
Rion melangkah maju mendekati kursi yang di duduki Merilin dan Brama. Seperti ada angin yang lewat, dan menggoyangkan rambutnya. Dia terlihat tampan, sambil membuat gerakan menyapu rambut dengan tangan kanan. Namun, ketampanan itu segera memudar di mata Merilin, saat laki-laki itu bicara.
"Aku menunggumu di dalam Mei, makanya aku keluar mau menyusulmu." Menatap Brama dan Mei bergantian. "Kenapa kalian lama sekali menemui dokter? takut terjadi apa-apa. Tapi ternyata kalian sedang berduaan di sini," ujar Rion dengan nada tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
Kata berduaan yang diucapkan Rion seperti mengarah pada hubungan yang lain. Berduaan dengan seseorang yang seharusnya tidak dilakukan.
Dia kan Kak Brama Kak, apa kau juga akan marah kalau bonekamu bicara dengan keluarganya sendiri. Hah! Merilin mau protes juga tidak bisa, akhirnya hanya menatap wajah kesal Rion. Bingung sendiri bagaimana mau bereaksi bagaimana di hadapan Kak Brama.
Saat Mei belum bicara, Brama yang duluan bicara.
"Maafkan saya Tuan, saya hanya bicara dengan Mei sebentar karena ada sesuatu yang kami bahas." Brama tanpa sadar bicara dengan mode bahasa formal, karena terintimidasi dengan tatapan Rion yang menusuk.
Rion merubah ekspresi wajahnya, membuat Mei merinding. Senyumnya selintas terlihat, senyum kalau mau mengerjainya.
Dan benar saja.
"Kakak ipar, kenapa bicara dengan formal begitu." Menutup mulutnya dan menunjukkan sorot mata sedih. "Padahal aku sudah berusaha mengakrabkan diri dengan kalian, tapi tetap saja aku dianggap orang asing ya oleh kakak ipar?" Bergumam entah apa yang cuma bisa didengar olehnya. Lalu tersenyum pada Brama. "Kau bisa memanggil namaku seperti kau memanggil Mei, kakak ipar."
Hah! Merilin tercengang dengan cara bicara Rion yang membangkitkan rasa bersalah Kak Brama, Brama bangun dari duduk lalu menundukkan kepala minta maaf lagi, malah semakin mencipta jarak. Membuat Merilin jadi serba salah. Dia menarik lengan baju Brama sambil tertawa. Untuk mencairkan situasi.
"Kak Brama, Kak Rion cuma bercanda. Ia kan Kak?"
Aku mohon jawab saja ia, supaya kecanggungan ini cepat selesai.
Tatapan memohon Merilin, membuat bibir Rion menyeringai.
"Aku hanya bercanda kakak ipar, istrimu sedang mencarimu tadi, pergilah, temui dia."
Brama tidak bisa tertawa sekarang, candaan Rion baginya tidak lucu, karena saat bicara dan tatapan mata terlihat sangat serius. Akhirnya Brama memilih untuk kabur saja dari situasinya sekarang.
"Baiklah Mei, aku masuk duluan ya. Rion juga, aku masuk duluan ya." Lidahnya hampir keseleo lagi saat menyebut adik iparnya dengan namanya.
"Ia Kak."
Merilin yang menjawab, Rion hanya melambaikan tangan. Lalu mengibaskan tangan, sambil mulutnya keluar kata hus, hus mengusir.
Setelah Brama menghilang dari pandangan, dia duduk di samping Merilin, tempat yang tadi di duduki Brama. Rion menjatuhkan kepala sama persis di tempat Brama tadi menjatuhkan kepala. Tangannya juga melingkar di bahu Merilin, bedanya sekarang Rion merapatkan tubuh.
"Kak, Kak Rion."
"Kenapa? Kau tidak mau aku menempel padamu, sedangkan kau membiarkan kakakmu menempel padamu." Nada suara ketus langsung menusuk telinga Merilin.
Kau melihat semuanya ya! Hah! lantas apa kau akan marah juga melihat kedekatan ku dengan kakak kandungku.
"Bukan begitu Kak." Merilin mengusap tangan Rion yang sedang memeluknya. Memberi sentuhan. "Kak Brama tadi minta maaf padaku."
Merilin menghentikan kata-katanya, dia tidak mau sampai Rion mengetahui aib keluarganya. Dia menggigit bibir karena telah melakukan kesalahan. Berharap dengan diam dan tidak melanjutkan kata-kata akan membuat Rion menganggapnya angin lalu.
Tapi, kau terlalu berharap lebih Mei. Karena semua tentangmu sekarang telah membuat Rion penasaran. Bahkan Rion ingin tahu semua tentang mu sekarang, bahkan yang hanya sekedar kau pikirkan di kepalamu saj membuatnya penasaran.
"Kenapa dia minta maaf, memang salahnya apa padamu?"
Merilin sudah merasa terlambat untuk menutup mulut. Tapi dia masih ragu untuk bicara.
Rion mundur ke belakang, mengangkat kakinya, melangkahi kursi taman, supaya bisa memeluk Mei lebih dekat. Meraih dagu Mei, memaksanya melihat ke arahnya.
"Kau tidak mau menjawab? Perlu ku gigit dulu bibirmu baru menjawab?" Sambil menggoyangkan dagu. Merilin yakin kalau dia diam, Rion benar-benar akan merealisasikan kata-katanya sekarang.
Ih, apa sih. Mulai!
Akhirnya seperti air mengalir, keluarlah deretan cerita, seperti sebuah dongeng dibacakan dari mulut Merilin. Perihal asal mula menjauhnya hubungannya dengan Kak Brama. Hutang ayah yang telah merubah hidupnya. Pernikahan Kak Brama yang dimulai dari kebohongan. Sampai akhirnya Serge seperti menggantikan sosok seorang kakak bagi Merilin.
Mendengar alasan kedekatan Merilin dengan Serge, membuat Rion jadi sebal juga pada Brama. Andai saja Brama tidak pergi begitu saja, pasti Mei tidak akan bergantung sebesar itu pada Serge, gumam Rion kesal menyebut nama Brama.
Merilin meneruskan ceritanya, tentang Kak Brama yang dikejar rasa bersalah sampai mimpi tentang Mei yang memusuhinya, dan akhirnya pertemuan hari ini membuat Kak Brama minta maaf.
"Kakakmu sialan juga ya."
Kalau dia tidak kabur, kau pasti tidak sedekat ini dengan Serge. Inti makian Rion ini.
Merilin tidak bisa membantahnya, namun juga dia tidak mengiyakan. Toh sekarang hubungan mereka sudah baik-baik saja.
"Kami sudah berbaikan Kak, dengan ini aku juga lebih senang dan tenang. Bahkan Kak Brama sampai bilang untuk jangan menghubungi Kak Serge kalau ada apa-apa. Dia mau yang pertama aku hubungi, hehe, dia sudah kembali jadi kakakku seperti dulu." Adik yang bangga karena disayang oleh kakak laki-lakinya, secara spontan ditunjukkan Mei.
Mendengar perkataan Merilin, manusia bunglon itu berubah pikiran tentang Brama lagi.
"Kakakmu tidak terlalu sialan juga si, dia kan sudah minta maaf. Kau boleh berkirim pesan padanya."
Ah, syukurlah, kau tidak terlalu aneh sampai mengganggap aku pengkhianat karena dekat dengan Kak Brama.
Dari pada kau berhubungan dengan Serge, lebih baik dengan kakakmu itu. Aslinya yang ada dipikiran Rion yang ini.
"Tapi, aku masih kesal Mei."
"Kau sengaja kan, mempertemukan aku dengan kakak dan adikmu." Menyentuh dagu Mei lagi. "Kau sengaja memanggil mereka, padahal aku sudah bilang, aku tidak mau terlibat dengan keluargamu."
Mau aku bicara jujur juga, kau pasti tidak percaya kan. Jadi Mei berfikir, mungkin inilah cara Tuhan menjawab doa-doanya selama ini. Mengabulkan kerinduannya pada keutuhan keluarga sepeninggal ayah. Hingga gadis itu tidak menyesal bertemu Bram hari ini.
Sedangkan dalam hati, Rion juga bergumam pelan, sambil mencium pipi gadis yang dia peluk.
Tapi hari ini lumayan juga, aku melihat sosok Mei yang sebenarnya disekeliling orang-orang yang ia sayangi. Rion juga melihat kelemahan terbesar dalam hidup Mei. Karena orang-orang yang Rion temui hari ini, gadis dalam pelukannya terjerat dengan tali kuat dikakinya, untuk tidak bisa lari dan mengkhianatinya. Ya, seharusnya aku berterimakasih pada mereka kan. Karena mereka Mei tidak akan pernah lari dariku. Tapi, untuk yang satu ini tidak akan diakui Rion di depan Merilin tentunya.
Apa sekarang kami masuk ya, ibu pasti sudah menunggu. Merilin ingin menyudahi pelukan Rion, tapi laki-laki itu belum terlihat mau beranjak.
"Terimakasih ya Kak, sudah mau menyapa Keluargaku dengan ramah." Berterimaksih saja dulu Mei, sambil pelan-pelan mendorong tubuh Rion.
"Kau tahu akting kan, aku berakting seperti di depan ibuku."
Ia, akting, hanya akting, kalau sekarang kau memelukku sambil mencium pipiku mau menunjukkan akting pada siapa Kak! Rasanya Mei ingin menuding hidung Rion dengan pertanyaan ini. Manusia bunglon yang suka sekali dengan skinship.
"Mei..."
"Ia Kak?"
"Kenapa kau ingin mengundang kakakmu dan adikmu untuk bertemu denganku?"
Beberapa saat Merilin terdiam, apa sekarang harus menjawab jujur, alasan sebenarnya dia ingin Rion mengundang keluarganya ke apartemen. Sebenarnya alasannya sangat sederhana.
"Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku bahagia dengan pernikahan kita Kak, jadi Kak Brama maupun Harven tidak akan khawatir."
Kak Brama laki-laki dewasa yang cukup peka pada situasi, Harven adalah adik yang selalu mengkhawatirkan kakak perempuannya. Kalau mereka sudah melihat Merilin hidup dengan baik tentu mereka akan mengubur perasaan curiga dan kekhawatirannya mereka kan. Itulah alasan sebenarnya.
Tapi entah kenapa, yang ditangkap Rion adalah kata-kata Mei, tentang dia bahagia dengan pernikahannya. Ada yang terlihat menahan luapan perasaan senang di hatinya.
Rion melengos, supaya senyumnya tidak dilihat Merilin.
"Cih, aku masih malas berhubungan dengan keluargamu, jadi anggap ini sebagai bonus untukmu."
Mei tersenyum, lalu mengecup leher Rion tepat di atas kancing kemeja pertama. Laki-laki itu terperanjat kaget dengan ciuman tiba-tiba itu.
"Terimakasih ya Kak, aku sangat berterimakasih untuk hari ini."
Sepertinya dia senang, memalukan sekali menciumnya duluan.
"Lagi!"
Hah! Saat Mei melihat ke arah Rion, laki-laki itu mendongak sambil menunjuk lehernya yang bagian kanan, minta di kecup juga. Mei yang toleh-toleh, setelah merasa aman buru-buru dia mendaratkan kecupan di tempat yang ditunjuk Rion.
"Lagi!"
Apa si Kak, ini kan di tempat umum.
Saat baru mau mendekatkan bibir suara deheman membuat Merilin mundur, hampir terjungkal dari tempat duduknya untung Rion menangkap tubuhnya. Harven memalingkan wajah, sambil menutup mulutnya dia bicara.
"Maaf Kak Mei, ibu minta aku memanggil Kak Mei. Kak Brama membawa makan siang, jadi ibu mau mengajak kalian makan sing juga."
Saking malunya terpergok Harven, Mei tidak menjawab, wajahnya tertunduk merah padam. Harven yang juga malu, tidak melihat ke arah Mei. Dia berdehem beberapa kali.
"Sebentar lagi kami ke sana, pergilah duluan." Rion yang menjawab, sambil mencubit pinggang Mei. Laki-laki itu senang sekali melihat ekspresi Mei sekarang. Apalagi saat Mei menahan mulutnya untuk tidak menjerit.
"Baik Kak, aku ke kamar ibu dulu."
Harven langsung memutar tubuh dan lari secepat kuda berlari di arena pacuan kuda. Melesat tanpa menoleh. Merilin masih menutup wajahnya.
"Wahhh, bukannya aku barusan menolongku lagi Mei, adikmu akan berhenti khawatir mulai sekarang."
Merilin tidak menjawab. Rion mendekatkan bibir ke telinga.
"Yang ini tidak gratis Mei, untuk akting dengan adikmu aku perlu bayaran khusus."
Dasar manusia pecinta skinship! Aaaaa! satu gigitan di telinga Merilin membuat gadis itu menjerit tanpa suara.
Rion tertawa, lalu mencium pipi Merilin. Bangun dari duduk, mengajak Merilin berjalan menuju gedung RS.
"Kau harus berakting lebih maksimal di depan ayah dan ibuku nanti, aku menantikannya."
Deg... sudah bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi di rumah orangtua Kak Rion nanti.
Tidak!
Setelah setengah jam mereka berdua baru masuk ke ruangan rawat inap entah mampir ke mana dulu mereka, makanan sudah terhidang di meja. Sambil meneruskan obrolan, mereka makan dengan lahap tertawa mendengar ibu bercerita tentang ayah lagi, entah cerita keberapa kalinya mereka dengar. Karena mereka sedang hidup di dunia fantasi ibu sekarang.
Beesambung