Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
96. Ada Saja Ulahnya


Tik, tak, tik, tak. Waktu berjalan.


Merilin duduk di sebelah staf yang kembali bekerja. Wanita itu terlihat mencuri pandang ke arah Mei sebentar. Tergagap saat Mei juga melihatnya. Lalu tersenyum sekenanya dan kembali bekerja lagi.


Apa gosip tentangku sampai juga di lantai ini ya. Hah! Mencegah orang lain untuk tidak berburuk sangka pada kita, memang bukannya ranah manusia lagi. Karena hanya Tuhan yang bisa menggerakkan hati manusia. Mei cuma berharap, kalau siapa pun yang sedang ada di dalam ruangan Kak Rion segera pergi. Supaya dia bisa segera menyerahkan draf wawancara dan kembali ke ruangannya.


Dari pada termenung, Mei memilih melihat hp. Dia melihat pesan Harven lagi. Adiknya mengirim foto-foto kamar yang dia siapkan untuk ibu. Harven pasti sedang sekolah sekarang gumam Mei. Memikirkan Harven, Mei jadi melamun tentang apa yang diceritakan Harven kemarin.


Harven bilang hubungannya dengan Sheri rasanya aneh. Dulu mereka pacaran hanya karena Harven ingin membuat Sheri bosan dan akhirnya berhenti mengganggunya. Tapi, entah sejak kapan hatinya mulai terombang ambing. Sekarang Harven bahkan mengatakan, kalau dia merindukan Sherina setiap kali mereka berpisah.


"Aku seperti ingin selalu bersamanya, seperti aku ingin selalu bersama Kak Mei." Bahkan Harven memakai emot berkaca-kaca di akhir kalimatnya.


Lucu sekali, Mei menarik pesan Harven untuk dia baca ulang. Itu artinya kau sudah menyukai Sherina, begitu saja tidak paham. Mei dengan sombongnya berargumen, tidak sadar kalau hatinya juga sedang berusaha mati-matian menutupi kenyataan tentang perasaannya pada Kak Rion.


Di akhir pesan, Mei masih menekankan pada Harven, bahwa jangan sampai pacaran yang berlebihan, jaga sikap dan perlakukan Sheri dengan baik, seperti Harven ingin melihat Kak Mei diperlakukan baik oleh Kak Rion. Mei yakin, kalau dia memakai dirinya sebagai pengandaian. Bisa menjadi perisai untuk Harven. Jangan lupa belajar juga, sebentar lagi persiapan masuk universitas akan dimulai. Tetap mode kakak galaknya muncul.


Kak Mei sudah berjalan sejauh ini Ven, jadi kamu harus hidup dengan baik dan sukses. Saat sedang melamun, Mei merasakan kakinya ditoel. Terbangun dari lamunan, refleks ikut bangun dari duduk saat staf wanita bangun, saat seseorang keluar dari ruangan CEO. Mei hanya menundukkan kepala, tidak memperhatikan siapa orangnya.


"Mari saya antar."


Mei mengganguk dan mengikuti langkah wanita itu. Di balik pintu inilah Kak Rion berada. Suaminya, seseorang yang setiap hari ada di sampingnya saat tidur. Yang bahkan dia pukul pantatnya tadi pagi. Tapi, kalau pintu ini terbuka, Mei bahkan harus menyetel wajahnya. Supaya tidak tersenyum. Agar terlihat seperti orang asing.


Staf mengetuk pintu.


"Tuan Rion, pimred Merilin sudah menunggu, apa kami boleh masuk?"


Belum ada sahutan, tangan staf itu terlepas dari handle pintu. Karena tidak ada jawaban dari dalam, dia pun tidak berani membuka pintu. Melihat Mei, Mei hanya tersenyum karena dia tidak tahu apa-apa.


Sekedar info, di dalam Rion sedang merapikan penampilan, baik baju dan rambutnya. Supaya terlihat keren di depan Mei saat pintu itu terbuka.


"Apa saya titip saja..." Mei sudah menyodorkan map yang dia bawa, sambil tersenyum memohon. "Saya sudah menunggu terlalu lama." Sebelum staf itu menjawab, suara Rion terdengar dari dalam.


"Masuk!"


Hah! Aku masuk juga ke mulut harimau.


Pintu terbuka. Kak Rion sedang berdiri di dekat meja kerjanya. Dia melepas jas dan meletakkannya di belakang kursinya. Ah, apa yang kau lihat? Mei melirik staf di sampingnya, sepertinya dia terkejut melihat Kak Rion yang sedang memancarkan ketampanannya itu. Eh, Mei malu sendiri, karena sudah masuk ke dalam perkumpulan fans CEO.


Rion hanya mengangkat tangannya, staf wanita lalu menundukkan kepala tanpa bicara sepatah kata pun, dia keluar dari ruangan. Menyisa keheningan. Merilin menatap pintu yang di tutup staf itu dengan tercengang.


Sekarang, aku harus melakukan apa! Kenapa kau tiba-tiba kabur. Seharunya bawa aku juga!


Keheningan langsung pecah, saat Rion bicara.


"Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah!" Mode suami yang bicara seenaknya muncul. Dia sudah menjelma menjadi Kak Rion. Baik tingkah dan caranya bicara. Ruangan kantor ini sedang dia anggap seperti rumahnya sendiri. Memang si, ini kan perusahaannya. Tapi ini kan di kantor. Rasanya Mei mau menangis saking kesalnya. Mei melihat Rion mengangkat tangannya. "Mei!" Mengulurkan tangan di depan Mei.


Apa sih, dia mau apa? Mau aku menggulung kemeja yang dia pakai?


"Ia Kak kenapa?"


Mei mendekat, meraih kepalan tangan Rion. Saat tangan itu dia goyangkan, Mei semakin yakin kalau dia disuruh menggulung lengan kemeja. Dia lakukan tanpa perintah itu terucap, Rion tersenyum saat Mei mulai menggulung lengannya dan memahami perintahnya.


"Kau sudah lama datang?" Tangan satunya menyentuh ujung rambut Mei.


"Belum Kak, aku dari bertemu ayah." Ya, lumayan si, aku menunggu, tapi tidak terlalu lama juga kok. Batin Mei bicara kalau dia tidak berbohong.


Selesai menggulung lengan kemeja, baik yang kanan dan juga tangan kiri. Mei melihat kancing baju yang rasanya berdesakan. Glek. Otot lengan yang menonjol karena lengan baju di gulung.


Dia terlihat seksi! Aaaaa! Hentikan Merilin gila!


Kewarasan Mei melemah.


"Ini draf wawancaranya Kak, aku taruh di meja ya. Kalau begitu, aku permisi karena ada banyak pekerjaan." Kalau dia tidak segera pergi, bisa jadi dia akan terlena lagi.


Rion belum menjawab, dia menarik kursi kerjanya, lalu menjatuhkan tubuh. Dia bersandar sambil melihat Mei yang masih berdiri. Terlihat takut dan ingin segera melarikan diri. Kau pikir aku akan melepaskan mu dengan mudah, gumam Rion sambil menyeringai. Lucu juga kalau aku mengerjainya di kantor.


"Duduk!" Rion menarik map berisi draf wawancara. Meletakkan di depannya. "Siapa yang menyuruhmu duduk di sana." Melihat ke arah Mei.


Mei yang baru meletakkan pantat langsung berdiri dengan tegak. Kalau tidak duduk di sini, memang aku mau duduk di mana? Mata Mei berputar menyapu ruangan, ada tempat duduk lain, sofa. Tapi kan jauh dari meja kerja Kak Rion.


"Maaf Kak, jadi aku duduk di mana?"


Rion mendorong kursinya, mundur sejengkal. Lalu dia menepuk pangkuannya sambil menarik ujung bibirnya.


Apa! Ini kan di kantor! Bagaimana kalau staf yang tadi masuk, tidak, yang lebih fatal, bagaimana kalau Kak Serge tiba-tiba masuk. Saat Mei masih berkubang dengan kekagetan, dan bagaimana caranya menolak supaya Kak Rion tidak tersinggung. Laki-laki itu memukul draf wawancara.


Dia marah! Dia sudah tersinggung, bahkan sebelum aku mengatakan apa pun. Aaaaa! Tapi! Tapi kan!


"Dia tidak akan masuk."


Tanpa izin dari Rion, tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruang kerjanya, saat dia sedang ada di dalam. Serge sekalipun tidak akan berani memasuki ruang kerja Rion tanpa izin.


"Kalau nanti Kak Serge masuk bagaimana?"


"Merilin! Kau lupa peringatan ku."


Sebelum ancaman itu menguar, Mei sudah menjatuhkan tubuh, ke atas pangkuan Kak Rion. Menyebut nama Kak Serge seperti selalu memantik api. Padahal sudah dengan jelas Kak Rion mengatakannya, tapi Mei terkadang melupakan peringatan itu.


Jangan menyebut nama Kak Ge Mei, tidak ingat, kau bahkan disuruh cemburu kalau ada perempuan yang menyebut nama Kak Rion. Dan dia akan melakukan hal yang sama.


"Kalau aku menyuruhmu duduk, maka duduk dengan cepat dan jangan membantah." Sudah memeluk Mei yang ada dipangkuan, dan menggigit lengan Mei. Hah! Gadis itu cuma bergumam mulai deh. "Sekarang, bacakan." Rion menepuk draf di depannya. "Biar aku dengar langsung apa yang mau kau tanyakan padaku."


Aaaaa! Kau kan bisa membacanya nanti Kak!


Mei bisa merasakan, bibir Rion yang mulai menempel di tengkuknya. Saat matanya menangkap gerakan tangan, tangan Kak Rion sudah masuk melalui celah pinggangnya.


"Awwww." Tangan Rion mencubit pinggang Mei karena gadis itu malah diam saja.


"Baca!"


"Baik Kak."


Mei masih merasa beruntung, kata yang dia dengar bukan buka.


Sambil Mei membacakan draf pertanyaan satu persatu. Rion hanya bereaksi dengan memberi kecupan. Ditempat mana dia mencium, sesuka hatinya Rionlah. Yang pasti masih di tubuh Mei.


Mei berhenti setiap selesai dengan satu pertanyaan, sebelum melanjutkan ke pertanyaan lain. Duduk di pangkuan seperti ini sekarang, sepertinya sudah terasa nyaman. Karena Mei tidak memikirkannya lagi. Menyelesaikan membaca, sebelum ada yang mengetuk pintu.


Saat sampai di pertanyaan ke empat belas, Mei terdiam. Dia memutar kepala untuk melihat wajah Kak Rion. Seharusnya dia tidak melakukan itu di jarak sedekat itu. Matanya membelalak saat wajah Rion hampir menyentuh hidungnya.


"Maaf Kak!" Kaget beneran, dan senam jantung berlanjut.


Rion malah menyentuh dagu Mei saat kepala itu masih berputar, dan tentu saja, langsung memangsa bibir merah dan mungil itu, sampai membuat Mei gelagapan. Mereka berciuman selayaknya sedang ada di rumah sendiri.


Kenapa si Kak, kau begini, kalau aku jadi menyukaimu bagaimana? Kalau kau memperlakukanku seperti kau menyukaiku begini. Mei memejamkan mata, meneruskan ciuman mereka, sambil sudah payah menarik nafas.


Ciuman mereka terlepas, wajah Mei langsung memerah saat Rion menatapnya dengan lekat.


"Siapa ya tadi yang bilang tidak mau duduk di pangkuanku, karena takut di lihat orang. Ternyata memancing minta dicium sekarang." Rion menyeringai, lalu memberi kecupan di bibir dan hidung Mei. Gadis itu langsung memutar kepala, menghela nafas dan kehabisan kata-kata.


Kau kan yang menciumku duluan Kak, aku hanya merespon dan menikmati. Eh! Mei menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Lucunya, gumam Rion, sambil masih peluk-peluk dan cium-cium sesuka hatinya.


"Teruskan..."


"Baik Kak." Mei menarik draf wawancara dan membalik ke lembaran berikutnya. Halaman terakhir, dia sudah senang, karena pangku-pangkuan ini akan segera berakhir, dia juga bisa kembali ke ruangannya. "Pertanyaan selanjutnya..."


"Ciumannya, teruskan ciumannya."


Apa!


Rion tertawa saat tubuh dipangkuannya gemetar. Apa lagi, saat dia malu-malu memutar kepalanya. Menunjukkan wajahnya yang memerah. Rasanya bisa gila aku! Kenapa kau menggemaskan begini si. Rion lagi-lagi langsung menyambar bibir yang bergetar itu. Ciuman babak kedua berlanjut.


Mei yang sedang memejamkan mata tersentak kaget, dan langsung mendorong tubuh Rion. Walaupun ciuman mereka belum selesai. Ketukan pintu keras terdengar. Suara Kak Serge.


"Ini aku, apa aku boleh masuk?"


Wajah Mei pucat, dia mau beringsut turun, tapi Rion malah melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.


"Kak Rion, itu kan Kak Serge."


"Kenapa? Kau mau bertemu dengannya dan bicara dengannya?"


Apa! Tidak!


"Teruskan, dia juga tidak akan masuk sebelum aku menjawab. Baiklah, sekali lagi saja."


Rion menoel dagu Mei, karena sepertinya gadis itu mau menangis saking merasa frustasinya. Kau takut ketahuan laki-laki yang kau sukai! Cih.


Ciuman yang katanya terakhir itu, jauh lebih lama dari babak kedua tadi.


Di luar pintu Serge sedang bertanya pada stafnya dengan rentetan pertanyaan. Sejak kapan pimred Merilin datang? Bagaimana suasana hati CEO Rion tadi saat pimred masuk. Pertanyaan itu malah membuat staf kembali curiga. Apa yang desas desus itu benar? Tidak!