
Senyum bisnis keduanya sudah lenyap. Sekarang berusaha menjatuhkan melalui perang dingin.
"Kalian seakrab apa?"
"Aku mengenal Kak Rion jauh sebelum menikah. Kami sangat dekat dulu." Amerla mengumbar kenangan masa lalunya. Berusaha memancing rasa rendah diri istri yang tidak diperkenalkan kepada publik di depannya.
"Oh, apa kalian senior dan junior di kampus, saya junior Kak Serge di kampus. Apa Anda kenal dengan Kak Serge juga, hemm kalau Anda kenal dengan suami saya, sepertinya pasti juga tahu Kak Serge. Saya tidak menyangka lho akan bertemu Kak Serge yang dulunya senior saya di kampus, sekarang ternyata dia jadi sekretaris suami saya. Haha, takdir memang terkadang tidak bisa ditebak ya. Seperti takdir saya dengan suami saya. Hoho." Mei menutup mulut, lalu memukul pahanya sendiri.
Aku ini sedang bicara apa si! Mei kau sedang bicara apa!
"Apa benar Anda junior dan senior dengan suami saya? kalau ia sama dengan saya donk dan Kak Serge."
Kau kesal kan, apa sekarang kau mau mengaku, kalau kau mantan pacar Kak Rion, kalau kau wanita yang dicintai Kak Rion.
Suami saya, suami saya, kau sengaja memakai kosa kata itu kan! Dasar wanita tidak tahu malu. Eh, tenanglah Amerla, wanita itu pasti saking bangganya menikah dengan Kak Rion jadi dia sedang pamer padamu. Lagi, lagi penyakit merasa tersakiti Amerla kambuh. Tangan Amerla terkepal berusaha menenangkan diri. Dia tidak level denganmu.
"Ya, aku kenal Kak Serge, kami dulu juga sangat akrab." Amerla sudah bicara dengan tenang lagi. Dia berhasil menguasai diri.
"Benarkah? Kalian bertiga? Wahhh, pasti seru sekali. Apa Anda bisa menceritakan sedikit bagaimana dulu suami saya dan Kak Serge. Saya ingin tahu, bagaimana suami saya saat masih muda. Eh, sekarang, suami saya juga masih muda. Hehe."
Aku ini sedang apa sih! Kenapa aku memanas-manasi Amerla, apa aku sedang kesal karena dia wanita yang dicintai Kak Rion. Mei memarahi hatinya, saat hatinya mengatainya kalau dia cemburu makanya dia melakukan hal begitu. Dia berteriak marah pada hatinya sendiri. Siapa yang cemburu! Aku hanya kesal. Titik. Aku tidak cemburu.
Mei tidak tahu pasti kenapa dia sekesal ini pada Amerla sekarang, dan memanasi gadis itu. Padahal kalau dia menahan diri sedikit saja, pasti tidak akan menyulut api yang sedari tadi memang sudah membara di dada Amerla. Kata suami saya seperti bensin yang menyiram kecemburuan Amerla untuk berkobar.
"Aku, wanita yang dicintai Kak Rion." Tiba-tiba Amerla bicara, membuat Mei tersentak.
Amerla juga kaget dengan kata-katanya sendiri, sebenarnya dia belum mau mengatakan ini dipertemukan pertamanya dengan Merilin, tapi entah mengapa mendengar kata suami saya yang berulang kali diucapkan gadis di depannya membuatnya kesal dan tersulut emosi.
"Haha, Anda bercanda kan? Kenapa tiba-tiba Anda bicara begitu Nona Amerla?" Mei berusaha mempertahankan suaranya yang bergetar. Dia menekan kukunya dengan kuku yang lain supaya tetap fokus. "Kenapa Anda jadi wanita yang dicintai suami saya? Lucu sekali. Haha."
Amerla mengeram. Suami saya, dia benci dua kata itu. Apalagi saat teringat dengan suaminya sendiri yang menyebalkan.
"Aku hanya kasihan padamu Merilin, kau menikah dengan Kak Rion, tapi kau bahkan tidak diumumkan pada publik, semua orang tidak tahu kalau Kak Rion sudah menikah." Senyum Amerla muncul. "Saat makan malam, aku bahkan mendengar ayah mertuaku mau menjodohkan Kak Rion karena berfikir dia belum menikah." Amerla menebar senyum simpatinya. "Bagaimana hubunganmu dengan Kak Rion? Apa kau tidak berfikir sekarang, dia tidak mengumumkan hubunganmu ke publik, karena dia masih mencintaiku."
Wajah Mei memerah. Dia menggigit bibirnya. Dia tidak tahu alasan Kak Rion apa, tapi mungkin memang benar seperti apa yang diucapkan Amerla.
Bisa-bisanya dia berlagak kasihan padaku di awal, lalu memanah jantungku dengan kalimat menusuk begitu. Hah! Anda memang cantik Nona Amerla, tapi kali ini, wajah cantik Anda tidak bisa memadamkan rasa kesal di hati saya. Mei sedang berusaha menahan emosinya. Perlahan, perlahan, dia menarik nafas.
Mantan kok masih sombong, apalagi kau kan yang mencampakkan Kak Rion! Dih.
"Dulu, aku dekat sekali dengan Kak Rion. Dia mencintaiku dan memperlakukan ku dengan hangat." Amerla menyentuh rambutnya. "Dia senang sekali dengan rambutku, katanya rambutku cantik, dia suka menciumi rambutku." Senyum mengejek muncul di bibir Amerla saat melihat Mei tertunduk sambil mencengkeram kedua tangannya dipangkuan. Gadis itu tertawa dalam hati saat melihat rambut ikal Merilin.
Kau terkejut ya? Menyedihkan sekali, kau pikir hanya dengan kata suamiku, kau bisa menghapuskan kenangan kami. Amerla kembali puas menertawakan Merilin dalam hati. Kalau aku berpisah dengan suamiku, dan mengejar Kak Rion, dia pasti akan berpaling lagi padaku. Kau hanya pelarian sesaat Kak Rion.
Amerla masih tersenyum.
"Lucu sekali." Mei bicara masih dengan kepala tertunduk. "Menyedihkan."
"Apa? Kau bilang apa? Menyedihkan? Siapa yang menyedihkan? pernikahanmu saja tidak diumumkan kepada publik! sekarang kau menyebutku menyedihkan!"
Perempuan yang sedang cemburu, bahkan bisa merubah tekanan udara di sekitar mereka. Itu ternyata fakta.
"Anda lucu sekali nona Amerla, padahal Anda sudah menikah dengan CEO Andalusia Mall, tapi kenapa Anda bicara seolah-olah suami saya itu kekasih Anda ya."
"Kau!"
Kakiku gemetaran, tenanglah Mei, pertahankan ekspresi menyebalkan mu ini, jangan mundur sekarang. Walaupun aku cuma boneka Kak Rion, tapi kesal juga mendengarmu mengatakan itu Amerla. Padahal kau sudah menikah kan! Tak kalah berkobar emosi untuk menjatuhkan Amerla.
Memang kau mau mencampakkan suamimu dan kembali pada Kak Rion sekarang! Lantas aku bagaimana? Eh, eh, apa yang aku pikirkan sekarang!
Aku balas dendam karena kau sudah menyakiti Kak Rion, karena kau membuat laki-laki itu membenci perempuan. Termasuk membenciku. Lagi-lagi hati Mei sedang perang batin, tidak mau mengakui kalau dia sebenarnya cemburu.
"Kau sudah gila ya! Aku wanita yang dicintai Kak Rion!" Amerla tidak perduli, saat Merilin menyebut nama Andalusia Mall sekarang. "Kalau aku bercerai dan kembali padanya, kau pikir bagaimana nasibmu nanti."
Merilin bangun dari duduk. Mengibaskan rambutnya. Mengusap lehernya, menaikkan rambutnya ke atas. Menarik kerah dress selutut yang dia pakai sekarang.
Kena kau!
Wajah Amerla berubah. Sepertinya semua tingkah Mei geliat geliut menggunakan rambut dan tangannya barusan berhasil. Mei sedang pamer tanda kecupan di leher dan di atas kerah bajunya yang tadi tertutup rambutnya yang tergerai.
Lihat ini, ini semua kelakuan Kak Rion!
Mei mendekatkan wajah, semakin membuat wajah Amela menahan kesal. Tanda kecupan yang membanjir di leher Merilin semakin terlihat jelas di matanya.
"Aku tidak tahu sedekat apa Anda dengan suami saya dulu, ya, mungkin suami saya mencintai Anda dulu, tapi sekarang." Mengibaskan rambut. "Anda tahu kan sedekat apa saya dan suami saya." Senyum jahat Mei muncul. "Saya juga dulu pernah menyukai seseorang, tapi itukan sudah jadi mantan. Hoho." Bibir Amerla bergetar, dia sedang menahan amarah. "Kalau begitu saya permisi Nona Amerla, mohon jangan menyapa saya kalau bertemu. Demi kesehatan mental kita bersama kan." Bibir Mei tersenyum angkuh.
Aku pasti gila! Bagaimana aku bisa membanggakan tanda kecupan di leherku pada orang lain. Aku pasti sudah gila! Aku malu sekali! Aku pasti sudah gila. Tapi, aku puas sekali melihat wajahnya yang membeku itu.
Setelah melangkah pergi meninggalkan Amerla, wajah Mei meledak, berasap karena malu sudah memamerkan lehernya.
Sementara itu, di balik pagar, seseorang yang tadinya sudah meledak-ledak marah, terduduk sambil memegang perutnya. Dia tertawa, saat melihat Mei dengan percaya dirinya menunjukkan tanda kecupan di lehernya.
Lucu sekali Mei, kau lucu sekali.
"Kak Rion!"
Tawa Rion yang dia tahan akhirnya meledak, saat melihat wajah malu Mei yang memerah, saat lari meninggalkan Amerla berdiri di depannya sekarang.
"Ka, kapan Kak Rion datang."
"Lucunya, istriku lucu sekali."
Eh, tumben dia tidak memanggilku bonekanya.
Bersambung