Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
59. Bertemu Serge (Part 1)


Mobil yang ditumpangi Merilin memasuki kawasan perumahan, sesuai dengan alamat yang dikirim Harven. Gadis itu segera fokus melihat nomor rumah. Berhenti memikirkan Rion.


Dia mau memberiku hadiah apa ya? kalau aku boleh memilih, aku masih berharap dia mengundang Kak Brama dan Harven untuk makan malam di apartemen.


Sudah menyuruh otaknya berhenti memikirkan Rion, malah wajah itu terbayang lagi.


Mobil menepi di depan gerbang sebuah rumah saat senja masih terlihat di ufuk barat. Nomor rumah yang disebutkan Harven tadi akhirnya dia temukan. Saat Merilin keluar dari mobil, dia terperanjat kaget karena Kak Serge yang keluar dari dalam rumah.


Laki-laki itu mendorong gerbang, supaya mobil Merilin masuk ke dalam. Merilin yang sudah turun dari mobil, akhirnya naik lagi, sambil melirik Kak Serge yang berdiri di dekat gerbang, mobil masuk ke halaman rumah.


Kak Ge memakai baju santai, sudah lama aku tidak melihatnya. Dia tetap tampan seperti biasanya.


Padahal Mei tidak mengharapkan kejutan sebesar ini, karena di tahu Rion sedang ada pertemuan penting dengan rekan bisnis. Jadi dia berfikir kalau Kak Serge pasti akan bersamanya. Tapi, situasi Ini membuatnya sangat senang, dia seperti mendapat jakpot, bisa melihat dan bicara lagi dengan Kak Ge. Terselip senyum luapan kebahagiaan dibibirnya yang berusaha dia tahan. Supaya tidak terlalu kentara kegembiraannya.


Aku tidak mengkhianati Kak Rion ya, aku hanya sedang healing, mencari ketenangan dan penghiburan hati dari wajah tampan dan hangat milik Kak Serge. Ketika sesaat tadi hatinya mengingatkan dirinya kalau sekarang dia bahkan tidak boleh diam-diam menyukai Kak Serge karena akan dituduh sebagai pengkhianat oleh suaminya yang pemarah dan sensitif, manusia bunglon yang kadang di luar nalar kalau sudah marah.


"Kak Ge, kok ada di sini? katanya Kak Rion sedang ada rapat penting dengan klien." Walaupun sebenarnya Merilin sangat senang saat melihat Serge, tapi dia penasaran dan bertanya.


"Ah, Rion pergi dengan Presdir, jadi cuma sekretaris Presdir yang mendampingi mereka."


Semoga semua baik-baik saja, gumam Rion. Pertemuan dengan pihak Andalusia Mall. Kalau tidak berjalan dengan lancar pertemuan hari ini, besok bisa jadi, dia akan menjadi pelampiasan kemarahan Rion.


"Aku jadi pulang cepat, Harven bilang kau mau datang, jadi aku sengaja menunggumu Mei."


Merilin hanya mangut-mangut, pasti klien penting kalau sampai Presdir juga ikut serta. Bukan urusan karyawan rendahan sepertinya. Karena hatinya lebih berbunga mendengar kalimat terakhir Kak Serge. Laki-laki itu sengaja menunggunya, sudah menjadi obat lelahnya seharian ini.


"Kau membawa banyak barang Mei?" Serge mendekat ketika Merilin membuka pintu belakang dan mengeluarkan koper dan tas. "Bukannya ini barang pribadimu yang kau bawa ke rumah Rion."


"Ia Kak, Kak Rion mau aku membuang semuanya, dia tidak suka aku memakai barang lamaku. Katanya ini sampah." Merilin merasa menemukan tempat untuk mengadu. Seperti biasa Kak Ge akan tersenyum dengan hangat dan mengusap kepalanya.


"Sabar ya Mei, hah Rion ini memang dasar."


Hati Merilin berdebar kuat, saat bekas sentuhan Kak Ge terasa hangat di kepalanya. Kata-katanya yang membelanya juga serasa menjadi oase di hatinya.


"Kau pasti sangat bekerja keras selama beberapa hari ini untuk menyesuaikan diri dengannya Mei, sini biar aku bantu. Harven dan Sheri sedang mengerjakan tugas di teras belakang. Hah, Rion memang sangat perduli dengan penampilannya. Jadi dia mau segala sesuatu di dekatnya itu sesuai dengan seleranya." Merasakan koper dan tas yang berat, pasti semua barang pribadi Merilin ada di dalamnya. "Tolong maklumi sifatnya yang satu ini ya."


Merilin tidak menjawab apa pun hanya tersenyum, menunjukkan kalau dia baik-baik saja dengan semua tingkah Rion, dia malah sedang merasa bersalah dengan cinta di hatinya sekarang, cintanya pada Kak Ge yang sekarang sudah ternoda. Melihat Kak Ge dari dekat begini, entah kenapa nuraninya bergejolak. Dia merasa berkhianat, tapi masalahnya Kak Ge juga tidak merasakan apa pun. Hah, Merilin bingung sendiri hatinya sekarang bagaimana. Apa yang dia inginkan sekarang sebenarnya apa untuk hubungannya dengan Kak Ge.


"Kak Mei sudah datang?" Harven mendekat, lalu tanpa bisa ia tahan lagi, dia memeluk bahu Merilin. "Padahal kita ketemu kemarin, tapi entah kenapa sekarang aku selalu kangen Kak Mei." Jawabannya tentu karena Mei yang tidak bisa ditemui Harven setiap hari, itulah pemicu kerinduan di hati Harven setiap kali melihat Mei di depannya.


Tangan Merilin terangkat, mengusap kepala adiknya. Gadis itu tersenyum saat melihat Sherina. Dia mengangkat kedua tangannya, ayam goreng dan buah stroberi dan mangga yang dia beli tadi. Satu tas makanan ringan dan Snack yang juga dia beli untuk adiknya.


"Ayo makan, nanti Kak Mei kupaskan buah juga. Kak Ge juga makan bersama kami ya."


Mereka makan bersama sambil duduk di karpet ruang keluarga, karena tidak ada meja makan di rumah ini. Harven yang menolak meja makan, dia bilang tidak membutuhkannya. Karena hanya makan sendirian, dia malah akan merasa sedih setiap melihat meja makan. Alasan itu sudah membuat Serge mencoret meja makan dari daftar belanjaan.


Obrolan mereka merambat kemana-mana. Membicarakan sekolah Harven, universitas mana yang akan dia ambil. Sampai pekerjaan Mei yang akan melakukan wawancara khusus dan CEO. Sheri juga bercerita versinya, tentang kejadian saat pertama kali bertemu dengan Harven. Peristiwa yang membuatnya jatuh hati pada Harven.


"Sampai hari ini kami selalu memberi makan kucing-kucing liar itu Kak, mereka jadi seperti anak-anak angkat kami. Hehe. Ven kenapa tidak kita bawa pulang saja ke rumah kucing-kucingnya." Sheri berbinar-binar saat bicara tentang kucing yang mempertemukan mereka di gang sempit dekat sekolah.


Eh, sepertinya Harven terlihat tertarik. Daripada di rumah sendirian, kalau ada kucing yang bisa dia ajak bermain, pasti akan lebih menyenangkan kan. Keduanya sepakat akan membawa dua kucing itu pulang ke rumah Harven nanti.


Sambil terus makan, makan dan kunyah-kunyah merek masih membicarakan ini dan itu . Setelah selesai makan, tak terasa lampu jalanan sudah menyala. Di luar juga sudah sedikit gelap. Harven dan Sherina sudah belajar di ruang tengah. Sementara Serge dan Merilin duduk di teras rumah, sambil menikmati buah yang dipotong Merilin tadi.


Serge melirik Merilin sekilas, lalu meraih satu buah stroberi. Hup, hup, dia ambil lagi, kunyah-kunyah, sambil memantapkan hati yang gelisah. Dia mau menanyakan perkara penting sekarang. Bagaimana hubungan Mei dan Rion kalau sedang berdua saja di rumah.


Beberapa kali dia melihat Rion mencium Mei tadi di ruangan Presdir, dia takut, kalau sentuhan Rion bukan hanya sebatas ciuman di pipi Merilin.


"Mei.."


"Ia Kak." Mei juga bangun dari lamunan, dia sedang bernostalgia dengan masa lalu. Dulu dia sering sekali duduk berdua begini bersama Kak Ge. Lalu dari mulutnya dia sering bercerita tentang masalahnya. Kak Ge yang hatinya hangat, menerima curhatnya, dan menanggapi dengan serius. Ah, dia merindukan momen-momen itu. "Kenapa Kak?"


"Bagaimana hubunganmu dengan Rion? Dia memperlakukanmu dengan baik kan?"


Aku melihatnya menciummu tadi, dia tidak menyentuhmu, atau melakukan pelecehan padamu kan. Ah entah kenapa pikiran Serge mulai mengarah ke hal-hal yang berbau dewasa. Sesuatu yang masih diluar nalarnya, cuma dia ketahui dari film atau internet saja. Kalau ada hal seperti itu yang terjadi, rasa bersalah saja tidak akan cukup untuk membayar penyesalan Serge, karena telah menyeret Merilin ke dalam pernikahan ini. Dia seperti menyodorkan Merilin masuk ke dalam mulut harimau.


Tidak, Rion membenci perempuan, dia kan benci pada perempuan. Tidak mungkin terjadi apa-apa diantara Mei dan Rion. Laki-laki itu masih berusaha mempertahankan apa yang dia percayai sebelumnya.


Aku menawarkan pernikahan ini pada Mei, karena aku yakin, Rion tidak akan menyentuh Mei secara fisik, apalagi sampai ke tempat tidur. Serge sedang harap-harap cemas menunggu jawaban Merilin.


Bersambung