Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
159. Terungkap Semua Rahasia (Part 1)


Perasaan Rion juga tidak kalah campur aduk sekarang. Sesungguhnya, dia juga ingin membalas pelukan Mei. Dia ingin menciumi airmata gadis itu yang berceceran sedari tadi. Dia tidak rela membuat Mei menangis, hatinya merasa sakit. Karena, apa pun sekarang yang terjadi di antara mereka, gadis yang sedang memeluknya dengan airmata ini adalah istri yang sangat ia cintai.


Aku benar-benar mencintai mu Mei, aku sangat mencintaimu.


Karena dia sangat mencintai Mei, maka luka dihatinya semakin besar menghadapi kenyataan. Dikhianati oleh wanita yang ia cintai untuk kedua kalinya.


"Aku jatuh cinta pada suami yang hanya menganggapku boneka."


Saat mendengar kalimat terakhir Mei, tubuh Rion membeku. Dadanya berdebar dengan cepat.


"Kau bukan boneka ku lagi Mei, berapa kali aku harus mengatakannya." Gusar, sekali lagi, akal sehat Rion tertutup. Dia selalu tersinggung, jika ada yang mengungkit kalimat yang dia sendiri sebenarnya yang memulai.


"Tapi, dulu, aku kan hanya boneka bagi Kak Rion."


Nyut, hati Rion merasakan sakit. Karena itu adalah fakta yang tidak bisa dia hapus. Ah, sialan! Ternyata inilah kebenaran yang menamparnya tadi. Dia merasa sakit sekaligus senang karena alasan sebenarnya bukan Serge.


Ya, dialah yang menyumbang kesalahan paling besar di sini, fakta ini menyiksanya. Bukan Serge, hal ini menghiburnya.


"Mei.."


Sebelum Rion bicara, Mei harus menyelesaikan semua urusannya. Kalau tidak, dia pasti akan kehilangan momen lagi. Dan dia tidak mau, kesalahpahaman tidak penting ini berlarut. Jadi, keberanian yang entah dari mana berasal membuatnya bicara dengan lantang.


"Aku memang dulu menyukai Kak Ge, aku dulu bermimpi menikah dengannya Kak. Itu benar, itu memang benar. Tapi sungguh Kak, setelah aku memutuskan menikah dengan Kakak semua berubah dengan sendirinya." Mei masih mendekap pinggang dan meletakan kepalanya di dada Rion. "Saat kita berciuman pertama kali, saat kita melakukan hubungan suami istri, aku bersumpah Kak, aku sama sekali tidak mengingat nama Kak Serge di kepalaku."


Tangis berkejaran dengan cerita yang mengalir dari mulut Mei. Hati Rion mulai sedikit terbuka perlahan. Dia menyentuh punggung Mei. Telapak tangannya mengusap punggung.


"Kau serius?"


"Sungguh, demi Tuhan Kak." Kembali Mei bicara dengan lantang


"Jelaskan padaku, kenapa kau minum pil kontrasepsi dan tidak mau mengandung anakku."


Rion menjauhkan tangannya yang sudah mengusap punggung. Mei mendongak, wajah Rion tertunduk. Pandangan mereka beradu. Mencoba menyelami perasaan masing-masing.


Padahal aku sudah tahu, tapi aku ingin mendengarnya langsung, pengakuan dari mu Mei.


Seperti kalau terucap secara langsung semakin membuat Rion yakin, menghapus semua keraguan sekecil apa pun di hatinya.


"Aku kan hanya boneka Kak Rion, akan hidup seperti apa yang dijalani anak seorang boneka Kak." Mei menggigit bibir getir. "Kak Rion bilang, umur pernikahan kita hanya sekitar dua tahun kan? Kakak juga tidak memintaku melahirkan anak, walaupun Kakak tidur denganku, Kak Rion tidak pernah bilang, kalau Kakak mau anak dariku. Aku kan hanya boneka mu Kak. Aku harus menahan diri, untuk tidak boleh mencintaimu, untuk tidak berharap bisa menjadi ibu dari anak mu Kak. Karena aku hanya sebatas menjadi istri boneka mu."


Airmata kembali jatuh bergulir, tubuh Mei seperti kembali mengingat saat-saat itu. Ketika dia berjuang membohongi dirinya sendiri. Ketika dia melarang dirinya untuk jatuh cinta pada Kak Rion. Tapi, semakin dia larang hatinya, jiwanya mengkhianatinya. Dia tersentuh, dia terpesona dan akhirnya dia jatuh cinta pada suami yang hanya menganggapnya boneka.


Aku menyedihkan sekali. Sehina itu kah aku dulu. Karena Amerla, aku menyakiti Mei dengan kata-kataku.


Rion meraih pipi Mei dengan kedua tangannya. Mengusap airmata yang berjatuhan.


"Kalau Kak Rion saja bisa move on dari Amerla, lantas kenapa Kakak tidak percaya aku juga sudah melupakan Kak Ge. Dulu, perasaanku saja tidak tersampaikan pada Kak Ge. Bukankah seharusnya, melupakan Kak Ge bukanlah sesuatu yang sulit."


Plak! Kata-kata itu menampar Rion. Benar! Mei bahkan tidak pernah pacaran dengan Serge.


Kenapa kau masih takut bodoh! Mei bukanlah Amerla. Dia Merilin, dia wanita yang membuang cintanya demi kebahagiaan keluarganya. Dia bukan gadis gila harta yang meminta uangmu saat kau menawarinya hadiah berlimpah. Dia hanya minta sekedar mengundang keluarganya ke rumahmu. Dia setulus itu. Apa kau masih meragukan kata-katanya. Hujan tamparan baik di hati maupun pipi Rion. Membuka mata Rion.


Tangan Rion meraih punggung Mei. Mendekap gadis itu dalam pelukannya.


"Maaf Mei." Bahu yang biasanya selalu kokoh itu bergetar. "Maaf."


Mei cuma bisa membelalak kaget dalam pelukan Rion yang tiba-tiba. Apalagi saat permintaan maaf seperti air mengalir dari ketinggian, tercurah begitu saja. Dengan bahu Rion yang terguncang. Rasa kaget di wajah Mei berganti senyuman. Dan tangannya yang mengusap punggung Kak Rion.


Sebanyak apa aku menyakiti hatimu dulu Mei. Seberapa sering kau diam-diam menangis di belakangku.


"Kak Rion tidak perlu minta maaf."


"Aku jahat sekali ya?" Suara Rion menjadi sendu. Kemarahan di matanya sudah hilang, berganti penyesalan. Menyesali semua hal yang sudah dilakukannya di awal pernikahan.


"Tapi bagaimana lagi, aku mencintai penjahat ini. Hehe."


"Kau ini." Rion membenturkan kepalanya ke kening Mei. Sampai gadis itu mengaduh. "Kau mau memukulku?" Rion sudah meraih tangan Mei, dia tempelkan di pipinya. "Aku bahkan berfikir kau akan pergi mengkhianatiku. Aku pikir cintamu juga palsu." Rion mengerakkan tangan Mei untuk memukul pipinya.


Mei menahan tangan Rion.


"Aku berhenti minum pil kontrasepsi karena aku jatuh cinta pada Kakak, dan aku bertekad memperjuangkan cintaku." Alih-alih memukul, Mei malah mengusap pipi Rion lembut. "Kak, karena semua rahasia diantara kita sudah terbongkar, sekarang berjanjilah Kak."


"Janji apa?"


"Jangan diam kalau Kakak marah, aku takut sekali."


Rion mendengus sambil menjauhkan kepala, lalu dia tersenyum. Menyentuh dagu Mei.


"Maaf.."


"Berjanjilah Kak..."


"Apa pun yang kau inginkan Mei."


Sekarang sebenarnya Rion sedang malu, tapi berusaha bersikap sombong seperti biasanya. Perlahan, dia mengangkat Mei, memindahkan ke pangkuannya. Mengusap wajah Mei perlahan. Sambil mengejek dirinya yang bodoh.


Kau hampir saja kehilangan wanita yang berharga dalam hidup mu Rion, karena kebodohan dan keegoisanmu.


"Maafkan aku Mei, maaf. Aku tidak tahu seberapa banyak kau terluka, tapi pasti sangat besar luka itu kan? Aku berjanji, kedepannya, bukan hanya karena aku ingin memperbaiki hubungan kita. Tapi, aku janji, tidak akan membiarkan mu terluka lagi."


"Aku akan membahagiakan mu Mei. Aku janji." Rion memeluk Mei dengan erat.


Mereka membalas pelukan satu sama lain. Saling mengusap bahu. Bahkan Mei memberi kecupan lembut di wajah Rion. Gadis itu berdehem, sepertinya memikirkan sesuatu. Lalu, tiba-tiba.


"Kak, sebenarnya ayah dan ibu sudah tahu mengenai pil kontrasepsi ." Mei membuat pengakuan lagi.


"Apa?"


"Mereka duluan yang menemukan pil yang aku sembunyikan."


"Hah?"


"Maaf Kak!" Langsung memeluk kepala Rion. "Aku mengakui semua kesalahanku pada ayah dan ibu karena aku ketahuan minum pil kontrasepsi."


Apa ini, kenapa lucu sekali. Jadi semua tindakan perlindungan yang kulakukan di RS. Alih-alih marah, sekarang ketakutan Mei kembali terlihat lucu di mata Rion.


Rion tertawa dengan keras sambil mencubit pipi Mei.


"Dalam hati kau dan ibu pasti menertawakan ku kan?" Mencubit kedua pipi sekarang. "Ia, kan? Ibu pasti menertawakan ku."


"Aw, aw, Kakak! Aku tidak tahu kalau ibu, tapi jangankan tertawa, aku kan ketakutan karena Kakak marah. Mana sempat aku tertawa." Mei memukul tangan Rion supaya berhenti mencubit pipinya.


Sekarang memang terasa lucu kalau diingat-ingat. Tapi tadi, sama sekali tidak ada yang lucu pikir Mei.


Mereka tergelak berdua, Rion mendorong punggung Mei ke depan. Sampai bibir gadis itu menempel dibibirnya. lalu yang terjadi akhirnya, ciuman panjang yang mencoba melumerkan semua sekat dan kemarahan.


"Hah.... Hemmm, hemm."


Ciuman mereka berlanjut sampai beberapa babak. Sampai keduanya tersengal dan kehabisan nafas.


Setelah mereda, Mei meraih kedua pipi Rion.


"Kak, apa Kakak mau menjawab pertanyaan ku?"


Apalagi? Sebenarnya Rion Engan, karena tidak mau pertanyaan Mei merubah moodnya yang sudah membaik. Tapi tatapan Mei yang penuh harap membuatnya akhirnya menganggukkan kepala.


"Apa yang mau kau tanyakan?"


Mei tersenyum, lalu mencium bibir Rion beberapa kali.


"Terimakasih Kak tolong jawab ya. Aku ingin tahu, apa yang Kakak katakan pada ayah waktu itu benar-benar jujur, saat Kakak bilang, Kakak sudah tertarik padaku saat kita bertemu?" Sekarang, Mei hanya penasaran dengan ini. Apa dia pantas berbunga hatinya, karena pengakuan Kak Rion itu. Atau seharunya dia melupakan perkataan itu. Dan menganggapnya hanya bagian dari mimpinya. Tak apa Mei, toh sekarang kalian salin mencintai. Kata-kata itu menghiburnya.


Ah, kenapa kau bertanya itu Mei, membuatku malu saja.


"Kak!"


"Itu bukan kebohongan, itu bukan aku karang, memang seperti itu kenyataannya."


Deg.


"Bohong! Lantas kenapa Kakak malah bersikap seperti itu padaku?" Mei bicara dengan nada sinis tidak percaya.


"Itu... itu karena aku tahu kalau kau menyukai Serge!" Jawaban Rion tak kalah meninggi dan sinis. Tidak mau kalah dari Mei.


"Pantas, Kakak selalu marah kalau aku bicara pada Kak Ge."


"Cih..."


"Kakak tahu? apa yang aku pikirkan selama awal pernikahan kita?"


"Apa yang kau pikirkan?"


Mei memantapkan hati, untuk mengatakan semuanya hari ini.


"Kakak mau tahu? kalau begitu cium dulu."


Rion langsung tertawa dengan kata-kata Mei. Dia mengusap wajahnya, melihat Mei yang tergelak juga.


"Kalau Kakak mau tahu, cium dulu semuanya."


"Haha, baiklah. Akan kuberikan apa yang kau inginkan Mei."


Haha, dia lucu sekali.


Rion menjatuhkan Mei ke atas sofa, sementara dia sudah bertumpu dengan lututnya berada di atas Mei. Dia menarik bajunya, membukanya memalui kepala dan membuangnya.


"Buka!"


Mei menggeleng. Sambil tersenyum malu dan melengos ke kanan, dia bergumam tapi terdengar jelas di telinga Rion.


"Kakak sendiri yang buka."


"Haha... baiklah.. sesuai apa yang kau inginkan Mei."


Seringai nakal Rion sudah kembali.


Bersambung