yang Kakak cintai." Mei tersenyum saat tangan Rion yang memeluknya menegang. Dia kaget, pikir Mei. Dia pasti tidak berfikir aku sudah tahu tentang Amerla dari awal. "Waktu Kak Rion pulang dari Andalusia Mall mungkin itu saat paling menyakitkan untuk ku."
"Dari mana kau tahu semua itu? Kau sudah tahu tentang gadis itu sebelum kau bertemu dengannya?"
"Kak Ge yang bilang."
"Dasar sialan!"
Sampai sejauh apa kau tahu tentang wanita itu Mei? Rion menjadi kesal sendiri.
"Jangan marah Kak, Kak Ge melakukan itu karena dia selalu menganggap aku adiknya yang ingin dia jaga. Kak Ge juga tidak mengatakan semuanya kok. Hanya bilang, Kak Rion membenci perempuan karena kejadian di masa lalu dengan mantan Kak Rion. Ehmm, Kakak ingat kan hari itu kita melakukan hubungan?"
Aku meredam emosi dan kegilaanku karena bertemu Erla dengan sentuhan Mei, Rion bergumam tapi tidak mengatakan apa pun. Apa aku cukup menggila waktu itu ya?
"Aku tersiksa karena berfikir Kakak melampiaskan kerinduan Kak Rion pada Amerla padaku. Aku merasa menyedihkan, tapi juga tidak bisa melakukan apa pun dan hanya pasrah mendapatkan perlakuan dari Kakak."
Lagi-lagi, Mei merasakan tubuh Kak Rion menegang. Perasaan bersalah yang tiba-tiba langsung merasuk ke tubuh Rion karena merasakan situasi Mei pada saat itu. Kegilaan apa ini pikirnya, dia saja selalu merasa tersiksa karena dihantui kenyataan dulu Mei menyukai Serge. Ternyata, Mei juga merasakan hal yang sama. Bahkan jauh lebih parah situasinya dari pada aku. Bibir Rion bergetar.
"Maaf."
Dan dia meminta maaf lagi. Rion merasa menjadi orang paling buruk saat ini. Sesal itu membuncah. Kenapa dia begitu bodohnya dulu, kenapa bisa dia dibutakan cemburu pada Serge sampai tidak berani meraih tangan Mei dan menunjukkan cintanya. Kenapa dia malah membuat wanita yang dia sukai tersiksa seperti ini.
"Maaf, maafkan aku Mei." Rion bicara dengan bibir bergetar sambil menempel di pipi Mei. Pelukannya semakin erat.
"Kak Rion, Kakak tidak marah?"
"Yang harusnya marah kamu kan? Kau yang seharusnya marah padaku." Rion meraih tangan Mei. "Pukul aku sekarang Mei, walaupun tidak bisa mengurangi rasa sakit mu, yang penting kau puas dan lega."
Plak! Rion menggerakkan tangan Mei memukulnya sekali, cukup keras, tapi buru-buru ditahan gadis itu. Saat akan menuju pukulan kedua.
"Kakak kan sudah berjanji akan membayarnya, dengan kebahagiaanku." Mei memiringkan tubuh, menciumi dagu Rion. "Tolong jaga aku dan keluargaku ke depannya Kak, tolong sayangi kami. Itu kan yang akan Kakak lakukan?"
Itulah yang Mei inginkan dari Kak Rion sekarang. Bukan balas dendam atau apa. Karena laki-laki di hadapannya sekarang yang sedang memeluknya dengan erat, adalah laki-laki yang ia cintai. Yang memberinya dan keluarganya hidup baru. Hidup yang jauh lebih baik dari apa pun yang dulu ia jalani.
"Kenapa kau baik sekali Mei. Istriku yang sangat baik dan cantik." Muah, muah, muah. Rion sudah bangun dari duduk, mengusap wajah dan bibir Mei. Dia menunduk dan menciumi wajah Mei lagi. "Aku mencintaimu Mei, aku akan membuatmu dan orang-orang yang kau sayangi hidup bahagia. Aku janji." Mei menyambut kata-kata itu dengan tersenyum lebar.
Dan mereka berciuman lagi, dalam, dalam dan semakin dalam.
Suara bell pintu rumah terdengar menghancurkan suasana menggebu yang sudah tercipta.
Rion mendengus sebal menatap pintu tapi tidak ada keinginan sedikit pun untuk melihat siapa yang memencet bell, dia mengacuhkan malah mulai menciumi bahu Mei. Dan gangguan berganti ke hp miliknya di atas meja yang bergetar. Mei ikut mengangkat kepala, melihat siapa yang menelepon.
"Kak Ge?"
"Serge?"
Mereka bersamaan bicara, dan saling pandang heran. Suara ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini suara panggilan yang mereka kenali milik Serge terdengar mengeras di balik pintu.
Si penggangu benar-benar datang rupanya.
Bersambung