Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
210. Epilog (Hamil?)


Setelah resepsi megah pernikahan Mei dan Rion yang diadakan di hotel berbintang, disusul pernikahan impian Jesi dan Arman yang mengusung konsep fantasi romansa di aula pertemuan Gardenia Pasifik Mall, kini giliran pernikahan Serge dan Dean yang penuh dengan kejutan. Bahkan kedua mempelai pun dibuat terkejut. Bagaimana tidak, Serge ataupun Dean bahkan tidak pernah memimpikannya, karena bagi mereka itu sesuatu yang tidak mungkin bisa direalisasikan.


Tapi, sepertinya sesuatu yang bagi mereka mustahil, bisa terealisasi dengan mudahnya karena campur tangan keluarga Rion.


Tempat yang dipilih oleh Presdir Andez Corporation untuk Serge menikah adalah resort yang mereka pakai untuk berlibur. Ayah Rion berhasil meminjam resort mewah yang pernah mereka pakai untuk liburan, tempat dengan sejuta kenangan manisnya. Di mana Dean melamar Serge. Vila liburan di pulau XXX. Tempat inilah yang dipilih Presdir karena usulan dari Rion dan Mei.


Undangan keluarga Serge dan Dean pun tidak terlalu banyak, terdiri dari keluarga besar, rekan kerja serta sahabat dekat saja. Membuat ide ini terealisasi dan mendapatkan persetujuan orangtua kedua mempelai.


Jadilah mereka semua memenuhi undangan pernikahan sekaligus berlibur.


Lima buah tenda besar membentang dihalaman vila sampai ke area bibir pantai. Hiasan bunga-bunga yang dibentuk simbol cinta akan menjadi tempat akad dan pengucapan janji pernikahan, dibuat seperti podium kecil dengan latar belakang hamparan laut yang luas. Vila telah disulap menjadi tempat resepsi pernikahan.


Dan pagi ini, adalah hari paling mendebarkan bagi Serge dan Dean. Hari mereka akan mengikat janji di hadapan Tuhan, merayakan kemenangan cinta.


Dua sepasang calon pengantin itu sedang ada di kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri. Para tamu undangan sudah berdatangan. Keluarga Serge dan Dean sebagian ada yang tinggal di vila namun sebagian banyak menginap di penginapan yang sudah disediakan. Lalu lalang orang sibuk mempersiapkan pesta sedang berlangsung di luar kamar.


Di tempat pengantin wanita merias diri.


"Mei, kau tidur? Ya ampun, kamu jadi sering ketiduran begini." Jesi dengan gemasnya menoel pipi Mei. Gadis itu hanya bergumam sambil menggeliat kecil, namun matanya masih terpejam.


"Biarkan saja dia Jes, sepertinya dia lelah sekali."


Dean menempelkan telunjuknya di bibir, menyuruh Jesi jangan menggangu Mei yang ketiduran karena menunggu Dean di rias tadi. Awalnya Mei masih cerewet bicara tentang kenangan mereka saat liburan dulu, tahu-tahu kepalanya menempel di bantal membuatnya jatuh terlelap.


"Aku tahu kenapa dia kelelahan, haha. Pasti semalam dia dan suaminya nostalgia kenangan liburan." Seringai muncul di bibir Jesi. Dia yang dulu cuma bisa lirik-lirikan dengan Kak Arman saja berperang semalaman. Jesi menutup mulutnya yang masih tertawa, sambil melihat ke arah Dean. "Ah, kau baru akan tahu nanti malam apa yang dilakukan Mei semalam. Hihi."


"Dasar kau!"


Keduanya tergelak bersamaan, sama-sama menutup mulut saat Mei menggeliat. Lalu keduanya meneruskan apa yang sedang mereka kerjakan tadi. Dean sudah memakai pakaian pengantin berwarna putih. Gadis itu memilih pakaian simpel yang menunjukkan ciri khasnya. Tidak terlalu banyak renda atau brokat, tapi tetap terlihat elegan dipakai Dean yang berpostur tinggi. Rambut panjangnya sudah tergelung dengan rapi, tersemat jepit rambut berbentuk dedaunan di belakang sanggul rambutnya.


Terakhir, tinggal memakai perhiasan.


"Cantik sekali De." Jesi mengambil kotak perhiasan yang ada di depan cermin. "Cantiknya, cocok sekali. Baju mu yang simpel jadi semakin mewah dengan ini."


"Ia, aku sampai menangis saat menerimanya."


Satu set perhiasan yang Dean terima dari Kak Serge, dan katanya ini dibuat khusus untuk mereka. Hadiah dari neneknya Tuan Rion. Katanya karena Serge sudah dianggap seperti kakak yang menjaga Tuan Rion saat susah dan senang, nenek Tuan Rion jadi ingin menghadiahkan satu set perhiasan yang biasanya dia berikan hanya pada anak dan cucunya.


Dean yang akhirnya menemui nenek Tuan Rion, menitikkan airmata saat tangan keriput nenek Tuan Rion memeluknya sambil memberinya selamat.


"Selamat ya Nak atas pernikahan kalian, kau sangat beruntung mendapatkan laki-laki sebaik Serge, dan begitu pula Serge, sangat beruntung mendapatkan gadis luar biasa sepertimu."


Dean yang tadinya sering berfikir kalau Kak Ge teraniaya bekerja di bawah Tuan Rion, jadi menangis haru. Ternyata suaminya mendapatkan kasih sayang dari keluarga Tuan Rion. Dan pada pertemuan itu, Dean mengundang nenek Tuan Rion untuk datang ke pernikahan mereka. Walaupun dia dan Serge pun tidak terlalu berharap banyak, karena beliau berdua sudah kembali ke luar negri.


Tapi, pagi ini, dia mendapat kabar, kalau beliau berdua akan hadir.


Dibantu Jesi, Dean satu persatu memakai semua perhiasan. Kalung yang berkilauan dengan simbol namanya dan Kak Ge.


"Cantiknya!" Dean menyentuh kalungnya, melihat bayangannya di cermin. Siapa ini? Ah, kau calon istri Serge ya? Beruntung sekali kau? Hihi. Dean tersenyum simpul meledek dirinya sendiri yang sedang merasakan kebahagiaan yang teramat sangat itu. Sebentar lagi, laki-laki menggemaskan itu akan jatuh ke dalam pelukannya, sebentar lagi pria tampan dan mempesona itu akan resmi jadi suaminya. "Indahnya..."


"Siapa yang cantik? Apa yang indah?"


Mei nyeletuk karena terbangun. Gadis itu mengucek matanya.


"Aku tahu siapa yang cantik." Bangun dari tiduran. Sudah mewek sendiri karena melihat rona wajah Dean yang berseri. "Kau cantik sekali De, Deandra ku memang seperti malaikat, tapi hari ini bahkan kau mengalahkan bidadari." Karena takut merusak riasan akhirnya Mei mencium bahu Dean. Sementara Dean menepuk bahu Mei menenangkan gadis itu.


"Mei, kamu tidak sedang hamil kan? Kok sekarang ngatuk terus?" Jesi sudah duduk di tempat yang tadi ditiduri Mei. "Sini, aku betulkan riasan mu."


"Apa sih, hamil apanya. Aku ngidam aja nggak."


Menurut duduk di samping Jesi, dan dengan cekatan Jesi memoles wajah Mei dengan peralatan makeup yang dia bawa. Setelah selesai, Jesi terkikik karena ingin menjahili Mei.


"Atau karena semalam kau tidak tidur ya? Hayo ngapain aja. Haha." Jesi menjerit karena pahanya di cubit. "Dean benar kan, haha. Awww, sudah Mei, ampun!"


Ketiga gadis itu tertawa karena pikiran mereka berlabuh di tempat yang sama. Saat sedang cekikikan, ketukan di pintu terdengar. Panggilan dari tim WO yang mengatakan, kalau acara sebentar lagi akan di mulai.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Rion mendorong kepala Serge yang jatuh di bahunya. Sudah beberapa menit Serge melakukan itu, membuat Rion kesal sendiri.


"Aku tegang sekali, Aku takut membuat kesalahan. Bagaimana kalau aku salah mengucapkan janji pernikahan. Bagaimana kalau aku jatuh saat berjalan nanti. Rion, kenapa saat melihat mu dulu kau santai sekali si, memang kau tidak pernah ada takutnya ya."


"Dasar bodoh!"


"Aaaaaaa! Aku tegang sekali sialan!"


Rion menarik kedua bahu Serge, menghentakkan dengan kuat. Sampai membuat Serge tersentak. Kalau dalam situasi biasa, keadaan ini pasti mengancam nyawa Serge apalagi kalau Rion sedang emosi.


"Kau bodoh saja istrimu itu sudah jatuh cinta, jadi apa lagi yang kau takutkan. Tarik nafas dan hanya fokus lihat istrimu nanti, lihat wajahnya yang bersinar, lihat bibirnya yang tersenyum saat melihat mu. Yang lain tidak akan terlihat di mata mu, kau pasti tidak akan tegang lagi." Rion menggoyangkan bahu Serge lagi, sampai laki-laki itu mengganguk, lalu dia melepaskan tangannya. "Kau sudah tenang."


"Ah, ia lumayan. Terimakasih ya."


"Hah!" Rion mengangkat bahunya. "Kenapa?"


"Presdir bilang, ini ide mu dan Mei, memilih resort ini. Aku tidak pernah bermimpi bisa menikah di tempat seindah ini. Semua karena mu." Serge yang berkaca-kaca dengan tulus mengungkapkan terimakasihnya.


Tapi...


"Cih, memang siapa yang melakukan untuk mu, aku hanya ingin liburan biar sekalian." Suara tim WO dari pengeras suara terdengar, menandakan sebentar lagi acara akan di mulai. "Nah sudah mau mulai, pergi sana! Jangan menangis nanti."


Mulut Serge memang maju tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum, memang begitulah Rion. Tidak pernah menunjukkan perhatiannya, tapi hatinya selalu merasa tersentuh dengan ketulusan Rion. Serge mengepalkan tangan, lalu menarik nafas dalam.


Fokus pada Dean, hanya lihat Dean seorang. Lihat senyumnya, lihat bibirnya yang merona. Jangan menangis, Serge mewanti-wanti dirinya.


Tapi, saat musik sudah mengalun dengan irama yang romantis. Saat para bidadari kecil berjalan sambil menaburkan bunga. Saat Dean yang berjalan didampingi ayahnya. Saat Serge bertemu pandang dengan mata Dean yang berbinar, airmata Serge tanpa sadar jatuh meleleh. Hatinya yang sudah tenang seperti langsung diterjang ombak besar.


Cantik sekali, hari ini dia cantik sekali. Bagaimana ini ini, jantung ku rasanya mau meledak. Serge mengusap sudut matanya yang masih basah oleh airmata. Dia tidak melihat orang-orang yang sudah senyum-senyum melihatnya. Bahkan ada yang mengambil vidionya mungkin merasa ini lucu. Yang dilihat matanya hanya wajah merona Dean.


Serge mulai bisa mengendalikan diri saat Dean dan ayahnya sudah ada di depannya. Saat tangan Dean yang lembut meraih tangannya dan mengusap pipinya yang masih berair.


"Kau cantik sekali De.." Masih menahan keharuan Serge bicara.


"Kakak lebih tampan dan menggemaskan." Ujung jari Dean menyentuh pipi Serge. "Sebenarnya aku jadi ingin mencium pipi Kakak yang banjir airmata ini."


Deg.. deg. Serge antara malu dan berdebar bersamaan.


Ehmmm, ayah Dean berdehem sambil memukul tangan putrinya. Dean tergelak dengan elegan, sambil memeluk ayahnya. Berterimakasih pada ayahnya yang sudah mengantarnya menuju pelaminan di mana Serge menunggu.


Dan setelah menyerahkan tangan Dean, ayah Dean bicara.


"Ge, hari ini aku serahkan putri ku. Dia memang seperti ini, dia wanita kuat yang tidak bergantung pada siapa pun, saking mandirinya dia tidak pernah menyusahkan aku sebagai ayahnya. Walaupun begitu, dia tetaplah seorang perempuan yang berhati lembut dan ingin mendapatkan kasih sayang, jadi berjanjilah, jangan membuatnya bersedih, buatlah dia selalu tersenyum dan bahagia. Aku percayakan putri ku pada mu Serge."


Ayah Dean meraih bahu Serge, laki-laki itu memang terlihat tegar, tapi saat menepuk bahu Serge airmatanya jatuh juga.


"Ayah, saya berjanji akan membahagiakan Dean."


"Dia itu keras kepala, jadi kau harus memaklumi nya ya?"


"Ia ayah, saya akan menyanyi Dean."


Hiks, hiks, dua orang yang saling berpelukan itu menangis bersama. Dean berdehem sekarang menyadarkan keduanya untuk menyudahi tangisan. MC acara ikut nimbrung dengan godaan untuk ayah dan calon menantu, para tamu juga menimpali dengan tepuk tangan dan tawa.


Setelah ayah Dean kembali ke tempat duduk, prosesi pernikahan pun dilangsungkan. Seperti yang diajarkan Rion, bola mata Serge hanya melihat wajah Dean. Bibirnya bergumam, fokus-fokus. Membuat semua prosesnya berjalan dengan cepat seperti saat latihan kemarin.


"Selamat untuk Serge dan Dean, kalian sudah resmi menjadi suami istri, silahkan melakukan pertukaran cincin." Suara MC terdengar setelah prosesi syahdu akad nikah berlalu.


Perasaan gelisah Serge yang luruh menjadi airmata kebahagiaan. Setelah semuanya selesai. Dean juga terlihat menitikkan airmata walaupun tidak seheboh suaminya. Gadis itu sambil tersenyum, mengusap sudut matanya saat memasukan cincin ke jari Serge.


"Aku mencintai mu Kak, sekarang kau hanya milik ku." Dean meraih tangan Serge, dan mencium punggung tangan itu. "Jangan terlalu baik dengan wanita lain ya, karena sekarang aku benar-benar akan menunjukkan kecemburuan ku." Dean berbisik pelan sampai kalimat terakhir itu hanya di dengar Serge.


Hah! Walaupun agak bingung, tapi Serge menganggukkan kepalanya kuat. Meraih dagu Dean, dan mencium bibir gadis itu duluan.


"Aku mencintai mu Deandra, seperti janji ku pada orangtua mu. Aku hanya akan mencintai mu selamanya."


Mereka berciuman dibawah kelopak bunga yang berjatuhan di antara pasir pantai, diiringi musik dan tepuk tangan dari para tamu. Setelahnya mereka saling berpelukan antar keluarga, dan menjabat tangan para tamu.


Pesta pernikahan dilanjutkan sesuai arahan WO. Satu persatu acara dilewati, sesekali kedua mempelai mencuri kesempatan saling pandang dan memberikan kecupan singkat. Wajah Serge yang memerah saat dengan santainya Dean meletakan tangannya di pipi Serge lalu mencium pipi laki-laki itu.


"De!"


"Ah, Kakak lucu sekali."


"Dean!"


"Menggemaskan juga."


"Deandra!"


Dean menempelkan bibirnya ke bibir Serge, laki-laki itu tergagap, tapi membuka mulutnya, dan mereka berciuman cukup panjang di balik dekorasi bunga.


Dan seperti itulah pesta Serge dan Dean yang penuh keakraban berlangsung. Mereka duduk berbaur. Para tamu menyumbangkan lagu, antri naik ke podium untuk menyanyi. Bahkan Dean, Mei dan Jesi pun melantunkan lagu yang sudah seperti lagu penyemangat mereka. Ketiga gadis itu berpelukan sambil menitikkan airmata saat menyelesaikan lagu mereka.


"Sahabat selamanya," ujar mereka sambil berpelukan.


Saat sore sudah menjelang, sebagian tamu ada yang sudah kembali ke penginapan karena lelah, tapi ada yang masih menikmati pemandangan pantai dan bahkan sudah berganti baju.


Para orangtua sedang terlihat mengobrol sambil ditemani terpaan angin sore. Tidak semua, sebagian memilih istirahat di kamar. Rion dan Serge terlihat sedang duduk sambil menikmati kopi, bicara dengan rekan bisnis tamu undangan Serge. Obrolan mereka terlihat santai. Rion bahkan sudah menggulung kemeja dan melepaskan jas. Serge sudah berganti pakaian juga.


Saat angin membelai lembut, masih ada yang menyanyi. Suara derap langkah kaki terdengar dengan cepat, membuat semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara. Bibi pengurus rumah berlari dengan tergesa mendekat ke tempat Rion dan Serge duduk.


"Tu.. Tuan Muda!"


Rion masih memegang gelas kopinya, baru mau dia teguk.


"Kenapa?"


"Nona Mei pingsan!"


Gelas yang ada di tangan Rion jatuh menggelinding ke dekat kaki Serge yang juga langsung tersentak kaget. Tanpa mendengar penjelasan bibi, Rion sudah berlari masuk ke dalam vila.


Dari tempat duduknya, kakek Rion yang mendengar langsung mengeluarkan hp miliknya, dia terlihat bicara dengan serius. Sementara ayah dan ibu Rion ikut berlari masuk ke dalam vila.


Kurang dari sepuluh menit, ada suara helikopter menderu di atas mereka.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


Ruangan dokter, Mei sedang ada di ruang pemeriksaan ditemani ibu Rion dan ibu Mei. Sementara Rion sedang bicara di ruangan lain. Ayahnya juga ada, berusaha menenangkannya.


Dokter masuk dan langsung duduk di kursinya. Laki-laki muda itu ditemani seorang dokter perempuan di sampingnya.


"Selamat ya Tuan Muda..."


"Apa Anda sedang bercanda!" Rion karena panik langsung tersulut emosi. "Istri saya pingsan dan dokter bilang selamat." Rion sudah pasti akan mencengkeram kerah jas dokter kalau tidak ada meja di depannya.


Wajah dokter langsung pias. Dia cucunya beliau kan? Hiiii, sama-sama menyeramkan gumamnya.


"Nona Merilin sedang hamil tiga Minggu Tuan, jadi beliau pingsan sepertinya karena kelelahan dan hormon. Kondisi kehamilan normal dan semuanya sehat, baik bayi dalam kandungan maupun Nona Merilin." Suara dokter perempuan membuat Rion dan ayahnya membeku. "Untuk itulah, kami memberi selamat."


"Be.. benar maksud saya begitu. Maafkan saya." Dokter laki-laki berdiri dan menundukkan kepala.


Rion masih terlalu shock mendapatkan informasi ini. Dia masih terdiam sesaat, ayah disampingnya memeluk bahunya dan menepuknya. Berulang kali mengucapkan selamat.


"Ayah..." Bibir Rion bergetar, setelah bangun dari rasa terkejut sepertinya dia menyadari sesuatu. "Bagaimana ini! Ayah! Mei hamil tapi aku sering sekali, kami selalu melakukannya." Melihat dokter. "Bagaimana bayi kami dan Mei Dokter, bagaimana Mei, dia tidak apa-apa kan? Setiap hari aku. Aaaaaaa! " Baru kali ini sepertinya Rion terlihat terguncang dan depresi. Awalnya kedua dokter bingung, tapi setelah mencerna kalimat Rion mereka saling pandang dan tersenyum.


"Kondisi kandungan Nona Merilin kuat Tuan Muda, semuanya normal dan stabil. Tapi, untuk beberapa waktu ini mohon untuk dikurangi." Dokter perempuan itu menahan bibirnya yang bergetar. "Tiga bulan pertama mohon berhati-hati."


Ayah Rion yang terlihat malu dengan penjelasan dokter, sementara Rion mendengar pun tidak, pikirannya sudah tertuju pada Mei, dan setelah dokter selesai bicara dia langsung lari ke ruangan Mei di rawat.


Tangisnya yang seperti bocah meledak, dia yang sepanjang menggendong Mei menaiki helikopter tadi tidak berhenti menangis, memanggil nama Mei. Rion begitu ketakutan, saat ini, wanita yang dia cintai sedang terbaring di tempat tidur.


"Kak Rion!"


"Maaf!" Rion tersungkur di tepi tempat tidur, memeluk Mei. "Maaf, karena membuat mu kelelahan Mei. Maaf karena aku tidak peka, bagaimana bisa aku tidak tahu kalau kau sedang hamil."


Mei yang ada dalam pelukan Kak Rion hanya bisa tertawa kecil, karena dia sendiri sama sekali tidak menyadarinya. Bagaimana Kak Rion bisa tahu, kalau dia sendiri tidak tahu.


"Sekarang mana yang sakit?" Memegang perut Mei. "Apa yang sakit? Mau minum? mau aku suapi? mau aku cium? Mau apa, aku akan melakukannya."


Seisi ruang perawatan tertawa mendengar kata-kata Rion, laki-laki itu tidak menyadari kalau semua orang sudah ada di sana sejak tadi. Dia menoleh sekilas, lalu melengos dan memeluk Mei lagi. Sepertinya dia sedikit malu. Mungkin kalau hanya ada ayah atau ibunya dia akan biasa saja. Tapi masalahnya, teman-teman Mei, bahkan Sherina dan Harven juga ada di sana.


"Haha, Rion..Rion..." Ibu tertawa disusul dengan gelak tertahan yang lainnya.


Hari ini, adalah hari yang membahagiakan bagi semua orang. Pingsannya Mei yang menghebohkan sampai mendatangkan helikopter. RS yang langsung kelabakan karena mendapat perintah langsung dari atasan. Terbayar dengan berita kehamilan tidak terduga Mei.


"Kak..." Mei menepuk bahu Rion yang masih mendekapnya.


"Suruh mereka pergi Mei."


"Haha, kenapa? Kakak malu ya?"


Gemasnya pikir Mei, melihat wajah Kak Rion yang sedikit memerah.


"Aku mau mengobati mu."


"Hah?"


Malu apanya? Ini mah tidak tahu malu namanya. Mei tertawa sambil memeluk Kak Rion dalam dekapannya. Sementara orang-orang yang ada di dalam ruangan sudah bicara sendiri, bahkan ada yang keluar ruangan. Karena mereka sudah lega, mendengar Mei baik-baik saja.


"Selamat ya Kak, Kak Rion akan menjadi ayah."


"Kau juga, selamat ya Mei. Selamat sayang." Kecup-kecup bibir Mei. Jemari Rion mengusap pipi Mei. "Dan terimakasih, hadiah ini sungguh luar biasa." Rion meraih bahu Mei, mereka sudah duduk dan saling berpelukan.


Cinta keduanya memenuhi ruangan. Yang melihat ikut berdebar dengan banyaknya kelopak bunga yang bertebaran di antara mereka. Yurika yang tadinya sempat panik dan khawatir menjadi lega karena suaminya menjelaskan apa yang dikatakan dokter, kalau kandungan Mei kuat dan sehat.


"Rion, ingat kan pesan dokter tadi."


Rion yang baru mau dusel-dusel tersentak kaget, yang lain tertawa saat melihat wajah panik Rion.


Selamat MeiπŸ’–Rion untuk kehamilan anak pertama kalian.


...Spesial Episode...


...Sebatas Menjadi Istri Boneka...


...πŸ’–SelesaiπŸ’–...


Epilog


Siang hari yang cukup terik, karena musim panas sudah sebulan ini datang. Udara yang kering, bahkan debu halus yang berterbangan tertiup angin.


Waktu sudah berlalu cukup lama dari pesta pernikahan.


Sekarang, di sebuah kampus. Siang itu seorang gadis berjalan cepat setelah turun dari mobil. Dia terlambat datang karena harus mampir ke RS menjenguk kakak iparnya yang habis melahirkan.


"Ahhhh, aku terlambat. Pasti sudah banyak ulet bulu yang mengelilingi Harven." Gadis itu mendengus sebal. Walaupun di keningnya sudah seperti tertulis pacar Harven, tapi tetap saja para gadis tidak tahu malu yang berusaha mencari celah selalu mencoba menempel pada Harven.


Dialah Sherina, putri kesayangan Presdir Gardenia Pasifik Mall yang sudah menjadi mahasiswa. Dia kuliah di jurusan yang sama dengan Harven, mengambil mata kuliah yang sama juga.


Beberapa gadis yang tadinya berkerumun di kursi Harven menyingkir satu persatu saat Sheri datang, ada yang mendengus tapi ada juga yang menyapa dengan ramah. Sheri langsung duduk di samping Harven.


"Bagaimana kakak ipar mu? Beliau dan bayinya sehat kan?"


Sheri langsung mengeluarkan hpnya dan bercerita dengan cerewet, menunjukkan foto keponakannya. Lalu setelah tenang sesaat bibirnya menyeringai sambil melihat Harven.


"Ven, kalau menikah nanti kau mau seperti Kak Mei, Kak Jesi atau Kak Serge?"


"Hah?"


"Hihi, aku akan menyiapkannya sesuai keinginan mu."


Dengan gemasnya Harven mencubit pipi Sheri, apalagi saat gadis itu pipinya memerah dan malah cekikikan dengan suara kecil, supaya tidak ada yang menoleh ke arah mereka.


"Aku iri dengan Kak Mei, Kak Jesi dan Kak Dean." Sheri menunjukkan foto ketiga sahabat itu, yang sedang menggendong bayi dalam pelukan mereka. "Mereka kompak sekali, sampai melahirkan berdekatan. Aku juga ingin punya teman sejati seperti mereka."


Sheri tersenyum melihat foto-foto di layar hpnya. Dia berharap, dia bisa punya sahabat seperti Kak Mei dan teman-temannya. Saat dia masih bergumam mengagumi foto. Saat itu, dua orang gadis menghampiri tempat duduk mereka. Ah, mereka teman-teman Sheri.


"Kalian sudah datang?"


"Ia. Dosen baru keluar dari ruangannya tadi." Gadis yang baru datang menyodorkan satu gelas jus. "Ven, ini punya mu, aku belikan tadi."


Harven hanya melihat sebentar gelas di tangan gadis itu, lalu dia menyenggol lengan Sheri.


"Berikan saja pada Sheri, aku tidak haus."


Teman Sheri terlihat malu, lalu dia tertawa dan mengeluarkan satu gelas lagi.


"Aku beli juga buat Sheri kok."


Seharusnya kau berikan punya Sheri duluan tadi, sebenarnya Harven bersikap cukup ramah pada kedua gadis itu hanya karena Sheri, karena Sheri mengganggap mereka teman. Karena Sheri berfikir dia ingin punya teman sejati seperti Kak Mei. Tapi, apa ada teman yang diam-diam perhatian pada pacar temannya.


Kecanggungan mereda saat dosen masuk, kedua gadis itu sudah duduk di samping Sheri. Harven sama sekali tidak melirik gelas jus yang tadi diberikan gadis itu, dan seperti tahu suasana hati Harven yang langsung berubah Sheri menggeser jus itu menjauh.


"Harven lebih suka air putih," ujar Sheri sambil berbisik mengeluarkan botol air minum dari tasnya. "Ia kan Ven."


Senyum tipis muncul dibibir Harven sambil meraih botol yang disodorkan Sheri. Walaupun senyum itu bukan untuknya, tapi gadis itu entah kenapa tidak bisa menahan hatinya yang berdebar dengan kuat.


"Ven, kita piknik ajak keponakan-keponakan kita ya akhir pekan ini?" Sheri berbisik lagi, langsung dicubit pipinya supaya dia diam. Karena dosen sudah mulai membuka kelas dengan salam. "Hihi, lagi Ven."


Kedua orang yang sampai hari ini tak berubah.


...Tamat...


Salam dari LaSheira πŸ“


Terimakasih untuk semua cinta kalian pada semua karakter yang ada dalam novel SMIB, terimakasih yang sudah membaca sampai akhir. Sampai jumpa lagi di karya selanjutnya. πŸ’–