Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
176. Ngambek


Senja masih menemani perjalanan pulang Mei. Mobilnya berlomba dengan pengendara lain di jalan raya . Saling mendahului dan berharap segera sampai di rumah. Lebih dari setengah jam sepertinya, akhirnya Mei sampai di area parkir apartemen. Dia terjebak macet di dua titik lampu merah yang dia lewati. Arus lalu lintas di beberapa titik perkantoran, terkadang memang membuat frustasi di jam tertentu.


Hari-hari melelahkan Mei bersama tim sudah lewat, sekarang, giliran divisi lain yang sibuknya bukan main, ditambah hadiah dari Presdir yang membuat semua orang merasa riang gembira sampai waktunya pulang tadi. Mei pun begitu, sebelum pulang dia menyempatkan menelepon Harven. Selain menjelaskan tentang hadiah liburan bersama keluarga yang dia dapat, tentu bertanya tentang kesehatan ibu juga. Apa ada yang ibu butuhkan. Mei menutup teleponnya dengan kalimat menyentuh seperti biasanya Mei pada adiknya.


"Ven, walaupun Kak Mei sudah menikah, kamu jangan sungkan pada Kak Mei ya. Kak Mei memang tidak bisa sering datang, tapi kalau ada apa-apa, kamu bisa telepon dan kirim pesan, pasti sesibuk apa pun, buat kamu dan ibu, aku akan selalu menyempatkan datang. Dengar kan Ven, janji ya. Ia, Kak Mei dan Kak Rion semakin bahagia setiap hari. Terimakasih atas doa Harven dan ibu."


Mei memastikan lagi, kalau bagi Harven dia akan selalu menjadi Kak Mei yang bisa Harven andalkan dalam setiap kesempatan.


Jawaban Harven yang selalu tenang membuat Mei senang. Adiknya juga bersemangat, dengan liburan nanti. Mei kembali berdebar, ketika merasakan banyak sekali hal baik yang terjadi padanya. Bahkan saat dia memasuki lift apartemen yang ada beberapa orang, wajahnya masih bersemu bahagia.


"Na..na...na..."


Lantunan nada tidak beraturan terdengar, seperti gumaman yang hanya bisa dimengerti pemilik suara. Saat Mei menekan kode kunci rumah, dia masih bernyanyi riang. Dan saat pintu rumah terbuka. Eh, lampu sudah menyala. Kak Rion sudah pulang ya? Saat melihat sepatu yang tergeletak tidak beraturan di dekat rak sepatu, dia semakin yakin. Dia menunduk, meletakan sepatunya dan milik Kak Rion, lalu meraih sandal rumah.


Selain lampu yang sudah menyala, kesunyian mengisi ruangan.


Padahal Kakak sedang sibuk sekali karena jumlah klien meningkat pesat, kenapa dia sudah pulang ya. Ah, tapi aku senang Kak Rion sudah pulang. Kami kan jadi bisa makan malam bersama. Aku juga merindukan Kak Rion, hehe. Padahal, mereka bertemu di kantor tadi, menghabiskan waktu bersama juga. Ehm, wajah Mei bersemu merah. Tapi tetap rindu itu datang tanpa bisa dicegah.


Mei meletakkan kotak makanan yang dia beli diperjalanan tadi di atas meja. Menyapu ruangan sekali lagi, mencari keberadaan Kak Rion. Terdengar suara air dari arah kamar mandi. Ah, apa Kak Rion sedang mandi? Mei jadi iseng ingin mengagetkan Kak Rion saat keluar nanti. Baru mau berjalan ke dekat kamar mandi setelah minum, langkah kaki Mei terhenti.


Pintu sudah terbuka.


"Kak Rion, Kakak sudah pulang?"


Mei sudah mau berjalan mendekat menghambur dan mencium pipi Kak Rion, tapi, suara riang dan senyum Mei menghilang, saat melihat sorot mata Kak Rion yang terasa asing. Laki-laki itu menggoyangkan handuk di kepalanya, menatap Mei tanpa ekspresi, tidak menjawab pertanyaan Mei juga.


Sorot mata dingin, yang dulu kerap kali Mei lihat di mata CEO Rionald. Tangan gadis itu mulai bergetar takut. Kenapa ini?


"Kak, maaf, aku tidak tahu Kak Rion akan pulang duluan. Seharusnya aku pulang duluan. Maaf ya Kak." Mei membaca situasi dengan cepat, sepertinya Kak Rion sedang kesal karena dia pulang duluan dan tidak mendapati Mei menyambutnya seperti biasa. "Apa Kak Rion sudah makan? Aku membeli makanan tadi, mau aku siapkan sekarang?"


Hanya helaan nafas yang terdengar, sambil dengan sorot mata asing itu yang terlihat. Kak Rion melemparkan handuk kecil yang dia pakai sembarangan ke pinggir sofa. Setelah menatap Mei beberapa saat, dia berlalu tanpa sepatah kata pun berjalan ke kamar.


Apa! Kenapa? Kenapa Kak Rion marah!


Mei sampai berpegangan pada meja dapur karena shock. Kalau dulu, dia mendapatkan perlakuan seperti ini tentu dia tidak akan panik dan setakut ini. Tapi ini, padahal jelas, tadi di kantor mereka baik-baik saja. Mereka masih berciuman panjang di depan pintu keluar, sebelum Mei meninggalkan ruangan CEO.


Langkah kaki takut mendekat ke dekat pintu kamar. Pintu tidak tertutup, ada celah yang bisa dipakainya mengintip. Kak Rion sedang menggunakan alat olahraga. Mei terlonjak kaget hampir jatuh, saat mendengar Kak Rion berteriak marah.


Hah! Apa sih! Kenapa ini?


Mei menyambar tas di atas meja, lalu duduk di lantai. Dia tidak terlihat karena tertutup meja makan. Hanya suaranya, yang samar terdengar. Dia sedang menunggu panggilannya diangkat Serge. Satu-satunya orang yang bisa dia tanyai tentang suaminya.


"Kak Ge? Apa terjadi sesuatu di kantor?" Mei bicara dengan suara setengah berbisik, sambil tangannya menempel di depan bibir.


"Tidak ada, semua normal. Kenapa Mei? Kenapa kamu bisik-bisik. Sekarang, kamu di mana?" Serge yang akan selalu mengkhawatirkan apa pun situasi yang dihadapi Mei. "Kamu nggak papa kan?"


"Kak, Kak Rion marah. Dia tidak mau bicara dan menatap ku dingin. Aku takut sekali Kak, kenapa Kak Rion marah?"


Malah terdengar Serge yang menghela nafas lega.


"Aku pikir apa, lagian kamu si, cari masalah, sudah tahu si gila itu cemburuan."


Mei memiringkan kepala sambil menatap layar hp, bingung dengan apa yang dikatakan Kak Ge. Apa si Kak, aku kenapa? Aku kan selalu berhati-hati bahkan saat bicara dengan mu, karena takut Kak Rion cemburu.


"Aku? Aku ngapain Kak? Waktu di kantor tadi, aku melakukan semua yang Kak Rion suruh kok. Kami bahkan masih berciuman saat aku mau kelu...." Aaaaaa! Mei menjerit tanpa suara, memukul pahanya yang tertekuk.


Bodohnya kau Mei! Kenapa kau mengatakan itu pada Kak Ge!


Dan benar saja, Serge langsung tertawa menanggapi kata-kata Mei.


"Kak! Aku sedang ketakutan sekarang, berhenti meledek. Sekarang bilang dulu, kenapa Kak Rion marah?" Walaupun tidak bisa melihat wajah Kak Ge, tapi Mei bisa membayangkan wajah tertawa Kak Ge yang belum selesai. "Kak Ge!"


"Hehe, ia maaf. Wahhh, kamu jadi mirip Rion kalau ngambek."


Apa sih Kak, Aaaaaa! Masih meledek saja.


Terdengar suara Serge berdehem, memunculkan intonasi suara yang berwibawa.


Tangan Mei langsung bergetar.


"Rion ngambek dan menggila karena itu sejak di kantor tadi, hah! Kau tahu kan, dia jadi seperti bocah yang mainannya direbut saja, menggerutu sepanjang sore ini sampai aku mengantarnya pulang. Dia bilang, kau tidak mencintainya. Dia menggerutu, karena kau tidak ingat padanya. Aku membatalkan satu jadwal karena dia sudah tidak bisa diajak kerja sama. Kau tahu kan, Rion itu bagaimana. Lho..Mei... Mei... Kau masih mendengarkan aku?"


Suara Kak Ge sudah tidak terdengar lagi, karena hp milik Mei, sudah jatuh di lantai dapur. Sementara gadis itu sudah berlari, sampai menabrak pintu kamar. Nafasnya tidak beraturan saat mendorong pintu. Rion masih merengut menatapnya, dengan tubuh setengah telanjang yang dibanjiri keringat. Tangannya memencet alat treadmill untuk berhenti. Dia mendengus dan membuang muka, tidak mau bertatap dengan Mei.


"Kak Rion..." Suara Mei yang lembut, menelisik telinga Rion.


Tapi..


Rion masih belum menoleh, apalagi menjawab. Dia malah meraih handuk kecil lalu mengusap lehernya. Melemparkan handuk ke meja rias. Dan berpindah ke alat olahraga lainnya. Mengacuhkan kata-kata Mei.


"Kak, maaf."


Gerakan kaki Rion terhenti. Alat olahraga berhenti bergerak. Tapi Rion masih diam ditempatnya, belum berbalik. Dia masih ngambek, dia mau dibujuk lebih keras lagi oleh Mei. Dia tidak mau hanya mendengar kata maaf saja. Dan dia belum mau melihat Mei, demi kesehatan jantungnya. Dia pasti akan langsung luluh, kalau melihat pipi merona dan bibir mungil yang merasa bersalah itu. Dia pasti akan menghambur ke arah Mei dan menciumi pipi gadis itu.


"Kak Rion."


Rion belum berbalik, hanya menghela nafas.


"Maaf Kak..."


"Kenapa kau minta maaf?"


"Karena sudah membuat Kak Rion marah."


"Cih..."


Sudut bibir Rion sudah bergetar, dia tidak tahan untuk tidak berbalik, tapi dia memegang alat olahraga untuk mempertahankan harga dirinya sekarang.


"Maaf, karena membuat Kak Rion merasa dilupakan. Maaf Kak, aku sungguh-sungguh minta maaf."


Karena sebenarnya aku benar-benar lupa! Aaaaa! Merilin gila! Kenapa kau bisa melupakan Kak Rion.


"Aku pasti sudah melukai hati Kak Rion, maaf Kak, aku minta maaf. Sungguh, aku akan menelepon direktur dan menulis nama kakak. Ah tidak, pasti sudah diserahkan pada Sekretaris Presdir, aku akan menghadap beliau besok. Sekarang, aku mohon, berbalik dan lihat aku Kak. Aku benar-benar minta maaf Kak." Asal bicara apa saja Mei, sampai dia sendiri bingung dengan apa yang dia katakan. "Kak..." Mei mendelik sendiri mendengar suaranya.


Dan benar saja, suara imut yang keluar dari mulut Mei, membuat Kak Rion berbalik. Bibirnya sudah menyunggingkan senyum.


"Kau benar-benar lupa pada ku kan?"


"Hah? Ah, itu Kak."


"Benar kan? Kau benar-benar lupa padaku?"


Rion berjalan mendekati Mei, membuat gadis itu mundur teratur. Akhirnya langkahnya terhenti, saat kakinya sudah membentur pintu keluar. Sedangkan Kak Rion masih berjalan ke arahnya.


"Mei, kau benar-benar melupakan aku?"


"Aaaaaa! Maaf Kak!"


Mei menjerit sambil berlari dan menabrakkan tubuhnya. Sekarang Kak Rion yang terdorong, sampai ke bibir tempat tidur. Mei mendorong tubuh setengah telanjang itu, jatuh terlentang ke tempat tidur.


"Aku, aku akan membayar kesalahan ku Kak!"


Mei menjerit sambil menutupi wajahnya.


"Malam ini, mau melakukan apa pun, mau berapa kali, aaaaaaa! Pokoknya terserah Kak Rion. Yang penting, maafkan aku Kak!" Bola mata Mei berbinar, sambil dia menelungkup kan tubuhnya diatas dada Rion. "Kak..."


Wajah Kak Rion mulai mengendur, dan tidak lama, seisi kamar sudah dipenuhi dengan suara tawanya.


Kecupan bibir Mei, di atas otot perut Kak Rion, memulai malam panjang mereka.


Bersambung