
Ruang kerja CEO Andez Corporation.
Serge yang duduk di sofa, mulutnya langsung menganga bengong, karena melihat tingkah Rion yang aneh bin ajaib, Rion langsung bangun dari kursinya saat mendengar Mei ada di depan pintu. Lalu berjalan ke depan meja, yang dia tuju adalah sudut meja dan dia langsung duduk di sana. Satu kakinya tertekuk, dan dia terlihat menyentuh jam tangannya. Dengan kepala miring tapi tetap terlihat sebagian wajahnya dari depan.
"Masuk!" ujar Rion masih dengan posisi mencengangkan itu.
Serge masih menyimak, tapi dia sudah menahan geli yang menggelitik perutnya sejak dari tadi, apa yang dilakukan orang aneh di depannya ini pikir Serge. Saat pintu terbuka, pandangan Serge teralihkan pada Mei. Masih menjadi penonton yang tidak dianggap. Dia jadi seperti pajangan dinding.
Mei masuk ke dalam ruangan, langsung tersenyum antara malu dan antusias melihat Rion sedang berpose bak eksekutif muda yang sedang melepas lelah sejenak dari rutinitas kantor.
Dasar orang gila! Serge tepok jidat. Kau sedang ngapain si.
Tinggalkan Serge yang membenturkan kepala ke sofa saking merasa gelinya melihat tingkah Rion dan Mei. Di mana si angkuh Rion yang terluka karena Amerla, Rion yang sensitif dan pemarah, laki-laki itu benar-benar kembali menjadi Rion si budak cinta.
Mari kita alihkan fokus dari Serge yang menahan tawa dan geli menggelitik pada pasangan yang sedang berbunga-bunga itu. Cinta menguar dari arah keduanya, memenuhi ruang kerja.
"Kau sudah datang?" Rion mengangkat tangannya, staf wanita menunduk dan menutup pintu perlahan, dia menghilang seiring pintu memisahkan dunia luar.
"Kakak!" Mei berlari kecil, bahkan terlihat seperti kelinci imut sedang lompat-lompat mendekat ke arah Rion. "Kakak menungguku ya?" Mei merasa terobati rasa kesalnya, karena seniornya menyebut nama Amerla, sekarang perasaan jengkel itu, rasanya menguap begitu saja setelah melihat Kak Rion. Mei menghampiri Rion yang masih duduk di ujung meja, setelah berdiri di depan Rion dia tersenyum dengan sumringah, lalu mengecup pipi kiri Rion. "Aku senang bertemu Kakak, padahal sudah sore, tapi Kakak tetap terlihat keren."
Malah semakin keren dengan kemeja yang tergulung seperti itu gumam Mei.
Rion menutup wajahnya dengan tangan, sedang menyembunyikan ekspresi senangnya. Dia dicemburui, dan sekarang dicium duluan, dan Mei bilang senang bertemu dengannya. Kalau ada visualisi pasti ledakan bunga dan hati sudah terlihat meledak di atas kepalanya. Saking dia bahagianya.
Tapi tetap, gayanya sok melengos dan berdehem santai.
"Kau beruntung sekali, laki-laki sekeren aku ini suami mu kan?"
Dih, sombong! Pajangan dinding yang tidak dianggap mencibir sambil monyong mulutnya, saking tidak bisa berkata-kata lagi karena melihat kelakuan Rion yang sok begitu.
"Hehe, Kakak tahu aja." Tawa Mei semakin menjadi perisai keduanya, untuk hanya fokus melihat satu sama lain. Tidak perduli sekitar.
Mei menggelayut dalam pelukan Rion, sampai tubuhnya ikut miring karena Rion bersandar pada satu tangan.
"Aku mau menunjukkan foto ini Kak." Menempelkan map ke dada Rion. "Tapi sebenarnya aku lebih senang karena bisa bertemu Kakak." Menutup wajah malu dengan map yang dia bawa.
Merilin gila! Padahal kau bertemu setiap hari dengan Kak Rion di rumah. Padahal tadi pagi juga bertemu. Biarin! Mei menyalak pada hatinya, aku sedang mencari obat. Ya, Kak Rion mencintaiku, dan aku mencintainya. Kami berdua saling mencintai, jadi, tidak ada yang perlu kau takutkan Mei. Sepertinya dia berhasil mengalahkan ketakutan hatinya yang sesaat galau karena kemunculan Amerla tadi.
Jangan tanya sesenang apa hati Rion sekarang ya karena sikap Mei yang bermanja padanya.
"Haha, aku senang sekali hari ini Mei."
"Kenapa Kak? Apa ada sesuatu yang terjadi."
"Entahlah, apa ya?" Malah meledek, sambil mencium bibir Mei. "Tapi aku senang sekali hari ini. Kemarilah, dan tunjukkan foto untuk sampul majalah yang kau bawa." Rion menarik tangan Mei, bangun dari sudut meja setelah mengecup bibir Mei lagi. Mereka memutar, mau duduk di kursi kerja.
Sementara itu yang sedang duduk di sofa, menjerit frustasi. Apa kalian tidak melihatku! Mei! Apa kau tidak melihat kakakmu ada di sini! Dan kau Rion sialan! Kau kan tahu aku masih ada di sini.
Tapi sepertinya kedua orang itu benar-benar tidak menyadari keberadaan Serge. Rion lupa kalau di ruangan itu masih ada Serge. Jadi bukan pura-pura tidak menyadari. Sedangkan Mei yang baru datang, sama sekali tidak menyadari sejak awal, karena tidak melihat sudut lain di dalam ruangan. Saat masuk, pandangannya langsung tertuju pada Rion. Jadi hanya Kak Rion yang ada di matanya.
Sudahlah, aku pergi saja. Serge gontai menyeret kakinya, dan bahkan saat dia membuka pintu dan berbalik sekali lagi memastikan, kedua orang itu sedang pangku-pangkuan sambil ketawa ketiwi berdua. Ya Tuhan, ternyata Mei bisa ketularan kelakuan gilanya Rion.
Entahlah, mungkin karena sudah dibutakan cinta, Rion baru sadar Serge tidak ada di ruangan saat dia mau mengambil coklat yang ada di dalam toples kecil di atas mejanya, matanya melirik ke sofa.
Eh, kapan dia pergi bukannya dia tadi masih duduk di sofa. Bodo amatlah. Karena fokusnya sekarang hanya pada Mei yang ada di pangkuannya. Tidak mau perduli hilang kemana sekretarisnya tadi.
Mei sudah membuka map yang dia bawa. Dia menoleh dengan memutar kepala, bertemu wajah Rion yang bersandar di bahunya.
"Kak, ibu bilang sudah bilang Kakak ya? Kalau ibu mengajak pergi ke RS besok, katanya ibu sudah buat janji. Kakak nggak papa kan?"
"Cium aku!" Rion sudah memajukan bibir, Mei tertawa kecil lalu semakin memutar kepala dan mencium bibir Kak Rion. Dan entah dari mana datangnya, ada sesuatu yang masuk ke mulut Mei. Dia kaget, namun langsung dia kunyah. Coklat itu lumer di mulutnya. "Enak?"
Mei mengangguk seperti bocah yang senang karena diberi hadiah.
"Cium aku, nanti aku berikan lagi."
Mei tergelak, dia yang sedang mengubur perasaan cemburu di hatinya, memang ingin dekat-dekat dengan Kak Rion sekarang. Jadi, bukan hanya karena coklat.
Kecup lagi, dan lagi, kecupan tidak berhenti dalam sesaat.
Setelah Rion mendapatkan yang dia inginkan, Rion baru menjawab pertanyaan Mei tentang ibu. "Aku sudah bilang pada ibu, untuk jangan menuntut apa-apa, jadi kau tidak usah terbebani. Periksa saja ke dokter untuk tahu kondisi kesehatan. Jangan pikirkan tentang anak."
Rion mengambil satu buah coklat lagi, memasukkan ke mulut Mei.
"Kau juga, jangan berfikir yang tidak-tidak."
"Baik Kak, kami akan langsung pulang setelah dari RS."
Mei memejamkan mata sambil menggoyangkan kepala, menikmati coklat lumer di mulutnya.
"Terserah kau saja." Rion menjawab sambil mengumpulkan rambut Mei dan mendorongnya ke bagian kiri leher. Sekarang dia sudah mencium tengkuk Mei.
Hemm, tumben pikir Mei. Ah, biarkan saja, untunglah Kak Rion tidak mau ikut. Kata terserah Rion diartikan seperti itu oleh Mei. Karena pemeriksaan kesehatan nanti, mau tidak mau dia memakai pil kontrasepsi akan terbongkar juga, karena dia harus memberi tahu dokter.
Pandangan Mei kembali ke lembaran foto di atas meja. Sementara Rion malah mendekap gadis yang ada dipangkuannya semakin erat.
"Kak, Kakak harus melihat fotonya."
Rion tertawa, lalu merapatkan wajah, berbisik di telinga Mei dengan suara pelan yang membuat tengkuk merinding. "Padahal kau tahu kan, foto itu cuma alasan, karena aku hanya ingin bertemu denganmu.
"Aaaaaa!"
Rion menggigit telinga Mei, lalu menggoyangkan lidahnya disekitar telinga.
"Atau kau memang tidak tahu?"
Mei tidak mau menjawab, sebenarnya dia sudah menduga. Tapi, dia datang dengan senang hati dan tanpa merasa terpaksa. Bahkan, kalau hari ini dialah yang merasa beruntung karena bisa melihat Kak Rion di kantor.
"Tidak menjawab." Rion menggigit lagi.
"Aku tahu Kak! Aaaaaa! Memalukan, karena aku juga senang bertemu Kakak."
"Lupakan foto-foto itu, pilih saja yang paling kau suka. Sekarang berbalik, aku mau melihat wajahmu."
Rion menggoyangkan pangkuannya.
Malu-malu Mei turun loncat dari pangkuan Rion, memutar tubuh. Mata mereka beradu. Rion menggoyangkan rambut Mei, karena gadis itu masih terdiam, belum naik ke pangkuannya.
"Naik..."
"Kak... apa aku boleh mengatakan sesuatu?"
Sepanjang naik lift tadi Mei memikirkan ini, apakah dia harus mengatakan pada Kak Rion kalau Amerla mau bertemu dengannya. Mei ragu karena takut akan reaksi Kak Rion. Tapi, kalau dia tidak mengatakannya, rasanya pundaknya semakin berat menanggung rahasia.
"Kenapa? Kau pasti lelah karena persiapan terbit kan. Apa hari ini juga belum selesai editing?" Rion menepuk pangkuannya, lalu menarik baju Mei. Akhirnya gadis itu menjinjit dan naik. Menekuk kedua lututnya, roknya naik ke atas. Dan tangan Rion mulai menari di pahanya. "Mau aku menghiburmu?"
Mei melengos, karena teringat Amerla lagi. Pembicaraannya dengan seniornya.
"Hei, lihat aku! Kenapa?"
"Maaf Kak, aku tadi sebenarnya agak kesal, maaf, malah aku menunjukkannya pada Kak Rion. Eh, aku tidak kesal pada Kakak!" Menyentuh pipi Rion dengan kedua tangan, karena takut Kak Rion salah paham dan tersinggung.
Rion masih diam, tidak memberi reaksi apa pun. Tapi sungguh, hatinya berdebar. Dia senang, karena Mei menceritakan ini padanya tanpa dia tanya.
"Apa yang membuatmu kesal?"
Apa aku boleh mengatakan ini? Ah, tapi aku takut dengan reaksi Kak Rion. Tatapan menunggu Kak Rion akhirnya membuat Mei bicara.
"Senior bilang mantan Kakak Amerla mau bertemu denganku."
Deg.. Deg...
"Aku tidak suka!" Tanpa sadar bibir Mei merengut. "Kenapa dia mau bertemu denganku, katanya dia mau minta maaf, tapi aku tidak percaya, mungkin sebenarnya dia mau bertemu Kakak kan, aku cuma jadi alasan."
Saat sedang menggerutu Mei tersentak, saat Rion meraih punggungnya, mendekapnya erat. Apa? Kenapa tiba-tiba memeluk.
"Kak, aku, maaf. Aku seharusnya tidak boleh begitu kan?"
"Katakan!"
"Hah? Kakak mau mendengar apa?"
Rion melepaskan pelukannya lalu mencium bibir Mei.
"Semuanya..."
Hah? Apa? Apa aku disuruh mengatakan semua yang senior katakan. Mei jadi kebingungan semua yang dimaksud Rion apa.
"Kenapa diam? Katakan semua yang ingin kau katakan padaku." Jemari Rion mulai bergerak melepas satu persatu kancing kemeja yang dipakai Mei. "Kau Cemburu?"
Wajah Mei langsung memerah, dia malu ketahuan cemburu. Dia juga takut Kak Rion tidak suka kalau dia dicemburui.
"Aku..."
"Aku akan menggigit lehermu kalau kau tidak cemburu."
"Hah? Tapi sakit Kak, kalau leher. Jangan di leher." Dengan polosnya melepas sendiri kemeja yang dia pakai. Lalu Mei menunjuk bahunya. "Boleh ini sini Kak, di sini juga nggak sakit. Eh, Aaaaaa!"
"Haha, Semakin hari kau semakin pasrah ya, malah minta. Haha."
Mei cuma bisa membenturkan kepala di dada Rion. Gadis itu merasakan tubuh Kak Rion yang terguncang karena tertawa.
Dan Mei mengatakan semuanya hari itu, kenapa dia kesal, kalau dia cemburu, rasa takutnya kalau Kak Rion juga akan menoleh ke belakang. Dan bagian hatinya yang langsung berubah, kesalnya hilang karena bertemu Kak Rion.
Ancaman gigitan Rion berganti kecupan, tapi walaupun kecupan tetap meninggalkan noda merah di seluruh tubuh Mei.
"Kak... ahhhh."
"Katakan kau mencintaiku Mei."
Foto di atas meja seperti sedang menatap kedua orang yang sedang bermesraan itu.
Penutup.
Serge menatap pintu CEO sebentar, hah! menghela nafas lagi berjalan ke meja staf. Dia mengetuk meja staf beberapa kali, membuat gadis yang sedang sibuk bekerja itu bangun terperanjat kaget.
Apa aku tanya dia saja ya, kalau masih pacaran batas toleransi cemburu itu sampai seberapa. Kalau aku cemburu separah Rion cemburu nanti Dean malah kesal dan tidak nyaman bagaimana. Serge berharap dia bisa bertanya pada Mei, tapi sepertinya tidak mungkin bisa bertanya, karena Rion menguasai Mei. Jadi dia mau bertanya pada stafnya saja.
"Ia Tuan, apa ada yang bisa saya bantu." Dari dekat begini, sekretaris Serge makin tampan! Aaaa! Bagaimana ini, aku berdebar-debar. "Apa ada tugas?"
"Kau punya pacar?"
Deg... wajah staf itu langsung memerah, kenapa tiba-tiba Sekretaris Serge bertanya tentang pacar? Apa sebenarnya dia menaruh hati padaku selama ini.
Kenapa dia diam saja? Ah, seharunya aku memang bertanya pada Mei saja. Tapi saat menoleh melihat pintu, dia menghela nafas. Entah sampai kapan Mei akan terkurung di sana, dan dia juga mau menemui senior Mei yang tadi, mantan rekan kerjanya dulu.
"Saya tidak punya pacar Tuan." Staf itu malu-malu menjawab.
Ah, ternyata dia tidak punya pacar, percuma saja aku bertanya tadi.
"Baiklah kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu. Aku mau keluar sebentar. Dan, apa pun yang terjadi, kau mendengar suara apa pun dari ruangan CEO jangan pernah mengetuk pintu, kalau ada yang mau bertemu, suruh tunggu sampai aku kembali." Setelah bicara Serge langsung berlalu, meninggalkan staf yang berdiri bingung.
Wajah tersipunya berganti kebingunan.
Hah! Aku juga sebenarnya tidak suka Dean bicara dengan laki-laki lain, tapi, kami kan masih pacaran, apa aku boleh cemburu dan melarangnya. Aaaaaa! Dasar Rion sialan! Sudah membuat orang bingung, kalau ditanya jawabannya semakin membuat bingung.
Serge masuk ke dalam lift. Kenapa dia malah bengong melihat ke sini? Saat pintu lift tertutup tidak sengaja stafnya terlihat, masih berdiri seperti saat dia meninggalkannya tadi.
Beraambung