
Saat udara malam semakin dingin, saat kegelapan menghisap kesunyian. Di sebuah apartemen, lantai 12. Di dalam sebuah kamar, dua orang yang katanya hanya menikah kontrak. Laki-laki yang konon hanya mengganggap istrinya sebagai boneka. Laki-laki yang membenci perempuan kecuali ibunya. Dan seorang gadis yang rela berkorban apa pun untuk keluarganya.
Tidak ada cinta, namun mereka bergulingan di tempat tidur. Berciuman seperti orang kehilangan akal sehatnya. Mungkin yang laki-laki terlihat jauh lebih dominan. Ciuman semakin memanas.
Dalam sekali jentikkan jari, pelindung tubuh yang masih menempel di badan Merilin terlepas. Sekarang tubuh itu sepolos manekin di toko pakaian yang belum dipakaikan baju.
Nafas yang memburu, suara nafas Rion yang bercampur, entah karena merasa ngos-ngososan dan tidak bisa lagi mengimbangi Rion, membuat Merilin menahan tubuh Rion. Tangannya menyentuh kedua dada Rion. Sambil berusaha mengatur nafasnya supaya teratur ritmenya. Rion berpindah menciumi leher Merilin.
"Kak..."
Rion masih mendengar Merilin memanggilnya, Dia mengangkat wajahnya dari leher Merilin. Ciumannya sudah menorehkan tanda kecupan di sana sini.
"A... apa Kak Rion benar-benar mau melakukannya dengan orang seperti aku."
Terakhir kalinya Merilin berusaha memprovokasi, walaupun tubuhnya sudah tidak menempel sehelai benang pun kalau sekarang bisa berhenti, maka jangan dilanjutkan lagi.
Temaran lampu memang hanya lampu tidur, namun Mei masih bisa melihat kemarahan di mata Rion karena pertanyaannya itu. Dia terkesan menolak Rion, harga diri laki-laki itu pasti tercabik.
"Kau tidak mau?" Tangan Rion mencengkeram rambut Merilin bagian belakang kepala. "Kau menolak ku?"
Dia tidak menangkap poin utamanya! seharusnya kau merasa terhina karena tidur dengan wanita sepertiku. Gadis miskin yang cuma bersamamu karena alasan uang. Seharusnya kau tersinggung karena itu Kak, bukan karena aku menolakmu.
Demi meredakan rasa tersinggung Rion Mei langsung mendekap tubuh Rion.
"Tidak Kak, aku tidak menolakmu. Aku mohon jangan marah. Aku hanya merasa tidak pantas untuk Kak Rion."
"Aku yang menilai kepantasanmu! Jadi berhenti bicara omong kosong." Mungkin karena gairah sudah naik, membuat Rion mudah sekali terpancing.
"Kalau begitu, aku hanya ingin minta satu hal Kak, tolong lakukan dengan perlahan, ini pertama kalinya untukku."
Kau sudah gila Mei, kau bicara apa!
Kecupan diberikan Merilin di leher dan bibir Rion, urat tegang laki-laki itu mengendur. Sebenarnya tidak sulit meluluhkan Rion, hanya tinggal bicara dengan lembut, mengaku salah, peluk sedikit, kecup banyak-banyak, dengan tangannya yang kembali bereaksi sepertinya kemarahannya sudah Mereda.
"Aku tidak akan merusakmu Mei, kau kan berharga untukku."
Ya, ya, aku kan boneka yang sudah kau beli dengan harga sangat mahal. Tentu saja aku berharga untukmu.
Setelah ketegangan mereda, Rion melakukan beberapa sentuhan lagi di beberapa bagian tubuh Merilin. Gadis itu terlentang pasrah, memalingkan wajah dengan dipenuhi warna merah di seluruh bagian wajahnya. Tubuh gadis itu memanas dengan semua sentuhan bibir Rion di sekujur tubuhnya. Dia bahkan mendesah dengan suara keras saat beberapa kali Rion menggeliat diatasnya sambil menorehkan kecupan yang sangat keras membekas merah.
Aku tidak bisa berfikir? Seharusnya aku kan memikirkan sesuatu? aku harus memikirkan apa ya. Aaaaaa.
"Ah, ah... Kakak!"
Senyum samar menghiasai wajah Rion dikeremangan malam. Melihat Merilin yang tidak berdaya di bawahnya. Dia menciumi wajah dan leher Merilin lagi. Sampai keduanya merasakan puncak kebahagiaan.
Konon katanya tak ada cinta dan perasaan apa pun di antara keduanya. Namun tetesan peluh yang membanjir, sambil menyatunya tubuh memiliki arti tersendiri untuk keduanya. Yang hanya bisa ditafsirkan oleh alam.
...🍓🍓🍓...
Di pagi buta, di dalam kamar Mandi.
Merilin jatuh tersungkur di bawah gusuran air hangat. Seluruh tubuhnya rasanya kaku. Bahkan kakinya lemas saat dia membawanya jalan masuk ke kamar mandi. Dia masih ingin tidur hari ini, energi kehidupannya seperti terkuras habis semalam.
Aaaaaa!
Dia memperbesar cipratan air yang menjatuhi tubuhnya. Wajahnya merah, karena bayangan semalam tiba-tiba melintas di kepalanya. Semakin deras air menetes malah semakin banyak yang dia pikirkan.
Ayo Mei jangan pingsan di sini, kau harus pergi sebelum dia bangun.
Merilin tidak akan sanggup Melihat wajah Rion pagi ini, jadi dia ingin berangkat ke kantor sebelum laki-laki itu bangun. Dia bisa tidur di dalam perjalanan nanti, atau kalau perlu kalau masih ada waktu dia akan tidur di meja kerjanya. Yang penting sekarang adalah kabur darinya dulu.
Begitulah upaya Merilin untuk menghindari rasa malu karena kejadian semalam. Semakin dipikirkan rasanya dia ingin membenturkan kepala berulang-ulang. Bisa-bisanya dia menikmati semua kejadian semalam. Bahkan saat diakhir babak Rion bertanya yang sudah pasti tujuannya untuk menggoda, "Kau menyukainya Mei?" Sambil tangan Rion meremas sesuatu dengan bibir tergelak. Lalu kecup-kecup di sana sini lagi. Dan Merilin sambil mendesah dengan tidak tahu malunya seperti orang kehilangan akal menjawab. "Ia Kak aku menyukainya, terimakasih." Dengan wajah merah menjawab.
Kenapa aku berterimakasih semalam, untuk apa? karena dia sudah menyentuhku, karena aku sudah tidur dengannya. Wahai manusia hina yang tidak tahu malu bernama Merilin Anastasya, kenapa kau menjawab ia dan berterimakasih.
Semua hal yang memalukan dari semua itu adalah tawa Rion yang terlihat puas sekali dengan jawaban Merilin. Hal itu membuat naluri Rion menggebu lagi, dia mencium Merilin padahal tetesan keringat di dadanya belum mengering.
Dan malam itu pun tidak berhenti sampai disitu saja.
Beberapa kali Merilin menampar pipinya supaya bayangan semalam menghilang. Pipi ya malah merah dalam versi sebenarnya, sedangkan otak dan ingatannya masih terngiang-ngiang.
Kau sudah gila Mei! Dan semalam kau sama sekali tidak teringat Kak Serge kan! Merilin terduduk dilantai, merasa sangat malu. Padahal laki-laki yang ia cintai adalah Kak Serge, tapi dia malah menghabiskan malam panas bersama Rion. Dan yang lebih gunanya lagi adalah, semalam dia sama sekali tidak teringat pada Kak Serge.
Maafkan aku Kak, aku sepertinya sudah jadi pengkhianat. Apa aku sekarang bahkan tidak pantas menyukaimu dalam diam.
Merilin menyelesaikan mandinya, menyeret tubuhnya gontai, untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya. Di depan cermin dia melihat, bukti nyata kebuasan Rion semalam. Dia itu singa apa ya, kenapa senang menggigit orang si. Mei sampai menggosok lehernya. Tidak bisa hilang. Noda merah bekas kecupan yang tumpah ruah di sekitar leher.
Hari ini Merilin masih memakai baju kerjanya yang lama. Hari terakhir dia akan memakainya. Dia sudah mengemasi barang yang akan dia buang, eh tidak dibuang, dia akan menyimpan itu semua di rumah baru Harven.
Setelah berganti pakaian dia berlari masuk ke ruang ganti. mendorong koper dan tas keruang tamu. Saat sudah menyentuh sepatu dia berdiri diam sejenak.
Apa tidak apa-apa kalau aku pergi tanpa pamit begini, kalau dia murka karena merasa tidak aku hargai bagaimana.
Meletakkan sepatu, mengeluarkan note kecil dari dalam tas. Menuliskan beberapa kata di sana. intinya dia mengatakan kalau dia pergi bekerja duluan. Sudah meletakkan kertas di pintu kulkas. Merilin berbalik lagi, melihat kertas itu.
Kalau kau jatuh dan tidak ditemukan Rion, lalu dia murka bagaimana!
Akhirnya mengendap-endap gadis itu membuka pintu kamar. Terperanjat kaget saat Rion ternyata sudah bangun, dia duduk masih setengah telanjang. Mengusap rambutnya kebelakang. Merilin mengerjap, seperti melihat cahaya berkilauan dari orang tampan yang baru bangun tidur.
"Selamat Pagi Kak, Kak Rion sudah bangun?"
"Air!" Tidak menjawab Merilin, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Ah, ia sebentar." Merilin berbalik cepat ke dapur mengambil air minum, lalu kembali ke kamar. Menyodorkan gelas dengan hati-hati ke depan Rion.
Ah, otot itu kan yang dia suruh cium semalam. Eh, Mei, kau lihat kemana!
"Kau mau kemana?" Pertanyaan itu langsung membuat Merilin tersentak, dia langsung membuang pandangan. Beralih pada secarik kertas yang dia genggam.
Merilin menyodorkan secarik kertas note ditangannya.
"Aku mau berangkat duluan Kak, aku terbiasa berangkat pagi, jadi ini sebenarnya tidak terlalu pagi kok. Aku takut Kak Rion mencarinya, jadi tadinya mau meletakan kertas ini di kamar."
Rion menguap sambil menyodorkan gelasnya.
"Ciuman selamat pagi."
"Hah!"
Sorot mata yang tidak mau mengulangi kata-kata muncul. Membuat Merilin langsung menunduk dan mencium kening Rion.
"Selamat pagi Kak, apa Kak Rion mimpi indah."
"Ibuku selalu melakukannya pada ayah, jadi untuk penyempurna akting kau juga harus melakukannya."
Hah! Apa perlu kita berakting sampai sejauh itu! Aaaaaa, memang ibu melihat kita!
"Baik Kak, ciuman selamat pagi, aku akan ingat itu. Sekarang aku pamit ya Kak, silahkan Kak Rion tidur lagi kalau masih mengantuk."
Rion mengibaskan tangannya, lalu dia jatuh tengkurap di atas bantal.
"Pergi sana, jangan sok kenal denganku di kantor nanti." Menguap malas sambil memejamkan mata.
Dih, siapa juga yang mau sok kenal. Dasar manusia bunglon.
Padahal Merilin hatinya berdebar kaget saat terpergok tadi, tapi Rion terlihat santai dan biasa saja. Seperti tidak ada kejadian apa pun semalam. Wajah Merilin saja sudah Semerah tomat, eh Rion hanya menguap lalu ambruk lagi di tempat tidur.
Dasar manusia seribu wajah!
Banyak sekali julukan yang disematkan Merilin untuk Rion.
Saat Merilin sudah meraih handle pintu. Dia berbalik karena Rion memanggilnya.
"Tubuhmu tidak apa-apa Mei? tidak ada yang nyeri atau sakit? Hemm, kau masih bisa berjalan dengan normal sepertinya menambah beberapa ronde tidak masalah untuk tubuhmu. Kau benar-benar hebat bonekaku Merilin."
Dasar orang gila!
"Aku pergi Kak!" Menutup pintu dengan suara keras, lalu mengelus dadanya supaya nafasnya kembali normal. Sekitar mata dan pipinya memerah karena malu.
Ya, ya, aku ini bonekamu, mau kau sayang-sayang, mau kau usir juga aku bisa apa. Hati Merilin berkedut sedih. Mengingatkan gadis itu jangan sampai membuka hatinya untuk Rion. Kau jangan berharap lebih dari Rion Mei, selain uang. Kau hanya dibayar dengan uang untuk semua pengorbananmu. Uang, jangan tergoda dengan wajah tampannya, sentuhannya.
Jangan memikirkan Rion! jangan berdebar karenanya.
Merilin lari masuk ke dalam lift. Berusaha melupakan semua kejadian semalam. Hari ini banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Gadis itu berjalan dengan kepala tegak keluar dari lift. Kau sudah berkorban sebanyak ini Mei, kau harus hidup dengan kepala tegak sekarang.
Merilin naik ke dalam bus, menuju kantornya. Dia tertidur di dalam bus, karena beruntung mendapat tempat duduk.
Bersambung