
Setelah ketegangan di kantin kantor berakhir, dengan Serge membawa senior Mei yang menjadi sumber gosip. Satu persatu orang meninggalkan kantin kantor. Bahkan para bibi penjaga kantin pun ikut keluar setelah memastikan api kompor mereka mati semua. Di depan kantin dua pengawal yang datang atas perintah Serge berdiri tegak menghadap ke depan. Memastikan tidak ada siapa pun yang masuk ke dalam kantin.
CEO Rionald dan pimred Merilin tertinggal berdua di dalam kantin.
Keramaian berpindah ke ruang kesehatan, petugas kesehatan yang biasanya santai-santai terlihat panik karena mendapat serangan pasien. Rata-rata mengalami shock karena mendengar CEO mereka ternyata sudah menikah. Apalagi karena menikah dengan Merilin.
Dia kan Merilin, yang seumur-umur ke kantor bajunya cuma itu-itu aja. Yang dari anak magang sampai sekarang naik jabatan, selalu membawa tas dan memakai sepatu yang sama sepanjang tahun. Paling nggak pernah minum kopi di cofeeshop selain kalau ditraktir. Dia kan si rambut keriting, ikal dan tumbuhnya pendek. Dan sipaling, paling yang lain yang intinya merujuk pada satu kalimat, tidak mungkin, kok bisa. Kenapa bisa pangeran Andez Corporation menikah dengan wanita seperti itu!
Para fans garis keras yang sampai detik ini belum bisa mempercayai terlihat terduduk lesu kehilangan tenaga bahkan untuk kembali ke ruang kerja mereka, kaki mereka tidak kuat berjalan. Beberapa yang pingsan sudah mulai sadar, tapi belum terlihat sadar sepenuhnya.
Dalam sekejap saja, berita mengenai pernikahan CEO dan Pimred Merilin, tersebar seperti debu di udara. Dari mulut orang-orang yang ada di kantin, menyebar dari mulut satu ke mulut yang lain. Belum selesai pasien sebelumnya, ruang kesehatan kembali diserbu orang yang pingsan jilid kedua.
Semua kabar kejadian di kantin kantor sudah sampai ke telinga Presdir, laki-laki itu terlihat tersenyum bangga dengan sikap yang dilakukan Rion untuk melindungi istrinya. Ya, ya, memang itu yang seharusnya dilakukan seorang suami gumam ayah. Dia menelepon istrinya, dan menceritakan kejadian di kantor.
Ibu dan ayah dengan penuh kebanggaan memuji anak laki-laki mereka.
Sementara itu, setelah kekacauan berpindah, kantin menjadi sepi dan lengang. Apa yang terjadi dengan dua orang yang tertinggal di sana? Mari kita kembali ke kantin kantor.
Tadi, Mei menatap dengan tidak rela, saat satu persatu orang pergi. Apalagi saat Mona melambaikan tangan dan berjalan keluar bersama Baim dan Kak Kendra. Gadis itu menatap Rion yang terlihat tengok-tengok, dia berjalan ke meja yang kosong, ternyata mencari meja, tidak ada bekas makanan di atas meja yang dia pilih. Nampan makanan orang-orang masih tersisa di atas meja. Mei melihat nampan miliknya juga. Dia belum sempat makan sesuap pun tadi karena sudah terpancing emosi.
Setelah memperhatikan sikap Rion, tiba-tiba wajah Mei memerah.
Tunggu, Kak Rion mau apa sekarang?
Mei diserang kepanikan.
Melihat pintu kaca, bahkan pengawal yang berdiri di depan juga terlihat dari tempatnya berdiri. Belum lagi CCTV dari beberapa sudut, semua tempat di sini dipantau oleh CCTV. Dan bisa jadi, ada petugas yang sedang melihat mereka berdua.
Kak Rion mau apa!
Mei berjalan pelan menuju kursi yang sudah diduduki Kak Rion. Dia menyelesaikan masalah dengan mudahnya gumam Mei. Pengakuan dari Kak Rion menutup mulut semua orang. Dia bahkan sampai berakting mencintaiku. Aaaaa! Walaupun aku tahu dia cuma mencari alasan tapi hatiku benar-benar berdebar tadi. Mei jadi memaki hatinya karena terlalu lemah. Bahkan tadi, dia sampai tidak fokus dan pikirannya blank karena kalimat Kak Rion berdengung di kepalanya berulang-ulang.
Karena aku mencintainya donk, mencintainya donk, aku mencintainya donk.
Aaaaaa! Hentikan Merilin, jangan memikirkanya terlalu serius.
Faktanya kenapa pernikahannya tidak diumumkan kepada publik karena mereka menikah berdasar kontrak kepentingan. Karena dia hanya sebatas menjadi istri boneka Kak Rion yang akan dia buang dua tahun lagi. Tapi, bisa-bisanya hatiku berdebar karena dia seperti mengakui perasaannya padaku tadi.
Kak Rion mencintaiku, hehe lucu sekali.
Mei berhasil memukul mundur perasaan berbunga di dalam hatinya. Menatap Rion, yang selalu terlihat tampan bahkan dalam situasi semacam ini. Eh...
"Kak Rion, kita mau apa sekarang? Kenapa semua orang keluar." Bertanya dulu batin Mei, karena dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
Aku mohon, jangan buka atau duduk dipangkuannya. Lihat CCTV kak!
Mei bahkan belum duduk karena tegang, menunggu perintah Rion.
"Aku lapar."
"Apa!"
Kenapa tiba-tiba lapar? Aaaa, Merilin gila, pikiranmu sudah lari ke mana tadi!
Rion menyeringai, seperti menduga apa yang sedang dipikirkan Mei sekarang. Laki-laki itu tertawa, membuat Mei malu dan membuang muka.
Aaaaaa! Merilin gila! Apa yang kau pikirkan. Dia seperti bisa membaca pikiranku lagi. Ya Tuhan malunya aku!
"Kau belum makan juga kan?" Pesan yang dibacakan Serge kiriman Kendra, terakhir kali saat dia berdiri di depan pintu kantin adalah, Mei belum sempat makan siang.
Dari mana dia tahu?
"Ambilkan makanan sana!" Sudah mengusir sambil menunjuk meja tempat makan berada.
"Baik Kak, Kak Rion mau makan apa? biar aku yang ambilkan." Mei sudah bangun dari duduk.
"Memang sudah tugasmu kan, terserah, apa saja, ambil semua yang kau suka."
Dih, memang sudah gila karena aku sampai berdebar-debar tadi, dia cuma akting Mei, akting! Sadarlah! Walaupun dia tidak menyukai Amerla lagi tapi dia juga kan belum membuka hatinya untukmu.
Dengan menggerutu dalam hati Mei mengambil nampan, menyalahkan hatinya yang bodoh sudah berdebar-debar seenaknya dari tadi.
Rion bertopang dagu, memperhatikan setiap gerakan tangan Mei memindahkan makanan ke dalam mangkuk kecil. Bodoh! Dia bicara sambil mengejek, padahal aku sudah membuat pengakuan cinta seperti itu, tapi kau tidak membahasnya sama sekali, apa kau pikir aku sedang berakting. Ketidak pekaan mu untuk sesuatu yang sudah jelas-jelas terlihat benar-benar di luar nalar Mei.
Sementara Mei memilih makanan yang sekiranya akan disukai Rion, yang pernah dia lihat Rion memakanya. Nampan yang ada di depannya sudah penuh dengan lauk, tinggal nasi yang belum. Tapi nampak itu sudah tidak muat.
"Ah, biar aku bawa ini dulu, nanti kembali lagi. Eh.. Aaaaaa!" Jeritan Mei terdengar, saat tangan Rion tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Apa sih, kenapa kau menjerit, kan cuma ada kita berdua." Acuh, tapi pipinya menempel di rambut Mei.
"Ke, kenapa Kak Rion tiba-tiba muncul, mengagetkan saja."
Apa sih! yang kau lakukan sekarang Kak? Kau mau apa? Mau membuatku jantungan?
Rion dengan tubuhnya menunduk, meraih nampan di depan Mei, dengan posisi tubuh yang hampir memeluk Mei.
"Cium aku, baru kubantu bawakan." Padahal posisi tangan sudah memegang nampan. Tapi kalau tidak mendapat imbalan, tangannya itu akan dia lepaskan lagi.
Hah! Apa sih, aku juga bisa bawa sendiri. Minggir.
Maaf Mei ocehanmu dalam hati tidak terdengar di telinga Rion.
"Cepat, aku lapar!" Dengan tidak tahu malunya memberi perintah, padahal dia sendiri yang sudah mengulur waktu.
"Baik Kak."
"Baiklah, jangan sedih, nanti aku izinkan kau menciumku lagi, sekarang bawa nasinya." Menoel dagu Mei.
Apa! Aaaaa! Merilin, kenapa kau malah terkesima dan membuat kesalahpahaman lagi.
Gadis itu malah bengong saat melihat Rion tertawa. Tawanya yang ringan, namun memancarkan aura yang ikut membuat orang yang melihatnya tersenyum bahagia. Padahal hanya melihat orang tertawa.
Bergegas Mei mengambil dua piring nasi. Dan sekarang sudah duduk berhadapan. Gadis itu memindahkan beberap lauk ke piring Rion setelahnya ke piringnya sendiri.
"Selamat makan Kak."
"Makanlah yang banyak, yang sudah melewati situasi yang berat."
Ah, apa dia mengkhawatirkanku?
Rasanya makanan kantin terasa lebih nikmat hari ini, saat suap demi suap makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Eh, aku ambil minum dulu Kak." Sadar, Mei belum mengambil minuman. Saat duduk lagi Rion malah berhenti makan. Eh, kenapa dia? "Kenapa Kak? Kok nggak dimakan lagi?"
"Suapi aku."
"Apa? Kenapa tiba-tiba."
"Entahlah, kenapa ya?"
Apa sih, malah balik bertanya. Mana aku tahu yang kau inginkan apa Kak, kalau kau tidak bicara. Tunggu, apa dia mau aku berterimakasih karena dia sudah meluruskan kesalahpahaman tadi. Kepekaan Mei yang terkadang muncul tidak pada tempatnya.
Mei menggeser kursinya, ke samping Rion.
"Kak Rion mau aku berterimakasih kan, baiklah, aku akan berterimakasih dengan menyuapi Kakak."
"Bodoh!"
Rion menuding kening Mei, sampai gadis itu memejamkan mata. Mei tertawa saja supaya urusan cepat selesai walaupun tidak paham dengan makian itu alasannya apa.
"Pakai sendokmu, kau juga makan. Aaaaa."
Apa sih ini orang, Mei tidak habis pikir, jadi sambil menyuapi Rion dia juga sambil makan, dengan sendok yang sama. Lucunya, ternyata CEO Rionald yang dingin dan menakutkan punya sisi imut dan menggemaskan begini.
"Kenapa kau tidak cerita padaku Mei, perihal gosipmu di kantor?"
Mei berhenti mengunyah, buru-buru dia telan makanan dalam mulutnya sampai dia batuk-batuk. Rion segera meraih gelas minum. Wajahnya terlihat panik.
"Kau ini bodoh ya? Memang aku menyuruhmu segera menjawab! Telan dulu makananmu dengan benar!" Karena panik malah akhirnya memarahi Mei.
"Ia Kak, maaf. Uhuk." Mei meneguk minumannya. Tersentak saat tangan Rion mengusap-usap dadanya. Seperti yang sering dia lakukan dulu pada Harven kalau dia makan buru-buru dan tersedak.
Deg.
"Terimakasih Kak."
"Untuk apa?"
"Semuanya, karena sudah hadir dalam hidupku. Karena sudah merubah nasibku, sampai orang-orang merasa perlu iri dengan perubahanku. Kalau tidak ada Kak Rion, aku tidak tahu, apa apa aku masih bisa membayar hutang ayah dan membiayai pengobatan ibu. Besok ibu sudah bisa keluar dari RS. Semua karena Kak Rion hadir dalam hidupku." Apa sih, kenapa aku menangis! Mei mengusap ujung matanya dengan punggung tangan. "Maaf Kak, aku malah menangis." Walaupun aku hanya Kakak anggap boneka sekalipun, aku sudah sangat berterimakasih.
Rion meraih punggung Mei, menjatuhkannya dalam pelukannya.
"Bodoh! Seharusnya kau manfaatkan aku Mei, kalau itu kau aku mengizinkannya, pakailah namanku. Selanjutnya aku tidak mau kau menundukkan kepalamu dan terhina seperti hari ini. Kau dengar?"
"Ia Kak."
"Kau istriku, jadi tidak ada yang boleh meremehkanmu."
Sebutan istri terdengar sangat manis ditelinga Mei.
Beberapa waktu, Rion membiarkan Mei sesenggukan di pelukannya. Berulang Mei mengatakan terimakasihnya lagi.
Saat Mei sudah lebih tenang, Rion sudah membasuh sisa airmata, bukan hanya dengan tangan tapi juga dengan bibirnya. Bahkan sampai Mei merasa geli sendiri. Setelahnya Rion menggandeng tangan Mei keluar dari kamtin, bukannya membiarkan Mei kembali ke lantai ruang kerjanya malah membawa Mei ke ruangannya. Sepi, tidak ada orang.
"Kak, kenapa aku ke sini, aku kan mau kembali bekerja?"
Pintu ruang kerja sudah tertutup. Rion menarik tangan Mei dan mendudukkannya di kursi kerjanya.
"Lakukan!"
"Apa Kak!"
Apa! Lakukan apa!
Kedua tangan Rion bertumpu pada pegangan kursi, wajahnya mendekati Mei. Kecupan lembut mendarat di bibir, lidahnya yang bergoyang membuat Mei membuka mulut dan akhirkanya mereka berciuman.
Apa sih Kak!
"Lakukan, apa yang kau pikirkan di kantin tadi Mei." Berbisik sambil menggigit telinga Mei, lalu disusul tawa. Apalagi saat melihat seluruh wajah Mei dan telinganya Mei yang langsung memerah."Haha."
Aaaaa! Kak Rion!
"Buka!"
Dan semua hal yang dibayangkan kepala Mei akan dilakukan Rion di kantin tadi, akhirnya direalisasikan di ruang kerja Rion yang sepi.
Sementara yang itu mesra-mesraan, yang ada di ruang HRD mulai memanas. Sekretaris Serge tidak pernah terlihat semarah itu.
Bersambung